ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
151. Informasi 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Melihat respon penyidik Arif yang mendengar dan melihat penjelasanya dengan serius, Kaliana merasa lega. Ada harapan besar yang timbul di hatinya, usaha yang mereka kerjakan selama ini tidak akan sia-sia.


^^^Sehingga dengan senang hati Kaliana meneruskan penjelasan tentang semua informasi yang disiapkan teamnya kepada Arif.^^^


"Ini analisa kami... Orang tua Jaret sengaja lakukan itu secara perlahan, dalam waktu yang lama. Mas Arif bisa lihat awal rekening-rekening itu dibuat dan tanggal mereka menabung sampai akhir." Kaliana menunjukan lembaran dimana tercantum semua tanggal, bulan dan tahun orang tua Jaret menabung.


^^^Arif meneliti semua yang diperlihatkan Kaliana dengan serius, sambil mengurut dari atas ke bawah dengan jarinya. Sedangkan Bram memegang senter untuk menerangi apa yang sedang di lihat oleh Arif.^^^


"Ini dua tanda tangan orang yang menabung di tabungan tersebut. Keduanya berbeda dan dari orang yang berbeda. Ini sudah diferivikasi oleh kami, kedua tanda tangan ini milik Mama dan Papa Jaret." Kaliana menjelaskan dengan serius, sambil menujuk tanda tangan yang disiapkan Putra.


^^^Kaliana kembali menyerahkan lembaran yang ada tercantum tanda tangan orang tua Jaret. Arif kembali meneliti dan membandingkan juga mencocokan dengan tanda tangan yang ada di pihak bank.^^^


Penyidik Arif terkesima melihat semua keterangan yang diberikan Kaliana beserta semua buktinya. Selain keterangan Kaliana yang membuat Arif takjub, Jumlah isi tabungan Jaret yang sudah ditotal oleh Yicoe juga membuat Arif terkejut. Dia menunjuk jumlah total tersebut dangan jari dan melihat ke arah Bram yang sedang memegang senter. "Fantastik..." Hanya itu yang terucap dari Bram dan Arif.


^^^Kaliana makin bersemangat untuk memberikan informasi saat melihat respon Arif dan Bram pada apa yang dia berikan.^^^


"Ini saran kami... Untuk lebih akurat dan bisa jadi barang bukti, Mas Arif bisa secara acak minta tanda tangan orang tua Jaret dan juga tanda pengenal mereka untuk dicocokan dengan informasi kami. Selanjutnya, pihak Kejaksaan bisa ke bank-bank tersebut untuk mengeksekusinya sebagai barang bukti tambahan." Kaliana menyampaikan sarannya kepada Arif dengan serius.

__ADS_1


^^^Bagi Kaliana, informasinya tidak berguna jika tidak dieksekusi, hingga bisa jadi barang bukti untuk menjerat orang tua Jaret. Oleh sebab itu, dia sangat berharap bisa segera ditindak lanjuti.^^^


Penyidik Arif mendengar saran Kaliana dan melihat dokumen yang ada dalam tangannya dengan serius. Arif mulai berpikir ke berbagai arah dan hatinya sangat senang, untuk semua yang terlintas di pikirannya.


"Boleh saya membawa ini?" Tanya Arif sambil menunjuk lembaran kertas di tangannya.


"Silahkan... Semua yang berhubungan informasi kami malam ini, boleh dibawa." Kaliana berkata sambil membuka tangan kanannya, mempersilahkan Arif untuk membawanya.


^^^Bram yang mendengar semua yang disampaikan Kaliana jadi menyadari, mengapa Kaliana dan teamnya memposting foto flexing orang tua Jaret. Mereka bukan saja mau mengulik orang tua Jaret, tapi juga pihak terkait agar bisa menaruh perhatian lebih kepada orang tua Jaret.^^^


"Pantas jumlah tabungan dan deposito mereka sesuai dengan yang dilaporkan ke pemerintah sebagai pejabat publik. Ternyata mereka menyimpan dengan nama yang lain dan dengan cara yang licik." Penyidik Arif berkata dengan serius dan tegas sambil melihat Bram dan Pak Yosa juga Kaliana, bergantian.


"Silahkan Mas Arif dan team kembangkan... Kami hanya berikan informasi intinya, biar yang lain diteruskan oleh pihak yang menangani kasus orang tua Jaret." Kaliana berkata pelan dan senang dengan respon dan cara analisa Arif.


