
...~•Happy Reading•~...
Danny melihat Marons setelah ditinggal Kaliana. Dia bertanya kepada Marons dengan isyarat matanya. Apa maksud semua yang terjadi antara dirinya dengan Kaliana.
Namun setelah ditinggal Kaliana bersama Yicoe dan Novie, Marons hanya sepintas melihat Danny sedang memperhatikannya dengan wajah penuh tanya. Dari isyarat matanya Marons mengerti, Danny sedang menanti penjelasan darinya. Tetapi Marons mengabaikan rasa penasaran Danny.
"Aku mau mandi sebelum makan malam. Kalian tunggu aku di ruang makan." Ucap Marons pelan sambil memegang pundak Danny yang sedang melihatnya dengan wajah tidak mengerti. Marons mengerti arti tatapan Danny, tapi dia tetap berjalan keluar dari ruang kerja lalu turun menuju kamar tamu untuk mandi.
Sedangkan Kaliana, Yicoe dan Novie yang sudah turun menemui Bibi, sedang menata menu dan alat makan di meja makan. Yicoe dan Novie yang melihat kesibukan Kaliana, hanya bisa tersenyum karena mengerti mengapa Kaliana melakukannya. Dia sedang menghindari pembicaraan seputar apa yang baru terjadi di ruang kerja antara dirinya dengan Marons.
"Kalian berhenti senyum-senyum seperti itu, sebelum aku mengambil banyak tali dan membuat senyum kalian jadi simpul. Ayooo... Lekas siapin semuanya sebelum terjadi sesuatu. Kalian bukannya ingatin aku ada Pak Marons di dalam ruangan, malah biarkan aku begitu saja." Kaliana berkata demikian, karena dia tahu, Yicoe dan Novie sedang tersenyum mengingat peristiwa yang terjadi di ruang kerja.
"Bagaimana kami mau ingatin, Mba Anna. Selain fokus dengar pembicaraan dengan Pak Bram, kami belum pelajari kode. Bagaimana caranya mengatakan ada Pak Marons di sekitar kita. Mbak Anna juga ngga ngeliat kiri kana, hanya ke ponsel dan layar TV." Ucap Novie pelan sambil tersenyum.
"Iyaa, Non... Alhamdulillah... Non bisa menyelesaikan dengan baik. Kalau tidak, gimana kita akan makan malam ini. Semua makanan akan seperti batu dan ngga bisa ditelan, karena melihat wajah Pak Marons." Ucap Yicoe sambil melihat Novie yang sedang menggelengkan kepalanya dengan wajah tersenyum.
"Eeehhhmm... Batu kerikil atau batu karang, Yoe. Apa ngga ada yang lebih keras lagi?" Tanya Novie sambil tersenyum lalu meninggalkan ruang makan menuju dapur untuk mengambil menu yang sudah disiapin Bibi.
__ADS_1
"Itu pelajaran juga buat kalian. Kalau sudah punya pacar, perhatikan sekeliling, jika mau lakukan atau bicara sesuatu. Jangan seperti aku, bablaasss... Bisa-bisa kita seperti nyamuk yang mati dalam sekali tepukan." Ucap Kaliana serius, sambil mengingat apa yang terjadi dengan dirinya. Dia berharap Yicoe dan Novie tidak lakukan kesalahan yang sama seperti dirinya.
Pak Yosa yang baru masuk ke ruang makan jadi tertawa terbahak-bahak mendengar yang dikatakan Kaliana. Yicoe dan Novie yang sedang menahan ketawa, jadi ikut tertawa. Membuat Kaliana terkejut, lalu melihat mereka satu persatu dengan wajah bertanya-tanya. Mengapa mereka pada tertawa ngakak.
"Naah... Ini satu juga, biasanya menolongku dengan memberikan kode. Tapi kenapa tadi diam saja? Mengapa biarkan aku terus ngomong, ngga pake koma dan juga titik?" Kaliana berkata sambil melihat Putra yang masih tertawa. Dia mendekati Putra lalu memukul lengannya, agar berhenti tertawa.
"Siapa yang tidak berikan kode, Mba'? Tadi saat Mba' Anna bicara tentang makan gunung itu, aku sudah berikan kode dengan mata. Tetapi Mba' Anna malah balik menantang Pak Bram untuk lanjutkan rencana traktirnya." Ucap Putra sambil mengusap lengannya, seakan sakit dipukul Kaliana. Kaliana sontak melihatnya dengan wajah terkejut, karena tidak menyangka itu adalah isyarat dari Putra untuk Marons, bukan ingin ditraktir Bram.
