ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
154. Informasi 5


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Arif dan Bram memperhatikan sketsa di tangan Kaliana dengan serius. Arif sangat penasaran dengan informasi yang disampaikan, tapi berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan sumber informasi Kaliana.


^^^Bram sangat tertarik dengan informasi Kaliana dalam diam dengan keyakinan penuh terhadap kecakapan Kaliana dan team nya. Bram menerima semua yang disampaikan Kaliana tanpa ragu, karena dia pernah mengalami pertolongan Kaliana dan team saat melakukan penggeledahan yang baru saja dilewati.^^^


"Jadi saat sudah masuk dalam rumah untuk lakukan penggeledahan nanti, Mas Arif dan team cari dan temukan titik A ini. Jika sudah temukan titik A berupa brankas, Mas jangan berhenti sampai di sini saja. Cek semua tembok di sekitarnya untuk temukan titik B ini. Atau sebaliknya, jika temukan titik B terlebih dahulu, jangan berhenti. Cari dan temukan titik A." Kaliana terus menjelaskan dengan serius gambar sketsa di tangannya sambil diterangi oleh Bram yang juga serius memperhatikan.


"Mengapa kami tidak tau susunan ruangan dalam rumah ini, karena mungkin orang tua Jaret telah renovasi rumah ini. Sehingga ada perubahan fungsi ruangan dalam rumah. Kami yakin kedua titik ini adalah dua ruangan yang bersebelahan." Kaliana menjelaskan lagi sambil menunjuk titik A dan B.


"Ini bisa berupa brankas, atau ruangan penyimpanan harta kekayaan orang tua Jaret. Jadi saya sarankan, Mas Arif harus bekerja savety. Jangan perlihatkan semua dokumen ini kepada orang lain, baik sesama penyidik. Mas bisa hapal dan tentukan kedua titik ini, saat sudah berada dalam rumah." Kaliana berkata tegas kepada Arif untuk mengamankan informasi yang mereka berikan, agar tidak terjadi kebocoran atau kecolongan.


"Saran saya lagi, setelah ini, Mas Arif segera selidiki dan lakukan penggeledahan sesegera mungkin." Kaliana berkata sambil melihat Arif dengan yakin dan serius.


"Berikutnya, karena Mas Arif tadi katakan tidak ada banyak tas yang ditemukan di rumah dinas orang tua Jaret, saya sarankan juga untuk menyita semua tas wanita yang ditemukan di rumah ini." Kaliana berkata dengan serius, mengingat harga tas Mama Jaret ada yang fantastik harganya.


^^^Kaliana tidak mau menyinggung postingan foto flexing orang tua Jaret yang diposting Putra di akun anonim. 'Biar Arif yang tarik kesimpulan atau mengaitkan sendiri, jika dia mau.' Kaliana membatin.^^^


"Mengapa saya saran begitu, karena ada harga tas milik Mama Jaret yang bisa membuat Mas Arif tercengang, saat melihat harganya." Kaliana berkata sambil tersenyum, melihat Arif refleks melihat ke arahnya.


"Harganya sudah berbunyi jeti-jeti...?" Tanya Bram, saat melihat Kaliana memberikan kertas di tangannya kepada Arif.


^^^Bram jadi penasaran, karena tas Mama Jaret juga jadi perhatian Kaliana dan minta disita. 'Jika tidak berharga, tidak mungkin Kaliana memintanya.' Itu yang ada dalam pikiran Bram.^^^

__ADS_1


"Bukan saja berbunyi jeti-jeti, tapi tusa jeti-jeti dan hampir meli-meli." Kaliana menjawab dengan istilah yang biasa mereka pakai, membahasakan juta dan ratusan juta atau miliaran.


^^^Kaliana jadi tersenyum melihat wajah tertegun Bram saat mendengar penjelasannya tentang harga tas Mama Jaret.^^^


^^^Kaliana meletakan jari telunjuk di bibirnya, saat melihat Bram akan bertanya atau protes. Kaliana sudah bisa menebak pertanyaan Bram berkaitan dengan itu. Pasti seperti pertanyaan anggota team sopape, saat Putra menyebut harga tasnya. Hanya Bram akan bertanya dengan rasa kesal dan emosi mengetahui harga tas Mama Jaret.^^^


^^^Bram mengerti isyarat Kaliana dan hanya bisa menggelekan kepalanya. Sedangkan Arif yang mendengar penjelasan Kaliana kepada Bram, hanya bisa terdiam dan ingin sekali melihat tas yang dibilang Kaliana dengan harga fantastik itu.^^^


"Sekarang kita beralih ke tempat laundry di lantai dasar apartemen." Kaliana berkata sambil mengeluarkan lembaran dari bundelan yang tadi juga, sambil diterangi oleh Pak Yosa.


