ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
168. Kejutan 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana langsung terduduk di lantai anjungan saat melihat wajah Jaret muncul di layar monitor. Sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya.


"Pak Yosa, tolong lakukan permintaan Bram dan minta mereka bawa ambulance untuk dua orang itu dengan pengawalan ketat ke rumah sakit." Kaliana berpikir cepat melihat kondisi Bram yang berada di antara orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Apalagi mengetahui Jaret bisa ada bersama Siska di luar penjara.


"Bram, terima bantuan dari petugas yang datang dengan kode rumput liar. Yang ada di sekitarmu jangan biarkan mendekat. Saat petugas tiba, kau pilih saja mau di mana. Di ambulance, atau di mobil yang membawa barang bukti dan tersangka." Kaliana kembali berdiri dan berpikir serius untuk keamanan Bram.


"Baik, aku mengerti. Rakaaa, waspada. Siapa pun yang masuk ke situ, tembak dengkulnya dengan peluru hampa. Tunggu perintah dariku, untuk membawa tahanan dan barang bukti." Bram berkata serius, tapi pelan seakan berbisik, saat mendengar suara Raka menanyakan apa yang terjadi padanya.


^^^Mereka semua masih konek dalam berkomunikasi, jadi bisa mendengar apa yang terjadi dengan anggota teamnya masing-masing.^^^


"Siaap, Pak...! Raka berkata dengan sigap dan terus mengawasi para tahannan yang sudah tidak berdaya dan masih terbatuk-batuk.


Tidak lama kemudian, petugas yang dikirim Pak Yosa tiba di tempat lalu membawa Siska dan Jaret dengan ambulance ditemani Raka setelah dibacakan hak dari terdakwa. Sedangkan Bram memilih bersama barang bukti dan tahanan.


^^^Bram memilih bersama barang bukti dan tahanan, karena menyangkut kasus yang sedang ditangani. Dia khawatir ada yang membajak di jalan, sehingga kesempatan untuk menghukum Siska dan Jaret terhambat.^^^


^^^Raka membawa Siska dan Jaret ke rumah sakit yang dipilih oleh Bram dibawah pengawasan petugas yang dikirim Pak Yosa.^^^


"Bram, sebelum masuk kantor polisi terdekat, kami matikan komunikasi, ya. Hati-hati dengan semua nyamuk." Kaliana berkata dengan serius, karena Pak Yosa sudah mengatur untuk datang ke kantor polisi dan rumah sakit terdekat.


Setelah mereka meninggalkan Ancol, petugas yang dikirim oleh pimpinan Bram tiba di tempat untuk mengamankan semua tangkapan yang dilakukan Bram. Tapi mereka terlambat, karena Bram sudah pergi bersama petugas polisi yang dikirim Pak Yosa.


Ketika petugas dari kantornya tiba dan melihat sudah mulai bubar, mereka bertanya keberadaan Bram kepada petugas yang masih ada di tempat kejadian. Mereka segera meninggalkan tempat kejadian untuk mencari keberadaan Bram.


^^^Pimpinan Bram sangat marah karena tidak bisa menghubungi Bram dan juga Parikus. Apalagi sudah dihubungi oleh atasan di atasnya untuk menghadap, agar bisa menjelaskan video penangkapan yang sedang viral.^^^

__ADS_1


Putra yang masih merekam, jadi tersenyum melihat kedatangan pasukan polisi yang baru tiba. "Mba', lihat itu. Itu pasti diantara mereka ada yang panas dingin dengan tertangkapnya Jaret dan guguk liar, juga serigala buas." Putra berkata sambil berkonsentrasi dengan drone nya untuk merekam semua yang terjadi di tempat kejadian perkara (TKP).


"Kau masih live?" Tanya Kaliana serius, saat melihat layar monitor.


"Sudah ngga, Mba'. Hanya merekam saja. Aku sudah berhenti live saat wajah Pak Jaret terekspos." Jawab Putra sambil melihat Kaliana dengan wajah lucu untuk menurunkan tensi Kaliana.


"Bagus. Biarkan saja semua orang menilai sendiri apa yang sedang terjadi dengan para aparat kepolisian. Pasti BNN, pimpinan Pak Bram dan juga petugas di penjara sedang lupa cara kencing." Pak Yosa jadi emosi dan berkata dengan marah, karena apa yang dilakukan Siska, Parikus dan Jaret telah mencoreng nama baik instasi kepolisian.


