ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
56. Gercep 2


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Danny merasa lega, mendengar penjelasan Pak Alvian. Dari wajahnya, terlihat usianya hanya sedikit lebih tua dari Danny. Tapi sikapnya tenang dan mengayomi. Sangat serasi dengan Sisilia yang telah berubah menjadi gadis yang dewasa dan matang.


"Maaf, ya Kak. Kami tidak bisa lama, karena ada acara keluarga Mas Al. Nanti kapan-kapan, kita bisa bertemu dan makan siang bersama dengan yang lain." Ucap Sisilia sambil tersenyum, mengharapkan pengertian Danny akan situasinya dan suami.


Danny mengangguk sambil tersenyum senang. Sisilia tidak berubah menjadi pribadi yang arogan atau sombong karena kedudukan suaminya sebagai hakim. Dia tetap rendah hati dan masih mau mengenal teman-temannya. Danny jadi berpikir, dia pasti bisa lepas dari Tari. Temannya yang sering menekan dan mengintimidasinya, bahkan sering membuat dia terlihat buruk dimata para senior.


"Iya, Sil. Nanti setelah kasus yang kutangani ini selesai, ya... Tidak enak aku bertemu dengan Mas mu dalam situasi seperti ini. Akan ada banyak pikiran negatif atau prasangka buruk, jika kami bertemu." Danny mengingatkan Sisilia yang tidak memikirkan ke arah tersebut. Danny sedang menangani kasus pembunuhan dan bisa saja suaminya menjadi hakim untuk mengadili kasus tersebut.


"Iya, Dek. Mas setuju dengan Pak Danny. Kita hindari pertemuan pribadi sementara ini. Tunggu kasusnya sudah selesai, Insya Allah.., kita undang Pak Danny dan teman yang lain untuk makan siang." Kata Pak Alvian, bijak. Sisilia mengangguk mengerti, lalu berpamitan dengan Danny dan Pak Yosa.


Tiba di mobil, Danny menyandarkan punggungnya dengan hati yang sedikit mulai was-was. "Pak Yosa, seharusnya aku merasa lega dengan bantuan ini, ya... Tapi sekarang jantungku berdegup sangat tidak teratur." Ucap Danny pelan sambil bernafas dalam.


"Aku juga tadi memikirkan itu, Pak Danny. Bantuan Pak Alvian makin memuluskan jalan kita untuk bertemu dengan orang-orang yang berperkara. Mari kita pulang untuk bersiap-siap." Ucap Pak Yosa, lalu mengarahkan mobilnya ke arah pulang. Kaliana telah meminta Pak Yosa untuk langsung pulang, karena bantuan Pak Alvian bisa berarti banyak hal bagi team sopape.


Sebelumnya, Kaliana pun berpikiran sama, saat Danny berbicara dengan Pak Alvian. Mereka akan segera bertemu dengan orang-orang yang merasa terusik. Apalagi mendengar Pak Alvian katakan akan minta PPATK memeriksa harta kekayaan Jaret untuk pembagian harta gono-gini. Sebentar lagi mereka akan berhadapan dengan Jaret dan keluarganya. Mungkin juga mereka akan bertarung lebih cepat dari persidangan itu sendiri. Kaliana jadi berpikir ke segala arah dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.


Kaliana bersama anggota team di rumah mulai berkemas untuk merapikan ruang kerja dan kamar yang akan ditempati Pak Yosa dan Putra. Tiba-tiba ponsel Yicoe berdering. Yicoe langsung meresponnya, saat melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


Putra sudah mengamankan komunikasi mereka, sehingga posisi mereka tidak akan terdeteksi. Berbeda jika Kaliana mau menghubungi seseorang yang berhubungan dengan kasus yang sedang mereka tangani. Putra harus mengacak pembicaraan mereka.


"Non... Pesanan rompi dan yang lainnya sudah selesai. Mereka sudah siap kirim. Ini mereka sedang memastikan alamat untuk dikirim." Yicoe berkata pelan seakan berbisik, karena masih berhubungan dengan pihak yang menghubunginya.


"Jangan ke kantor kita atau rumah ini. Kirim saja ke alamat kantor cabang mereka di Jakarta. Nanti kita yang ambil sendiri di kantornya." Kaliana berkata pelan setelah berpikir sejenak, tentang alamat yang akan dipakai. Yicoe mengangguk mengerti, lalu berbicara kembali dengan yang menghubunginya.


"Vie, ini sudah semua, ya. Mari kita turun dan pesan semua perlengkapan ini, sebelum Pak Yosa dan Pak Danny tiba." Kaliana berkata kepada Novie yang sudah selesai dengan pendataan semua peralatan yang diperlukan. Novie mengangguk lalu mengajak Yicoe yang sudah selesai telpon untuk turun.


