
...~•Happy Reading•~...
Mama Jaret sontak melihat Hakim dengan hati yang berkerikil tajam. Walaupun tidak mengatakan secara terbuka, tetapi orang yang masih bisa berpikir, pasti mengerti maksud dari ucapan Hakim. Hal itu membuat Mama Jaret mulai cemas melihat sikap Hakim yang tidak bisa ditampol dengan gepokannya.
"Sekarang dengar lagi baik-baik penjelasan saya. Ini adalah hal biasa dalam kasus perceraian. Pembagian hak asuh anak dan pembagian harta gono gini, merupakan hal yang sering diproses. Dalam kasus perceraian putra anda, mereka belum memiliki anak, jadi hanya ada pembagian harta gono gini. Apakah masih kurang jelas?" Tanya Hakim lagi sambil melihat Mama Jaret, menunggu reaksi atau jawabannya.
"Saya mengerti itu, Pak Hakim. Tapi yang saya tanyakan, mengapa dari pihak kami yang harus memberikan setengah harta? Enak betul wanita itu, tidak memberikan apapun dari hartanya untuk dibagi..." Ucap Mama Jaret kesal dan marah membayangkan apa yang akan diterima oleh Chasina dan apa yang akan terjadi dengan harta mereka.
"Kalau yang itu, silahkan tanya pada anak anda. Mengapa buat perjanjian tanpa berpikir dan mengabaikan perjanjian pra nikah yang telah ditanda tanganinya." Hakim Alvian berkata cepat, karena tidak mau melayani kemarahan Mama Jaret yang sedang memandangnya dengan mata melotot.
Hakim Alvian bersikap seakan tidak melihat kemarahan Mama Jaret. Beliau makin mengerti, mengapa Danny minta tolong untuk gugatan cerai yang diajukannya dipercepat. Dan mengapa menekankan tuntutan pada perjanjian pra nikah. Hakim makin penasaran untuk mengetahui berapa banyak kekayaan Jaret, hingga Mamanya sangat tidak rela dibagi kepada istrinya.
Hakim segera menanda tangani surat di depannya, lalu memberikan isyarat kepada petugas kehakiman yang ada dalam ruangan mendekatinya. "Tolong bawa ini pada pihak terkait untuk menghitung harta tergugat sebelum ada putusan cerai." Ucap Hakim Alvian cepat, lalu memberikan lembaran surat yang sudah ditanda tanganinya.
Mendengar itu, Mama Jaret tiba-tiba berdiri dan hendak berlari ke arah petugas dan Hakim yang sedang menyerahkan surat kepada petugas untuk mengambil surat tersebut. Dalam kepanikannya, yang ada dalam pikiran Mama Jaret harus lakukan sesuatu untuk memperlambat proses pemeriksaan kekayaan Jaret. Agar mereka masih punya waktu untuk amankan kekayaan Jaret.
Melihat gerakan Mama Jaret, Kaliana mengerti maksudnya untuk menggangu proses perceraian yang sedang dilakukan Hakim. Dalam kecepatan tinggi, Kaliana menggerakan kakinya untuk menghadang Mama Jaret untuk menyelamatkan surat yang ada di tangan petugas kehakiman.
"Aaaoooow..." Mama Jaret yang terjatuh menjerit kesakitan, sambil memegang kakinya. Apa yang dilakukan Kaliana membuat Mama Jaret terjatuh, hingga tidak bisa mendekati petugas yang sedang memegang dokumen.
__ADS_1
Semua orang dalam ruangan terkejut melihat apa yang terjadi. Terutama Hakim Alvian langsung melihat Kaliana dengan wajah bingung. Karena gerakan Kaliana hampir tidak terlihat olehnya. Jika tidak mendengar erangan kesakitan Mama Jaret, Hakim tidak tahu apa yang sedang terjadi. Danny yang sudah pernah melihat kejadian mirip dengan itu, tetap terkejut dan membuatnya berdiri. Sebagaimana yang lain dalam ruangan, ikut berdiri.
"Bersikaplah selayaknya sebagai wanita beradab... Anda kira sedang berada di pasar, hingga mau meraup cabe tomat?" Kaliana berkata dengan serius dan tenang, sambil berdiri di samping Mama Jaret untuk berjaga-jaga. Kaliana memberikan isyarat kepada petugas untuk keluar menjalankan tugasnya.
"Biru, ngga... Biru, ngga..." Ucap Novie kepada Yicoe dan Putra yang sedang mendengar dan melihat kejadian di dalam ruangan Hakim. Mereka tidak terkejut dengan apa yang dilakukan Kaliana, karena pernah mengalami saat menyelidiki.
