
...~•Happy Reading•~...
'Apa semua ini akibat kejadian itu?' Kaliana kembali menepuk dahinya, sambil melihat Marons dengan serius. Dia lupa mengingatkan Danny akan hal itu, agar tidak memberitahukan Marons. Jika Marons tahu, dia akan khawatir, karena proses hukum belum selesai.
"Kenapa... Ada 'nyamuk lupa' yang nemplok lagi di dahimu? Apa perlu ambil semprotan nyamuk?" Tanya Marons lagi, setelah melihat tatapan Kaliana padanya. Dia mulai mengerti, Kaliana sedang memikirkan apa yang sedang terjadi dan baru teringat.
Semua jadi tertawa, melihat Kaliana tidak menjawab pertanyaan Marons, tapi mendelik kepadanya. "Putra, mari kita ke ruang kerjaku. Jangan sampai ada yang keluar asap di kepala dan kita semua jadi terbakar." Ucap Marons lalu berdiri, sambil tersenyum dalam hati melihat mimik wajah Kaliana.
Putra ikut berdiri mengikuti Marons, lalu mengambil ranselnya di kamar tamu. Kaliana tidak bisa berkata-kata, dia hanya melihat sambil terus berpikir. "Kalian ke sini dari kantor atau dari rumah?" Tanya Kaliana kepada Yicoe dam Novie yang masih duduk di meja makan bersama Pak Yosa.
"Kami tadi di kantor, tapi sempat diantar ke rumah untuk ambil keperluan beberapa hari ke depan, Mbak. Punya Mbak Anna kami bawa yang baru diambil dari laundry saja." Jawab Yicoe, menjelaskan yang dilakukan oleh mereka sebelum berangkat ke rumah Marons.
"Tas yang kami bawa masih ada di ruang keluarga. Kami tunggu Mbak Anna bangun baru masukan ke kamar. Pak Marons bilang, kita akan tidur di kamarnya." Novie menambahkan apa yang telah mereka lakukan dan dikatakan Marons.
"Kalau begitu, mari kita masukan tas ke kamar. Nanti baru kita bicara lagi. Aku perlu bicara dengan Pak Marons tentang semua ini." Ucap Kaliana lalu berdiri dari meja makan, sambil merapikan meja makan bersama Yicoe dan Novie.
"Biar, Bibi saja Non..." Bibi terkejut melihat mereka telah merapikan meja makan, lalu buru-buru mengambil apa yang dibawa oleh mereka ke dapur. Bibi belum merapikan, karena mengira mereka belum selesai makan.
"Tidak apa-apa, Bi... Selama kami di sini dan tidak terlalu sibuk, kami akan bantu Bibi." Ucap Yicoe, sambil meletakan perlengkapan makan kotor di tempat cuci piring. Kemudian mereka bertiga ke kamar Marons untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan.
"Aku mandi duluan, ya. Badanku sangat penat dan mau rontok." Ucap Kaliana, lalu mengambil handuk yang dibawa oleh Yicoe dan Novie untuknya.
"Cepatan, mandinya, Mbak. Aku mau mandi juga, karena sudah tidak tahan mau terjun bebas di tempat tidur ini." Ucap Yicoe, sambil tersenyum senang membayangkan akan tidur di tempat tidur Marons yang sudah dirapikan Bibi dengan penutup tempat tidur yang baru dan wangi.
"Semoga besok kita tidak bangun kesiangan lagi." Ucap Novie, mengingat mereka pernah bangun kesiangan saat tidur di tempat tidur Marons. Kaliana memukul lengan Novie dan Yicoe, lalu masuk ke kamar mandi sambil tersenyum, jadi mengingat kejadian itu.
Tidak lama kemudian, ada bunyi ketukan di pintu. Novie segera membuka pintu untuk mengetahui siapa yang mengetuk. Dia terkejut, melihat Marons berdiri di depan pintu. "Mari masuk, Pak. Mbak Anna sedang mandi." Novie mempersilahkan Marons masuk, karena tidak enak berada di kamarnya.
__ADS_1
"Tidak usah... Tolong bilang Anna, aku tunggu di ruang makan." Novie hanya bisa mengangguk, lalu Marons berbalik meninggalkan Novie yang telah di susul oleh Yicoe.
Tidak lama kemudian, Novie menyampaikan pesan Marons, saat Kaliana keluar dari kamar mandi. Kaliana segera menuju ruang makan, dengan dahi berlipat. 'Apa yang Marons bicarakan dengan Putra, sehingga mau bicara dengannya?' Tanya Kaliana dalam hati, sambil berjalan ke ruang makan.