"Putra, ada lagi yang kau perlukan untuk melengkapi perlengkapanmu di ruang kerja?" Tanya Kaliana setelah mereka berada di lantai bawah. Putra menggelengkan kepalanya, karena semua yang dia butuhkan sudah di bawa ke tempat Marons.


Kaliana mengangguk lalu duduk di ruang keluarga bersama Putra, karena Bibi sedang menyiapkan makan siang di ruang makan. Mereka tidak bisa menggunakan ruang makan untuk berdiskusi. Mereka hanya menunggu Pak Yosa dan Danny untuk makan siang bersama. Sambil menunggu, Yicoe segera pesan semua yang dibutuhkan sesuai dengan yang diminta Kaliana untuk ruang kerja dan kamar tidur.


Beberapa waktu kemudian, setelah Pak Yosa dan Danny tiba di rumah, mereka makan siang bersama. Kemudian team sopape dan Danny duduk di ruang keluarga untuk membicarakan apa yang terjadi. Mereka harus pikirkan cara dan cari solusi yang tepat, jika terjadi perlawanan dari pihak yang terusik.


"Mba' Anna..., melihat keseriusan Hakim Alvian menolongku, mungkin dalam waktu dekat ini kita akan segera menjalani sidang gugatan cerai Bu Chasi." Ucap Danny setelah mereka semua telah duduk di ruang keluarga.


"Aku pikir juga begitu, Pak Danny. Tapi juga bisa lebih lambat, saat PPATK mulai melihat harta kekayaan Pak Jaret. Apalagi keluarganya mulai ambil bagian atau intervensi pihak-pihak tertentu untuk tutup mulut. Makanya tadi aku bilang, kita bisa bertarung duluan di jalanan, sebelum sidang berlangsung di ruang pengadilan..." Ucapan Kaliana terhenti, saat Putra memanggilnya.


"Mbak Anna... Apa sudah hubungi Pak Bram?" Putra bertanya tiba-tiba, membuat Kaliana melihatnya dengan alis bertaut. Kaliana menggeleng, karena belum menghubungi Bram.

__ADS_1


"Belum... Kalau sudah hubungi, pasti kau dib'ritahu. Aku pikir, nanti setelah bicara dengan Pak Danny baru hubungi beliau. Ada apa...?" Tanya Kaliana yang tidak mengerti maksud pertanyaan Putra.


"Ayooo... Semua lihat ke layar tv.. Ko', bisa pas begini, ya..." Ucap Putra yang sedang memantau sosial media. Putra segera menyalakan televisi yang ada di ruang keluarga, agar semua orang bisa melihat berita yang sedang diberitakan oleh beberapa stasiun televisi.


Semua orang jadi penasaran dengan apa yang dikatakan Putra, sehingga serius melihat layar televisi. Mereka melihat video, Bram sedang dicegat para wartawan untuk dimintai keterangan tentang kasus Jaret. Mereka terkejut dan makin fokus untuk mendengar apa yang dikatakan Bram.


"Kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Tunggu saja waktu persidangannya. Saat itu, kalian bisa tau semuanya." Jawaban singkat Bram itu, menjadi viral dan dibahas oleh berbagai stasiun televisi juga media sosial.


Ada yang mengatakan, 'ternyata diam-diam kepolisian sudah limpahkan kasus Jaret ke Kejaksaan'. Kondisi itu dibahas oleh berbagai pihak. Kejaksaan jadi incaran media yang penasaran dengan perkembangan kasus tersebut.


Netizen mengira aparat kepolisian akan menutupi kasus Jaret dengan terus menundanya. Mereka berpikir demikian, karena sudah jadi rahasia umun. Jika ada pejabat atau keluarganya terlibat dalam suatu kasus kejahatan, susah ditebak arahnya. Suka berbelat-belit, sehingga membuat netizen gemas dan geram.


"Lalu bagaimana dengan kasus istrinya, Pak?" Salah satu media bertanya kepada Bram yang akan meninggalkan kerumunanan. Semua yang ada di ruang keluarga menahan nafas, menanti jawaban Bram.


"Sama... Tidak lama lagi. Tunggu saja." Ucap Bram singkat, lalu meninggalkan para media yang masih penasaran.


"Astagaaa... Putra, tolong berikan kode untuk Pak Marons, agar menghubungiku. Pasti terjadi sesuatu, membuat Pak Bram tidak bisa menahannya." Ucap Kaliana langsung berdiri dan berpikir cepat.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2