^^^'Mas Arif, kami hanya buka sampai di situ saja. Kami tidak mau mengurai usus halusnya, karena bukan kami yang menyiapkan barang bukti untuk menghadapi orang tua Jaret di persidangan.' Kaliana berkata dalam hati, agar tidak menyinggung Arif sebagai penyidik yang memiliki wewenang penuh untuk membuktikan orang tua Jaret melanggar hukum dengan melakukan korupsi berjamaah.^^^


"Itu mengenai kekayaan Jaret yang berhubungan dengan orang tua Jaret. Sekarang mari kita lihat kekayaan orang tua Jaret yang sesungguhnya." Kaliana berkata dengan serius, lalu mengambil lembaran dokumen yang lain dari bundelan yang disiapkan Novie kepadanya.


^^^Kaliana membuka satu persatu, mencari yang dia maksudkan. Bram dan Arif yang melihat bundelan di tangan Kaliana, jadi tercengang. Mereka saling melihat lalu memperhatikan Pak Yosa sedang menyinari bundelan di tangan Kaliana, tanpa berkata-kata.^^^

__ADS_1


"Menurut kami, kekayaan orang tua Jaret bukan hanya ditemukan pihak Kejaksaan di rumah orang tua Jaret. Selain mungkin ada di keluarga terdekat mereka, kita fokus saja yang ada di orang tua Jaret." Kaliana kembali menjelaskan, setelah menemukan lembaran yang dicari.


"Apakah Kejaksaan sudah memeriksa rumah di alamat ini?" Tanya Kaliana sambil menunjuk alamat rumah yang diperoleh Putra. Novie telah memisahkan alamat itu tersendiri, agar Kaliana dengan mudah memperlihatkan kepada penyidik.


"Belum... Apakah ini rumah orang tua Jaret?" Tanya Arif terkejut dan heran. Alamat rumah yang diberikan Kaliana tidak ada dalam daftar tempat yang mau digeledah oleh pihak Kejaksaan.


"Bukan rumah orang tua Jaret di atas kertas. Tapi kami yakin, ini milik orang tua Jaret. Nanti Mas Arif tolong lihat daftar kekayaan Jaret yang ada pada pihak PPATK. Jika mereka bekerja dengan benar menginvetaris kekayaan Jaret, alamat rumah ini pasti ada dalam daftar kekayaan Jaret." Kaliana berkata dengan serius, sambil menunjuk lembar kertas di tangannya.


^^^Arif mengambil lembaran kertas dari tangan Kaliana lalu memeriksanya. Kemudian menyimpannya jadi satu dengan lembaran sebelumnya, setelah bertanya kepada Kaliana dengan isyarat mau membawanya.^^^


"Kami kurang teliti mengaitkan semua ini dengan menanyakan secara serius kepada pihak PPATK. Seharusnya kami meminta daftar kekayaan Jaret juga. Bukan hanya daftar kekayaan orang tua Jaret saja." Penyidik Arif berkata pelan, mengakui kekurang telitian mereka.


"Belum terlambat, Mas Arif. Kami mau ingatkan juga, jika alamat rumah ini tidak ada dalam daftar PPATK, karena kurang teliti juga, Mas Arif bisa cek di developer perumahan ini. Alamat rumah ini atas nama siapa, atau siapa pemiliknya. Mas tolong selidiki secara senyap. Jika sudah pasti itu milik Jaret, silahkan buat surat penggeledahan." Kaliana berkata tegas, sambil melihat Arif dengan serius.


"Jangan berikan banyak waktu untuk orang tua Jaret berlaku seperti kutu loncat. Berpindah dari sini ke sana dan berusaha untuk mengelabui aparat hukum. Langsung saja eksekusi di tempat. Kalau bisa, jangan berikan mereka menarik nafas panjang, apalagi bergerak untuk melangkah." Kaliana berkata serius dan tegas, karena sudah mengamati mereka beberapa waktu belakangan ini.


Kaliana sudah terbiasa bergerak cepat dalam menangani suatu kasus, jadi dia berharap pihak Kejaksaan juga bisa bergerak cepat. Barang bukti yang mereka butuhkan untuk menjerat orang tua Jaret, bisa berpindah-pindah tempat.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2