
...~•Happy Reading•~...
Semua bayangan terlihat, karena lampu di luar masih menyala. Bram tetap fokus dengan Parikus yang sedang berdiri di depannya, tanpa mengetahui situasi di luar. Bram lebih perhatikan Parikus dan penasaran dengan apa yang sedang dikerjakannya. Mengapa dia melapor kepada pimpinannya dan apa yang dilaporkan, ingin diselidiki oleh Bram.
"Tidak ada, Pak." Parikus menjawab makin pelan dan tidak berani melihat ke arah Bram. Dia menyadari, jawabannya adalah suatu jawaban yang absrud bagi seorang petugas kepolisian. Apa lagi di bagian narkotika seperti dirinya.
Mendengar jawaban Parikus, dahi Bram berlipat. Dia melihat Parikus dengan berbagai tanda tanya di kepalanya. Sesuatu yang tidak mungkin bagi Bram, jika di bagian ini tidak ada kerjaan bagi petugasnya.
Hampir setiap hari ada yang tertangkap pakai narkoba, atau ada pengedar yang ditangkap. Jika tidak ada yang tertangkap, mereka pasti akan memantau para pemakai agar bisa menggiring mereka kepada pengedar. Itu juga adalah bagian dari pekerjaan mereka.
Jika mereka sedang sibuk menyiapkan dokumen dan bukti dari kasus-kasus yang ditangani untuk disidangkan atau untuk direhabilitasi, itu juga pekerjaan. 'Mengapa dia mengatakan tidak ada yang dikerjakan?' Bram berpikir sambil melihat Parikus dengan serius.
Para petugas di bagian investigasi pembunuhan saja, selalu sibuk. Tidak ada istilah tidak ada kerjaan atau tidak ada yang bisa dikerjakan. Ada saja yang harus disidik setiap hari, karena kejahatan hampir terjadi tiap hari.
Apalagi dengan pengguna narkoba atau pengedarnya. 'Apakah belakangan ini para pengguna dan pengedar narkoba sudah mulai insyaf, sehingga bisa membuat petugas seperti Parikus nganggur?' Tanya Bram dalam hati, tapi terus melihat Parikus yang sedang berdiri tidak tenang di hadapannya.
"Tidak ada kasus yang kau tangani? Lalu kau mengerjakan apa selama ini?" Tanya Bram menyelidik. Dia tidak berhenti sebelum mendapatkan alasan yang bisa diterima akalnya. Parikus terdiam, tidak tahu akan menjawab apa, agar bisa menurunkan emosi Bram.
__ADS_1
"Kau tidak mengerjakan sesuatu juga? Lalu untuk apa kau berada di kesatuan ini, jika tidak melakukan sesuatu?" Bram bertanya dengan emosi karena Parikus diam, tidak menjawab. Dia penasaran untuk sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang petugas polisi. Bram tahu, ada banyak kasus yang perlu ditangani di bagian ini.
'Lalu mengapa dia tidak melakukan sesuatu berkaitan dengan kasus-kasus itu? Dia yang baru pindah ke bagian ini saja, sudah diserahkan satu bundel berisi berbagai kasus.' Memikirkan jawaban Parikus tidak masuk akal, Bram tidak tinggal diam.
"Saya akan bicarakan hal ini dengan mantan pimpinanmu, untuk membuktikan kebenaran kata-katamu. Kau berkeliaran di luar mencari pekerjaan, sedangkan ada ada banyak pekerjaan di sini. Apa kau tidak lihat rekan-rekanmu di luar masih bekerja?" Bram sontak berdiri dan membentak Parikus yang tetap diam.
Parikus mau mengatakan alasan yang sama kepada Bram sebagaimana yang dia katakan kepada pimpinan Bram, tetapi dia khawatir Bram meminta laporannya secara tertulis. Sehingga dia tidak berani mengatakan sedang menyamar di bar atau diskotik untuk menjaring para pemakai dan pengedar.
Alasan itu bisa dia pakai kepada pimpinan Bram, karena dia sudah tahu, tidak akan ditanya lebih lanjut. Sedangkan untuk Bram, dia masih harus berhati-hati menjawab agar tidak terjebak sendiri dan akan membuatnya celaka.