"Biruuu, lah yauuu... Sapuan boot boss tetap meninggalkan bekas." Ucap Putra sambil menautkan kepalan tangan dengan Yicoe dan Novie, sambil senyum. Marons hanya bisa menggelengkan kepala mendengar percakapan Yicoe, Novie dan Putra.
"Walaupum tidak retak, tapi perlu berhari-hari bahkan berminggu untuk hilangin bekasnya, laah yauuu.." Ucap Yicoe mengikuti ucapan Putra, lalu menyenggol lengan Novie yang hendak menyenggolnya sambil melirik Marons untuk memberi isyarat, ada Marons bersama mereka.
"Elly... Segera tuntut wanita ini. Dia sudah lakukan kekerasan pada saya." Ucap Mama Jaret yang telah berdiri dan tertati sambil menahan rasa sakit dan malu. Kemudian berkata kepada pengacaranya dengan wajah memerah sambil meringis.
Kaliana kembali melihat ke arah Hakim Alvian dengan serius. "Pak Hakim yang mau ajukan tuntutan atau saya, kepada wanita ini yang mau menghambat proses hukum?" Hakim Alvian tertegun, karena tidak menyangka dengan pertanyaan Kaliana.
"Kami yang akan memprosesnya, Bu Anna." Jawab Hakim Alvian cepat, setelah menguasai situasi dan rasa terkejutnya.
"Pak, tolong amankan cctv yang ada dalam ruangan ini, untuk lengkapi tuntutan nanti. Mari kita buat mereka reuni bersama anak mereka di balik terali besi." Ucap Kaliana dingin dan serius, tanpa melihat Mama Jaret yang terkejut, hingga melupakan rasa sakit di kakinya.
Mama Jaret sangat marah mendengar apa yang dikatakan dan dilakukan Kaliana kepadanya. Amarah dan panik membuat Mama Jaret tidak bisa mengendalikan dirinya. Tiba-tiba berdiri tegak lalu menjulurkan tangannya untuk mencakar wajah Kaliana yang sedang berbicara serius dengan Hakim Alvian.
__ADS_1
Kaliana yang merasa terancam, langsung melayangkan tangan kirinya tanpa menengok ke arah Mama Jaret lalu memegang tangan Mama Jaret sebelum menyentuh wajahnya. Hal itu membuat Mama Jaret menjerit, seakan mau disembelih.
Mama Jaret berteriak sambil berusaha melepaskan tangan Kaliana dari tangannya dengan menggunakan tangan yang masih bebas. Tetapi kalah cepat dari Kaliana yang langsung memegang tangannya dengan tangan kanannya. Membuat Mama Jaret makin menjerit kesakitan, karena kedua tangannya bagai mau terbakar.
Pak Yosa yang sudah tau Kaliana kidal, hanya bisa terdiam sambil membayangkan apa yang dirasakan Mama Jaret dengan jepitan kidalnya. Begitu juga dengan Hakim Alvian dan Danny, sampai menahan nafas melihat apa yang terjadi dengan Mama Jaret. Sedangkan pengacaranya terdiam, tidak tahu mau lakukan apa, karena khawatir pada tendangan Kaliana.
Gerakan sapuan Kaliana kepada Mama Jaret membekas di ingatannya, sehingga tidak mau ambil resiko. Apa lagi melihat pria bersama Danny dalam kondisi siaga, sambil memandangnya dengan serius.
Pak Yosa sudah dalam posisi mengamankan Kaliana, jika pengacara Jaret melakukan sesuatu kepada Kaliana. Pak Yosa tidak akan tinggal diam.
"Ternyata tanganmu juga ingin menemani kakimu di rumah sakit. Jika tadi tanganmu menyentuh 'asetku', aku akan membuat ruas jarimu lepas satu, satu." Kaliana berkata sambil menahan marah, tanpa melihat Mama Jaret sebagai orang tua yang harus dihormati. Dia sangat marah, karena tangan Mama Jaret hampir menyentuh pipinya.
Mendengar apa yang dikatakan Kaliana, Marons langsung menyingkir dari Putra, Yicoe dan Novie lalu tertawa sekeras-kerasnya. Marons jadi tertawa, karena Kaliana masih sempat berpikir tentang pipinya yang dikatakan 'aset' oleh karena mereka sering lakukan salam tempel.
Putra, Yicoe dan Novie melihat Marons dengan wajah bingung, karena tidak mengerti apa yang membuat Marons tertawa. Begitu juga dengan Danny yang bingung mendengar tawa Marons. Dia tidak mengerti, mengapa Marons bisa tertawa lepas.
Kaliana yang mendengar sayup-sayup tawa Marons, hampir menggigit lidahnya. Dalam kemarahannya, dia lupa Marons ada bersama anggota team dan mendengar ucapannya.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...