
...~•Happy Reading•~...
Pasti ada gerakan lucu yang dibuat oleh para gadis, hingga membuat Putra bisa cekikan seperti itu. Pak Yosa berkata sendiri dalam hati, sambil memperhatikan Bram yang sedang mengeluarkan makanan dari paper bag. Pak Yosa jadi tersenyum melihat tatapan Bram saat mendengar curhatannya.
"Hahaha... Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka. Mungkin mereka juga bisa mencuci mataku yang sudah mulai aus ini." Bram tertawa menanggapi apa yang dikatakan Pak Yosa tentang para gadis team sopape, lalu meletakan makanan yang dibawa Pak Yosa di atas meja.
"Kalau didengar mereka sebelum mengisi makanan itu, mereka akan menambah racun di makananmu. Atau mereka bukan mencuci matamu, tapi mencocol matamu dengan sambal ijjoo." Pak Yosa berkata sambil tersenyum, mengingat Kaliana, Yicoe dan Novie yang sedang mendengar percakapan mereka.
"Hahahaha... Pak Yosa jadi tertular cara bercanda mereka." Bram tertawa lagi mendengar ucapan Pak Yosa yang sudah sangat berubah. Semasa bertugas bersamanya sebelum pensiun, Pak Yosa pendiam dan serius. Sekarang bisa bercanda dengan santai, walau yang dikatakannya serius. Dia makin mengerti, Pak Yosa bukan saja menyayangi Kaliana seperti dulu, tetapi semua anggota teamnya.
"Bagaimana tidak ketularan cara mereka? Setiap hari mendengar ucapan dan candaan mereka dengan cara-cara yang kocak." Pak Yosa mengingat anggota team sopape yang selalu punya cara membuatnya tersenyum.
"Tapi mereka juga sering membuatku kesal dan khawatir. Apalagi jika mereka pergi menyamar sendiri dan aku hanya ditinggal berdua Putra, untuk jaga gawang. Sangat was-was." Pak Yosa berkata lagi, mengutarakan yang dipikirkan dan dirasakan kepada Bram.
Anggota team sopape yang ada di ruang kerja hanya bisa menutup mulut dengan tangan, mendengar curhatan Pak Yosa. Apalagi melihat Putra mengiyakan apa yang dikatakan Pak Yosa. Kaliana menedakatinya, lalu memijit pundaknya.
"Hahaha... Pak Yosa masih kesal, karena mereka tidak ajak bapak menyamar di club, ya..." Bram menebak, mengingat Kaliana pernah bercerita, dia dan teamnya pergi menyamar di club untuk menyelidiki pembunuh Rallita.
Ketika melihat Pak Yosa tidak menjawab, Bram jadi tersenyum. "Tapi aku setuju dengan yang dilakukan Anna dan teamnya. Seharusnya bapak senang dan terima kasih pada mereka." Bram berkata sambil tersenyum, melihat Pak Yosa melihatnya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Pak Yosa yang jadi kesal pada Bram, karena tidak membelahnya.
"Bagaimana mungkin Pak Yosa bisa menyamar? Kehadiran bapak akan jadi perhatian dan membuka penyamaran mereka. Para angels dengan bodyguard? Tidak mungkinnn... Hahahaha..." Bram mengipaskan tangannya dan kembali tertawa membayangkan Pak Yosa jadi bodyguard untuk Kaliana dan anggotanya.
"Kau sedang mengataiku aku sudah tua, jadi tidak pantas?" Tanya Pak Yosa dengan wajah dibuat galak. Membuat Bram makin tertawa.
"Astagaaa... Pak Yosa belum tua? Lalu mengapa mereka sudah ijinkan bapak pensiun? Nanti aku minta mereka koreksi dan panggil bapak berdinas lagi. Hahaha..." Bram terus tertawa sambil mengelak, karena Pak Yosa menimpuknya dengan bantal. Sedangkan anggota team sopape dan Danny makin tertawa dan tetap menutup mulut mereka, agar tidak dimarahin Pak Yosa.
"Pulang nanti, sayangi mereka, Pak. Mereka sayang jantung bapak, jadi tidak ajak untuk ikut. Bapak baru masuk pintu club, jantung bapak sudah menyerah dengan dentuman musiknya. Apa lagi sampai di dalam dan melihat orang-orang yang beraneka tingkah pola, hati bapak makin kesal. Lengkap, jantung dan hati bapak akan aus dalam sekecap." Bram tersenyum, tapi berkata serius dengan suasana club malam.
