
...~•Happy Reading•~...
Papa Jaret segera kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari istrinya. Apa yang baru dijelaskan oleh pengacaranya membuat Papa Jaret panik. Semua yang tersimpan rapi selama ini bisa terbongkar, jika mereka salah menanganinya. Sehingga beliau tergesa-gesa masuk ke rumah sambil memanggil nama istrinya.
"Renetttt... Kau di mana...?" Teriak Papa Jaret mengglegar dalam rumahnya yang besar dan mewah. Membuat para pelayan terkejut dan diam mematung di tempat. Mereka sudah tau, jika tuannya bertetiak memanggil nyonya mereka, pasti akan ada terjadi sesuatu.
"Aku di siniii... Ada apa? Bukannya tadi sudah pergi? Berteriak seperti di hutan..." Tanya Mama Jaret mulai kesal, melihat suaminya kembali lagi sambil berteriak memanggil namanya. Tadi saat suaminya keluar rumah, Mama Jaret masuk ke ruang makan mengambil minuman untuk menurunkan emosinya. Rasa kesal dan marah bisa membakarnya, jadi Mama Jaret ke dapur untuk ambil minuman dingin untuk mendinginkan suhu emosinya.
"Kau segera ke tahanan untuk bertemu dengan Chasina. Minta dia batalkan gugatan cerainya. Bagaimana caranya, kau yang pikirkan sendiri...." Papa Jaret tidak memperdulikan ucapan istrinya, karena ada yang lebih penting. Kemudian Papa Jaret menceritakan apa yang dikatakan pengacara tentang pembagian harta gono gini kepada istrinya, jika Jaret dan Chasina bercerai.
Mama Jaret yang sedang memegang gelas di tangannya berisi air mineral, sangat terkejut. Sehingga gelas yang ada di tangannya langsung terlepas dari tangannya dan praaang.... Apa yang dikatakan suaminya, bagaikan halilintar yang menyambar kepalanya. Para pelayan tidak berani mendekat, saat mendengar bunyi pecahan di ruang makan. Mereka akan datang setelah dipanggil oleh nyonya atau tuannya.
"Mengapa kau baru katakan ini? Apa kau tidak tau itu bagi keadaan kita? Lalu mengapa aku yang harus bicara dengannya?" Tanya Mama Jaret beruntun, setelah mengatasi rasa terkejutnya dan duduk di kursi meja makan. Papa Jaret segera memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan gelas dan air yang mengenangi lantai.
"Kalau bukan kau, lalu siapa? Aku yang harus bicara dengannya?" Papa Jaret melihat istrinya dengan serius sambil menahan emosi, karena tidak mengerti maksudnya. Rasa kesal dan marah kepada istrinya telah surut, karena kondisi yang akan mereka hadapi harus dibicarakan dengan kepala dingin.
__ADS_1
Sekarang ini, mereka tidak boleh bertengkar untuk sesuatu yang menyinggung perasaan atau harga diri. Ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan dan diselesaikan oleh mereka berdua. Sehingga Papa Jaret mengabaikan semua perkataan istrinya yang tidak berkenan di hatinya.
"Mengapa harus kita yang lakukan itu...? Minta saja petugas yang sudah menerima bayaran itu untuk melakukannya. Bila perlu, mereka singkirkan dia di tahanan jika tidak mau membatalkan gugatan cerainya." Mama Jaret berkata dengan emosi dan juga cemas, karena mulai merasa terancam dengan adanya gugatan cerai Chasina terhadap Jaret.
"Katakan saja, caranya mereka pikirkan sendiri... Mereka pasti tau caranya, karena sering lakuan hal itu." Mama Jaret berkata setelah menguasai rasa terkejut dan berpikir tentang apa yang akan terjadi jika harta Jaret diselidiki oleh pihak pengadilan.
"Kau pikir akan mudah menyikirkan dia di tahanan? Situasi seperti sekarang ini, dia sedang jadi pusat perhatian. Jika terjadi sesuatu dengannya, bisa melebar kemana-mana. Bukan gugatan cerainya penyebab penyelidikan kekayaan Jaret, tapi kondisinya di tahanan yang jadi penyebabnya." Papa Jaret makin serius dan cemas, setelah mendengar usul istrinya untuk menyingkirkan Chasina.
