ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
145. Panik 13.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pengacara Elly dan pengacara Andi yang mendengar ucapan Papa Jaret, tertegun, sontak saling menatap. 'Jika anaknya selusin dan berperilaku seperti Jaret, hancur lapas. Mereka akan buat keseblasan di penjara dan Jaret pelatihnya.' Pengacara Andi berkata dalam hati, sambil melihat pengacara Elly.


^^^Papa Jaret masih emosi, mengingat apa yang terjadi dengan Jaret, dan istrinya tidak bisa membantu apa pun. Hanya ribut jika terjadi sesuatu dengan anaknya, tanpa bisa berikan solusi yang baik.^^^


"Pak Japry, saya minta maaf sebelumnya untuk apa yang akan saya katakan berikut ini. Ini hanya pendapat saya, dan tidak berhubungan dengan hukum. Hanya sebagai orang tua yang sudah memiliki anak." Pengacara Andi berkata tenang dan serius. Membuat pengacara Elly melihatnya dengan sungguh-sungguh.


"Sepertinya sekarang sudah tidak berguna menyesali jumlah anak, Pak Japry. Yang harus dipikirkan saat ini, agar Jaret bisa atasi rasa ketergantungannya terhadap narkoba, supaya bisa jalani persidangan." Pengacara Andi mulai mengutarakan pendapatnya. Papa dan Mama Jaret terkejut mendengar yang dikatakan pengacara Andi.


"Sampai kapan dan berapa kali harus ditunda persidangannya? Seberapa sabar hakim akan menunggu kesadarannya? Atau malah minta dia diseret dalam keadaan sak*au ke dalam ruang sidang?" Pengacara Andi bertanya dengan serius.


"Hasilnya akan sama, dia akan tetap di penjara. Sekarang dia hanya sementara berada di tempat perawatan dan dia tidak bisa selamanya berada di sana." Pengacara Andi berkata lagi, karena melihat orang tua Jaret terdiam.


"Dengan sikapnya seperti itu, bukan hanya menyusahkan orang tuanya, tapi juga kami sebagai pengacara. Kami harus kena marah dan peringatan dari Hakim, karena tidak bisa siapkan client untuk hadapi persidangan yang sudah ditetapkan. Padahal kami sudah ke penjara untuk mempersiapkan dan mengingatkan. Dia dalam keadaan sadar saat kami bicara dengannya, jadi dia tau mau jalani persidangan hari ini." Pengacara Andi menumpahkan rasa kesalnya terhadap Jaret.


"Kami akan dinilai tidak profesional atau mempermaiankan aparat hukum, terutama Hakim. Setiap hari Hakim dan Jaksa menangani banyak kasus, jadi bukan hanya kasus Jaret saja. Jadi tolong ke tempat perawatan atau penjara lalu bicara dengannya." Pengacara Andi serius mengharapkan keterlibatan orang tua Jaret untuk menangani masalah utamanya. Jangan semua diserahkan kepada para pengacaranya.


"Begini Pak Japry dan Ibu, jika benar dia kacau karena sedang 'nagi', orang tuanyalah yang berikan keputusan. Mau berikan apa yang dia inginkan untuk menenangkannya atau membiarkan dia begitu saja seperti ayam yang sudah diikat dan akan dibawa ke tempat pemotongan." Pengacara Andi terus berbicara, agar orang tua Jaret mengerti dan mau membantu mereka.

__ADS_1


"Kami hanya bisa menangani masalah hukumnya. Kami tidak membuat keputussn untuk hidupnya dan masa depannya."


"Tapi jika dia berpura-pura dan bermain-main dengan bersikap seakan sedang 'nagi', untuk hindari penjara atau hindari persidangan agar dirujuk terapi, sudah terlambat. Kepolisian yang lakukan penggeledahan di ruang tahanan itu, sudah membidiknya." Pengacara Andi berkata serius dan tegas.


"Apa Bapak dan Ibu tau, petugas yang lakukan penggeledahan itu adalah petugas yang sama, saat menangkapnya untuk pertama kali dan menjebloskan dia ke penjara?" Pengacara Andi bertanya serius sambil melihat orang tua Jaret bergantian.


"Kami baru dapat informasi, petugas yang menangkapnya itu, dipindahin ke bagian narkotika. Jadi bapak dan ibu pikirkan sendiri, petugas tersebut tidak mungkin akan melepaskan dia begitu saja." Ucap pengacara Andi, yakin.


