
...~•Happy Reading•~...
Tiba-tiba ponsel untuk publik Kaliana berdering, membuat semua berhenti tertawa. Ketika melihat nama di layar ponsel, Kaliana meletakan jarinya di bibir agar semua anggota team sopape berhenti tertawa dan tidak bersuara.
"Sssstttt... Ada cowker, telpon... Jangan ada yang berbicara, ya." Kaliana berkata dengan wajah serius, tapi hatinya tersenyum melihat anggota teamnya terdiam. Dia terus meletakan jarinya di bibir untuk ledekin anggota team, terutama Yicoe dan Novie.
Kaliana menggunakan kesempatan untuk mengalihkan perhatian anggota team dari pembicaraan seputar apa yang terjadi dengan dirinya dan Marons tadi malam. Dia juga tahu, ini adalah kesempatan yang baik untuk ledekin Yicoe dan Novie.
Setelah semua terdiam, Kaliana hendak merespon panggilan Bryan. Putra yang cepat menyadari situasi, segera memberikan kode kepada Kaliana untuk tidak menjawab telponnya. Dia belum sempat membersihkan saluran telpon Kaliana yang untuk umum. Dia tidak menyangka ada yang menelpon pagi-pagi di nomor telpon umumnya.
Putra berlari masuk ke kamar untuk mengambil peralatannya. Dia segera membersihkan semua saluran nomor anggota sopape, agar keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh orang yang sedang memantau mereka. Terutama semua nomor Kaliana dan juga emailnya.
Setelah semuanya selesai, Putra keluar kamar sambil menenteng laptop di tangannya. Dia siap membersihkan saluran orang yang menghubungi Kaliana, agar komunikasi mereka tidak terganggu. Setelah rapi dan clear, Putra memberikan kode kepada Kaliana bahwa sudah bisa menelpon.
Melihat tindakan Putra, Kaliana teringat pembicaraannya dengan Marons dan tindakan Marons mengamankan dirinya dan anggota team yang lain di rumahnya. Ternyata Marons telah berbicara sebegitu detail dengan Putra untuk menggunakan kepintarannya semaksimal mungkin, agar bisa menunjang pekerjaan mereka. Kaliana makin berhati-hati dan serius menghadapi setiap kemungkinan.
Kaliana segera menelpon balik Bryan.📱"Pagi, Pak Bryan..." Ucap Kaliana saat Bryan merespon panggilannya. Kaliana sengaja berbicara dengan Bryan di depan anggota team yang masih duduk di meja makan. Kaliana makin tersenyum dalam hati, melihat Yicoe dan Novie baru menyadari, dia sedang telpon dengan Bryan.
"Vie, tadi malam baru juga ditembak sama Pak Marons. Eeeeeh.., pagi, pagi, mulaiii..." Yicoe tidak meneruskan kalimatnya, tapi menyenggol pundak Novie yang ada di sampingnya dengan wajah dibuat kesal.
__ADS_1
"Iya, Coe. Ada yang mulai main di tikungan. Semoga tidak jatuh di belokan tajam." Novie menimpali, sambil balas senggolan Yicoe dengan wajah dibuat kesal juga.
Mendengar nama Bryan disebut, Yicoe dan Novie saling bersenggolan bahu sambil ledekin Kaliana dengan membuat mimik wajah kesal yang lucu. Putra dan Pak Yosa jadi tertawa melihat mereka berdua. Kaliana kembali meletakan jarinya di bibir, karena akan berbicara dengan Bryan. Membuat Yicoe dan Novie makin kesal dan terus bersenggolan.
📱"Pagi Bu Kaliana... Apa saya mengganggu?" Tanya Bryan, setelah mendengar sapaan Kaliana. Dia sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Kaliana, bahkan kalau bisa bertemu.
📱"Tidak, Pak... Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Kaliana serius dan mengabaikan candaan dan rasa kesal Yicoe dan Novie yang sengaja mengganggunya.
📱"Iya Bu Kaliana... Apakah kita bisa bertemu? Tadi malam saya bertemu Chasi dan dia bicarakan suaminya. Jadi saya mau bicarakan suaminya dengan anda. Kapan Ibu ada waktu?" Bryan berbicara cepat untuk menjelaskan maksudnya menelpon Kaliana. Dia juga ingin bertemu Kaliana untuk membicarakan rencananya terhadap Jaret. Dia butuh pendapat Kaliana sebelum melakukan rencananya.
