
...~•Happy Reading•~...
Kaliana sontak melihat Marons dengan serius. Apa yang dikatakan Marons memberikan sinyal bahwa, tidak usah diperdebatkan atau dipersoalkan lagi. Marons sudah pikirkan itu, dan berharap Kaliana mengerti dan mau melakukan sarannya.
Kaliana yang biasa berpikir cepat dan konek ke berbagai arah, jadi memahami situasi. "Tadi kau pulang kerja jam berapa?" Kaliana curiga, Marons telah berbicara dengan teamnya. Jika demikian, tidak ada gunanya berdebat untuk hal itu.
Mendengar pertanyaan Kaliana, Marons jadi tersenyum. Dia mengerti arti dari pertanyaan Kaliana. "Setelah Magrib... Tadi kau lihat saat bangun, aku sudah mandi, bukan?" Marons berkata untuk mengalihkan perhatian Kaliana.
"Kau sudah bicara dengan mereka?" Tanya Kaliana serius, setelah menyadari Marons memiliki banyak waktu bertemu dengan anggota teamnya, saat dia tidur.
"Sedikittt..." Marons berkata, sambil menautkan kedua jarinya, jempol dan telunjuk untuk mengisyaratkan, sedikit dengan mimik lucu sambil tersenyum.
"Berarti aku tidak perlu bicara lagi dengan mereka, bukan?" Kaliana langsung berkata, karena tidak mau berbelit-belit. Marons mengangguk, sambil mengangkat dua jarinya pertanda peace.
"Kau suka sekali copy yang aku lakukan. Baiklaaah... Turunkan jarimu...!" Ucap Kaliana, sambil berusaha menurunkan jari Marons dengan kesal. Marons makin tersenyum melihat wajah kesal Kaliana.
"Aku akan turunkan, jika kau berhenti kesal..." Ucap Marons, sambil terus mengangkat dua jarinya dengan mimik lucu dan tersenyum untuk menunggu keputusan Kaliana.
"Iyaaa... Sudaaa... Katakan rencanamu, agar aku bisa mencerna yang kau rencanakan." Kata Kaliana lagi, sambil kembali menggapai tangan Marons yang sedang melakukan tanda 'peace' untuk menurunkannya.
"Kau akan mudah mencernanya, asal tetap pegang janjimu untuk tetap percaya padaku." Marons berkata lagi dengan serius. Mimik wajah lucunya segera menghilang.
"Iyaaa... Aku sudah, katakan itu di awal. Jadi sekarang katakan, sebelum aku berubah pikiran." Kaliana juga berkata serius. Dia penasaran dengan apa yang dikatakan Marons kepada anggota team sopape.
__ADS_1
"Yaaa.. itu tadi... Kalian akan tinggal dan bekerja di sini. Kalian sementara bekerja dengan fasilitas yang ada, sambil dirapikan tempatnya dan juga fasilitasnya akan dilengkapi." Marons menjelaskan apa yang dikatakan kepada anggota team yang lain.
"Kalian bertiga, semoga bisa tidur di kamar itu untuk sementara waktu." Marons menambahkan lagi apa yang diminta kepada Yicoe dan Novie.
"Soal tidur, kami tidak apa-apa. Karena sudah terbiasa, teletubbies..." Ucapan Kaliana terputus, karena Marons bertanya dengan wajah yang tidak mengerti.
"Apa itu...?" Marons khawatir Kaliana menggunakan kata asal untuk menyembunyikan maksudnya.
"Nanti kau cari saja di google... Tapi kalau kerja, tempatnya di mana? Kami suka berbicara berlima, kalau sudah mulai menganalisa kasus, sambil melihat semua dipaparkan Putra di visual. Agar kami lebih mudah mengerti dan menentukan yang benar atau hanya jebakan." Ucap Kaliana serius, karena mereka tidak bisa duduk untuk menganalisa bukti dan keterangan di sofa empuk di ruang keluarga Marons.
"Mereka semua sudah kasih gambaran, saat aku tanyakan itu. Nanti besok aku minta orang datang untuk bersihkan ruangan di lantai atas dan singkirkan yang tidak kalian butuhkan." Marons sudah memikirkan solusinya, setelah berpikir untuk mengusulkan Kaliana dan team bekerja di rumahnya.
"Nanti kau katakan saja apa yang kurang untuk menunjang pekerjaan kalian. Biar disiapkan sekalian, sama orang yang aku minta ke sini." Ucap Marons lagi, agar Kaliana tidak usah pikirkan hal itu.
