ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
50. Warna Sari 10.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Putra hanya bisa mengulurkan tangan memberikan salam, lalu mempersilahkan Bram berbicara dengan Kaliana. Dia menyadari, waktu Bram sangat berharga saat ini. Itu bisa dilihat dari keseriusannya, sehingga tidak mengajak bercanda Kaliana atau ngegombal seperti biasanya.


"Pak Danny besok sudah bisa ajukan surat gugatan cerainya, karena malam ini kami sudah pindahkan Bu Chasina ke tempat aman." Ucap Bram kepada Danny, agar bisa segera lakukan rencana yang sudah disusun bersama Kaliana. Sebagaimana yang dikatakan Kaliana, Bram pun ikut bergerak cepat, agar dia bisa bekerja dengan bebas.


Tidak diganggu lagi oleh para nyamuk, sesama anggota yang mencari uang dengan cara instan dan haram. Atau diganggu lagi para pencari berita yang penasaran dengan kasus Jaret, Chasina dan Pak Ewan. Semua peristiwa yang terjadi berkaitan dengan kematian Rallita membuatnya sibuk bekerja dan juga sibuk menghindari banyak pihak.


"Mungkin besok dokumen Jaret sudah kami serahkan ke kejaksaan untuk siap disidangkan. Nanti jadwalnya saya beritahukan pada Bu Anna." Ucap Bram lagi, tentang rencananya dengan kasus Jaret. Dia berharap kasus Jaret segera disidangkan, agar agak berkurang tekanan di kantornya dan juga dari publik.


"Baik, Pak. Terima kasih untuk bantuannya. Jika sudah selesai, nanti Bu Anna sampaikan pada bapak." Ucap Danny sopan dan sangat senang dengan dukungan Bram terhadap kasus Chasina dan keamanannya.


"Baik... Kalau begitu, saya pamit karena sedang ditunggu." Ucap Bram lalu mengangguk ke arah Danny dan Putra. Kemudian menepuk pelan lengan Kaliana dan bahu Pak Yosa di kursi depan, sebagai isyarat mau pamit. Bram kembali memakai penutup kepala dan masker, lalu memasukan amplop yang diberikan Kaliana ke dalam jacket sebelum keluar dari mobil.


Putra masih melihat Bram setelah keluar dari mobil dan berjalan ke motor trailnya. Dia masih tercengang dengan sikap Bram yang sangat berbeda dengan yang ada di benaknya. Bram yang suka gombalin Kaliana tidak terlihat sama sekali. Di benaknya, langsung berubah tentang gambaran karikatur Bram.


Setelah melihat dari kaca spion, Bram telah menjalankan motor dan meninggalkan tempatnya, Pak Yosa segera menjalankan mobilnya menuju rumah. Kaliana menyadarkan punggung lalu memejamkan matanya sejenak, untuk mengistirahatkan pikirannya.

__ADS_1


Banyak hal harus dikerjakan dan dibicarakan dengan team sopape juga Danny, setelah tiba di rumah. Hal itu membuat Kaliana perlu mengistirahatkan pikiran dan juga tubuhnya. Putra yang ada di sampingnya tidak mengganggunya, tapi asyik di depan laptop untuk membuat karekatur baru tentang Bram.


Saat tiba di rumah, mereka disambut oleh Yicoe dan Novie yang sudah tidak sabaran. Tetapi mereka jadi terdiam, karena tidak tahu Danny ada datang bersama Kaliana. Setelah bersalaman dan saling memperkenalkan diri, Bibi membawa Danny ke kamar tamu yang ditempati Marons, sebagaimana yang diminta Kaliana. Pak Yosa dan Putra segera ke kamar untuk mandi.


"Coe, Vie, tolong Bibi untuk siapkan makan malam, ya. Kami sudah sangat lapar." Ucap Kaliana sebelum masuk ke kamar untuk mandi. Yicoe dan Novie mengangguk mengerti, saat melihat Kaliana yang kuyu dan kelelahan. Kaliana segera ke kamar mandi, karena menyadari Putra dan Pak Yosa pasti sudah sangat lapar. Dia dan Danny masih sempat minum dan makan cemilan di tempat Pak Adolfis.


Selesai mandi, Pak Yosa mendekati Kaliana, karena Putra sedang Sholat. Jadi mereka belum bisa langsung makan malam. "Anna... Kamar atas yang dekat ruangan yang akan kita pakai sebagai tempat kerja, buat aku dan Putra tidur saja. Agar Pak Danny tempati kamar yang sekarang kami tempati. Jadi Pak Marons kembali, tetap tempati kamarnya." Ucap Pak Yosa yang sudah periksa setiap ruangan di lantai atas.


