
...~•Happy Reading•~...
Danny melihat apa yang dilakukan anggota team sopape, ikut tertawa lalu meninju bahu Marons yang baru tersadar dengan kehadiran Yicoe dan Novie. Dia juga baru tersadar ucapannya yang memancing tawa semua orang dalam ruangan.
"Kalian berdua kalau bicara serius dalam keadaan emosi, sudah seperti botol dan tutupnya. Klop..." Danny berkata sambil menunjuk ke arah Marons dan Kaliana yang sudah kembali duduk, tapi masih tersenyum.
^^^Danny berkata demikian, karena Kaliana juga sering mengeluarkan kata-kata kocak dalam keadaan serius. Hingga memancing tawa orang yang mendengar apa yang dikatakannya. Sedangkan dia sendiri yang mengucapkan itu, sangat tenang dan serius.^^^
Marons sontak melihat ke arah Kaliana dan baru menyadari kebenaran apa yang dikatakan Danny. Kaliana sering melakukan hal itu, dalam keadaan serius dan tegang. Marons jadi tersenyum dalam hati, entah dia tertular kebiasaan Kaliana, atau memang dia memang demikian dan baru terlihat sekarang.
"Sudah cukup tawanya, Novie dan Yicoe. Mari ke sini, sebelum terjadi banjir di situ dan Putra tidak bisa konsentrasi." Marons memanggil Yicoe dan Novie yang sudah berdiri, dan melihat Pak Yosa sudah datang. Pak Yosa melihat mereka dengan wajah bertanya-tanya, karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Putra juga, konsentrasi dengan pekerjaan. Ngga usah ikut-ikutan panik, dan menarik sembarang wanita untuk jadiin pasangan." Marons sengaja mengganggu Putra yang masih tersenyum tertahan sambil melihat laptop di depannya.
"Astaghfirullah... Mengapa aku juga dibawa, bawa, Pak. Sebelum aku menarik, sudah ditarik duluan sampai terjengkang oleh...." Putra tidak meneruskan ucapannya, tapi melihat ke arah Yicoe dan Novie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
^^^Putra ingat, Yicoe dan Novie selalu bertanya jika dia minta ijin mau keluar sebentar dari Kaliana. Mereka akan berubah profesi menjadi seorang penyidik. Sebelum pergi dan pulang, dia akan ditanyain dari utara ke selatan dan dari timur ke barat. Padahal dia hanya pergi lihat perlengkapan baru yang sedang promo.^^^
"Oooh... Kalau Putra, lain. Pasangannya harus melewati dan lolos dari saringan kedua kakaknya itu." Kaliana berkata, sambil menunjuk Yicoe dan Novie dengan wajahnya. Kaliana pernah melihat Putra ditanyain banyak hal, saat kembali dari bepergian.
"Mba' Anna ngga ikutan juga?" Putra bertanya dengan wajah yang dibuat sedih, karena Kaliana tidak ikut menyeleksi wanita yang akan jadi pasangannya.
__ADS_1
"Kalau aku, saringannya lebih kecil. Jadi jika bisa lolos dari itu, hebat." Kaliana berkata sambil tersenyum dan mengangkat jempolnya ke arah Putra.
"Iiiiissss... Enakan jadi pasangan Mba' Anna. Ngga perlu lewat saringan." Putra berkata dengan mimik wajah yang dibuat kesal, tapi hatinya tersenyum senang mendengar ucapan Kaliana.
"Apa msksudmu, Putra. Kau mau menyaringku?" Marons tiba-tiba berkata dengan wajah serius, membuat semua orang melihatnya.
"Bagaimana mau nyaring, Pak. Mba' Anna sudah membuang semua saringan kami." Putra berkata pelan, sambil mengangkat kedua jarinya, sebagai tanda peace ke arah Marons. Danny dan Marons jadi tertawa melihat mimik wajah Putra. Kaliana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ayooo... Kembali ke laptop." Kaliana menepuk tangannya dan menunjuk laptop Putra. Yicoe dan Novie jadi tertawa lalu menepuk pundak Putra sambil berjalan ke tempat duduk mereka.
"Pak Danny, tadi kita sudah bahas sampai di mana, ya? Segala soang dan saringan membuyarkan konsentrasi kita." Kaliana berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Sampai di mantan sekretaris Pak Marons, Mba'. Dia mungkin akan diminta untuk bersaksi saat kita melawan Punguk. Dia yang membuat kita bisa menuntut Punguk dan bisa menangkap Pak Ewan." Danny berkata serius. Semua orang dalam ruangan juga kembali serius dan memperhatikan penjelasan Danny.