"Kau pikir mudah juga untuk berbicara dengannya, setelah dia memutuskan untuk bercerai? Tidak usah berpikir untuk lakukan itu dengan cara yang halus. Bilang perlu gunakan cara kasar untuk menyingkirkannya." Mama Jaret jadi berpikir kemana-mana setelah mencerna apa yang akan terjadi, jika benar yang dikatakan pengacara mereka.
"Kau seperti tidak tau, wanita itu. Dia sudah bilang begitu, dia akan lakukan. Jangan lihat dia bicara pelan dan lembut, lalu kau kira dia akan mendengarmu. Apalagi kita tiba-tiba minta dibatalkan, dia akan curiga dan makin ngotot untuk bercerai." Mama Jaret sudah sering beradu dengan Chasina, jadi tahu sifat Chasina.
"Walaupun kau bicara baik-baik dengannya juga, dia tidak akan mau mendengarkanmu. Jika dia tidak tegas, mana bisa jadi pimpinan perusahan sebesar itu?" Mama Jaret berkata demikian, karena pernah beradu mulut dengan Chasina. Beliau tidak berkutik, jika Chasina membalas dan mematahkan setiap argumen tidak bijak yang dikatakannya.
"Tapi saat ini, kita sedang jadi pusat perhatian publik karena kasus Jaret. Di kantor, sudah mulai banyak yang bertanya tentang Jaret. Kasus ini bisa mempengaruhi konditeku. Sekarang pihak kementrian belum memanggiku untuk dimintai keterangan. Jangan sampai karena ini, malah terjadi sesuatu di kantor." Papa Jaret berkata sambil terus berpikir, karena semuanya terjadi tiba-tiba dan begitu cepat. Beliau belum sempat melakulan persiapan untuk melindungi harta Jaret.
__ADS_1
"Tidak usah pikirkan itu... Jika ini dilanjutkan, akan terjadi gelombang panas. Jadi lebih baik mencegah sebelum gelombang itu sampai ke kita. Singkirkan dia sebelum ada penyedikan dari pihak terkait." Kata Mama Jaret tegas. Baginya, ini adalah solusi dan kesempatan untuk menyingkirkan Chasina yang sering membuatnya kesal dan malu.
"Bukankah ini adalah kesempatan bagus kalau dia sudah tidak ada, saat statusnya masih sebagai istri Jaret? Semua kekayaannya akan jatuh ke tangan suaminya." Mama Jaret berkata lagi, tentang apa yang terlintas dipikirannya. Jaret bisa menguasai harta Chasina, jika dia sudah tidak ada. Papa Jaret melihat istrinya dengan serius.
"Jangan pikiranmu kemana-mana. Kita tidak tahu kehidupan pribadinya sebelum dan sesudah menikah. Jadi tidak mesti begitu... Tergantung kepada siapa dia wariskan. Orang tuanya punya pengacara pribadi. Mungkin tidak akan begitu saja membiarkan harta kekayaannya dikuasai Jaret. Bisa jadi, sekarang mereka sudah mengurusnya, karena aku dengar perusahaannya sedang ditangani kakaknya." Papa Jaret merasa, apa yang dikatakan istrinya sesuatu berlebihan dan tidak mungkin.
"Mengapa kau tidak berpikir untuk dekati pengacaranya lalu tampol dengan gepokan, bergepok-gepok? Supaya dia bisa bicara dengan Chasina untuk membatalkan gugatannya. Kau coba lakukan ini, sebelum bicara dengan petugas linta itu." Ucap Mama Jaret lagi, yang terus berpikir dan mencari cara agar mereka memiliki waktu untuk membereskan kekayaan mereka yang ada pada Jaret.
"Besok pengacara akan ke pengadilan untuk bertemu dengan hakim dan pengacaranya. Salah satu dari kita akan dampingi pengacara sebagai saksi dari pihak Jaret." Papa Jaret berkata lagi, mengingat surat dari pengadilan dan mengabaikan usul istrinya.
"Kalau begitu, aku yang akan datang ke pengadilan sebagai saksi. Aku akan melihat apa yang dikatakan pengacaranya, setelah ditampol gepokan oleh pengacara kita. Apakah pengacaranya bisa dibelok atau tidak. Jika tidak bisa, kau segera hubungi petugas linta untuk melenyapkan dia." Ucap Mama Jaret serius, lalu memanggil pelayan untuk membawakan minuman untuk mereka.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1