"Ambil ini, dan kerjakan...! Besok pagi saya sudah lihat kasus ini sudah diverifikasi dengan semua bukti-buktinya di atas meja saya. Silahkan keluar...! Saya akan berbicara dengan mantan pimpinanmu." Bram berkata dengan tegas dan nada suara yang dinaikan, agar bisa didengar oleh para petugas di luar. Dia ingin melihat pergerakan bayangan di luar ruangannya.
Parikus mengambil dokumen yang dibanting oleh Bram di atas meja kerja, memberi hormat lalu keluar dari ruangan. Semua rasa percaya dirinya rontok seketika, melihat sikap Bram yang tidak bisa diajak kompromi. Dia yakin Bram mengerti kedekatan dia dengan pimpinan Bram, sehingga tidak menyiapkan diri untuk hal yang baru di alaminya. Dia mengira, Bram akan bersikap lunak padanya.
Ketika telah berada di luar ruangan, Parikus jadi emosi melihat beberapa anggota baru duduk di kursi. Dia jadi menyadari, mungkin saja mereka menguping atau suara bentakan Bram terdengar oleh para petugas di luar ruangan. Hal itu membuat dia meradang, lalu membanting dokumen yang diberikan Bram kepadanya di atas meja kerjanya.
Melihat petugas dalam ruangan tidak merespon terhadap apa yang dilakukannya, Parikus makin emosi. Selama ini, rekan-rekannya takut padanya, karena mereka mengetahui kedelatannya dengan 'big boss'. Julukan yang diberikan kepada pimpinan Bram. Sehingga tidak ada yang berani padanya, termasuk mantan pimpinannya. Dia dibiarkan bekerja sesukanya dan tidak ada yang berani menegur.
__ADS_1
Hal itu membuat dia melototi satu-satu persatu petugas yang ada dalam ruangan itu. Ketika dia hendak membentak salah satu petugas yang tunduk sambil tersenyum, Bram membuka pintu kerjanya. Sehingga dia tidak berani berucap, lalu duduk dan membuka dokumen kasus yang diberikan Bram. Dia berlaku seola-ola mau bekerja, tetapi hatinya sangat panas.
"Petugas Hendra, mana? Masuk...!" Bram bertanya dan memberi perintah kepada salah seorang petugas yang berdiri siap dan sigap saat namanya dipanggil. Parikus tidak berani mengangkat wajahnya, karena Bram sedang melihatnya dengan wajah emosi. Hatinya jadi was-was, memikirkan kejadian tadi. Dia berharap, Bram tidak melihat sikapnya terhadap rekan-rekannya.
^^^Bram tidak jadi menghubungi mantan pimpinan Parikus untuk memastikan kebenaran yang dikatakannya. Bram berencana akan membicarakan itu secara langsung, agar bisa melihat reaksi mantan pimpinan Parikus terhadap mantan anak buahnya. Dia lebih memilih untuk meneliti daftar nama yang diberikan pimpinannya, lalu memanggil salah satu nama secara acak.^^^
^^^Ketika Bram buka pintu untuk memanggil Hendra, dia melihat semua yang terjadi dengan para petugas yang akan bekerja di bawah komandonya. Ternyata Parikus bermasalah dengan petugas yang lain. Saat Bram melihat reaksi Parikus terhadap sesama rekannya, ada sinyal tidak kondusif untuk bekerja bersama-sama.^^^
Bram kembali masuk dan duduk di kursinya untuk menanti kedatangan Hendra. Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang berbagai kasus yang sedang mereka kerjakan. Mungkin saja ada yang bisa menyeretnya keluar lapangan. Dia pikirkan juga cara yang baik untuk menangani Parikus, saat melihat sikapnya terhadap rekan kerja yang lain.
Parikus merasa lebih penting dan sok berkuasa karena kedekatannya dengan 'big boss'. Ketika terbesit ide di kepalanya, Bram tersenyum senang. 'Selama ini kau berada di luar bukan? Aku akan membuatmu sibuk bekerja di kantor.' Bram berkata dalam hati. Dia mulai merencanakan taktik yang tepat, agar bisa memantau Parikus. Dia akan mengurangi interaksi Parikus dengan 'big boss', agar bisa melihat reaksi pimpinannya terhadap kebijakannya.
Jika pimpinannya marah atau menegur, bahkan membatalkan keputusannya, sinyal bagus bagi Bram. Dia tidak akan mundur, tapi lebih fokus kepada Parikus dan tugasnya.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1