
...~•Happy Reading•~...
Tidak lama kemudian, Papa Jarek kembali menemui mereka yang sedang menunggu di ruang tamu, tanpa mengganti pakaiannya. Sambil menahan diri dan berusaha tenang, Papa Jaret mengajak mereka bercakap-cakap. Mama Jaret ke belakang untuk memanggil pelayan, agar segera membuat minuman untuk Papa Jaret.
"Pak Elly, karena sudah di sini, mari kita diskusikan beberapa hal menyangkut kasus yang menimpah Jaret." Papa Jaret berkata setelah duduk berhadapan dengan pengacara Elly di ruang tamu.
"Baik, Pak. Silahkan bertanya, agar kita bisa mencari solusi yang baik untuk menghadapi kasus Pak Jaret." Pengacara Elly berkata cepat, agar bisa segera pulang. Ada banyak hal yang harus dikerjakan, selain menangani kasus hukum keluarga Papa Jaret.
"Apa pendapat Pak Elly tentang kondisi sekarang ini? Mungkinkah semua tambungan Jaret sudah dibekukan?" Tanya Papa Jaret setelah melihat keseriusan pengacara Elly berbicara dengannya.
"Kalau melihat keseriusan Hakim menangani gugatan cerai Ibu Chasina tadi, mungkin saja sudah terjadi, Pak. Tadi Hakim sudah kirim surat untuk memeriksa kekayaan Pak Jaret, agar bisa dibagi sebagai harta gono-gini." Pengacara Elly berkata sambil berpikir tentang situasi di ruangan Hakim Alvian.
"Aku curiga juga seperti itu, melihat sikap Hakim terhadap kubuh wanita itu. Semua ditangani dengan cepat, mungkin sudah dibayar oleh orang tuanya." Mama Jaret menimpali setelah kembali sambil membawa minuman untuk suaminya. Beliau berkata dengan sinis, mengingat situasi di ruangan Hakim.
Apalagi mengingat Kaliana yang telah mencegahnya untuk menghambat penyelidikan harta Jaret dengan menyakiti kaki dan tangannya. Beliau mau menunjukan itu kepada suaminya, tetapi menahan diri melihat keseriusan di wajah suami dan pengacara Elly.
Papa Jaret berusaha fokus terhadap masalah yang sedang dihadapi dengan mengabaikan apa yang disangkakan Mama Jaret terhadap orang tua Chasina. Beliau tidak mau istrinya mengalihkan konsentrasinya ke hal lain
"Begini, Pak Elly. Jika benar terjadi seperti yang diperkirakan dengan tabungan Jaret, apa bisa juga dengan semua proferti yang dia miliki?" Tanya Papa Jaret yang sudah pikirkan itu sepenjang perjalanan pulang. Hal itu membuat detak jantungnya berdetak tidak teratur dan panik. Mengingat rumah, apartemen dan juga beberapa usaha atas nama Jaret, walau dikelolah oleh istrinya.
__ADS_1
"Iya, Pak. Pihak terkait akan memeriksa semua harta milik Pak Jaret untuk memproses gugatan cerai yang sedang berlangsung. Kalau harta berupa uang, hanya dibekukan sementara untuk proses cerai saja. Agar pihak tergugat tidak berlaku curang, dengan memindahkan kekayaannya." Pengacara Elly berkata serius dan tenang, tanpa bermaksud menyinggung orang tua Jaret yang sedang berusaha memindahkan uang Jaret.
Menurut pengacara Elly, jika orang tua Jaret ikhlas, Jaret tetap memiliki setengah hartanya setelah keputusan cerai. Tetapi yang membuat agak ribet dan lama, adalah proses pembagian proferti. Seperti pembagian rumah dan mobil atau perusahaan, jika ada. Itu yang terus dipikirkan pengacara Elly.
"Berarti semua proferti atas nama Jaret akan dibagi. Bagaimana caranya, agar kami tetap memiliki itu, tanpa menyerahkan profertinya?" Tanya Papa Jaret, karena 3 apartemen mewahnya masih disewah oleh orang.
Sedangkan usahanya masih mau dijalankan oleh mereka, sehingga semua itu tidak mau dibagi kepada Chasina. Mengingat itu semua, Papa Jaret makin panik. Begitu juga dengan Mama Jaret yang terus menyimak dan memikirkan semua yang mereka miliki.
