ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
67. Bertaktik 3.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Hakim Alvian tertegun sambil melihat Kaliana, karena tidak menduga ucapannya langsung pada sasarannya. Tidak memberikan peluang untuk pihak tergugat bermanuver.


"Apa maksud ucapanmu dengan romansa palsu? Anda masih mudah, tapi mulut anda tajam dan tidak sopan kepada kami." Mama Jaret terkejut mendengar ucapan Kaliana, sehingga mulai emosi dan jadi tersinggung. Tanpa menunggu waktu dari Hakim, langsung berkata dan berhadapan dengan Kaliana.


"Mohon ijin menjawab, Pak Hakim..." Ucap Kaliana kepada Hakim Alvian, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada sebelum menjawab Mama Jaret.


Hakim Alvian mempersilahkan Kaliana menjawab dengan membuka tangan kanannya. Beliau berpikir, ini adalah juga bagian dari mencari titik temu, atas kasus yang sedang ditanganinya. Apalagi beliau melihat Danny hanya diam dan menyimak.


"Begini ibu yang terhormat... Apakah benar, Ibu tidak tau arti dari dua kata itu? Kalau tidak tau, nanti minta pengacara ibu cari artinya di google." Kaliana berkata lagi, tanpa menunggu Mama Jaret menjawabnya.


"Kalau saya jelaskan disertai bukti, tulang ibu akan malu menyangga tubuh. Ibu bisa melorot ke lantai, atau butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka." Ucap Kaliana pelan dan tenang, tapi serius sambil memandang Mama Jaret.


"Jadi kita tidak perlu membuang waktu untuk membahas yang palsu-palsu, Bu... Kita sama-sama tau, apa yang membuat mereka berdua ada dalam tahanan saat ini." Kaliana tetap berkata dengan tenang dan serius tanpa memperdulikan Mama Jaret yang sedang memelototinya. Begitu juga dengan Hakim Alvian yang serius memperhatikannya.


"Oooh, iya Bu... Ucapan saya mungkin tajam, tapi tidak menusuk, hanya sedikit sayatan untuk mengingatkan. Supaya ibu tetap sadar dengan keadaan sekitar, dimana ibu sedang berpijak." Kaliana berkata lagi, tanpa mempedulikan mata Mama Jaret yang makin membesar, melototinya. Dia tidak memberikan peluang kepada Mama Jaret untuk berpikir atau merencanakan sesuatu di kepalanya.


"Ucapanmu makin ngelantur... Siapa yang berlaku palsu di sini? Kau memuduh kami bersikap palsu?" Mama Jaret menyambar cepat dengan ngotot dan galak, untuk menutupi rasa terkejutnya. Dalam pikirannya terus berputar, mencari cara dan bertanya-tanya. 'Siapa wanita yang ada di depannya ini? Dari mana dia bisa tahu, niat hatinya?' Itu yang ada dalam pikiran Mama Jaret.

__ADS_1


"Ibuuu.... Yang saya katakan tadi, bukan ngelantur, tapi sedang menahan sayatan. Karena melihat anda sebagai seorang ibu. Tapi karena ibu ngotot juga, saya akan perjelas ngelanturnya saya." Ucap Kaliana serius dan tegas. Dia mengabaikan perasaan Mama Jaret yang mungkin saja bisa tersinggung. Karena dia berpikir Mama Jaret sudah mengerti maksudnya, tetapi masih mencecarnya.


Kaliana tidak melihat lagi ke Mama Jaret, tapi langsung kepada Hakim Alvian yang sedang melihatnya. "Pak Hakim... Semua alasan manis yang dikatakan oleh pihak tergugat tadi, akan dilakukan kapan dan dimana? Apakah penggugat dan tergugat bisa memperbaiki hubungan atau membangun rumah tangga mereka di penjara?" Tanya Kaliana serius, karena dia yakin Jaret akan dipenjara dalam waktu yang lama karena sebagai pengedar. Dia tidak mau melihat Mama Jaret yang sangat marah padanya.


"Mengapa pesimis? Apakah mereka tidak akan keluar dari penjara? Apa kau bisa rasakan perasaan orang tua, melihat rumah tangga anaknya berantakan, jika bercerai?" Tanya Mama Jaret tidak tahan mendengar ucapan Kaliana yang memancing emosinya.


"Sweettt... Hati saya hampir meleleh mendengar ucapan ibu. Apakah Ibu sadar dengan pertanyaan Ibu tadi?" Kaliana balik bertanya, setelah mendengar pertanyaan Mama Jaret.


"Supaya ibu tau, bukan gugatan cerai ini yang membuat rumah tangga mereka berantakan, tetapi perilaku anak Ibu yang membuat rumah tangga mereka hancur." Kaliana berkata sambil menatap Mama Jaret dengan dingin. Dia mengingat apa yang dilakukan Jaret dengan Rallita. Mama Jaret melihat Kaliana dengan emosi, tapi terdiam.


