ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
119. Panik 10.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Papa Jaret kembali berdiri, kemudian duduk dan berdiri lagi, lalu berjalan tak menentu sambil memegang pelipisnya. Apa lagi teringat pembicaraannya dengan Parikus tentang penggeledahan sel tahanan Jaret. Kepalanya makin sakit dan hatinya sangat cemas, apa yang akan terjadi dengan Jaret.


"Apa yang kau lakukan di situ. Seperti ayam belum dapat tempat untuk bertelur." Tiba-tiba Mama Jaret menegur suaminya yang gelisah dan tidak bisa diam. Hanya berjalan mondar-mandir tak menentu arah, tanpa melakukan sesuatu.


"Astagaaa... Bukan kasus Jaret yang akan membunuhku, tapi mulutmu yang tidak berpintu itu bisa membunuhku. Apa kau tidak bisa kulonuwun dulu, baru bertanya? Bikin kaget saja..." Papa Jaret naik level emosi sambil memegang dadanya, karena terkejut dengan kehadiran dan pertanyaan isttinya.


"Kalau mulutku berpintu, aku sudah kunci pintunya dan membuang kuncinya ke laut. Aku sudah dari tadi berdiri di sini melihatmu, tapi kau saja yang tidak sadar dengan sekitarmu." Mama Jaret ikutan emosi mendengar ucapan suaminya dan tidak mau disalahkan.


"Bukankah kau sudah pamit mau ke kantor, tapi mengapa masih di sini sambil berjalan tidak ...." Mama Jaret tidak meneruskan ucapannya, karena melihat suaminya masih emosi.


"Itu... Anakmu mungkin buat ulah lagi. Aku sudah bilang, pergi lihat dia. Lalu nasehati dia, agar jangan main-main di penjara. Tidak semua petugas bisa kita ikat untuk mengikuti kemauan kita." Papa Jaret melampiaskan emosi yang telah ditahan sejak tadi.


"Anakmu juga... Bagian yang jelek, 'itu anakmu'. Tapi kalau yang baik, 'dia anakku'. Memangnya dia lakukan apa lagi, sampai kau seperti...." Mama Jaret menahan diri dengan tidak meneruskan ucapannya. Melihat kecemasan dan emosi suaminya, Mama Jaret berpikir, Jaret telah melakukan sesuatu yang membuat suaminya marah.


"Tadi malam sel tahanannya digeledah. Semoga dia tidak lalukan perbuatan haram itu di tahanan. Jika dia masih lakukan itu di tahanan, kita tunggu saja. Apa yang akan terjadi dengannya. Apa lagi besok kasusnya akan disidangkan." Papa Jaret berkata dengan nada marah dan kembali berjalan tak menentu arah.


Mama Jaret terdiam mendengar penjelasan suaminya. Dalam hatinya berharap seperti yang diharapkan suaminya. Apa lagi sekarang pikiran mereka sedang terpecah untuk berbagai kejadian yang sedang menimpah mereka.


"Apakah ada yang mereka temukan di sel nya, yang bisa memberatkan hukumannya?" Mama Jaret bertanya pelan, lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya dengan perasaan was-was.

__ADS_1


"Aku belum tau, makanya tadi bilang semoga. Jangan kau bertanya lagi, karena aku sedang berpikir untuk atasi ini." Papa Jaret tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Beliau mengangkat tangan untuk mencegah Mama Jaret bertanya lagi, saat melihat istrinya akan berbicara.


Mama Jaret terdiam, tapi terus berpikir tentang informasi yang baru didngar dari suaminya . 'Apa yang akan terjadi dengan Jaret, jika ada ditemukan bukti baru yang memberatkannya?' Mama Jaret ngebantin dengan perasaan cemas.


"Pertanyaanku tidak akan memusingkanmu, tapi mungkin akan membantumu. Apa kau sudah hubungi pengacara Elly? Mungkin dia bisa berikan solusi untuk hadapi ini. Atau pergi ke tahanan, agar kita tau apa yang sedang terjadi." Mama Jaret berkata sambil mengangkat tangannya untuk mencegah suaminya memarahinya.


"Mengapa kau tidak pergi ke sana untuk sekalian lihat kondisinya? Jika dia masih 'make' di penjarah, apa sekarang dia masih baik-baik saja?" Papa Jaret berkata serius setelah memikirkan kemungkinan kondisi Jaret sedang tidak baik. Jika Jaret masih gunakan narkoba di penjara, dia akan berulah dan mengacau.