Pak Yosa melihat Bram dengan serius, sambil berpikir tentang apa yang dikatakannya. "Ko' kau tau? Kau suka pergi tempat begitu yaa..." Pak Yosa berkata lalu kembali melempar Bram dengan bantal.
"Bagus, masih ingat untuk lakukan yang begitu."Pak Yosa senang, Bram sudah pikirkan masa depannya dengan mulai membangun rumah sendiri.
"Guru yang baik, memberikan contoh yang baik. Pak Yosa pensiun, tinggal di rumah sendiri. Aman tentram... Masa aku, habiskan ditempat happy semu. Padahal keringatku mengalir benaran. Hahaha... Jangn lupa anggota teamnya dibagi ilmu hidup juga, Pak." Bram berkata sambil tertawa, tapi maksudnya serius.
"Mengingat ucapanmu tadi, pulang nanti aku akan beli sesuatu untuk traktir mereka. Biar mereka makin senang, bekerja dan jaga aku." Pak Yosa menekankan ucapan terakhirnya, agar didengar oleh anggota team.
Kau segera habiskan makananmu, kita sedang diburu waktu. Pak Danny sedang menungguku di kantor pengadilan negeri." Pak Yosa berkata serius, tapi hatinya senang mendengar suara tepukan girang dari anggota team.
__ADS_1
"Aku hanya makan roti ini saja, Pak. Yang lain buat makan siang saja, biar aku tidak keluar. Tidurku belum puas, jadi mau tidur sebentar lagi. Tadi bapak datang, sepertinya aku baru tertidur. Jadi mau teruskan sedikit lagi. Mungkin nanti malam, aku mau keluar." Bram kembali pada model serius, jika sudah bicara tentang pekerjaan.
"Baik... Kalau begitu, apa yang kau dapatkan saat lakukan penggeledahan? Anna dan yang lain hanya ingin tau." Bram tidak menjawab pertanyaan Pak Yosa, tapi kembali memakai sarung tangan lalu menuangkan semua yang ditemukan dalam sel tahanan Jaret ke atas meja.
Bram memperlihatkan barang bukti satu persatu dan membahasnya dengan Pak Yosa dengan serius. Sebagaimana Pak Yosa serius mendengar penjelasan Bram, demikian juga dengan anggota team sopape di ruang kerja. Kaliana meminta Putra merekam semua yang dijelaskan Bram untuk melengkapi foto barang yang digeledah Bram.
"Kalau Pak Yosa mau bawa ponselnya untuk diselidiki, bawa saja. Nanti baru dikembalikan lagi." Bram menunjuk ponsel Jaret di atas meja.
"Tidak usah... Putra bisa selidiki tanpa ponsel itu. Biarkan ponselnya bersama bukti yang lain. Jadi kalau tiba-tiba kau perlukan itu sebagai bukti, langsung digunakan. Tidak usah tunggu, harus ambil dari kami." Pak Yosa berkata serius, sambil mengambil gambar semua barang yang digelar Bram di atas meja untuk diselidiki oleh team sopape.
"Pak Yosa jadi selidiki nomor ponsel Jamu.gD?" Tanya Bram, mengingat ucapan Kaliana yang akan menyelidiki pemilik 'nomor batok B' tersebut
"Jadi... Aku yang akan selidiki, setelah Putra sudah tau lokasinya. Makanya aku ke sini, sambil menunggu info dari team. Jadi aku tidak bisa lama berbicara denganmu di sini." Pak Yosa menjelaskan yang akan dikerjakannya kepada Bram dengan serius, sebagaimana yang diminta Kaliana. Agar Bram bisa mengatur rencana sesuai dengan harapan team sopape.
"Nomornya tidak aktif dari malam? Apa dia sudah tau ponsel Jaret sudah disita? Apa dia berhubungan dengan seseorang yang sudah tau tentang penggeledahan tadi malam?" Tanya Bram sambil berpikir, begitu juga dengan Pak Yosa dan team sopape di ruang kerja.
"Apa Putra tau, nomornya sudah tidak aktif sebelum penggeledahan, atau setelah penggeledahan?" Bram bertanya sambil terus berpikir dan berharap Pak Yosa tau informasinya.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...