
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Semua yang dibicarakan oleh Mama Jaret dan suaminya didengar oleh Putra dan yang lain di rumah Marons. Karena nomor telpon Mama Jaret dan pengacaranya telah disave oleh Putra, sehingga bisa memantau komunikasi mereka dengan siapa pun.
Putra merekam semua percakapan Mama Jaret dan suaminya untuk didengar oleh Kaliana dan Pak Yosa. Putra segera mengirimkan pelangi kepada Kaliana, tentang percakapan Mama Jaret dan suaminya. Putra mengatakan garis besar pembicaraan mereka kepada Kaliana. Pak Yosa dan Danny yang masih terhubung dengan mereka ikut mendengar penjelasan Putra.
📱"Baik..! Putra, segera kirim pesan kepada Pak Bram untuk amankan Bu Chasina. Ini bunyi pesan yang akan kau kirim... Jangan lupa sertakan bintang tiga." Ucap Kaliana sebagai isyarat kepada Bram, mereka berada dalam siaga 3 untuk mengamankan Chasina. Bunyi pesan Kaliana berupa kode, kepada Bram.
...'Ketika ikatan hendak lepas, lawan ngeliat. Jagalah raga pandora.***'...
Setelah mengirim pesan kepada Putra untuk dikirim kepada Bram, Kaliana berpikir keras dalam situasi yang berubah begitu cepat, hingga dia pun harus bertindak cepat. "Putra, tolong sambungkan aku dengan Pak Bryan." Ucap Kaliana cepat yang sudah bisa membaca situasi. Dia yakin, Hakim Alvian akan bekerja cepat setelah dihubungi oleh Danny untuk memberitahukan situasi.
^^^~°°Danny menghubungi secara pribadi Hakim Alvian setelah ditinggal Mama Jaret. Kaliana meminta Putra mengamankan pembicaraan Danny dengan Hakim. Agar apa yang dikatakan Danny tidak terdeteksi oleh pihak yang tidak terduga. Danny menjelaskan alasan dia menulis di balik kartu namanya dan mengapa dia meminta Hakim Alvian diganti oleh Hakim yang lain.°°~^^^
^^^~°°Kaliana meminta demikian, agar Hakim Alvian tidak direcokin atau diganggu oleh orang tua Jaret. Hakim Alvian bisa mengerti maksud Danny dan berterima kasih untuk peringatannya. Beliau bisa merasakan kondisi yang akan dihadapi tidak biasa dan riskan dengan kasus perceraian Chasina. Apalagi jika ada banyak harta yang tidak halal di pihak Jaret.°°~^^^
Putra segera hubungi Bryan sesuai permintaan Kaliana dan siap mengamankan pembicacaan mereka di nomor bisnis/publik Kaliana. Marons jadi waspada bersama Yicoe dan Novie setelah Putra mengirim pesan Kaliana kepada Bram dan juga menghubungi Bryan.
📱"Hallo Pak Bryan... Ada di mana?" Tanya Kaliana cepat, setelah mereka terhubung. Bryan menjawab panggilan Putra dengan cepat setelah melihat nama Kaliana di layar ponselnya. Dia segera keluar ruangan meeting untuk meresponnya.
📱"Hallo Bu Anna. Saya ada di kantor Chasi. Ada apa...?" Tanya Bryan was-was mendengar suara Kaliana yang serius. Dia diminta tidak hadiri panggilan pengadilan, sehingga membuatnya khawatir terjadi sesuatu dengan gugatan cerai Chasina.
__ADS_1
📱"Baik... Pak Bryan jangan kemana-mana, ya. Tunggu kami di situ, karena ada yang mau kami bicarakan dengan Pak Bryan. Apa kami bisa lewati jalur khusus ke tempat anda, tanpa melewati lobby?" Tanya Kaliana lagi, agar pertemuan mereka tidak diketahui oleh para karyawan.
📱"Bisa... Berikan plat nomor mobil, nanti asisten Chasi tunggu di lobby." Ucap Bryan tanggap. Dia sudah beberapa kali berbicara dan berhubungan dengan Kaliana, jadi mulai mengerti situasi. Dia harus bersikap bagaimana jika dalam keadaan darurat .
Kaliana memberikan lagi plat nomor dan jenis mobil Rallita yang mereka gunakan. Kemudian segera mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.
Setelah melewati padatnya lalu lintas, beberapa waktu kemudian mereka tiba di gedung kantor Chasina. Saat mobil yang ditumpangi Kaliana tiba di lobby gedung kantor, seorang pria mendekati mobil mereka.
