ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
65. Bertaktik.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana hanya bisa gelengkan kepalanya menanggapi ledekan Marons. Dia tidak bisa membalas ledekan Marons, karena sedang terburu-buru dan juga mereka sedang diperhatikan oleh Putra, Yicoe dan Novie. Akan terjadi riu reda, jika dia memeluk Marons. Dia segera masuk ke mobil, dimana Pak Yosa dan Danny telah menunggunya.


Beberapa waktu kemudian, setelah melewati jalanan yang padat, Pak Yosa tiba di gedung pengadilan. Mereka tidak bisa menggunakan jalan tikus atau marmud, karena jalan dari rumah Marons ke gegung pengadilan harus melewati jalan utama/raya. Sehingga mereka harus berangkat lebih pagi dari rumah, agar tidak terlambat tiba di gedung pengadilan.


Danny turun dari mobil bersama Kaliana, kemudian diikuti oleh Pak Yosa untuk masuk ke gedung pengadilan. "Pelangi food, roll..." Ucap Kaliana kepada Putra, karena dia dan Pak Yosa hendak menghidupkan kamera yang ada pada mereka. Sedangkan komunikasi team sopape dan Danny sudah dalam kondisi baik. Kaliana telah mencobanya saat mereka masih dalam mobil.


Pak Yosa segera menghidupkan kamera setelah mendengar pelangi yang dikirim Kaliana kepada Putra. Pak Yosa mengerti apa yang dimaksudkan Kaliana untuk menghidupkan kamera, supaya Putra bisa mendeteksi posisi keluarga Jaret, jika sudah hadir di gedung pengadilan.


Danny mendengar percakapan yang dilakukan Kaliana, tapi tidak berusaha untuk bertanya. Dia yakin itu untuk team Kaliana. Jika berhubungan dengannya, Kaliana akan menyebut namanya. Saat berada di ruang tunggu, Danny mencari tempat duduk untuk Kaliana, karena mereka masih menunggu.


Sedangkan Kaliana dan Pak Yosa berada di tempat yang berjauhan sambil berdiri dan berputar perlahan untuk menunjukan orang-orang yang sudah hadir di ruang tunggu pengadilan kepada Putra. Agar Putra bisa mendeteksi, di mana posisi keluarga Jaret berada. Mungkin saja ada keluarga Jaret atau orang-orang yang berhubungan dengan Jaret sudah ada di ruang tunggu tersebut. Atau ada orang-orang yang tidak diduga oleh mereka. Sehingga Putra bisa mencocokan dengan data yang ada padanya.


Kalau pengacara Jaret, Kaliana pernah bertemu di ruang penyilidikan di kantor polisi. Tetapi mungkin saja yang datang pengacara keluarganya, bukan pengacara yang mendampinginya saat datang memberikan keterangan sebagai saksi 'kasus selokan'. Mengingat interaksi Jaret dengan pengacaranya, Kaliana menarik kesimpulan bahwa pengacara tersebut bukan pengacara pribadi Jaret.

__ADS_1


"Pelangi boy... Tahaaan...! Searah pundak kiri, senja lembayung. Mesmes hitam... Ibunya." Putra tiba-tiba menghentikan langakah Kaliana untuk terus berputar. Putra telah mencocokan gambar yang dilewati Kaliana, bahwa dia telah melewati posisi keluarga Jaret. Kaliana segera putar perlahan ke kiri melihat yang dimaksudkan Putra. Ketika melihat seorang wanita paru baya yang mengenakan atasan berwarna senja lembayung dan tas branded di pangkuannya, dia yakin itu yang dimaksudkan Putra. Kaliana melirik sekilas, lalu melihat ke arah lain. Tetapi Kaliana tetap menahan posisi berdirinya, agar bisa diconfirmasi lagi oleh Putra.


"Pelangi boy... Yess... Sendiri... Mungkin di sampingnya, pengacara. Suaminya tidak ada." Ucap Putra memberi keterangan. Tiba-tiba, pria yang disebelahnya berdiri berjalan mendekati Danny yang hendak memanggil Kaliana, setelah melihat ada kursi kosong.


"Orang Jaret mendekati Pak Danny..." Ucap Pak Yosa cepat, setelah merespon apa yang dikatakan Putra kepada Kaliana. Pak Yosa melihat ke arah orang tersebut yang berjalan ke arah Danny. Pak Yosa menahan posisinya, agar Putra bisa melihat orang tersebut lewat kameranya. Mendengar itu, Kaliana tetap mempertahankan posisinya, karena Pak Yosa sudah mengarahkan kamera ke arah Danny. Sedangkan dia ingin agar Putra bisa terus mengamati Mama Jaret.


