
...~•Happy Reading•~...
Parikus melihat pimpinan Bram dengan serius, sambil berpikir tentang apa yang dikatakannya. Apa lagi rencana boss ini? Bukannya ini membiarkan kucing dalam lumbung ikan? Parikus terus bertanya dalam hatinya, karena tidak mengerti.
"Kau pikir, aku tidak tau? Aku pimpinan di sini dan mengikuti proses mutasinya. Jadi saya mengetahui anak buah mana yang bermanfaat atau tidak. Sekarang beliau adalah pimpinanmu, jadi hati-hati dan jaga sikapmu, jika mau tetap bekerja di sini." Pimpinan Bram berkata cepat, karena rencananya bisa berantakan, jika Bram mencurigai kedekatan mereka. Apalagi sampai tidak memilih Parikus masuk dalam teamnya.
"Siiiap...! Saya hanya ingatkan saja, Pak. Petugas tadi mengenal orang yang menemukan bukti untuk memenjarakan Pak Jaret. Bapak masih ingat nama Kaliana yang disebutkan Pak Jaret bukan? Petugas tadi mungkin bekerja sama dengannya." Parikus menjelaskan kepada pimpinan Bram, namun pimpinan Bram meresponnya dengan emosi, karena masih masih mengatakan petugas itu tanpa menyebutkan nama Bram.
"Kali ini saya membiarkanmu. Tetapi sekali lagi kau masih mengatakan petugas itu, kau akan tau akibatnya." Pimpinan Bram masih bersabar dan mentolelir sikap Parikus, karena masih membutuhkan bantuannya.
"Justru bagus jika mereka saling kenal dengan baik, jadi kita akan lebih mudah melacak keberadaannya, jika petugas Bram ada di sini. Atau kau sudah dapat informasi tentang keberadaannya?" Tanya pimpinan Bram, mengingat tujuan Parikus ke ruangannya untuk melapor.
Mendengar penjelasan pimpinan Bram, Parikus makin gusar. Dia sekarang yang akan dipantau, bukan dia memantau Kaliana. Mengingat itu, Parikus jadi gelisah dan mulai frustasi. "Menurut saya kita akan lebih sulit mencari informasi, Pak. Sekarang saja kita sudah susah melacak keberadaannya. Apalagi dengan kedatangan Pak Bram." Parikus mulai membahasakan Bram dengan hormat, agar pimpinan Bram tidak emosi mendengar sedikit protes darinya. Dia tidak sepemikiran dengan pimpinan Bram, tapi tetap harus terima.
"Justru kau yang tidak becus bekerja. Sampai sekarang belum dapat informasi apapun tentangnya, sedangkan kasus Jaret sebentar lagi akan disidangkan. Lalu bagaimana dengan semua bukti yang bisa meringankan itu? Apa sudah bicara dengan Jaret dan sudah mengatur semuanya dengan yang ada di luar?" Tanya pimpinan Bram sambil melihat Parikus dengan serius.
"Saya tidak bertemu dengan Pak Jaret, Pak. Nanti kehadiran saya di sana jadi perhatian petugas yang sedang bertugas di sana. Tetapi saya sudah mengatur dengan orang di luar untuk bertemu Pak Jaret di tahanan. Mereka sudah bicarakan rencana itu saat datang mengunjunginya. Itu yang mau saya laporkan tadi." Parikus berkata pelan, sambil mendekati meja pimpinan Bram dan menjelaskan yang akan mereka lakukan.
"Kalau begitu, kau segera kembali ke tempatmu dan lapor diri ke pimpinanmu yang baru." Pimpinan Bram merasa sedikit lega mendengar laporan Parikus, karena dia bisa kerjakan sesuai instruksinya.
__ADS_1
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Bram sedang memeriksa dokumen kasus satu persatu dengan teliti di ruang kerjanya. Dia sedang mencari kasus-kasus yang masih dalam penyelidikan dan perlu diselesaikan dalam waktu dekat. Ketika tidak mendapat kasus urgent yang perlu diselesaikan dalam waktu dekat, alis Bram bertaut.
Semua kasus yang diserahkan padanya bukan tidak penting, tapi bisa membuatnya bekerja lebih santai di balik meja. Sebagai orang yang suka bekerja di lapangan, ini adalah pekerjaan membosankan dan menjemukan. Memikirkan semua itu dan apa yang akan terjadi di hari-hari yang akan datang, Bram berpikir cepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Dia melihat sekeliling ruangannya yang belum diperiksa kebersihannya dari berbagai kemungkinam yang akan terjadi. Dia mengambil kertas daftar nama petugas yang diberikan pimpinan kepadanya. Dia mencari salah satu nama dari daftar tersebut untuk dimintai informasi, sedapatnya.