"Duduk di sini... Kita bukan mau meeting." Ucap Marons sambil menunjuk kursi di sampingnya, ketika melihat Kaliana duduk di depannya di seberang meja makan.
Kaliana mengikuti dalam diam, tanpa membantah, karena melihat Marons sedang serius. Dia duduk di samping Marons dan menunggu, apa yang akan dibicarakan Marons. Walaupun di luar tenang, tapi jantungnya berdegup lebih cepat. Dia khawatir, Marons mau menanyakan hal yang pribadi padanya.
"Kau percaya padaku...?" Tanya Marons, tapi tidak melihatnya, hanya menatap ke seberang meja. Karena mereka sedang sama-sama melihat seberang meja dengan kedua tangan di atas meja.
"Dalam hal apa dulu..." Kaliana berkata pelan, tanpa melihat Marons. Jika ada yang melihat mereka, seakan-akan mereka sedang duduk berdiam diri sambil melihat ke seberang meja.
"Dalam hal apa saja..." Marons berkata serius, tapi tetap melihat ke depan.
"Ada apa sih...?" Tanya Kaliana jadi ikut serius, sambil memiringkan wajahnya ke arah wajah Marons yang masih melihat ke depan.
"Tidak pakai bertanya..." Kata Marons dalam posisi yang sama. Dia tahu, Kaliana sedang melihatnya. Tetapi dia fokus untuk membicarakan rencananya.
"Tidak pakai berpikir..." Marons berkata sambil melihat ke arah Kaliana yang sedang mengetuk jarinya ke dagu.
"Arrooo... Aku belum sempat berpikir, kau sudah lindesss..." Kaliana berkata sambil mendelik kesal ke arah Marons yang sedang menatapnya.
"Kalau kau berpikir, tikungannya pasti banyak..." Marons berkata serius, tapi hatinya tersenyum melihat wajah kesal Kaliana.
"Yaaaa... Arrooo... Aku harus berpikir. Nanti kalau aku bilang percaya begitu saja, isi kepalaku bisa tandus." Kaliana berkata asal untuk mengalihkan perhatian Marons.
"Emangnya ada berapa banyak pohon di dalam kepalamu?" Tanya Marons menanggapi apa yang dikatakan Kaliana.
__ADS_1
"Lumayan banyak, jadi di sini dan di sini cepat adem." Jawab Kaliana asal, tapi menunjuk pinggiran kepala dan dada dengan jarinya.
"Sudah lihat, jika kau berpikir, bukan? Sebentar lagi, kau akan lupa sama pertanyaanku, karena sudah nyasar di antara pohon-pohon dalam kepalamu" Marons berkata sambil melihat Kaliana dan mengangkat kedua alisnya ke arah Kaliana.
"Pikiranku tidak pernah nyasar. Tetapi kau yang selalu membuat pikiranku nyasar. Seperti sekarang ini, lagi nyasar ke mana-mana." Ucap Kaliana dengan wajah kesal dan juga protes.
"Pegang tanganku, supaya ngga nyasar... Lalu jawab pertanyaanku tadi." Marons berkata, sambil membuka tangan kirinya ke arah Kaliana yang duduk di samping kirinya.
Kaliana ikut memberikan tangan kanannya ke arah tangan Marons dengan ragu-ragu. "Kenapa tanganmu dingin...? Coba yang satunya lagi..." Marons berkata serius, karena tangan Kaliana sangat dingin.
"Aku baru abis mandi, Arroo... Sudaaaa, ngga usah dibahas. Kalau ngga, lepasin saja. Kau lagi modus, mau kerjain aku, kan?" Kaliana berkata dengan nada yang agak naik levelnya.
"Aku ngga perlu modus untuk pegang tanganmu. Kalau mau pegang, aku pegang saja. Bukankah aku sudah memelukmu?" Tanya Marons mulai konyol, membuat Kaliana mendelik ke arahnya.
"Ok, jawab..!" Marons kembali serius, tapi masih pegang tangan Kaliana.
"Perlu penjelasan, ngga?" Tanya Kaliana, saat melihat Marons kembali serius.
"Jawab dulu...!" Marons berkata singkat.
"Iyaaa... Aku percaya...! Jawab Kaliana pelan.
"Karena...?" Tanya Marons serius.
"Karena, kau Marons Kasmara...!" Jawab Kaliana singkat.
Bagi Kaliana, walaupun Marons suka membuatnya kesal, tetapi apa yang dibilangnya, dia lakukan. Dulu dia janji akan membawa ikat rambut untuknya, dia menepatinya. Hal itu tidak pernah hilang dari hati dan pikiran Kaliana.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...