"Selamat pagi, Pak. Maaf, saya mengganggu... Apakah benar, anda pengacara Ibu Chasina?" Tanya pria yang mendekati Danny. Pengacara tersebut berdiri mendekati Danny, setelah Mama Jaret berbicara dengannya. Dia diminta oleh Mama Jaret agar mendekati Danny untuk bertanya. Mama Jaret melihat penampilan parlente Danny, dengan jas dan dasi yang rapi. Sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang sudah hadir di ruang tunggu. Mama Jaret menduga, Danny dari pihak Chasina.


"Iyaa, Pak. Bapak siapa? Apakah ..." Danny menggantung pertanyaannya. Dia sudah bisa menebak, siapa yang berbicara dengannya ketika menyebut nama Chasina. Dia berbicara dengan santai, tetapi mulai waspada. Dia mengamati orang yang menyapanya, tapi tetap bersikap sopan, karena usianya lebih tua darinya, sudah setengah baya.


"Saya pengacara Pak Jaret dalam kasus gugatan ini. Apakah kita bisa berbicara sebentar? Ada yang ingin kami diskusikan dengan anda." Ucap pengacara Jaret cepat, melihat respon Danny yang baik dan sopan padanya.


"Mengingat tinggal sedikit waktu lagi, saya to the point saja... Kami minta tolong, agar anda mau membatalkan rencana gugatan cerai ini. Kami akan berikan kopensasi yang banyak, jika anda bisa membuat Bu Chasina mambatalkan gugatan cerainya." Ucap pengacara Jaret sambil memijit jari telunjuk dan jempol yang ditutupi tas kerjanya, sebagai isyarat akan memberikan uang kepada Danny.


Danny tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan oleh pengacara Jaret. Mereka mulai bermain di belakang Chasina. Tetapi pengacara Jaret salah mengartikan senyuman di wajah Danny. Pengacara Jaret mengira, Danny tergiur dengan tawarannya. Sehingga hatinya mulai tumbuh bunga kangkung.

__ADS_1


"Tapi saya perlu waktu untuk bicara dengan Ibu Chasina. Apakah ada alasan tertentu dari pihak Pak Jaret untuk membatalkan gugatan ini?" Ucap Danny pelan dan main halus sambil melihat jam tangannya, sebagai isyarat butuh waktu untuk berbicara dengan Chasina.


"Begini, Pak. Sebenarnya Pak Jaret tidak mau menceraikan istrinya, karena masih mencintainya." Jawab pengacara Jaret cepat, agar Danny tidak berubah pikiran.


"Preeeetttt..." Tiba-tiba, Danny mendengar suara anggota team sopape yang sedang mendengar percakapan mereka. Yicoe dan Novie tidak bisa menahan diri ketika mendengar apa yang dikatakan pengacara Jaret. Hal itu membuat Kaliana hanya bisa berdehem untuk mengingatkan Yicoe dan Novie agar bisa mengendalikan diri mereka. Tetapi hatinya tersenyum, karena dia hampir melakukan hal yang sama dengan Yicoe dan Novie.


"Siapa yang akan berikan kopensasi itu kepada saya? Pak Jaret, bapak, atau siapa?" Tanya Danny terbuka, berusaha menunjukan sikap tertarik dengan tawaran yang ditawarkan kepadanya.


"Bisa saya atau Mama Pak Jaret." Ucap pengacara Jaret cepat, tapi pelan. Dia makin yakin, Danny bisa diajak kompromi dalam kasus gugatan cerai Chasina.


"Kalau begitu, saya bisa minta nomor telponnya...? Agar saya mudah menghubungi, jika Bu Chasina setuju atau tidak." Ucap Danny tenang, lalu hendak mengeluarkan ponselnya. Tetapi pengacara Jaret mengambil kartu namanya lalu menulis sesuatu di kartu namanya.


"Itu sudah sekalian dengan nomor Mamanya Pak Jaret..." Ucap pengacara Jaret sambil menunjuk apa yang baru ditulisnya.


"Oooh... Nomor anda, 0 x x x x x x x ... Sedangkan nomor Mama Pak Jaret, 0 x x x x x x x ..." Danny sengaja menyebut nomor yang ada di kartu nama, agar bisa di dengar oleh Kaliana dan team. Terutama Putra untuk mengecek kebenaran nomor tersebut dan menyimpannya.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2