📱"Maaf, Pak Bryan... Jika anda mau berbicara tentang adik ipar anda, saya mau katakan dulu. Tadi kami mengamankan pembicaraan ini, sebelum berbicara dengan anda. Apalagi sekarang mau bicarakan suami adik anda." Ucap Kaliana serius dan berharap Bryan mengerti situasi.
📱"Maksud anda bagaimana? Saya belum paham yang anda bicarakan." Ucap Bryan sambil berpikir. Pikirannya sedang penuh dengan amarah dan rencana untuk menghadapi Jaret. Sehingga dia tidak bisa cepat memahami maksud Kaliana.
📱"Anda masih ingat kejadian di parkiran restoran waktu itu, bukan? Sekarang kita harus berhati-hati bicarakan sesuatu tentang suami adik anda. Harap Pak Bryan mengerti juga, tidak baik bicarakan atau lakukan sesuatu terhadapnya. Sekarang situasinya sangat riskan untuk menyinggung hal itu dan tidak ada gunanya bagi kasus adik anda." Kaliana berkata serius dan tegas. Dia tidak mau Bryan bertindak gegabah karena sedang emosi.
📱"Mulai sekarang, yang kita bicarakan hanya tentang kasus adik anda. Selain itu, tidak usah bicarakan. Kami akan berusaha agar jadwal sidang adik anda ditunda beberapa waktu. Kami sedang berusaha melengkapi bukti yang sudah ada, agar bisa menolong adik anda. Jadi harap mengerti dan dukung pekerjaan kami." Kaliana berkata lagi dengan serius. Dia tahu Bryan sedang marah dari nada suaranya.
Bryan terdiam mendengar ucapan Kaliana. Dia berusaha memahami dan menurunkan tensi emosinya. Dia sudah emosi sejak mengetahui perilaku Jaret dari Kaliana dan juga sopirnya. Ditambah lagi dengan apa yang dikatakan Chasina dan melihat kondisi adiknya di tahanan, membuat dia tidak bisa kendalikan amarahnya.
__ADS_1
📱"Baik, Bu Kaliana... Saya berharap juga bisa bertemu dengan anda untuk membicarakan apa yang dikatakan Chasi. Saya juga mau bicarakan beberapa tawaran dari beberapa orang." Ucap Bryan penuh harap, agar bisa bertemu Kaliana untuk membicarakan yang telah didengar dari Chasina dan sopirnya. Dia sangat berharap, karena ketika Kaliana berbicara, bisa membuka banyak hal yang tidak terpikirkan olehnya.
📱"Baik, Pak... Saya akan hubungi setelah semuanya sudah ada perkembangan lebih lanjut. Sementara ini biarkan kami bekerja dulu, agar kasus Ibu Chasi segera disidangkan. Kasihan beliau berada di sana tanpa ada kepastian...." Ucap Kaliana serius dan tegas, tapi terputus, karena bunyi deringan telpon pribadinya.
📱"Pak Bryan, sebentar... Tolong bicara dengan team saya, karena ada yang perlu saya selesaikan." Ucap Kaliana lalu menyerahkan ponselnya kepada Yicoe, agar meneruskan pembicaraannya dengan Bryan.
Apa yang dilakukan Kaliana begitu tiba-tiba, membuat Yicoe terkejut. Sontak dia menyerahkan ponsel Kaliana kepada Novie yang ada di sampingnya untuk berbicara. Dia tidak memperharikan pembicaraan Kaliana dengan Bryan, jadi tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Novie, karena tidak siap berbicara dengan Bryan.
Pak Yosa yang melihat mereka sedang saling dorong ponsel Kaliana, menggelengkan kepalanya. Pak Yosa segera mengambil ponsel tersebut untuk berbicara dengan Bryan, agar tidak terjadi salah paham. Pak Yosa tahu, Kaliana menyerahkan ponselnya kepada Yicoe, karena mengira mereka perhatikan pembicaraannya dengan Bryan.
Tidak tahunya mereka hanya ledekin Kaliana, tanpa berpikir akan menerima tanggung jawab untuk berbicara dengan Bryan. Pak Yosa menjelaskan apa yang diminta Kaliana kepada Bryan.
Mendengar suara orang lain, Bryan agak ragu bicara dengan Pak Yosa tentang rencananya. Pak Yosa menyadari itu, jadi hanya berbicara tentang kondisi yang sedang terjadi dan meminta pengertian Bryan.
Putra yang sedang mengawasi lalu lintas komunikasi Kaliana dan Bryan, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Agar bisa menahan komentar dan tawanya melihat Yocoe dan Novie sedang saling memukul lengan, karena tidak bisa bicara dengan Bryan.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1