
...~•Happy Reading•~...
Danny langsung melihat Kaliana dengan tertegun. Kaliana tidak mau menunggu, karena Danny harus menempuh jalur lambat. Padahal Kaliana bisa membuat mereka melewati jalur cepat untuk mencapai tujuan. Akhirnya Danny mengangguk mengerti, mengingat hubungan baik dan kedekatan Kaliana dengan penyidik di ruang GP tadi malam.
Kaliana segera menghubungi Bram untuk memastikan kehadiran mereka.
📱"Siang, Pak. Apakah aku mengganggu?" Tanya Kaliana, saat Bram merespon panggilannya. Bram langsung mengerti, kode Kaliana ketika menyapanya dengan formal. Pasti dia tidak sedang sendiri.
📱"Tidak. Aku lagi makan siang di ruangan. Sekarang aku sudah tidak bisa keluar untuk makan di luar sesukanya lagi. Susah jadi seleb dadakan." Bram berkata lalu tertawa mendengar ucapannya. Dia sekarang sudah tidak bebas keluar lagi, karena sering ditungguin oleh awak media.
📱"Oooh... Apa kami bisa kunjungi tahanan Ibu Chasina setelah ini? Aku ada perlu dengan beliau." Ucap Kaliana langsung pada intinya. Dia tahu, sekarang waktu adalah emas. Mereka harus pergunakan dengan baik dan cepat, karena sewaktu-waktu kasusnya akan dilimpahkan ke pengadilan. Sedangkan mereka belum melakulan persiapan apa pun.
📱"Ibu Chasina akan jadi clientmu juga?" Tanya Bram terkejut mendengar permintaan Kaliana. Dia sudah bisa menebak, jika Kaliana berkata demikian. Jika tidak, kaliana hanya akan membantu dengan memberikan keterangan yang dia tahu, tanpa perlu menyelidiki sesuatu.
📱"Orang tuanya tadi malam hubungi aku, jadi sekarang mau bicara sebentar dengan beliau dan pengacaranya." Ucap Kaliana lagi, karena akan datang dengan Danny.
📱"Pengacaranya belum hubungi kami untuk memberitahukan kedatangannya." Ucap Bram, karena Chasina belum didampingi pengacara sejak ditahan.
📱"Ini sekalian aku beritahukan, pengacara Pak Marons yang akan jadi pengacara Bu Chasina. Setelah ini kami berdua akan ke sana." Ucap Kaliana langsung, tanpa berputar. Dia ingin Bram mengerti dan memfasilitasi mereka berdua.
📱"Baik... Kalian datang saja, nanti aku beritahukan penjaga. Sorry, aku tidak bisa dampingi." Ucap Bram, serius. Sekarang dia harus berhati-hati bertemu dengan seseorang.
__ADS_1
📱"Tidak masalah. Nanti kita bisa bertemu lain kali atau setelah perkara ini disidangkan." Kaliana mengerti kondisi Bram saat ini yang tidak leluasa lagi. Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan setelah saling memberi salam.
"Ok, Pak Danny. Setelah dari sini kita bisa menemui Ibu Chasina di tahanan." Ucap Kaliana kepada Danny. Bagi Kaliana, soal perjanjian kerja sama dengan orang tua Chasina bisa nanti saja. Yang penting mereka bisa melakukan hal lebih penting, menemui Chasina di tahanan.
"Baik..." Ucap Danny lalu memberikan kode kepada waiters untuk mendekati meja mereka. Kaliana buru-buru menghabiskan desserts nya, begitu juga dengan Danny.
"Pak Danny tolong ikutin saya, ya. Saya mau titip mobil di Mall terdekat dan akan ikut mobil Pak Danny ke kantor polisi. Maklum, saya hanya jaga perasaan mantan rekan kerja di sana." Kaliana berkata dengan pelan dan serius. Dia berharap Danny bisa mengerti dan tidak banyak bertanya.
Mobil jeephar yang sudah dimodifikasi miliknya, terlalu keren dan mahal untuk seorang mantan penyidik. Dia tidak ingin ada pemikiran liar tentang asal dananya. Dia juga tidak mau menjelaskan sumber dananya dari asuransi orang tuanya yang meninggal dalam pernerbangan.
Danny mengangguk mengerti, lalu mereka keluar ke tempat parkir dan meninggalkan restoran. Beberapa saat kemudian, Danny juga ikut masuk ke Mall dan menunggu Kaliana. Dia sudah terbiasa dengan ritme kerja Kaliana yang cepat dan detail.