"Pak hakim... Saya berbicara begini, karena bagi kami, alasan yang dikatakan mereka adalah alasan dicari-cari dan mengada-ada. Coba Pak hakim tanyakan kepada mereka, sudah berapa banyak kali menengok dan menghibur Ibu Chasina di tahanan." Mama Jaret kelagapan, tidak bisa menjawab pertanyaan Kaliana yang tidak diduganya. Apalagi mereka belum pernah menengok Chasina di tahanan.


"Anaknya digugat cerai, baru tiba-tiba merasa anaknya sudah berumah tangga dan punya menantu." Kaliana tidak bisa menahan rasa kesalnya. Yang lain membiarkan kedua orang wanita itu beradu, tanpa berusaha melerai.


"Tapi begini, Pak Hakim... Kami akan berikan kesempatan kepada mereka. Jika pihak tergugat masih ngotot untuk pertahankan rumah tangga mereka berdua, silahkan pergi menemui Ibu Chasina dan memohon pada beliau. Mungkin dengan begitu, bisa meluluhkan hatinya." Kaliana berkata demikian, karena sudah punya rencana lain dan mau memancing Mama Jaret.


"Siapa yang mau bertemu dengan wanita itu? Biarkan dia membusuk di penjara." Mama Jaret naik level emosinya, mendengar tawaran Kaliana. Sehingga membalas ucapan Kaliana dengan sangat marah. Mama Jaret tidak sadar, telah membuka apa yang ada di hatinya dengan membalas Kaliana. Pengacaranya tidak bisa mencegah lagi, karena Mama Jaret telah membuka sendiri rencana mereka untuk membatalkan gugatan Chasina.


"See...?!" Kaliana kembali membuka tangannya ke semua orang yang ada dalam ruangan untuk meyakinkan bahwa alasan permohonan pembatalan pihak tergugat, terutama Mama Jaret, palsu.

__ADS_1


"Pak Hakim sudah dengar sendiri, mengapa saya katakan alasan mereka itu hanya romansa palsu, bukan? Jadi apa gunanya menanggapi alasan mereka sebagai pertimbangan untuk membatalkan gugatan cerai Ibu Chasina?" Kaliana berkata sambil membuka tangan kirinya ke arah Mama Jaret yang sangat terkejut.


Hakim Alvian mengangguk kearah Kaliana. Beliau segera memisahkan lembaran demi lembaran dari gugatan cerai Chasina. "Pihak tergugat sudah diberikan waktu untuk membuktikan alasan pembatalan. Anda sudah membuktikan dengan baik. Jadi mari kita teruskan perkara ini." Hakim Alvian berkata serius setelah mendengar apa yang dikatakan Mama Jaret.


"Pihak penggugat, apakah semua yang ada dalam surat gugatan diteruskan tanpa terkecuali...?" Tanya hakim Alvian kepada Kaliana dan juga melihat ke arah Danny.


"Tanpa terkecuali, Pak hakim." Kaliana dan Danny berkata secara bersamaan. Bagi Danny, Mama Jaret sendiri yang telah membuka rencananya, jadi dia tidak perlu menahan diri.


Mendengar itu, hakim Alvian mengambil lembaran tuntutan dari surat gugatan Chasina, lalu membacakan poin-poin yang menjadi tuntutan Chasina. "Sebentarrr... Apa maksudnya dengan memberikan setengah dari harta tergugat kepada penggugat?" Tiba-tiba Mama Jaret bertanya, karena terkejut mendengar harta Jaret akan diberikan setengahnya kepada Chasina.


"Petugas, tolong ambil minuman untuk beliau." Ucap Hakim Alvian kepada petugas, karena Mama Jaret sering bertanya untuk sesuatu yang sudah jelas.


"Tidak perlu... Saya punya minuman sendiri." Mama Jaret berkata sambil mengangkat tangannya, dengan sikap yang arogan. Rasa penasarannya membuat Mama Jaret melupakan etika dan sopan satun saat berbicara dengan Hakim.


"Kalau begitu, silahkan diminum dulu, agar bisa berpikir lebih baik. Anda bertanya tentang sesuatu yang tidak perlu. Apakah kurang jelas yang saya bacakan tadi?" Tanya Hakim sambil menatap Mama Jaret dengan serius.


Semua yang mendengar jawaban Hakim jadi tersenyum. Tadinya mereka tidak berpikir bahwa itu maksud Hakim meminta petugas memberikan minuman kepada Mama Jaret. Tetapi setelah mendengar itu, mereka jadi ingat sebuah iklan air mineral.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2