
...~•Happy Reading•~...
Semua orang serius memperhatikan apa yang diperlihatkan Putra. Mereka tercengang dan mulai memperkirakan kekayaan orang tua Jaret dari semua yang diperlihatkan Putra. Melihat harga setiap barang yang dimiliki oleh Mama Jaret, mereka yakin harta yang dimiliki tidak sesuai dengan pekerjaan mereka.
Danny melihat Marons yang sedang memperhatikan layar televisi dengan serius. 'Apa kurang kaya Marons dan orang tuanya? Tapi dia tidak pernah flexing. Kalau mantan istrinya, mungkin iya. Karena pernah melihat cara hidupnya yang glamour. Mengingat hal itu, Danny membuka sosial media lalu mencari akun Rallita secara diam-diam. Dia ingin membandingkan dengan Mama Jaret.
Danny juga membuka akun sosial media Chasina untuk melihat dan membandingkan, karena mereka dari kalangan yang sama. Dia terkejut melihat postingan Chasina di semua akun sosial medianya. Penuh dengan pertemuan dengan orang penting dan juga promosi tentang perusahaan dan produk yang dijual. Semua produk yang dijual oleh perusahaannya dipajang Chasina dan juga karyawan yang jadi bintang iklan produk.
Hanya beberapa foto pribadi saat berada di luar negeri bersama Bryan. Tidak ada foto bersama suaminya atau yang berhubungan dengan orang tuanya. Dia benar-benar menghindari perhatian publik tentang orang tuanya. Padahal kalau dia mau tunjukan siapa dirinya dan orang tuanya, bisa dia lakukan.
Danny mengagumi cara Chasina mengelola dan mempergunakan akun sosial medianya untuk hal-hal yang bermanfaat. Akun sosial medianya dijadikan tempat mempromosikan produk perusahaanya secara gratis.
"Kalau beli sepeda motorku dengan harga tas itu, bisa beli berapa buah motor, ya... Maksudku, dengan harga satu tas yang paling murah itu saja, bisa dapat berapa banyak?" Ucap Pak Yosa tiba-tiba saat melihat harga tas yang paling murah tetap bunyinya ratusan juta. Semua harga barang sudah dirupiahkan oleh Putra untuk mempermudah team sopape mengetahui harga setiap barang sebagai pembanding.
Semua orang yang tadinya serius, jadi tersenyum sambil melihat Pak Yosa yang masih takjub melihat harga barang yang dimiliki Mama Jaret. "Mungkin bisa buka showroom untuk jualan motor." Ucap Putra dengan wajah tersenyum, menanggapi apa yang dikatakan Pak Yosa.
__ADS_1
"Ooh iyaa, Pak Yosa... Melihat wajah para gadis di sini, pastinya harga tas mereka masih 7 digit." Putra berkata serius, tapi dengan mimik lucu untuk ledekin Kaliana, Yicoe dan Novie. Dia berkata demikian, karena hampir tidak pernah melihat mereka menggunakan tas jika bepergian. Hanya dalam keadaan tertentu, seperti pertemuan resmi atau ke undangan perkawinan, baru memakai tas.
"Astagaaa... Siapa yang bilang, tas kami 7 digit? Yicoe tas kita yang paling mahal berapa?" Tanya Kaliana ke Yicoe, karena mereka pergi beli bersama dan Yicoe yang mengeluarkan uang untuk membeli keperluan mereka. Kaliana dan Novie hanya menunjuk model dan warna tas yang mereka sukai.
"Ngga sampai 300 rb, karena bukan tas branded. Dipilih karena merasa senang, sesuai fungsi serta warna dan modelnya 'pascok' di hati." Ucap Yicoe sambil melihat Kaliana. Dia mengingat berapa lama pembicaraan dan pertimbangan berlangsung saat mau putuskan beli tas yang seharga itu.
Marons melihat Kaliana, Yicoe dan Novie bergantian. Dia seakan tidak percaya mendengar jawaban Yicoe, bahwa harga tas paling mahal yang dimiliki oleh mereka. Padahal, harga tas paling murah milik Mama Jaret, bisa buka showroom motor, menurut Putra.
