ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
130. Warna Sari 23.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah melihat chat yang dikirim Siska, Kaliana dan team masih membahas dan menyelidiki pihak yang dihubungi Siska. Apa yang ditemukan membuat mereka bekerja sampai larut malam.


Ketika ada anggota team sudah tidak bisa berpikirk lagi, mereka semua menyerah lalu masuk ke kamar masing-masing dan langsung tertidur, termasuk Putra. Kecuali Pak Yosa dan Kaliana, yang tidak bisa langsung tidur. Mereka masih memikirkan orang-orang yang ada di sekitar Siska dan juga jenjang kariernya hingga tertidur.


Pak Yosa bisa langsung tertidur dengan nyenyak, tapi tidak dengan Kaliana. Dia tidak tenang dalam tidurnya. Antara di alam mimpi atau nyata, kesadarannya silih berganti dan mengganggunya. Kadang dia merasa di hutan, kadang di laut, kadang berada di padang, semua tumpang tindi dan bergantian. Sehingga itu membuat dia sangat gelisah di dalam tidurnya.


Saat terjaga, badannya terasa lemas dan juga keringat membahasahi baju tidurnya. Padahal suhu kamar, cukup dingin. Kaliana bangun lalu turun dari tempat tidur, dan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang baru.


'Arrooo... Aku sangat merindukanmu.' Bisik Kaliana dalam hati, sambil berjalan keluar kamar untuk mengambil minuman. Dia tahu, Marons sedang sibuk dengan Ayahnya, tetapi hatinya selalu merindukannya di saat tidak membicarakan atau mengerjakan kasus dengan anggota team sopape.


Terutama di saat-saat seperti ini, disaat kondisi hati dan pikirannya tidak sedang baik-baik saja. Dia berjalan pelan menuju dapur, agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan anngota team atau Danny yang masih tidur.


Ketika hampir tiba di ruang makan, Kaliana terkejut melihat sosok yang dikenalnya ada di dapur. Sosok yang dirindukan sedang membelakanginya, sambil melakukan sesuatu di meja dapur. Kaliana berjalan pelan, seperti orang yang sedang mengendap-ngendap, agar tidak diketahui kehadirannya.


Kemudian dengan perlahan, dia meletakan pinggiran kepalanya di belakang Marons. Sontak Marons terkejut, tetapi dia tidak menggerakan tubuhnya. Dia mengangkat tangannya melewati belakang kepalanya, lalu mengacak rambut Kaliana yang kepalanya sedang bersandar pada belakangnya.


"Tidak bisa tidur...?" Tanya Marons pelan, karena dia tahu yang bersandar di belakangnya adalah Kaliana dari harum lembut tubuh yang sangat dikenalnya.


Kaliana tidak menjawab, tapi hanya mengganggukan kepalanya dan tetap bersandar di belakang Marons. Banyak yang ingin diucapkan tapi tidak terucapkan dengan kata-kata. Suasana hatinya jadi sangat berbeda saat berada di kamar dan ketika melihat Marons sudah berada di rumah. Semua rasa hati bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Mau minum teh ginseng? Biar aku buatkan juga untukmu." Marons bertanya sambil mengaduk teh dalam cangkir, tanpa berusaha membalikan badannya. Kaliana kembali mengangguk pelan, tanpa suara. Sehingga Marons hanya bisa merasakan jawaban Kaliana dari kerakan kepala di belakangnya.


"Kalau begitu, duduk di ruang makan. Nanti aku bawa untuk kita berdua." Marons berkata pelan, lalu kembali melingkarkan tangannya melewati belakang kepala dan mengcak rambut Kaliana pelan sayang.


Perlahan Kaliana mengangkat kepalanya, lalu berjalan meninggalkan dapur menuju ruang makan seperti yang diminta Marons. Kaliana lakukan semua yang diminta Marons tanpa suara.


Marons jadi heran, lalu membalikan badannya untuk melihat Kaliana. Dia hanya melihat punggung Kaliana yang sedang berjalan menuju ruang makan. Marons memegang pinggiran kepalanya sambil berpikir dengan alisnya bertaut. 'Ada apa dengannya? Mengapa dia sangat penurut? Mengapa tadi dia tidak memelukku? Apa dia marah padaku?' Dan masih banyak pertanyaan lagi yang terbersit di pikiran Marons melihat sikap Kaliana.


