
...~•Happy Reading•~...
...~°°Dua Minggu Kemudian°°~...
Danny kembali sibuk menjalani masa persidangan di kantor pengadilan negeri, setelah gugatan cerai Chasina telah dikabulkan oleh Hakim, dua minggu yang lalu.
^^^Sebagaimana yang diharapkan Chasina, Hakim telah memutuskan Chasina dan Jaret bercerai dengan pembagian harta gono-gini yang ditangguhkan. Menurut Hakim, pihak terkait masih menyelidiki sumber kekayaan Jaret. Jadi semua hartanya masih dibekukan, sampai diketahui sumber harta yang dimilikinya.^^^
^^^Pihak Chasina, terutama kakaknya, Bryan yang hadir mewakili keluarga menerima putusan Hakim tanpa ragu atau berpikir. Walau Hakim memberikan kesempatan untuk pikir-pikir dulu. Bryan katakan kepada Danny, untuk menerima tanpa berpikir lagi atau mau menunggu.^^^
^^^Begitu juga dengan pihak tergugat. Orang tua Jaret menerima keputusan Hakim tanpa banyak protes. Semua hal yang berhubungan dengan tindakan Jaret yang dibacakan oleh Danny sebagai penyebab tuntutan cerai Chasina tidak bisa dibantah oleh pihak pengacara dan juga wakil keluarga. Sehingga Hakim yang memimpin persidangan dengan tegas dan suara bulat mengabulkan gugatan cerai Chasina.^^^
Hari ini Danny kembali datang ke Pengadilan Negeri untuk ke sekian kali, karena akan digelar sidang putusan atas kasus gugatan Marons terhadap Pungguk yang menjebaknya. Hari ini juga, Hakim akan memutuskan hukuman kepada Pungguk, Papa Rallita dan juga mantan sekretaris Marons.
Tidak semua anggota team sopape hadir di pengadilan negeri. Hanya Pak Yosa yang mendampingi Marons, Danny dan asistennya. Selain menemani Marons, Pak Yosa juga memberikan informasi langsung kepada team sopape di rumah, jika terjadi sesuatu. Marons melarang anggota team sopape lainnya menghadiri persidangan yang hanya mendengar putusan Hakim.
^^^Team sopape sudah bekerja maksimal dalam menangani kasus penjebakan Punguk. Semua bukti yang diperoleh telah melengkapi Danny dalam melakukan penuntutan kepada Punguk. Sehingga mereka bisa lakukan penyelidikan untuk kasus lain yang sedang ditangani. ^^^
^^^Jadi team sopape yang lain bisa lakukan banyak hal di rumah, sambil memantau jalannya sidang yang dilakukan secara terbuka dan disiarankan secara langsung oleh televisi dan juga mainstream media lainnya.^^^
Marons sudah berikan kesaksian pada sidang sebelumnya, jadi semuanya dia serahkan kepada Danny dan keputusan Hakim. Marons tidak terlalu memikirkan apa yang akan diputuskan Hakim terhadap gugatannya. Jika diantara mereka ada yang diputuskan bebas pun, Marons akan terima, tanpa lakukan banding. Hal itu sudah dia katakan kepada Danny.
__ADS_1
Sehingga Marons dan Danny dengan sabar mendengarkan pledoi yang dibacakan oleh pengacara terdakwa dan juga Jaksa penuntut. Sebagaimana Hakim juga sabar mendengar pledoi panjang yang dibacakan pengacara terdakwa, sebelum Hakim memberikan keputusan.
Ketika mendengar putusan Hakim kepada mantan sekretaris Marons dengan hukuman 6 bulan penjara potong masa tahanan, Danny dan Marons tetap tenang, tidak bereaksi. Begitu juga dengan anggota team sopape yang sedang memantau di rumah.
"Berarti mantan sekretaris Pak Marons tinggal menghitung hari sudah bebas, ya." Kata Yicoe pelan, setelah menghitung lamanya hukuman dan dipotong masa tahanan.
"Iyaa... Semoga dia dapat jalani hidupnya dengan lebih baik. Semoga ada tempat kerja yang baik juga untuknya." Kaliana berkata pelan, karena mantan sekretaris Marons masih terbilang muda dan memiliki tanggung jawab untuk hidupi orang tuanya.
