ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
118. Bertaktik 18.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sontak Kaliana dan Yicoe melihat Novie dengan serius. Kemudian mereka melihat layar monitor dan memikirkan apa yang dikatakan Novie.


"Kau benar, Vie... Dia bisa jadi jembatan. Putra, tolong perlihatkan dia hubungi siapa saja pagi ini. Aku mau buat skema hubungannya dengan orang dan pihak-pihak yang ada di sekitarnya. Agar kita bisa tau, siapa saja yang akan kita hadapi." Kaliana berkata lagi setelah memikirkan apa yang dikatakan Novie. Dia ingin melihat jaringan yang terhubung dengan Parikus dan mau memperjelasnya untuk team sopape.


"Oo oh... Kalau seperti yang dikatakan Novie, dia adalah jembatan, akan ada keseruan baru. Sebab jika jempatannya putus, akan terjadi kekacauan di antara mereka." Yicoe berkata setelah memikirkan percakapan Novie dan Kaliana dengan serius.


"Belum tentu, Coe. Tapi terima kasih sudah katakan itu. Jadi aku bisa pikirkan ke arah yang lain. Berarti Putra akan bekerja keras untuk cari nomor 'batok rikus.P'. Dia pasti punya nomor lain yang belum terlacak oleh kita." Kaliana menyadari, nomor yang diberikan Bram adalah nomor umum yang digunakan. Tidak mungkin dia hanya memiliki satu nomor dengan profesinya seperti itu.


"Ada yang punya clue, agar aku bisa cepat menemukan nomor 'batok rikus.P'? Aku lagi ngga bisa mikir..." Putra berkata pelan, setelah mendengar permintaan Kaliana untuk mencari nomor ponsel Parikus yang lain.


"Nanti perhatikan nomor tidak beridentitas yang hubungi Jamu.gD. Kau simpan nomornya, dan nanti lihat lokasinya. Apa nomor itu sama lokasi dengan nomor rikus.P." Novie memberikan saran untuk membantu Putra.


"Mantul poolll... Terima kasih kakakku yang punya cocolan jitu." Putra berkata sambil mengangkat tangannya dan jarinya membentuk tanda 'OK'.


"Sambil tunggu yang itu, tolong tiup beberapa foto flexing orang tua Pak Jaret, Putra. Pilih saja yang kau suka. Kita akan tambah kesibukan mereka dengan bantuan netizen. Mungkin dengan ini, bisa alihkan perhatian mereka dari Pak Bram." Kaliana menyusun rencana baru untuk menangani kasus baru yang sedang menghadang Bram.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Parikus terkejut saat diberitahukan oleh salah seorang petugas yang bertugas tahanan, bahwa tadi malam terjadi penggeledahan di sel tahanan Jaret. Parikus segera berangkat untuk memastikan apa yang terjadi. Dia sangat panik dan khawarir, saat mengetahui yang lakukan penggeledahan adalah Bram.


Saat tiba di kantor, Parikus segera menghubungi pimpinan Bram untuk memberitahukan apa yang terjadi, setelah yakin kebenaran informasi dari petugas jaga yang bertugas di tahanan. Dia tidak berani bertanya kepada semua anggota yang sudah ada di ruang kerja mereka, karena dia tidak berhubungan baik dengan sesama rekan anggota.


Parikus sangat gelisah di ruang kerjanya. Dia lakukan telpon berkali-kali dan berbicara dengan nada kesal, marah, bahkan membentak berkali-kali. Semua anggota melihatnya dengan pandangan tidak suka, karena terganggu. Tidak tahan dengan situasi di ruangan bersama dengan anggota yang lain, Parikus keluar dari ruangan ke koridor.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, pimpinan Bram memanggil petugas Erfan menghadapnya. Pimpinan Bram telah dapat informasi dari petugas yang ada di tahanan, bahwa yang datang lakukan pengeledahan adalah Bram dan Erfan. Tidak bisa hubungi Bram, beliau memanggil Erfan untuk menghadap.


"Lapor, Pak...!" Erfan melapor dengan sikap dan hormat. Walaupun jantungnya berdetak tidak teratur, dia berusaha tenang dan bersikap sigap. Dia sangat tidak tenang, karena baru pertama kali dipanggil oleh pimpinan tinggi dan tidak tahu sebabnya.


"Tadi mlam kau lakukan penggeledahan di sel tahanan?" Tanya pimpinan Bram tanpa basa-basi.