"Bisa tetap menjadi milik Pak Jaret, jika semua profertinya dihitung dalam wujud uang. Berapa nilai semua proferti itu, ditambahkan dengan uang tunai yang ada, lalu dibagi dua. Itu akan mempercepat proses putusan cerai. Jadi kita tidak perlu negosiasi untuk memberikan yang ini atau yang itu untuk pihak penggugat." Pengacara Elly memberikan solusi, agar kasus gugatan cerai tidak bertele-tele. Karena mungkin saja pihak penggugat lebih memilih rumah dari pada mobil, atau sebaliknya.
Sontak Papa dan Mama Jaret melihat pengacara Elly dengan serius. Di kepala mereka, jika semua dinilai dengan uang dan diberikan setengahnya kepada Chasina, berarti bukan saja akan kehilangan semua tabungan Jaret, tetapi juga akan nombok. Nilai proferti yang dimiliki atas nama Jaret, melebihi uang yang ada dalam tabungan dan deposito Jaret.
"Baik. Saya tunggu informasi dari Pak Japry. Kalau begitu, saya pamit, karena ada yang harus saya tangani." Pengacara Elly berkata dengan hati lega, lalu hendak berdiri untuk meninggalkan orang tua Jaret.
"Tunggu, Pak Elly. Ada yang mau saya bicarakan juga tentang kasus Jaret. Tadi saya menerima informasi dari pelayan, sudah ada surat dari pengadilan untuk kasus Jaret." Papa Jaret berkata cepat, sebelum pengacara Elly berdiri sepenuhnya. Kemudian Papa Jaret memberikan isyarat kepada istri untuk mengambil surat yang diletakan oleh pelayan di ruang keluarga.
Setelah Mama Jaret kembali dan menyerahkan surat tersebut kepada suaminya, mereka kembali duduk diam menanti Papa Jaret membaca surat tersebut dengan seeius.
"Pak Elly, coba baca sendiri surat ini. Dari tanggal yang dicantumkan, persidangan Jaret akan digelar tiga hari yang akan datang. Bagaimana menurut Pak Elly dengan kasus ini?" Papa Jaret berkata serius, sambil berpikir dan memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.
__ADS_1
"Kau belum tampol pihak Kejaksaan?" Tanya Mama Jaret tiba-tiba setelah mendengar yang dikatakan suaminya. Hal itu membuat Papa Jaret mendelik dan jadi emosi.
"Kau tidak lihat apa yang aku lakukan sepanjang hari ini? Apa aku masih punya waktu untuk bertemu dan berbicara dengan pihak Kejaksaan?" Papa Jaret bertanya dengan emosi, karena hal yang akan mereka lakukan tidak bisa minta tolong sembarang orang. Nanti bukan dibantu selesaikan kasus, tapi mereka yang jadi sumur uang bagi orang yang pura-pura mau membantu.
"Begini, Bu. Tidak semua Jaksa mau dimintai tolong, walau pun itu dengan imbalan besar. Nanti malah kita yang kena kasus, mau menyuap Jaksa." Pengacara Elly melerai, agar Papa Jaret tidak makin emosi.
Papa Jaret sedang berpikir akan kehilangan uang lagi, sedangkan pengacara berpikir akan makin banyak kasus hukum yang menimpah orang tua Jaret. Mama Jaret terdiam, karena teringat pada petugas lintah.
"Sudah dengar itu? Semuanya akan makin kusut dan kita ada di dalamnya. Dua kasus besar Jaret sedang kita hadapi dan belum tau imbasnya kemana." Papa Jaret berkata sambil menahan emosinya. Beliau juga sedang berpikir tentang jabatannya di pemerintahan. Walau pun sudah mengantisipasi dengan memegang bererapa pihak, Papa Jaret tidak bisa percaya 100%, tidak akan bocor.
"Begini, Pak. Melihat tanggal persidangan kasus narkoba sudah dekat dan kasus gugatan cerai terhadap Pak Jaret, saya sarankan bapak memakai satu pengacara lagi." Pengacara Elly berkata serius, setelah membaca surat dari pengadilan. Kasus yang dihadapi Jaret bisa bergulir bersamaan dan pengacara Elly harus fokus untuk satu kasus.
"Apa maksudmu? Bukankah kau pengacara pribadi keluarga kami?" Tanya Papa Jaret agak emosi, karena heran dengan permintaan pengacara Elly.
"Begini, Pak. Jika kedua kasus Pak Jaret bergulir hampir bersamaan di pengadilan, saya harus lakukan pembelaan juga bersamaan. Itu akan menguras energi, karena kasus Pak Jaret tidak berpusat padanya saja. Saya juga harus memikirkan dampak dari kedua kasus ini, bagi keluarga dan jabatan bapak.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1