ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
59. Gerah.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons bisa merasakan kecemasan Kaliana. Jika tidak ada terjadi sesuatu dengan Bram, Kaliana tidak akan begitu cepat menghubunginya. Dia seorang wanita pekerja, jadi mengerti kesibukan jika sedang bekerja.


📱"Masih... Tapi kalau kau bilang merindukanku, aku akan percepat." Marons menjawab asal, berharap bisa mengurangi rasa cemas dan khawatir Kaliana. Dia tahu kelemahan Kaliana, jika disenggol tentang hatinya, dia tidak akan cepat bereaksi.


📱"Iyaa... Aku merindukanmu... Sangat...!" Ucap Kaliana cepat, membuat Marons terkejut. Pasti terjadi sesuatu, sehingga dia bersikap tidak seperti biasanya. Tidak sungkan mengungkapkan apa yang dirasakannya, tanpa berpikir lama.


📱"Berapa %...?" Marons bertanya asal lagi, tapi serius. Dia hanya mau mengetes Kaliana untuk mengetahui situasi yang sedang dihadapinya, agar bisa ambil keputusan yang cepat dan tepat.


📱"101 % ... Itu bisa dengan cepat mengangkutmu kemari...?" Tanya Kaliana serius. Kaliana berharap, Marons bisa cepat kembali, agar dia bisa konsentrasi untuk bantu Chasina. Kondisi Bram tidak dalam keadaan baik. Itu bisa dia rasakan, karena pernah berada di tempat yang sama dengan Bram.


Jika Bram tidak menghubunginya, tapi melakukan sesuatu yang urgent, ada kode dalam ucapan atau gerakannya. Ketika dia berbicara singkat dalam situasi tertentu, itu tanda dia sedang mengirimkan pesan lewat cara yang biasa mereka berikan kode. Itu juga pertanda dia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Segala aturan peraturan yang berlaku di kesatuan jika dilanggar, bisa berakibat fatal. Bram bisa kena saksi hukuman, atau menghadapi sidang kode etik. Ujung-ujungnya dipecat dengan tidak hormat, atau dibuang ke tempat pembuangan kasus-kasus receh atau sampah.


📱"Hhhhmmmm... Bisaaa...! Baiklah, kau siapin saja yang diperlukan. Aku mau keluar makan dulu, karena sudah terlanjur janji dan tidak bisa dibatalkan." Ucap Marons serius, setelah berpikir cepat. Semenjak bertemu dengan Kaliana, dia tahu, Kaliana bukan gadis yang mudah panik atau bimbang. Hanya kebaikan hatinya sering membuat dia terbelenggu dengan berbagai hal yang dia inginkan dan rencanakan.


Marons segera mengakhiri pembicaraan mereka, setelah saling memberikan salam. Mereka sama-sama tidak memikirkan untuk bersikap atau berkata romantis seperti sebelumnya. Sama-sama serius memikirkan hal yang harus diselesaikan.

__ADS_1


Kaliana segera kembali ke ruang tamu untuk bertemu dengan anggota team dan juga Danny. Dia percaya pada apa yang dikatakan Marons, sehingga perlu bicara serius dengan team sopape dan Danny. Dia harus mengatur ulang rencana mereka, untuk menyesuaikan dengan perkembangan situasi.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Apa yang dilakukan Bram membuat orang tua Jaret seperti cacing kepanasan. Cuaca emosi di rumah mereka terasa gerah, walau semua ac dalam kondisi on. Papanya langsung menghubungi petugas yang sudah dimintai tolong untuk menolong Jaret, agar bisa direhabilitasi.


Beliau menumpahkan emosinya kepada sang bintang satu, tanpa memperdulikan jabatannya. Papa Jaret sudah yakin, Jaret akan lolos setelah sang 'Bintang' bersedia membantu dan menerima uang darinya. Oleh sebab itu Papa Jaret tidak mengecek lagi perkembangan kasusnya.


Tetapi setelah melihat Bram kembali menjadi pusat pemberitaan, karena telah melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan, Papa Jaret menjadi panik dan marah. Beliau mengamuk kepada pihak aparat yang sudah menyanggupi akan menangani kasus Jaret sesuai keinginannya. Jaret akan diusahakan untuk direhabilitasi.


[Beberapa waktu yang lalu, saat melihat berita di sosial media tentang kasus Jaret telah dilimpahkan ke Kejaksaan, Mama Jaret segera menghubungi suaminya untuk pulang ke rumah. Beliau tidak bisa terima, Jaret masuk persidangan dan akan dipenjarah bertahun-tahun. Sehingga Papa Jaret yang baru tiba di rumah jadi sangat marah mendengar cerita istrinya dan juga melihat berita di sosial media.]


