
...~•Happy Reading•~...
Kaliana mengajak mereka bertiga untuk kumpul di ruang kerja yang belum rapi, lalu berkata pelan kepada Pak Yosa. "Pak, usulannya untuk pindah kamar sudah disetujui oleh Pak Marons. Tapi jangan dibicarakan dulu dengan Pak Danny, nanti Pak Marons yang akan bicarakan itu dengan beliau." Pak Yosa mengangguk mengerti dengan hati lega, Marons bisa menerima usulnya. Pak Yosa menyadari, dengan mengijinkan mereka tempati ruangan tersebut, Marons pasti akan membeli perabot baru.
Yicoe dan Novie melihat mereka dengan wajah tidak mengerti, karena tidak tahu apa yang diusulkan Pak Yosa kepada Marons. Kaliana menjelaskan usulan Pak Yosa kepada Yicoe dan Novie. Mendengar itu, mereka mengangkat jempol kepada Pak Yosa dengan wajah tersenyum senang, mereka akan tidur dengan baik.
"Pak Yosa tolong lihat kamarnya bersama Coe dan Vie, agar mereka bisa catat apa yang diperlukan untuk mengisinya. Aku mau turun bicara dengan Pak Bryan sebelum Pak Danny berangkat." Kaliana berkata cepat, mengingat sebentar lagi Danny akan berangkat.
"Oooh iya, nanti Pak Yosa tolong dampingi Pak Danny. Jangan sampai beliau lupa sedang dalam pengawasan oleh pihak-pihak tertentu." Kaliana mengingatkan Pak Yosa agar selalu mendampingi Danny. Pak Yosa mengangguk mengerti maksud Kaliana.
Setiba di ruang keluarga, Danny sudah selesai berbicara dan Putra telah selesai membantu Danny. Kaliana segera mendekati mereka dan berbicara dengan Putra untuk mengamankan pembicaraannya dengan Bryan. Setelah Putra memberikan tanda OK, Kaliana segera menghubungi Bryan.
📱"Selamat pagi Pak Bryan. Sekarang ada di mana?" Tanya Kaliana tanpa basa-basi, saat Bryan merespon panggilannya.
📱"Pagi Bu Kaliana... Saya ada di kantor. Daddy belum terlalu sehat, jadi tidak ke kantor hari ini. Saya yang gantikan beliau." Bryan menjelaskan, karena pertanyaan Kaliana yang sangat cepat.
📱"Baik... Begini Pak Bryan..." Kaliana menjelaskan maksudnya menghubungi Bryan, karena Pak Adolfis tidak ada bersama Bryan dia jadi leluasa berbicara dengan Bryan.
📱"Mengapa Chasi tidak ceritakan kepadaku tentang ini?" Bryan tercengang mendengar adiknya akan gugat cerai suaminya dan dia tidak tahu.
📱"Ada alasannya, mengapa beliau dan kami tidak memberitahukan hal ini sebelumnya. Nanti saat bertemu dengan Pak Danny untuk tanda tangan, beliau akan jelaskan. Yang penting saat ini, Pak Bryan jangan b'ritahukan dulu kepada Pak Adolfis." Kaliana berkata serius, agar Bryan bisa mengerti.
__ADS_1
📱"Setelah keadaan lebih baik, kita akan berbicara dengan beliau. Harap pengertiannya, demi kelancaran rencana ini." Kaliana berbicara cepat dan membiarkan Danny yang jelaskan detailnya.
Bryan bisa mengerti dan berjanji akan bekerja sama untuk berbicara dengan Pak Adolfis. Kemudian Kaliana mengakhiri pembicaraan mereka setelah disepakati tempat dan waktu pertemuan.
Setelah semua yang diperlukan untuk mengajukan gugatan telah rampung, Danny bersama Pak Yosa berangkat ke pengadilan negeri. Namun sebelumnya, mereka bertemu Bryan untuk tanda tangan sebagai saksi. Danny menjelaskan rencana gugatan Chasina dan mengharapkan pengertian Bryan untuk tidak membicarakan dengan Pak Adolfis.
Bryan walaupun terkejut, tapi bisa mengerti dan menerima permintaan Chasina juga Danny dan Kaliana. Dia makin mengerti situasi adiknya dan mengapa Kaliana mau pindahkan Chasina ke tempat yang aman. Dia makin mengagumi Kaliana dan Danny yang cara kerjanya tidak semata-mata mencari uang.
"Mohon dukungan doanya, Pak Bryan. Agar semua yang direncanakan ini berjalan lancar." Danny berkata pelan kepada Bryan, lalu berpisah. Danny dan Pak Yosa segera ke kantor pengadilan negeri.