"Astagaaa... Saat melihat gerakan matamu, aku kira kau sedang protes. Kau ingin ditraktir Pak Bram untuk makan sepuasnya." Kaliana sontak menepuk dahinya lalu tertawa bersama yang lain. Mereka belum punya kode sendiri untuk memperingatkan tanda bahaya yang berhubungan dengan hal pribadi.
Selama ini, mereka punya kode dan isyarat sendiri yang berhubungan dengan pekerjaan. Karena sudah terbiasa, mereka akan mengerti setiap kode atau gerakan yang mengisyaratkan harus lakukan sesuatu atau berhenti, sesuai dengan kondisi pekerjaan.
"Sudaaa... Berhenti bahas hal itu lagi. Sanaaa... Tolong panggil Pak Danny dan Pak Marons untuk makan." Ucap Kaliana kepada Putra yang sedang mengangkat dua jarinya ke arah Yicoe dan Novie, tanda peace.
"Oooh iya, Mbak. Mari segera makan. Netizen sudah mulai panas dan menyerbu channel kita. Sepertinya di sebelah sana, kasus Pak Jaret sudah mulai memanas. Orang tuanya sedang kelimpungan dan kebingungan amankan yang mana lebih dulu." Ucap Putra, lalu meninggalkan ruang makan untuk memanggil Marons dan Danny.
Setelah makan malam, mereka masih duduk di meja makan sambil membicarakan kondisi terbaru yang terjadi dengan orang tua Jaret. "Mari kita pindah ke ruang kerja, agar bisa lihat sama-sama situasi yang terjadi." Ucap Kaliana lalu mengajak Yicoe dan Novie untuk merapikan meja makan.
__ADS_1
"Arroo... Duduknya jangan jauh-jauh dariku, supaya bisa ingatin aku dengan mudah." Ucap Kaliana setelah mereka berada di ruang kerja. Marons menggelengkan kepalanya, tapi berjalan mendekati kursi yang di samping Kaliana.
"Kau memintaku berikan salam tempel sebagai sinyal?" Tanya Marons serius, tapi tersenyum dalam hati melihat Kaliana melihatnya dengan wajah memerah.
"Iiisssh... Jangan dibahas lagi yang tadi. Memangnya kau ngga bisa senggol aku, sebagai sinyal?" Kaliana berkata pelan, lalu memukul lengan Marons yang sudah tersenyum. Danny mulai mengerti situasi, tapi menahan diri dan sabar untuk bicara dengan Marons. Mereka sedang sibuk membahas kasus yang akan ditanganinnya, jadi dia harus fokus.
Kaliana duduk di samping Marons dengan tenang, tanpa melihat anggota yang lain sedang tersenyum ke arahnya. Mereka mengerti maksud permintaan Kaliana, mengapa dia duduk di antara Marons dan Putra.
"Ayooo... Putra. Mana yang kau katakan tadi. Tolong perlihatkan kepada kami." Kaliana mulai fokus dengan informasi yang disampaikan Putra. Dia tidak mau mereka berlama-lama membicarakan kejadian yang terjadi dengan dirinya dan Marons, karena waktu terus bergulir.
Putra mengangguk lalu memperlihatkan hingar bingar dan kasat kusut yang terjadi di dunia maya tentang kondisi kekayaan Jaret. "Putra, tadi kau sudah lihat Safe Defosite Box Jaret? Apakah ada dan masih aman di tempat?" Tanya Marons membuka percakapan saat melihat para media mulai mengkalkulasi kekayaan Jaret.
"Sudah, Pak. Pak Jaret tidak ada Safe Defosite Box, tapi ada deposito dan itu sudah dibekukan juga. Yang punya safe defosite Box Papanya, dan sudah diambil tadi sore menjelang bank ditutup." Ucap Putra memberikan laporan yang baru dilihatnya.
Kaliana langsung melihat Putra dengan serius dan jadi penasaran dengan SDB Papa Jaret. 'Mengapa Papa Jaret mengambil SDB nya sekarang, saat dimana kekayaan Jaret sudah dibekukan?' Kaliana bertanya sambil berpikir serius. Dia mulai curiga dengan tindakan Papa Jaret.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...