"Tolong bukakan pintunya, Pak Yosa. Itu asisten Ibu Chasina." Danny yang pernah bertemu dengan asisten Chasina, jadi mengenalnya. Danny menurunkan kaca mobil, lalu memberikan isyarat untuk mendekatinya yang duduk di depan.
"Oooh, Pak Danny... Maaf, kalau begitu saya duduk di belakang. Kita akan masuk ke tempat parkir khusus Bu Chasi." Ucap asisten Chasina lalu membuka pintu belakang mobil. Dia terkejut melihat Kaliana ada duduk di belakang.
Setelah berada di ruang kerja Chasina, Kaliana menceritakan apa yang terjadi di ruangan Hakim dan juga dia menyamar sebagai asisten Bryan agar bisa ikut bersama Danny dan Pak Yosa.
"Baik... Tidak mengapa... Kita jadikan itu betul saja. Sekarang Ibu Anna jadi asisten saya, untuk berjaga-jaga." Ucap Bryan serius, lalu memanggil asisten Chasina untuk masuk ke ruangannya.
"Tolong segera buat surat pengangkatan Ibu Anna sebagai asisten saya di Indonesia. Jadi jika ada yang menanyakan asisten saya, katakan saja Ibu Anna." Bryan berkata serius kepada asisten Chasina. Kaliana menerimanya untuk berjaga-jaga dalam keadaan darurat. Tetapi Bryan serius, jadikan Kaliana asistennya, jika Kaliana bersedia.
Asisten Chasina segera keluar menyiapkan permintaan Bryan setelah berbicara dengan Kaliana untuk meminta biodatanya. Kaliana tetap memberikan nama Anna untuk berjaga-jaga, tanpa memberikan identitas aslinya kepada asisten Chasina.
"Pak Bryan... Sekarang ada yang perlu kami bicarakan tentang rencana selanjutnya. Kita akan lakukan wawancara di sini, jadi Pak Bryan tolong pelajari jawaban pertanyaan ini." Ucap Kaliana lalu menulis kalimat di atas note yang diambil dari saku rompinya.
__ADS_1
Bryan mengambil lembaran note yang diberikan Kaliana lalu mempelajarinya. Pak Yosa juga mengambil lembaran note berisi pertanyaan dari tangan Kaliana, lalu mempelajarinya bersama Bryan.
Setelah berlatih, Kaliana menyiapkan semua yang dibutuhkan. "Pak Bryan berdiri di situ dan tolong bersikap tenang dan santai saat diwawancarai oleh Pak Yosa." Ucap Kaliana sambil menunjuk bagian tembok yang bersih, tanpa ada sesuatu yang menunjukan bahwa mereka ada dalam ruang kerja Chasina.
Bryan segera lakukan yang diminta oleh Kaliana dengan berdiri di tempat yang telah ditunjuk. Kaliana mengatur sudut pengambilan gambar Bryan saat diwawancarai, sehingga videonya bisa memberikan kesan yang serius dan diwawancarai oleh orang yang profesional.
Begitu juga dengan Pak Yosa mengambil posisi yang ditunjuk oleh Kaliana. Danny membantu Kaliana untuk menyiapkan spot, setelah Kaliana menjelaskan tujuannya melakukan wawancara tersebut.
Kaliana segera membuat video, wawancara Pak Yosa dan Bryan. Semua berjalan lancar, sesuai dengan keinginan Kaliana. 'Walaupun lebih dari satu menit, Putra akan mengeditnya untuk keperluan mereka.' Kaliana membantin.
"Pak Bryan, jika ada yang wawancara atau menanyakan tentang proses perceraian Ibu Chasina, harus jawab sama seperti tadi. Pak Bryan tidak perlu menjelaskan apapun. Bryan mengangguk mengerti maksud Kaliana.
"Bu Kaliana, sebentar lagi waktu makan siang. Mari kita pergi makan, sebelum pulang." Bryan menawarkan hal itu, karena melihat Kaliana telah bersiap-siap untuk pamit. Kaliana melihat jam yang ada di ruang kerja Chasina.
"Baik, Pak... Tapi kami makan di sini saja. Apakah bisa pesan makanan dari luar untuk kami makan di sini?" Kaliana sebenarnya ingin makan siang di rumah bersama Marons dan yang lain. Tetapi dia memikirkan Pak Yosa dan Danny pasti akan lapar di jalan, karena jalan sedang padat-padatnya. Sehingga Kaliana menerima tawaran Bryan, lalu mengirimkan pelangi kepada Yicoe dan Novie untuk berbicara dengan Bibi.
Sambil menunggu menu makan siang yang dipesan sekretaris Chasina, Kaliana mengirimkan pelangi kepada Putra, bahwa dia mau berbicara dengan Marons secara pribadi. Putra segera mematikan komunikasi semua anggota team dan juga Danny.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1