"Masih ada lagi?" Tanya Bram heran lalu menepuk dahinya saat melihat anggukan Kaliana.


"Itu, silahkan diminum dulu, supaya bisa bernafas dengan baik dan tenang." Kaliana berkata sambil mempersilahkan Bram dan Arif ambil minuman yang sudah Kaliana siapkan di belakang jok kursi.


"Mendengar ini saja, oksigen di otak kita sudah menipis dan butuh bantuan air mineral. Apalagi saat melihat hasil sitaan, mungkin kami perlu tabung oksigen." Arif berkata setelah minum. Membuat semua yang ada dalam mobil tertawa. Arif jadi ikut tertawa menyadari ucapannya yang bisa membuat semua yang ada dalam mobil tertawa.


"Lekas eksekusi... Nanti aku siapin ambulance... Tapi bukan buatmu dan team, tapi buat orang tua Jaret." Bram berkata sambil tertawa, mendengar candaannya kepada Arif. Begitu juga dengan yang lain, ikut tertawa.


"Oksigen sudah cukup semua?" Tanya Kaliana sambil tersenyum melihat Bram dan Arif sudah selesai minum, lalu mengangguk sambil mengangkat tangan membentuk tanda OK.


"Mari kita teruskan, karena waktunya yang tidak cukup." Kaliana berkata cepat, karena masih ada pembicaraan lagi dengan Bram.


^^^Kaliana kembali memperlihatkan lembaran kertas berisi gambar sketsa yang dibuat Putra kepada Arif dan diterangi oleh Bram.^^^

__ADS_1


"Ini alamat laundry dan sama... Kami menggambarnya seperti rumah yang tadi, hanya kotak. Di sini pintu masuknya dan di titik hitam ini yang harus ditemukan Mas Arif dan team." Kaliana kembali serius menjelaskan sketsa yang dibuat Putra berdasakan pantauan ponsel orang tua Jaret.


^^^Kalau tempat laundry, Pak Yosa tidak sempat menyelidikinya lagi, karena keterbatasan waktu dan juga tempat umum. Jadi orang tua Jaret tidak mungkin lakukan sesustu di tempat itu.^^^


"Titik hitam ini, mungkin brankas atau ruangan penyimpanan. Mas Arif periksa saja di titik ini." Kaliana berkata serius, lalu menyerahkan lembarannya kepada Arif yang sedang mengangguk mengerti.


"Anna, apakah tempat laundry ini hanya kamuflase? Orang tua Jaret menyembunyikan hartanya dengan aktivitas laundry ini?" Tanya Bram tiba-tiba setelah mendengar penjelasan Kaliana.


"Bisa seperti itu. Nanti Mas Arif dan team selidiki itu. Kami tidak tau, apakah benar dijadikan tempat laundry, atau hanya membuat ijin untuk tempat laundry, tapi hari-hari hanya mencuci hartanya." Kaliana berkata cepat, menanggapi pertanyaan Bram.


"Ooh iyaa... Makasih, Dan... Pertanyaanmu mengingatkan aku soal yang lain." Kaliana berkata sambil mengangkat jempolnya ke arah Bram. Dia hampir lupa dengan informasi yang terpikirkan oleh team sopape.


"Mas Arif, jika dalam penggeledahan di kedua tempat ini dan temukan uang tunai dalam jumlah banyak, tolong diperiksa nomor seri semua uang tunainya." Hati Kaliana jadi lega, karena bisa mengingat itu sebelum Arif meninggalkan mereka.


^^^Bagi team sopape, ini juga sebuah informasi saat mereka membicarakan itu sepintas, tapi tidak dibuat catatan khusus untuk membahasnya.^^^


"Jika nomor seri uangnya masih baru, berarti Mas Arif dan team harus kembangkan ke tuduhan money laundry." Kaliana menjelaskan apa yang dikatakan Yicoe tentang cara mengetahui orang terlibat dalam money laundry dengan melihat nomor serinya.


"Siiiaap, Mba'." Penyidik Arif berkata cepat, lalu mengambil lembaran kertas berisi gambar sketsa tempat laundry dari tangan Kaliana.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2