"Siap, Pak...! Erfan berkata dengan sikap tegap dan hormat. Dia jadi mengerti, dia dipanggil untuk menghadap berhubungan dengan penggeledahan tadi malam. Dia jadi bersikap hati-hati, karena sampai sekarang, Bram belum masuk kantor.


"Kau tau dimana pimpinanmu?" Tanya pimpinan Bram singkat dan tegas. Erfan jadi waspada, karena belum bicara lagi dengan pimpinannya.


"Tidak, Pak...!" Erfan menjawab singkat dan tegas, karena memang dia tidak tahu dimana pimpinannya berada. Dia bersyukur, tadi malam pimpinannya meminta dia pulang. Jadi dia tidak tahu lagi apa yang dilakukan pimpinannya.


"Mengapa kalian tiba-tiba lakukan penggeledahan di tahanan tanpa meminta ijin dari saya?" Pimpinan Bram bertanya untuk menyelidiki. Beliau sangat terkejut dan heran, dengan apa yang dilakukan Bram yang tiba-tiba tanpa berbicara dengannya.


"Kau ingat apa yang dikatakan pimpinanmu saat lakukan penggeledahan?" Tanya pimpinan Bram lagi dengan serius.


"Beliau marah, karena tahanan ditempatkan dalam sel sendiri. Kemudian minta saya lakukan penggeledahan, Pak." Erfan menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Apa yang kalian temukan di dalam sel tahanan?" Tanya pimpinan Bram lagi sambil menatap Erfan dengan serius.


"Ponsel dan narkoba dan juga ada beberapa barang yang tidak diperbolehkan ada di tahanan. Saya lebih ingat kedua barang itu, karena komandan sangat marah kepada tahanan." Erfan menjelaskan sesuai dengan apa yang diketahuinya.


"Baik... Kau segera kembali ke ruangan. Jika pimpinanmu hubungi, segera lapor kepada saya." Perintah pimpinan Bram dengan serius dan tegas sambil mengibaskan tangannya.


"Siiaap...!" Erfan memberi hormat dengan sigap dan tegap. Kemudian dia keluar ruangan dengan perasaan sedikit tenang. Dia tidak diberi peringatan, karena lakukan penggeledahan.

__ADS_1


Setelah tiba di ruangan, dia berjalan dengan sikap tegap dan tenang. Walau banyak mata memandangnya, terutama Parikus melihatnya dengan serius. Parikus sudah tahu, Bram dan Erfan yang lakukan penggeledahan di tahanan.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Papa Jaret sudah siap-siap hendak berangkat ke kantor. Ketika melihat siapa yang menelponnya, Papa Jaret kembali masuk ke rumah. Papa Jaret merespon panggilan telpon dengan dahi berkerut, karena menghubunginya di pagi hari.


📱"Iya, Pak Rikus. Bagaimana?" Tanya Papa Jaret tanpa basa-basi, sebab merasa terganggu.


📱"Apakah Pak Japry sudah tau, kalau tadi malam sel tahanan Pak Jaret digeledah?" Tanya Parikus serius, setelah direspon panggilannya oleh Papa Jaret.


📱"Sel tahanan Jaret digeledah? Oleh siapa? Mengapa baru sekarang anda beritahukan saya?" Tanya Papa Jaret beruntun, setelah mendengar apa yang dikatakan Parikus.


📱"Saya baru diberitahu pagi ini, Pak. Pak Japry segera minta pengacara Pak Jaret menemui Pak Jaret di tahanan untuk berkoordinasi lagi." Parikus berkata cepat, sebelum Papa Jaret marah.


📱"Kalian sudah saya bayar mahal, tapi tidak bisa mengamankannya. Apa ada barang yang disimpan di sel yang bisa memberatkan hukumannya?" Papa Jaret mulai emosi.


📱"Saya belum tau apa saja yang ditemukan. Jadi lebih baik pengacara Pak Jaret segera menemuinya, agar lebih tau detailnya." Parikus tidak mau berbicara terus terang, agar tidak menerima semprotan emosi Papa Jaret.


📱"Ada-ada saja yang terjadi dengannya. Padahal besok sudah mulai persidangan. Kalian bikin apa saja di sana, sampai tidak bisa mendeteksi yang akan terjadi?" Papa Jaret yang sudah emosi, langsung mengakhiri telpon tanpa pamit pada Parikus.


Papa Jaret terduduk di kursi dekat tempatnya berdiri. Beliau memijit pelipisnya yang mulai berdenyut, memikirkan barang Jaret yang disita. Apalagi Parikus tidak katakan apa saja yang disita dan siapa yang lakukan penggeledahan.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2