Namun sebelum berdiri, pintu ruang kerjanya diketok dari luar. Bram segera merapikan semua dokumen di atas meja lalu mempersilahkan masuk. "Lapor, Pak...!" Parikus yang baru masuk, lalu berdiri tegap dengan sikap hormat kepada Bram.
Mengetahui siapa yang masuk untuk melapor, Bram menegakan punggungnya dan bersikap formal. Gestur tubuh Parikus yang gelisah dan terpaksa bersikap demikian membuat Bram bersikap serius dan dingin.
Bram yang sedang menanti laporan selanjutnya, jadi perhatikan Parikus dengan tatapan seorang penyidik. "Teruskan laporanmu...!" Perintah Bram dengan tegas. Hal yang tidak biasa dia lakukan terhadap anggota teamnya di bagian investigasi.
"Tidak ada yang mau saya laporkan selain lapor diri, Pak." Parikus berkata cepat saat melihat sikap dan tatapan Bram yang tidak beranjak darinya. Hatinya jadi ketar ketir, karena tidak menyangka dan tidak siap.
"Tidak ada yang mau kau laporkan? Lalu kau seharian di luar melakukan apa?" Bram bertanya serius dan tegas, karena sejak dia tiba di tempat itu dan melakukan proses mutasi dan perkenalan, dia tidak melihat Parikus.
'Jadi tadi yang dia laporkan kepada pimpinan bukan termasuk dalam tugas dan pekerjaannya? Lalu tadi dia laporkan apa?' Banyak lagi pertanyaan berputar di dalam kepala Bram, membuatnya penasaran tentang Parikus.
__ADS_1
"Saya ada masalah keluarga, Pak. Jadi tidak bisa melapor lebih cepat." Parikus tergagap menjawab pertanyaan Bram yang tidak diduganya. Terpikirkan juga tidak, sehingga dia benar-benar tidak siap.
"Mengapa kau harus datang malam-malam ke sini, jika ada masalah keluarga? Serahkan surat ijin dari pimpinanmu kepada saya." Bram tidak kendor mencecar Parikus. Bram berpikir, ini adalah kesempatan bagus untuk memguji siapa yang akan berada di teamnya.
"Saya tidak minta ijin, Pak. Tadi karena tiba-tiba, jadi saya langsung keluar. Saya minta maaf, Pak." Parikus berkata pelan dengan perasaan was-was. Semua sikap galak dan sangar yang diceritakan Kaliana dan Raka kepada Bram tidak tersisa. Melihat itu, Bram makin mengerti orang seperti apa Parikus.
Sedangkan Parikus sedang berpikir keras untuk bisa lolos dari Bram. Dengan alasan yang diuatarakannya membuat dia bukan saja memikirkan Bram sebagai pimpunannya yang baru. Tetapi dia juga memikirkan pimpinannya yang lama dan apa yang akan dikatakan pimpinan Bram, jika mengetahui keteledorannya dalam menjawab. Sehingga dia tidak dipilih Bram untuk masuk salam teamnya.
Rasa percaya dirinya selama ini menguap saat melihat Bram sedang menatapnya dengan rahang mengeras. 'Mau bermain kucing-kucingan rupanya.' Bram berkata dalam hati. "Bagus...! Ini adalah catatan awal yang sangat bagus setelah saya tiba di sini. Ada petugas yang keluar di jam dinas tanpa ijin dari pimpinannya." Bram berkata dengan marah. Parikus tidak berani melihat ke arah Bram yang sedang marah.
"Angkat mukamu dan jawab...!" Bentak Bram, membuat Parikus langsung mengangkat wajahnya. "Siaaap, Pak...!" Jawab Parikus cepat, sebelum Bram makin marah.
"Kau sedang kerjakan kasus apa?" Bram bertanya tanpa memberikan peluang untuk Parikus berpikir atau mengelak.
Bram sudah melihat bayangan di luar ruangannya lewat krey jendela. Ada beberapa petugas yang bergerak mendekati ruang kerjanya. Melihat itu, Bram jadi waspada. Dia belun mengetahui maksud pergerakan di luar. Apakah mereka akan menyerbu masuk, atau hanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi di ruangannya.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1