ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
29. First Time.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons sontak mengelus punggung Kaliana pelan. Dia tidak ingin, Kaliana salah menafsirkan apa yang dilakukannya. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, dia khawatir Kaliana tidak meneruskan rencananya untuk bekerja dan tinggal di rumahnya.


"Niii... Kita tidak akan maju-maju, jika kau seperti ini. Coba lihat sekarang.., apa yang aku lakukan? Barusan ini, contohnya... Aku pindah dari sana ke sini mendekatimu. Untuk mendekatkan jarak di antara kita." Marons berkata serius, untuk meyakinkan Kaliana. Tangan kirinya terus mengelus pundak Kaliana, pelan.


"Hal yang sama juga, bisa mendekatkan kita. Tadi aku lakukan spontan krn mengingat apa yang pernah kau lakukan di waktu lalu, dan juga sekarang ini untukku." Marons berkata pelan, tapi serius. Kaliana hanya diam mendengar apa yang dikatakan Marons. Suasana hatinya terus berubah seiring dengan ucapan dan tindakan Marons.


Melihat Kaliana tetap diam menduduk, Marons meneruskan apa yang ada di pikiran dan juga perasaan hatinya. "Aku tidak bisa mengatakan banyak hal untukmu saat ini, dalam situasi seperti sekarang. Aku bertanya padamu, apakah kau percaya padaku, bukan karena mau menciummu. Itu hanya bagian terkecil dari rasa percayamu. Apa yang aku lakukan padamu, aku serius." Marons berkata sambil terus mengelus punggung Kaliana pelan.


"Yang aku lakukan tadi, hal itu terjadi begitu saja, karena banyak faktor penyebabnya." Marons berkata sambil mengingat Kaliana yang dulu dan sekarang berada di dekatnya dengan berbagai rasa di hati.


"Bukankah tadi kau katakan percaya padaku? Dan aku juga katakan, percaya padaku dalam berbagai hal?" Marons menarik punggung Kaliana lalu memeluknya, karena melihat air mata Kaliana mulai mengalir. Marons makin mempererat pelukannya dengan rasa sayang.


"Maafkan aku soal yang tadi. Itu bukan iseng... Tapi aku janji, tidak akan melakukannya lagi, sampai kau bersedia." Ucap Marons sambil mengusap punggung Kaliana yang sudah menangis terseduh di pelukannya. Dia mengira Kaliana menangis karena apa yang dia lakukan.


"Kau tau perasaanku padamu, sebelum mengetahui kau Anny. Apalagi sekarang telah mengetahui kau adalah Ani-Ani. Jadi jangan pernah meragukanku." Marons berkata pelan, cendrung berbisik sambil memeluk dan mengusap punggung Kaliana pelan.


"Kau tau kondisiku... Sekarang aku tidak bisa mengatakan banyak hal. Kau juga tau, aku tidak bisa mengumbar perasaanku. Tapi semua yang aku lakukan untukmu, dari hatiku." Marons terus berbicara, karena Kaliana tidak mengatakan apapun. Semua yang dikatakan Marons mempengaruhi hati dan pikirannya.


"Kau bisa rasakan hatiku padamu. Jadi jangan pernah meragukanku, apalagi berpikir aku mendekatimu, karena kondisiku saat ini." Marons tetap memeluk Kaliana dengan sayang. Apalagi Kaliana mulai terisak dalam pelukannya.


"Jangan pernah berpikir aku menjadikanmu tempat pelarian, dari semua persoalan yang aku hadapi saat ini. Hal itu jangan pernah terselip di antara banyak pohon di kepalamu." Marons melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Kaliana. Tetapi Kaliana malah memeluknya, karena tidak mau Marons melihat wajahnya yang sudah banjir air mata.

__ADS_1


"Sssssttttt... Hapus air matamu... Nanti Yicoe dan Novie berpikir aku sudah berlaku kasar padamu." Kaliana melepaskan pelukannya, saat mendengar Marons katakan Yicoe dan Novie.


Hal itu membuat Marons bisa melihat wajah Kaliana yang basa dan juga air mata yang masih mengalir. Marons memegang wajah Kaliana dengan kedua tangannya. Melihat air mata masih mengalir, Marons menghapus air mata Kaliana dengan kedua jempolnya.


"Melihatmu seperti ini, apa ada yang percaya kau detektif yang galaknya lewatin atap rumah?" Marons bertanya sambil terus menghapus air mata Kaliana. Dia tersenyum melihat Kaliana yang berusaha menahan tangisnya dengan mimik lucu, saat mendengar ucapannya.


Kemudian Kaliana merangkul lehernya, untuk menyembunyikan rasa malunya. Membuat pipi Kaliana menyentuh pipinya. "Astagaaa... pipimu sangat halus dan lembut. Sering-seringlah salam tempel seperti ini." Ucap Marons dengan hati senang dan juga kembali mengelus belakang Kaliana untuk menenangkannya.