Saat tiba di kantor pengadilan negeri, Pak Yosa ikut turun untuk mendampingi Danny. Pak Yosa tetap berhubungan dengan Putra, agar Kaliana bisa menolong dalam keadaan darurat, jika ada kejadian yang tidak terduga.
"Kak, Danny...?!" Tiba-tiba suara seorang wanita menyapa Danny yang baru masuk ke kantor pengadilan negeri. Danny segera mencari sumber suara yang ragu-ragu bertanya tentang dirinya.
Karena Danny menengok saat dia menyebut namanya, wanita itu jadi yakin bahwa memang benar Danny yang dikenalnya. "Kak Danny lupa, ya... Aku, Sisilia. Adik tingkat Kakak di Fakultas Hukum." Sisilia menjelaskan siapa dirinya, karena dia menyadari, Danny mungkin sudah tidak mengenalnya.
"Ooh... Hai, Sil... Apa kabar? Kau sangat berubah, sampai aku tidak mengenalmu lagi..." Danny mengulurkan tangan untuk menyalami Sisilia, sambil tersenyum. Danny jadi teringat saat masih kuliah. Sisilia dengan beberapa teman yunior suka ikut kelas diskusi bersama para senior. Danny mengingatnya, karena Sisilia gadis yang ramah dan sopan saat berdebat dengan para seniornya.
"Alhamdulillah... Kabar baik, Kak. Kak Danny ada urusan atau kerja di sini?" Tanya Sisilia senang, bisa bertemu dengan senior yang sangat dikagumninya. Dia tersenyum senang, Danny masih mengingatnya dan sikap Danny tidak berubah seperti dulu, baik hati dan ramah.
"Aku sedang mewakili client di sini. Kau sendiri ada apa ke sini? Atau mewakili clint juga?" Tanya Danny yang menganggap Sisilia telah jadi pengacara seperti dirinya.
__ADS_1
"Ngga, Kak. Aku mau bertemu dengan..." Sisilia berhenti berbicara, karena orang yang akan ditemui telah keluar menemuinya dan menyapanya.
"Maaf, Dek... Tadi mau keluar ada tamu, jadi tertahan." Ucap seorang pria yang mendekati Sisilia. Danny memperhatikan pria tersebut, karena bersikapnya hangat dan akrab dengan Sisilia. Usianya lebih tua dari Sisilia dan juga Danny. Sehingga Danny berpikir, mungkin keluarga Sisilia.
"Iya, ngga, apa-pa. Mas, kenalkan... Ini seniorku, saat kuliah di hukum. Kak Danny yang pernah aku ceritakan, sering membantuku." Ucap Sisilia, memperkenalkan Danny pada pria yang datang menemuinya.
"Kak Danny, kenalkan ini Mas Alvian, suamiku. Mas Al hakim di sini, jadi aku datang menjemputnya. Kami ada acara keluarga." Sisilia memperkenalkan suaminya dan juga meneruskan penjelasannya tentang kehadirannya di tempat itu. Danny segera mengulurkan tangan dan menyalami suami Sisilia dengan hangat.
"Pak Danny ada keperluan atau mau bertemu siapa di sini?" Suami Sisilia mengajak Danny bercakap-cakap. Beliau tidak enak langsung pamit, setelah mendengar penjelasan Sisilia tentang Danny yang pernah membantu istrinya.
"Saya hanya mewakili client untuk mengajukan surat gugatan, Pak Alvian." Jawab Danny pelan, karena ada banyak orang yang hilir mudik di sekitar mereka.
Pak Alvian melihat jam tangannya. "Kalau begitu, mari saya bantu, Pak Danny. Dek, masih ada waktu, tunggu sebentar, ya... Atau mau ikut, bisa bicara di ruanganku." Ucap suami Sisilia ramah, sambil mengajak Danny dan juga Pak Yosa, saat Danny memperkenalkan Pak Yosa sebagai rekan kerjanya.
"Ooh iya, Mas. Aku ikut juga, dh... Sudah sangat lama nggak bertemu dengan Kak Danny." Sisilia tersenyum senang, suaminya mau menolong Danny. Dia pun ikut berjalan masuk ke ruang kerja suaminya.
Putra dan Kaliana yang mendengar percakapan mereka lewat Pak Yosa, jadi menarik nafas lega dan tersenyum senang. Mereka mendapat bantuan yang tidak terduga.
"Alhamdulillah..." Ucap Putra sambil mengangkat tangannya, sebagai tanda syukur sambil tersenyum lalu melihat Kaliana di sampingnya.
"Puji Tuhan...!" Kaliana memegang dadanya sebagai rasa syukur. Kemudian dia menepuk pelan pundak Putra yang sedang memantau percakapan di ruang kerja suami Sisilia.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...