^^^Tapi ucapan Pak Yosa membuat semua yang ada dalam anjungan jadi tertawa. Sontak Kaliana mencari Marons, karena tidak mendengar suaranya dalam anjungan.^^^


"Di mana Pak Marons?" Tanya Kaliana yang baru menyadari ketidak hadiran Maroms bersama mereka.


"Tadi turun ke bawah. Mungkin di buritan atau dalam ruangan." Pak Yosa berkata cepat, saat melihat Kaliana yang agak cemas.


Kaliana segera turun ke dalam kapal untuk mencari Marons. "Arroo, kau tidak apa-apa?" Tanya Kaliana, saat melihat Marons sedang berbaring.


"Kau terluka?" Kaliana tidak menjawab, malah balik bertanya dengan khawatir, sambil melihat Marons dengan serius.


"Aku tidak terluka, hanya biru-biru karena orang itu melawan, jadinya berantem. Semoga tidak ada tulangku yang patah. Maklum sudah lama tidak berlati, jadi agak kaku." Marons berkata sambil tersenyum.


"Tanganmu tidak apa-apa?" Tanya Marons, saat melihat tangan Kaliana agak memar.


"Agak sakit sedikit. Coba aku lihat badanmu. Mungkin ada yang memar atau luka." Kaliana mendesak untuk melihat tubuh Marons.


"Ngga usah... Kalau kalian sudah selesai, kita pulang atau check in di hotel terdekat untuk istirahat." Marons berkata serius, sambil menepis tangan Kaliana yang mau memeriksa tubuhnya


"Kalau begitu, kita pulang saja, supaya bisa istirahat dan bangun siang. Tolong bilang sopirmu, yaa... Aku mau bicara dengan yang lain untuk bersiap-siap." Kaliana berkata dengan serius, lalu berbalik dan berjalan cepat untuk berbicara dengan anggotanya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, team sopape bersama Marons sudah di dalam mobil kantor Marons untuk kembali ke rumah. Semua terdiam, karena sangat lelah dan sudah mengantuk, ingin istirahat.


"Jika aku diminta memilih, aku pilih jadi pengusaha saja. Tulang-tulangku berontak, jika harus seperti tadi." Marons berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


^^^Ucapan Marons membuat semua yang ada dalam mobil tertawa. Mereka bisa merasakan apa yang dikatakan Marons yang baru pertama kali ikut bergabung dalam situasi yang sangat berbahaya.^^^


"Yang ingin aku lakukan sekarang, berendam dalam air hangat untuk kurangi rasa nyeri dan pegal di seluruh tubuhku." Marons berkata lagi, karena dia sudah ingin istirahat.


"Sama, Pak. Semoga ngga ada bernyanyi atau bercerita nanti malam." Putra berkata sambil memegang drone di atas pangkuannya, membayangkan Pak Yosa atau Sopae Angel's ngelindur.


"Siapa yang bisa cega kita bernyanyi dan bercerita saat tidur? Aku harus minta tolong seseorang untuk menyeret aku keluar dari dalam bathtube, karena bisa tertidur. " Novie berkata serius, karena merasa tubuhnya sangat lelah.


"Kita harus lakukan hompimpa untuk bisa tentukan siapa yang duluan masuk ke kamar mandi. Harus ada batas waktu juga, supaya ngga ada yang lama atau tidur di bathtube." Kata Yicoe, mengingat semua ingin lebih dulu.


"Niii, pakai saja kamar mandi di kamar Danny. Agar tidak lama ngantri." Marons mengingatkan Kaliana, agar semua bisa istirahat dengan cepat.


"Baik... Makasih... Ooh iya, Arro. Tau siapa yang tadi bersama Siska?" Tanya Kaliana, mengingat proses tanggapan mereka dan mungkin Marons tidak tahu.


"Tidak... Aku sudah tidak tertarik melihat itu, karena badanku lebih minta perhatian dari pada orang-orang itu. Yang penting sudah tertangkap, biar ditangani saja sama Pak Bram. Ada apa?" Tanya Marons sambil lalu, karena terlalu lelah.


"Temannya Siska adalah Jaret." Kaliana berkata cepat dan singkat.


"Jaret yang di penjara?" Tanya Marons yang sontak duduk tegap, karena sangat terkejut.


Melihat Kaliana mengangguk kuat, Marons menghembuskan nafasnya dengan kuat. "Huuuuu... Negara ini akan jadi apa kelak, jika aparatnya seperti ini?" Marons berkata dengan sinis, lalu kembali menyandarkan punggungnya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2