Mendengar ucapan Marons, Kaliana sontak melepaskan pelukannya. "Aku akan dibully Novie dan Yicoe, jika melakukannya. Apalagi kalau dilihat Putra, karikatur salam tempel akan menghiasi laptopnya." Kaliana berusaha mengendalikan perasaannya, saat mengingat anggota team nya. Hal itu membuat air matanya berhenti mengalir.


"Hahahaha... Kau masih mikirin itu juga. Mereka semua sudah dewasa, sudah mengerti perasaanmu. Nantinya mereka juga akan mengalami hal yang sama." Marons jadi tertawa mendengar ucapan Kaliana.


"Kalau Putra, biarkan saja yang dia lakukan. Jangan masukan ke hati. Dia akan buat gambar kartun yang paling bagus, karena dia sangat menyayangi dan bangga padamu." Marons berkata lalu kembali memegang wajah Kaliana dengan kedua tangannya.


"Semua keperluanmu sudah disiapin?" Tanya Kaliana lalu merapikan wajahnya dan membersihkan sisa air matanya.


"Tadi ko', lupa tanya Bibi... Biasanya Bibi yang nyiapin. Sebentar, ya... Aku akan hubungi Bibi. Semoga Bibi belum tidur." Ucap Marons lalu berdiri mengambil ponsel yang diletakan di sofa sebelum pindah ke tempat duduk Kaliana.


📱"Bibi, sudah siapin keperluanku untuk berangkat besok?" Tanya Marons saat Bibi merespon panggilannya.


📱"Belum, tuan muda. Bibi kira semua disiapkan Nyonya besar di mansion." Bibi terkejut mendengar pertanyaan Marons, karena belum menyiapkan apa yang diperlukan.


📱"Oooh... Baik, Bi. Tidur saja lagi. Nanti aku siapkan sendiri." Marons berkata lalu mengakhiri pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Niii, ada hikmanya juga ciumanku. Jadi kau keluar lagi. Hahahaha..." Marons tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Tolong ambilkan koper di kamarku. Jas dan kemejanya, kau pilih saja 4 pasang. Sisanya terserah padamu." Marons berkata sambil memikirkan apa yang akan dikenakan.


"Arroo... Begini, aku belum terbiasa dengan semua ini dan pakaianmu sangat banyak. Mari kau pilih saja, nanti aku lihat dulu. Aku kan, tidak tau seleramu. Dulu kita bertemu hanya kenakan putih biru, jadi tidak tahu seleramu setelah dewasa." Kaliana berkata serius.


"Anniii, aku tidak enak masuk kamar. Ada Yicoe dan Novie sudah tidur. Tidak baik ada orang laki masuk kamar saat mereka sedang tidur. Aku bilang Ibu siapin di sana saja, biar sopir Ayah yang bawah ke kantor." Marons memikirkan solusi yang cepat dan baik.


"Arrooo... Ngga pa-pa... Sekarang Yicoe dan Novie sudah jalan-jalan di mimpi dan mereka membungkus tubuh seperti lontong. Dan juga, kau tidak sendiri masuk kamar, kan? Ada aku... Biar aku juga lihat dan belajar siapin." Kaliana tidak mau salah memilih, hingga merusak segalanya.


"Kau yakin...? Tadi banyak hal yang aku pikirkan, sampai lupa untuk keluarin sebelum mereka masuk." Marons masih merasa tidak enak.


"Ayooo... Lakukan sebelum terlalu malam atau mereka terbangun." Kaliana menarik tangan Marons.


Setelah di kamar, Marons menurunkan koper, lalu membuka lemari pakaiannya. Kemudian mengeluarkan yang akan dibawa sambil memberikan kepada Kaliana dengan isyarat akan dimasukan ke koper di luar kamar. Kaliana mengganguk mengerti lalu memeluk pakaian Marons sambil berjalan keluar kamar.


"Tolong ambil perlengkapan mandiku di kamar mandimu, ya. Tadi aku lupa keluarin." Kaliana mengangguk lalu berjalan kembali ke kamar.


Marons memasukan semua keperluan yang dibawa Kaliana ke koper. "Sudah kembali ke kamar... Tidur yang nyenyak dan sebangunnya saja." Ucap Marons. Kaliana mengangguk lalu berjinjit dan menepelkan pipinya ke pipi Marons.


Marons refleks memeluknya dan mencium tepian kepalanya. "Salam tempel pertama dan ....eeehmmm..." Marons tidak meneruskan ucapannya, agar tidak jadi kasus. Kaliana refleks memukul belakang Marons yang sedang memeluknya. Dia mengerti maksud Marons, tentang ciumannya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2