Ada ruangan kosong yang bisa dijadikan kamar sementara untuk mereka. Di lantai atas selain kamar Bibi, hanya ada ruangan fitness dan sekarang ada ruang kerja mereka. "Kalau begitu, besok baru kita bicarakan ya, Pak. Malam ini tidur di kamar yang sekarang saja dulu." Kaliana memberikan saran, karena sudah sangat lapar dan lelah untuk membahas sesuatu.


Setelah makan, Danny minta diri untuk bekerja di kamar. Dia ingin melakukan seperti yang dikatakan Bram, menyelesaikan surat gugatan cerai Chasina. Dia telah mendapatkan tanda tangan Chasina dari asistennya, sehingga muda baginya untuk melakukan sesuatu atas nama Chasina.


Kemudian dia masuk ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan untuk mengamankan percakapan Kaliana dan Marons. Setelah Putra memberikan kode 'OK' padanya, Kaliana segera masuk ke kamar untuk menghubungi Marons. Dia tidak mau percakapannya dengan Marons direcoki oleh mereka bertiga.


Marons merespon panggilan Kaliana pada deringan pertama. Hal itu membuat Kaliana yang sudah berbaring, terkejut.📱"Alloo, Nii... Baru tiba di rumah?" Tanya Marons saat merespon panggilan Kaliana. Dia sudah menunggu lama, tidak ada kabar dari Kaliana, sehingga membuatnya cemas.


📱"Maaf, Arro... Baru bisa hubungi sekarang, karena lapar, jadi tadi makan dulu." Ucap Kaliana merasa bersalah, saat Marons merespon panggilannya dan mendengar suaranya yang khawatir. Dia membaringkan tubuhnya agar bisa sedikit tenang berbicara dengan Marons.

__ADS_1


📱"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Berapa tulangmu yang rontok? Sudah kubilang, tau batas kekuatan tubuhmu. Tetapi masih saja, bablasss seperti angin." Ucap Marons serius, karena dari nada suara Kaliana yang lemah, dia yakin Kaliana sudah di atas tempat tidur dan sangat lelah.


📱"Tulangku aman terkendali, Arrooo.. Hanya hatiku yang rontok." Kaliana berkata sambil tersenyum tipis, mendengar ucapannya. Dia berusaha bercanda agar bisa mengurangi rasa kesal Marons. Tapi yang dikatakannya benar, dia sedang merindukan Marons.


📱"Ahhaaa... Berarti ada yang melayang..., sebentar lagi mau jalan-jalan di mimpi." Marons jadi sedikit lega, mendengar ucapan Kaliana. Dia tahu, Kaliana sedang berusaha membaurkan apa yang sudah dilakukannya sepanjang hari dengan berkata merindukannya.


📱"Arrooo... Kau pasang cctv di kamarmu?" Tanya Kaliana langsung menegakan punggungnya yang sudah berbaring, sambil melihat seputar ruangan kamar Marons.


📱"Kenapa...?" Tanya Marons terkejut. Jadi terlintas di pikirannya, apa mungkin Rallita pasang cctv di kamarnya.


📱"Kau ko' bisa tau, aku sudah mau jalan-jalan di mimpi?" Tanya Kaliana yang masih melihat ruang kamar dengan serius.


📱"Jika aku ada di situ, sudah kugendong dan memasukanmu ke bathtub penuh air hangat. Aku jadi serius mikirin ada cctv. Taunya kau sudah mulai melayang." Ucap Marons, sambil menepuk dahinya yang salah mengerti ucapan Kaliana.


📱"Dari suaramu, aku tau matamu sudah 5 watt. Sebentar lagi nyebrang ke pulau mimpi... Iya, kan...? Aku kira benaran, kau temukan ada cctv." Marons menyampaikan protes dan rasa kesalnya, sambil menarik nafas lega. Dia mengira yang dikatakan Kaliana benar.


📱"Astagaaa... Arroo, maaf. Aku tadi ko' kepikiran ada cctv di kamarmu, ya. Tidak menyangka kau menebak dari suaraku. Soalnya tadi mataku sudah kriyep-kriyep... hehehee..." Kaliana menepuk pelan dahinya untuk memanggil kembali kesadarannya, agar tidak membuat Marons makin kesal.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2