"Melihat semua tas itu, aku jadi ingat saat melihat tas yang harganya 40 jeti. Itu sudah didiskon... Boss bilang begini: 'Abaikan itu. Pakai tas 40 jeti, tapi perginya masih naik angkot (angkutan umum). Turun dari angkot, tasnya nyangkut, terus kebeset. Nangis bombay berhari-hari'." Novie mengulang apa yang dikatakan Kaliana saat itu. Membuat semua orang dalam ruangan tertawa ngakak.
"Benar, kan? Jika sudah kebeset, jetinya ikut dibeset. Jadi tidak berharga 40 jeti lagi." Ucap Kaliana sambil tersenyum membayangan tas 40 juta tergores saat turun dari angkot.
"Kalau tas mahal, harus ambil dengan gerakan hati-hati dan jinjing dengan manis. Agar jetinya ngga luntur." Novie berkata serius, mengingat cara kerjanya juga Kaliana dan Yicoe.
Para pria dalam ruangan makin tertawa mendengar apa yang dikatakan Kaliana dan Novie. "Bukan hanya itu saja... Ngurusinnya juga harus hati-hati agar tidak kudisan. Sangat ribet dan menyita waktu..." Ucap Yicoe menimpali, mengingat pembicaraannya dengan Kaliana dan Novie saat melihat sebuah tas yang berharga fantatis dan cara merawatnya agar tidak kelupas.
__ADS_1
Keempat pria yang ada dalam ruangan yang tadinya tertawa jadi terdiam mendengar penjelasan Yicoe. Mereka mengakui kebenaran apa yang dikatakan Yivoe, Novie dan Kaliana setelah memikirkannya. Terutama Marons jadi terkesima dengan pembicaraan mereka. Dia telah melihat dan mengakui cara Kaliana dan anggota teamnya membelanjakan uang mereka.
"Kalau untuk sopapa, keluarin yang banyak, ngga pa'pa, ya..." Marons berkata pelan ke arah Kaliana, karena tahu banyak duit yang dikeluarkan Kaliana untuk memodif mobilnya. Biaya modifikasinya bisa berkali lipat dari harga mobil baru.
"Oooh, kalau untuk kesayanganku itu, ngga pa'pa... Hari-hari menemaniku di jalanan dan itu sebagai aset untuk bekerja. Itu ada manfaatnya dan dijual lagi masih laku. Pernah ada yang mau beli dengan harga tinggi, lebih dari dua kali lipat." Ucap Kaliana sambil tersenyum, mengingat ada yang mau beli mobilnya dengan harga hampir tiga kali lipat. Dia berkata demikian, sekaligus menjelaskan alasannya memodif mobilnya.
"Lebih baik uang untuk beli harga tas yang paling mahal itu dipakai buat beli kembaran 'sopapa' dan dijual lagi. Dari pada beli tas hanya untuk bergaya to day, kudisan tomorrow." Ucap Kaliana sambil tersenyum membuat semua kembali tertawa mendengar ucapannya.
Marons sontak melihat Kaliana dengan serius. Kemudian memiringkan kepalanya kearah Kaliana lalu berbisik. "Hati-hati bicaramu, kalau tidak mau aku menciummu di depan mereka semua." Bisik Marons pelan, membuat wajah Kaliana memerah dan memukul lengannya beruntun.
"Eeeeh... Ada apa ini? Ada yang mau beli tas baru? Atau beli sopapa baru?" Tanya Putra yang melihat wajah Kaliana memerah, sambil memukul lengan Marons. Dia berkata demikian, karena berpikir Marons akan beli tas atau mobil baru untuk Kaliana.
Kadang celetukan Kaliana sangat kocak dan menggemaskan. Selain membuat orang tertawa tapi juga membuat orang ingin mencubitnya. Sehingga Marons yang ada di sebelah ingin menciumnya. Wajah Kaliana masih memerah mengingat ledekan Marons. Setelah memukul lengan Marons, Kaliana menunjuk ke arah televisi.
"Sudaaa, fokus... Lihat layar tv, kita akan putuskan gambar yang mana untuk kita tiup duluan. Putra, jangan mancing. Kali ini kau salah menebak yang terjadi." Ucap Kaliana mengalihkan perhatian semua orang dari apa yang dilakukan dirinya dan Marons. Dia juga berkata demikian untuk menghilangkan senyum ledekan di wajah Putra.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...