^^^Marons mengingat saat dia kembali dari Seoul, Kaliana berlari dan memeluknya dari belakang dengan erat. Saat dia sedang membuat minuman yang sama di dapur seperti ini. Sehingga dia sangat heran dengan sikap Kaliana yang baru saja terjadi, sangat tenang.^^^


Marons membawa dua cangkir teh ginseng di tangan menuju ruang makan, lalu meletakan satu cangkir di atas meja, samping Kaliana. Kemudian mengelus kepala Kaliana yang sedang diletakan di atas meja.


Marons kembali merasa heran, karena baru pernah melihat posisi Kaliana yang belum pernah dilihatnya. Kaliana meletakan kedua tangannya di atas meja dalam posisi lurus ke depan dan dia meletakan dagu di atas kedua lengannya.


"Ada apa...?" Marons bertanya sambil meletakan cangkir di atas meja, lalu membetulkan posisi kursi. Alisnya makin bertaut, saat melihat Kaliana hanya menggeleng sambil mengangkat kepalanya lalu mengambil cangkir dan memegang cangkir tersebut dengan kedua tangannya.


Wajah dan tatapan Kaliana sangat berbeda padanya. Tidak ceria seperti biasa saat bertemu setelah mereka berpisah beberapa waktu lamanya.


"Emmm hhhmmm... Awas kau bermanja ria seperti ini pada pria lain." Marons berkata serius, setelah melihat tatapan Kaliana padanya setelah minum minuman yang dibuatnya, tanpa berhenti.


"Jangankan kepada pria lain. Kepada wanita saja, ngga pernah. Emangnya nnga boleh aku bermanja ria padamu?" Kaliana akhirnya bersuara setelah meletakan cangkir di meja. Dia melihat Marons dengan suasana hati yang hanya bisa didefenisikan oleh Kaliana. Marons melihatnya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Berdiri dan pindah ke sini. Isi kepala dan hatimu sedang tidak konek." Marons berkata sambil menarik kursi di sampingnya, agar Kaliana bisa pindah duduknya.


Kaliana berdiri sambil membawa cangkir yang masih ada sisa minumannya lalu duduk di kursi di samping Marons.


"Tadi aku bilang, kepada pria lain, jadi selain aku. Ada apa sampai yang sesederhana itu saja perlu dijelaskan?" Marons berkata lalu kembali menggelengkan kepalanya. Tetapi hatinya senang mendengar jawaban Kaliana, sehingga dia mengangkat tangan untuk mengacak rambut Kaliana.


Tangan Marons jadi lama di atas kepala Kaliana, karena dia kembali heran dengan sikap Kaliana. Biasanya Kaliana akan melakukan tangkisan saat dia akan mengacak rambutnya. Sekarang malah dibiarkan saja, malah kembali meletakan kedua tangannya lurus ke depan di atas meja dan meletakan dagunya di atas kedua lengan seperti sebelumnya.


"Huuuuuu..." Marons meniup nafasnya dengan kuat melihat sikap Kaliana.


"Jangan katakan tidak apa-apa lagi. Katakan padaku, ada apa...!" Marons berkata serius dan tegas, setelah menarik tangannya dari atas kepala Kaliana.


^^^Marons yakin, Kaliana sedang menyimpan sesuatu yang tidak berurusan dengan pekerjaan. Jika mengenai pekerjaan, dia dengan mudah membicarakan itu atau meminta pendapatnya.^^^


"Aku kangen dengan orang tuaku." Kaliana berkata pelan, tanpa mengangkat dagu dari lengannya yang di atas meja. Suaranya sangat pelan dan bergetar. Marons terkejut mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Dia lupa menanyakan keberadaan orang tuanya setelah kembali dari Korea.


"Niiii... Mengapa kau tidak ingatkan aku untuk hal itu? Angkat wajahmu dan lihat aku. Besok aku akan bicara dengan staf untuk atur ulang schedule ku. Aku akan mengantarmu menemui mereka." Marons berkata cepat, berharap Kaliana bisa tenang dan senang mendengar yang dia ucapkan.


Kaliana tidak mengangkat wajahnya, tapi hanya memiringkan kepalanya menghadap Marons. "Niiii... Ada apa...?" Tanya Marons terkejut, melihat genangan di mata Kaliana. Tidak lama kemudian, cairan bening mengalir di pinggiran matanya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2