"Kau tidak lihat dan dengar, aku baru saja telpon dengan siapa? Mereka sudah janji akan mengurus semuanya, jadi aku tidak khawatir soal dia. Aku tidak berpikir, akan begini jadinya." Papa Jaret balik membentak istrinya yang tidak mengerti situasi. Beliau sendiri sedang panik dan bingung mendengar berita tentang Jaret di berbagai media sosial.


"Bukankah kau sudah tampol mereka dengan gepokan, bergepok-gepok? Mengapa mereka menghianatimu? Kau tidak mau dengar yang kukatakan saat itu. Tampol saja petugas yang menangkapnya. Daripada para pimpinan yang cuma mau duitnya saja." Mama Jaret terus mencecar dan menyalahkan suaminya atas apa yang terjadi dengan kasus Jaret.


"Kau kira semua petugas bisa ditampol duit gepokan? Aku sudah menyelidiki petugas itu, makanya tidak tampol dia. Aku berpikir, cukup pegang yang lebih tinggi saja, para pimpinannya. Nanti mereka yang akan tangani bawahannya." Papa Jaret menjawab dengan kesal, karena istrinya menganggap beliau tidak mengerti keadaan, sehingga menyuap petugas yang salah.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Jaret bisa membusuk di penjara. Kau tidak sayang anakmu sendiri?" Tanya Mama Jaret makin panik dan cemas memikirkan kondisi anaknya di penjara.

__ADS_1


"Kau tidak melihat aku sedang berpikir? Ini terjadi begitu cepat. Dalam kondisi seperti ini, siapa yang bisa siap? Makanya jangan memanjakan anak tanpa aturan. Lihat hasilnya sekarang. Sudah kukatakan, berikan dia uang. Tapi segala macam alasanmu, untuk tidak berikan padanya." Papa Jaret menumpahkan kesal dan marahnya kepada istrinya.


"Apaaa...? Tidak diberikan bagiannya saja, dia bisa lakukan ini. Kau tidak berpikir dia akan gunakan uangnya untuk beli barang haram itu?" Mama Jaret balik memarahi suaminya dengan emosi yang meluap-luap.


"Lagian.., kalau kita berikan dia uang, lalu untuk apa kau nikahkan dia dengan wanita itu? Bukankah kau katakan dia berduit, jadi akan membantu Jaret?" Istrinya bertanya, dengan emosi dan marah. Jika sudah bicara tentang istri Jaret, emosinya meningkat.


"Kau ini pempuan, atau laki-laki? Anakmu itu perempuan atau laki-laki? Jadi kau ijinkan aku nikahkan dia dengan wanita itu, karena ini? Kau tidak malu berpikir seperti itu? Apa dia tidak memakai uang istrinya untuk beli barang haram itu juga?" Tanya Papa Jaret makin emosi mendengar ucapan istrinya tentang tujuannya menikahkan Jaret dengan Chasina.


Mama Jaret terdiam mendengar apa yang dikatakan suaminya. "Apa kau tidak berpikir, ada yang sengaja melakukan ini kepada anak kita?" Tanya Mama Jaret terkejut dengan apa yang terlintas di pikirannya.


"Apa yang kau maksudkan? Siapa yang sengaja lakukan apa dan untuk apa?" Tanya Papa Jaret, karena tidak mengerti maksud istrinya yang sedang melihatnya dengan serius dan mata membulat.


"Kau tidak berpikir, kenapa kasus Jaret lebih dulu dilimpahkan ke Kejaksaan? Kenapa bukan kasus Chasina yang sudah jelas-jelas sebagai pembunuh? Apakah orang tuanya bermain di belakang dan sengaja mau memenjarakan anak kita? Bukankah ini bisa sebagai pelampiasan amarah mereka terhadap Jaret?" Tanya Mama Jaret beruntun, karena timbul rasa curiga terhadap orang tua Chasina. Mereka sebagai salah satu konglomerat, jadi bisa lakukan apa saja dengan uang mereka.


Papa Jaret melihat istrinya dengan tertegun. 'Mungkinkah para petinggi di kepolisian yang diberikan uang untuk membantu Jaret, bermain dua kaki? Mereka menerima uang dari orang tua Chasina juga?' Tanya Papa Jaret dalam hati.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2