^^^Semua yang diharapkan Kaliana diaminkan oleh semua anggota team sopape, termasuk Pak Yosa yang berada di ruang sidang dan sedang terhubung dengan mereka.^^^
Ketika Hakim memutuskan Papa Rallita 1 tahun penjera potong masa tahanan, Mama Rallita dan adiknya menarik nafas panjang dan lega. Karena dengan demikian, Papa Rallita tinggal beberapa bulan lagi sudah bisa bebas.
Sedangkan Papa Rallita yang mendengar keputusan tersebut harap-harap cemas. Sesekali Papa Rallita melirik ke arah Marons dan Danny sebagai pengacara Marons. Beliau belum bisa tenang dengan keputusan Hakim, karena pengacaranya sudah mengatakan. Semoga pihak penggugat tidak mengajukan banding.
"Walau pun hanya 1 tahun penjara, tetaplah di penjara. Semoga ada manfaatnya bagi orang seperti Papa Rallita dan keluarganya." Kaliana berkata pelan di ruang kerja team sopape, saat melihat Papa Rallita diam, menunduk.
"Bagaimana dengan Pak Punguk? Ada yang mau tebak, berapa lama hukumannya?" Tanya Novie yang serius mengikuti persidangan. Dia sengaja melakukannya, untuk mengurangi ketegangan.
"Pasti hukumannya kurang dari Pak Ewan. Karena Pak Ewan sebagai otaknya, bisa 1 tahun penjara. Mungkin 8 bulan atau sama, 1 tahun penjara." Yicoe menjawab pertanyaan Novie, sambil berpikir dengan kesalahan Punguk dan Pak Ewan.
"Mungkin hukumannya lebih Pak Ewan. Kita abaikan pengaruh Pak Ewan, hingga bisa dijatuhi hukuman 1 tahun penjara. Punguk akan lebih, bukan karena tidak berpengaruh, tapi karena ada 2 tuduhan terhadapnya. 1 dari Pak Marons dan 1 dari mantan sekretaris Pak Marons." Kaliana menjawab dan coba menebak dari pengamatannya selama persidangan berlangsung.
__ADS_1
"Ooh iyaa... Aku lupa tentang kasus penganiayaan yang dilakukan Pak Punguk kepada sekretaris Pak Marons." Novie berkata sambil menepuk dahinya, karena tidak mengingat hal itu.
"Aku setuju ddngan Mba' Anna. Pasti Pak Punguk akan dihukum lebih lama, selain 2 tuntutan itu, Hakim wanita yang memimpin sidang putusan. Pak Punguk apes..." Putra berkata sambil tersenyum dan menunjuk Hakim ketua di layar monitor.
"Ooh iya... Benar Putra. Pak Punguk sedang apes. Masih ingat wajah dan reaksi Ibu Hakim saat pengacara mantan sekretaris Pak Marons menunjukan bukti penganiayaan dan visum rumah sakit di sidang sebelumnya?" Yicoe berkata lagi mengingat persidangan yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Beberapa saat kemudian, terdengar Hakim memutuskan hukuman 2 tahun penjara tanpa dipotong masa tahanan kepada Punguk. Semua anggota team sopape yang ada dalam ruang kerja saling menatap. Apa yang mereka perkirakan terjadi. Punguk dihukum lebih berat dari Papa Rallita.
"Benar, kan...? Pak Punguk sedang apes..." Putra berkata sambil membuka kedua tangannya.
"Mau apes atau tidak, yang penting hukumannya setimpal." Kaliana berkata serius, mengingat karakter Punguk yang buruk.
"Sekarang kita fokus untuk kasus yang sudah dibicarakan Pak Bram. Di tempatnya mulai membara dan mengapa kasus Jaret belum di sidangkan?" Kaliana berkata dan merenung. Anggota yang lain juga jadi berpikir untuk apa yang dikatakan Kaliana.
"Putra, apa Pak Bram tidak mengatakan sesuatu atau email sesuatu padamu?" Tanya Kaliana sambil melihat Putra dengan serius.
Saat Putra hendak menjawab, ada email masuk. "Mba' Anna, orangnya merasa sedang dirasani..." Putra memberikan kode, Bram minta bicara. Kaliana mengangguk, mengiyakan lalu meletakan ponselnya di atas meja.
📱"Anna, kau sudah tau putusan Hakim untuk kasus penjebakan?" Tanya Bram tanpa basa-basi, saat Kaliana merespon panggilannya.
📱"Iyaa, Dan. Sudah. Baru saja selesai dengar putusan Hakimnya dan tidak teruskan lagi. Ada masalah?" Tanya Kaliana cepat, karena mengira ada masalah dengan hukuman yang diputuskan Hakim.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...