Setelah tiba di kantor polisi, Raka yang menunggu Kaliana dan Danny atas perintah Bram. Kemudian dia mengantar mereka untuk menemui Chasina di tahanan. Bram tidak menemui mereka, karena dia sedang diawasi oleh pimpinannya. Setelah Jaret di tahan, dia lebih menahan diri untuk bertemu seseorang.
"Bu Chasina, saya Danny yang diminta oleh Ayah anda untuk menjadi pengacara anda." Danny memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Chasina. Walaupun mereka sudah bertemu di ruang GP, tapi hanya sebatas melihat saja, tanpa bertegur sapa.
Chasina mengulurkan tangan untuk menyambut perkenalan Danny sambil menyebut namanya dengan pelan. "Terima kasih, Pak. Saya berharap banyak dari anda dalam kasus ini." Ucap Chasina pelan, penuh harap.
"Baik... Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu anda. Apakah anda perlu menanda tangani surat penunjukan saya sebagai pengacara anda? Atau Pak Adolfis yang akan menanda tanganinya?" Tanya Danny sebelum Kaliana berbicara.
"Saya saja, Pak. Apakah Pak Danny ada bawa berkasnya?" Tanya Chasina serius. Dia tidak mau menunda penunjukan Danny sebagai pengacaranya, karena khawatir terjadi sesuatu atau Daddy nya berubah pikiran.
__ADS_1
Danny mengangguk, lalu mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tas kerja yang di bawanya. Kemudian memberikan lembaran tersebut dan pulpen kepada Chasina untuk ditanda tangani.
Setelah Danny menyelesaikan keabsahan statusnya sebagai pengacara Chasina, Kaliana mengambil bagian juga untuk berbicara secara pribadi sebagai detektif.
"Bu Chasina, kita sudah berkenalan sebelumnya. Tetapi sekarang, saya perkenalkan diri secara resmi sesuai dengan profesi saya sebagai detektif swasta. Saya diminta oleh Ayah anda untuk bantu menyelidiki kasus ini. Jadi saya mohon kerja samanya." Kaliana memperkenalkan diri dengan tenang dan serius.
"Jika ada hal-hal pribadi yang saya tanyakan, harap bisa dijawab dengan benar. Agar kami bisa membantu anda dalam menyelesaikan kasus ini." Kaliana tetap berkata serius dan tegas.
"Istilahnya begini, anda harus berkata jujur kepada kami. Karena jika anda berbohong, bukan kami yang rugi, tetapi anda sendiri yang rugi. Anda sudah lihat apa yang terjadi dengan suami anda, bukan? Dia melakukan segala cara untuk membohongi kami, tapi tidak ada ampun jika kami menemukan kebenarannya." Kaliana berkata tegas.
"Supaya Bu Chasina tau, anda akan dihukum lebih berat jika kami menemukan yang tidak sesuai dengan keterangan anda." Kaliana berkata tegas sambil melihat Chasina dengan serius. Chasina mengangguk mengerti dan ucapkan terima kasih.
"Sekarang tolong tunjukan semua bekas luka cakaran korban yang anda perlihatkan tadi malam kepada kami." Ucap Kaliana lagi, lalu mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
Chasina tanpa bertanya langsung mengulurkan kedua tangannya kepada Kaliana untuk diphoto. Kemudian di bagian lehernya juga, yang masih membekas dia perlihatkan untuk melengkapi keterangan yang disampaikannya.
"Apakah anda ada memiliki bukti pembayaran atau pemeriksaan luka cakaran ini di klinik atau rumah sakit yang anda katakan?" Kaliana bertanya serius dan detail untuk mengumpulkan bukti tambahan.
"Saya tidak ingat lagi Bu Kaliana. Mungkin masih di mobil." Jawab Chasina sambil berpikir. Saat itu dia tidak berpikir untuk menyimpan semuanya, jadi letakan begitu saja. Dia tidak menyangka, akan diperlukan.
"Kalau dalam mobil, sudah tidak ada. Kami sudah sisir saat itu dan tidak menemukan apa-apa yang berhubungan dengan itu. Anda pasti ingat, kami menyisir mobil suami anda, bersih." Ucap Kaliana mengingatkan tentang apa yang dilakukannya dengan Pak Yosa, saat menyelidiki mobil suaminya.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...