"Kau segera pergi lihat dia, aku akan hubungi pengacara Elly." Papa Jaret berkata cepat, setelah mengingat yang dikatakan Parikus, agar meminta pengacara kunjungi Jaret di tahanan. Jadwal persidangan di esok hari, membuatnya panik akan kondisi Jaret.


Papa Jaret tidak hiraukan istrinya yang masih duduk termenung. Beliau mengeluarkan ponsel dari kantong celananya lalu melakukan panggilan ke beberapa orang, termasuk pengacaranya.


📱"Pak Elly, tolong datang ke rumah. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Elly dan Pak Andi, tentang kasus Jaret" Papa Jaret berkata serius, setelah pengacara Elly merespon panggilannya. Papa Jaret putuskan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, yaitu berbicara dengan pengacaranya.


📱"Baik... Kalian tolong ke tahanan untuk cek kondisi Jaret. Saya baru dapat informasi, tadi malam sel tahanannya digeledah. Jangan sampai mereka menemukan sesuatu yang dapat memberatkan hukumannya. Kalian pasti mengerti maksudku." Papa Jaret berkata lagi, setelah mendengar penjelasan pengacara Elly.


📱"Astaghfirullah...! Semoga tidak ditemukan bukti tambahan yang memberatkannya." Pengacara Andi yang sedang bersama pengacara Elly dan mendengarkan apa yang dikatakan Papa Jaret sangat terkejut.


'Ada apa dan mengapa ada yang tiba-tiba menggeledahnya pada saat-saat terakhir menjelang sidang?' Pengacara Andi bertanya dalam hati dan jadi berpikir ke berbagai kemungkinan yang berhubungan dengan kasus narkoba Jaret.


📱"Baik, Pak Japry. Kami akan segera ke sana." Pengacara Elly menyetujui permintaan Papa Jaret, setelah melihat tanda isyarat dari pengacara Andi, bahwa mereka harus ke tempat Jaret untuk memastikan apa yang terjadi. Agar mereka bisa persiapkan diri hadapi persidangan.

__ADS_1


Papa Jaret segera mengakhiri pembicaraan mereka sambil menarik nafas panjang dan sedikit lega, setelah mendengar pengecara Elly menyetujui permintaannya.


"Mengapa kau masih duduk bengong di situ? Ambilkan minum untukku, sebelum aku pingsan. Kau jadikan rumah ini seperti berada di padang pasir yang tandus." Papa Jaret kembali emosi melihat istrinya hanya duduk diam, termangu.


Mama Jaret segera berdiri lalu mengibaskan roknya dengan kesal. Beliau jadi emosi mendengar apa yang dikatakan Papa Jaret, tapi tidak bisa membalasnya. Keadaan Jaret lebih penting, dari pada beradu mulut dngan suaminya.


Papa Jaret menggelengkan kepalanya, melihat sikap istrinya yang berjalan ke dapur dengan kesal. Papa Jaret mengabaikan semua yang dilakukan istrinya dengan konsentrasi pada ponselnya.


Saat sedang mengotak-atik ponselnya, tiba-tiba ada panggilan masuk. Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Papa Jaret segera meresponnya.


📱"Saya baru mau hubungimu, tapi kau sudah hubungi. Hari ini saya ke kantor agak siang. Mendadak ada acara keluarga, jadi saya tertahan." Papa Jaret menjelaskan dengan cepat, saat merespon panggilan sekretarisnya.


📱"Iya, Pak... Tapi saya hubungi bukan untuk menanyakan itu, Pak. Bapak sedang dicari sama yang di atas dan minta menghadap." Sekretaris Papa Jaret berkata serius untuk menjelaskan maksudnya menghubungi pimpinannya.


📱"Apa sedang terjadi sesuatu?" Tanya Papa Jaret tidak mengerti, mengapa tiba-tiba diminta menghadap oleh pimpinannya.


📱"Saya tidak tau pasti, Pak. Tapi mungkin karena foto keluarga bapak yang kembali viral dan nama bapak kembali tranding, pagi ini." Sekretarisnya menjelaskan dan coba mengaitkan dengan situasi yang sedang terjadi di media sosial.


📱"Foto apa lagi..." Papa Jaret terkejut dan panik mendengar keterangan sekretarisnya tentang foto viral.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2