"Apa sekretaris Pak Marons akan dihukum juga? Bukankah dia yang membuat kesaksian, hingga Punguk bisa ditangkap?" Novie bertanya serius, mengingat peran mantan sekretaris Marons.
"Tapi dia terlibat sebagai kaki tangan Punguk. Jadi nanti kita lihat saja, apa keputusan hakim atas tuntutan Jaksa terhadanya." Danny menjelaskan dari sisi hukum kepada anggota team sopape dan Marons.
"Kalau begitu, apa pun yang diputuskan hakim untuk mereka bertiga, kau tidak usah ajukan banding. Terima saja keputusan Hakim." Marons berkata serius ke arah Danny. Dia sudah tidak mau memperpanjang kasus penjebakan terhadapnya, karena kesibukannya sangat terganggu.
^^^Jangankan mau ke luar negeri. Mau ke luar kota untuk mengevaluasi cabang perusahaannya saja, harus berkonsultasi dengan Danny. Agar tidak bertabrakan dengan waktu persidangan yang harus dia hadiri.^^^
__ADS_1
"Baik... Kalau begitu, aku mau mempersiapkan materi pembelaan untuk persidangan besok. Semoga dengan kondisi Jaret yang tidak jadi bersidang tadi, membuat Hakim bisa ambil keputusan tanpa harus menunggu dari pihak Jaret." Danny berkata, lalu berdiri. Semua orang dalam ruangan mengaminkan apa yang dikatakan Danny.
"Baik, Pak Danny. Nanti kita bicarakan rencana besok setelah makan malam." Kaliana berkata pelan, karena dia perlu bicara dengan Pak Yosa sebelum mengatur rencana untuk besok. Danny mengangguk pelan, lalu berjalan keluar dari ruang kerja team sopape.
"Pak Yosa, nanti Pak Bram akan hubungi bapak. Katanya ada perlu." Kaliana mengatakan apa yang dikatakan Bram, sebelum lupa.
"Siaap... Bram sudah hubungi?" Tanya Pak Yosa serius dan ingin tahu apa yang dikatakan Bram.
"Tadi, saat semua lagi latihan. Bram memberitahukan situasi sidang Jaret dan juga ingin tahu tentang orang yang memposting foto flexing orang tua Jaret. Mereka sekarang sudah dibidik oleh kejsksaan, jadi kita bisa fokus pada guguk liar..." Kaliana menjelaskan semua yang dibicarakannya dengan Bram kepada Pak Yosa, Yicoe dan Novie.
"Ooh, iya... Kalian silahkan bahas dan atur rencananya. Aku mau tutun ambil telponnya. Jangan sampai besok aku lupa, karena harus berangkat pagi." Marons berkata cepat, lalu berdiri. Dia teringat dengan telpon satelitnya, saat Kaliana menjelaskan tentang percakapzanya dengan Bram. Kaliana mengangguk, mengiyakan, karena mengerti maksud Marons.
"Pak Yosa, nanti tolong Pak Marons, ya. Beliau mau beli senjata api dan mau latihan menembak. Semua yang berkaitan dengan itu, aku serahkan kepada Pak Yosa." Kaliana berkata cepat, setelah Marons keluar dari ruang kerja mereka.
"Penyelidikan kita makin muda, karena sudah ada telepon satelit yang bisa digunakan Putra untuk menyelidiki orang-orang di sekitar guguk liar yang menggunakan telpon satelit." Kaliana menjelaskan lagi apa yang direncanakannya kepada anggota team sopspe.
"Sekarang Pak Bram sudah mulai susun rencana untuk mempersispksn anggotanya yang bisa diajak menyelidiki. Jadi kita juga sudah bisa latihsn serius. Bagaimana dengan uji coba menggunakan tongkat tadi?" Kaliana bertanya serius karena ingin tahu, agar bisa menyusun rencana latihan mereka.
"Mereka dengan cepat bisa berlatih dan menguasai jurus yang dibuat Putra. Yicoe, sesuai postur tubuhnya, sangat cocok dengan gerakan yang dibuat Putra. Dia lebih cepat menggunakan tongkat pendek untuk menusuk. Tinggal melatih untuk membiasakan diri, agar bisa menguasai teknik menusuk pada sasaran yang tepat." Pak Yosa menjelaskan pengamatannya saat berlatih dengan Yicoe.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...