"Apakah ini kebetulan atau sudah diatur? Yaaa... Apa pun jawabannya, dia sudah terperangkap untuk kedua kali. Jika sampai ke tiga kali, kami angkat tangan. Kami sudah ingatkan itu padanya saat ada di ruang perawatan. Agar dia tidak banyak berulah." Pengacara Andi berkata untuk membuat orang tua Jaret mengerti, situasinya tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Hanya mau berusaha agar anaknya bisa direhabilitasi.


"Atau dia berpikir, bapak bisa menolongnya dengan jabatan bapak? Jika demikian, saya sarankan, bapak bicara dengannya secara pribadi. Sekarang sudah tidak bisa hindari lagi, publik sudah tau putra bapak ada di penjara karena konsumsi sabu." Pengacara Andi berkata tanpa melihat isyarat dari pengacara Elly untuk cukup.


"Begini, Pak Japry. Saran kami, lebih baik kita kerja sama dalam menangani masalah yang sedang dihadapi Pak Jaret. Sekarang ini, bukan hanya uang yang bisa menolongnya. Mungkin bapak atau ibu ke penjara dan bicara dengannya. Dengan demikian, mungkin bisa menolongnya untuk hadiri sidang." Pengacara Elly berkata pelan, sambil berharap orang tua Jaret bisa kerja sama.


"Kami kira sudah cukup berbicara untuk apa yang terjadi hari ini. Kami tunggu keputusan bapak dan ibu untuk tangani ketergantungan Pak Jaret. Sekarang saya mau menyampaikan hal lain yang saya terima hari ini. Besok kita harus hadiri sidang gugatan cerai terhadap Pak Jaret." Pengacara Elly menyampaikan apa yang sudah diterima dari pengadilan.


"Sidang ini Pak Jaret tidak perlu hadir, jadi kondisinya tidak bisa menghambat terjadinya sidang dan keputusan Hakim. Pak Jaret sudah setuju untuk bercerai." Pengacara Elly menjelaskan lagi kepada orang tua Jaret.


"Bagaimana dengan pembagian harta gono-gininya? Apa besok juga diputuskan?" Mama Jaret tiba-tiba bersuara dan bertanya setelah diam sejak pengacara Andi berbicara.

__ADS_1


^^^Pengacara Andi langsung melihat Mama Jaret dengan terkesima. 'Kalau sudah bicara harta, cepat sekali responnya.' Pengacara Andi berkata dalam hati.^^^


"Kita lihat besok, Bu. Jika harta kekayaan Pak Jaret masih dibekukan dan dalam penyelidikan pihak terkait, pembagiannya bisa ditangguhkan. Sedangkan hakim bisa mengabulkan gugatan cerai penggugat." Pengacara Elly berkata dengan serius apa yang dipikirkannya.


"Jika harus tunggu penyelidikan selesai, mungkin bisa minggu, bulan, bahkan tahun baru selesai. Sudah pasti penggugat tidak akan menunggu, setelah apa yang terjadi tadi di ruang sidang." Pengacara Elly berkata lagi.


"Apa lagi kondisi keuangan penggugat tidak dalam kondisi yang mengharapkan harta dari hasil gugatan cerainya. Mereka akan berusaha untuk bercerai dalam waktu singkat" Pengacara Elly menjelaskan lagi, agar orang tua Jaret bisa mengerti. Ini bukan masalah pembagian harta gono-gini saja.


"Baik... Kalau begitu, Pak Elly terima dan tangani saja sesuai keinginan Jaret. Kami tidak perlu hadir, bukan?" Tanya Papa Jaret, pasrah.


"Alangka baiknya Ibu Renette hadir, karena sebagai wakil Pak Jaret dari keluarga. Tapi saran saya, jika hadir nanti, tolong jaga sikap dan ucapan Ibu terhadap asisten Pak Bryan. Ibu sudah alami sendiri apa yang dilakukan asisten Pak Bryan terhadap Ibu." Pengacara Elly berkata serius kepada Mama Jaret.


^^^Pengacara Elly mengingatkan, agar tidak terjadi lagi peristiwa yang pernah terjadi di ruang Hakim Alvian dengan Kaliana.^^^


"Apa maksudmu?" Tanya Papa Jaret, tidak mengerti yang dimaksudkan pengacara Elly.


"Tangan Bu Renette hampir cedera, saat bertemu pertama kali dengan asisten Pak Bryan, Pak Japry." Pengacara Elly hanya mengingatkan tanpa menjelaskan, karena Papa dan Mama Jaret pasti ingat dengan kondisi tangan Mama Jaret saat bertemu pertama kali dengan pihak penggugat di ruangan Hakim.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2