"Sedangkan mobil, untuk sementara ini kau tidak usah pakai mobilmu. Karena mobilmu sangat menyolok dan mereka sudah tahu. Akan mudah melacakmu. Jadi kau pakai mobil Rallita dan mobilmu masuk garasi. Atau kau mau aku ganti mobilnya?" Tanya Marons serius, karena dia khawatir Kaliana menggunakan mobilnya.
"Eehhh... Jangaaan... Kasusnya belum selesai disidangkan. Biarkan mobilnya begitu dulu, jangan sampai ada yang senggol dalam sidang, kau melakukannya karena ada bukti yang sengaja di sembunyikan." Kaliana berkata serius dan tegas saat mendengar pertanyaan Marons tentang mobil Rallita yang mau diganti.
"Aku akan pakai mobil itu, jika perlu. Sekarang banyak mobil online, kalau mau ke suatu tempat. Kau tenang saja, konsentrasi untuk pekerjaan dan perjalananmu." Kaliana sangat tersentuh, Marons sudah memikirkan sampai ke hal seperti itu.
"Baik... Kalau mau keluar dengan mobil itu, pergi bersama Pak Yosa saja. Walaupun kita berusaha menutupi, mereka juga pasti berusaha mencarimu. Sekarang kalian semua menahan diri untuk lakukan sesuatu di luar rumah." Marons tetap serius menyampaikan yang dipikirkannya.
"Jangan terima kasus dulu, sampai semuanya selesai. Sementara ini, kalian konsen bantu Chasina sambil bereskan tempat kerja di lantai atas." Marons berkata lagi, berharap yang dia katakan bisa dilakukan oleh Kaliana.
__ADS_1
Kaliana melihat dan dengar yang dikatakan Marons dengan hati yang sangat tersentuh. Semua yang dikatakan Marons, bukan lagi berhubungan dengan penyelesaian kasus tewasnya Rallita. Tetapi sedang mensupport dia dan pekerjaannya
"Besok aku berangkat pagi, jadi tidak bisa mengecek di atas. Jadi kau tolong bicarakan dengan Bibi, nanti Bibi yang akan menunjukan tempatnya untukmu." Marons berkata demikian, karena telah berbicara dengan Bibi setelah berbicara dengan anggota team sopape.
"Arroo... Sementara ini, kami kerja di ruang keluarga dulu, sambil lihat-lihat di atas. Jadi jangan minta orang untuk datang bantuin kami, ya... Nanti sudah lihat, baru aku bicarakan denganmu." Kaliana yang sudah terbiasa berpikir cepat dan menganalisa sesuatu, tidak mau mengambil keputusan sebelum melihat tempat yang diberikan Marons sebagai tempat kerja mereka.
"Baik... Kau katakan saja padaku, jika sudah perlu bantuannya. Aku yang akan beritahu orangnya." Marons mengerti yang dimaksud Kaliana.
"Kalian mau makan apa, bicarakan dengan Bibi. Jadi kalian bisa konsen bekerja. Ada lagi yang belum kita bicarakan menyakut kepindahan kalian ke sini?" Tanya Marons sambil berpikir serius.
"Ada... Kami tidak bisa pulang ke rumah dulu untuk mengambil keperluan?" Tanya Kaliana, mengingat semua keperluannya hanya dibawa yang ada di luar lemari.
"Kau beli saja dulu semua kebutuhan kalian selama di sini. Nanti aku minta tolong orang untuk ke rumahmu untuk bersihin sekali-sekali. Ada lagi...?" Tanya Marons sambil menatap Kaliana serius. Dia tidak tahu kebutuhan wanita, jadi perlu bertanya kepada Kaliana.
"Kau mau ke Korea berapa lama?" Tanya Kaliana tiba-tiba di luar topik, membuat Marons terkejut dan menatapnya.
"Paling cepat satu minggu sudah kembali. Danny sudah ingatkan aku untuk segera kembali. Tadi aku bicara dengannya, karena mau keluar negeri. Makanya dia bilang kejadian yang kau alami di parkiran restoran itu." Marons menjawab dan juga jelaskan yang dikatakan Danny.
"Iya, kau jangan lama. Karena aku akan meminta persidangan Pak Ewan yang dijadwalkan lebih dulu, sebelum Bu Chasina. Dalam kasus Pak Ewan, kau yang menuntut Punguk. Jadi kau harus hadir pada persidangan itu." Ucap Kaliana serius.
"Iyaa... Tadi Danny sudah ingatkan tentang itu. Aku kira, kau bertanya berapa lama aku di sana, karena akan merindukanku. Taunya, urusan Pak Ewan dengan jebak menjebaknya. Huuuuu...." Marons berkata sambil menunjukan wajah dan rasa kecewanya.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...