
...~•Happy Reading•~...
Danny tertegun melihat wajah Chasina dan juga kepeduliannya terhadap para karyawannya. Walaupun perusahannya bangkrut dia tetap bisa hidup dengan baik, karena keluarganya bukan keluarga biasa. Mereka hidup bergelimang harta.
Danny makin mengenal Chasina. Sangat disayangkan dia harus melalui perjalanan hidup seperti ini. 'Tiada seorangpun mengerti dan tahu apa yang akan dilalui di jalan hidupnya. Kekayaan tidak bisa menghidari seseorang dari jalan yang dilaluinya.' Danny berkata di dalam hatinya dan juga mengingatkannya.
"Jika ada yang anda butuhkan untuk saya lakukan di luar atau mau dibawa ke sini, katakan saja. Saya akan usahakan, agar walau pun di sini, anda masih bisa bekerja dan mengontrol perusahaan. Jika anda perlukan laptop, katakan juga. Jadi saat-saat bertemu dengan saya atau asisten, bisa pergunakan kesempatan itu untuk mengevaluasi pekerjaan karyawan dan perusahaan anda." Danny memberikan semangat dan saran, agar Chasina bisa tetap produktif dan mengembangkan perusahaannya.
Danny berencana mau bicara dengan Kaliana, agar Chasina bisa lakukan aktivitas kantor sebelum ada putusan hukum tetap. Danny bisa mengerti pemikiran Chasina yang memiliki rasa tanggung jawab pada karyawan yang banyak. Rasa pedulinya bisa mempengaruhi kehidupan banyak orang.
"Apakah anda bisa meminta Pak Bryan untuk menangani perusahaan sementara anda ada di sini?" Danny bertanya demikian, mengingat kakaknya yang mungkin bisa membantu. Dia mengingat apa yang dikatakan Pak Adolfis, Bryan ada di sini untuk menolong Chasina.
"Kak Bryan tidak bisa Pak Danny. Dia memiliki perusahan di Canada, jadi tidak bisa lama di sini. Nanti saya bicarakan dengan Daddy dan asisten saya." Ucap chasina yang sudah memikirkannya beberapa waktu terakhir setelah bisa mengatasi rasa shocknya.
"Baik... Nanti saya kembali dengan asisten dan sekretaris anda untuk mengevaluasi perusahaan anda." Ucap Danny cepat, setelah memikirkan kebutuhan Chasina selama ditahan.
"Bagaimana saya bisa kunjungi kantor anda dan berbicara dengan siapa, agar mudah berkomunikasi dengan asisten anda? Apakah dia bisa dipercaya? Karena ada hal-hal berkaitan dengan perusahaan dan rencana gugatan anda" Ucap Danny lagi, yang mulai hati-hati dalam menangani kasus gugatan Chasina.
"Asisten, sekretaris dan sopir saya bisa Pak Danny percayai. Saya minta kertas dan pulpen untuk akses Pak Danny menemui mereka." Danny segera mengeluarkan pulpen dan kertas, lalu berikan kepada Chasina. Kemudian Chasina membuat tanda tangan dan juga kode rahasia kepada asisten sekretaris dan sopirnya.
"Ini bisa Pak Danny gunakan, saat menemui mereka. Setelah tunjukan kepada mereka, Pak Danny simpan baik-baik atau hsncurkan." Chasina berkata dengan serius, karena itu adalah kode akses yang diberikan Chasina dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.
"Sementara ini, jangan bicarakan rencana gunggatan anda dengan siapapun sebelum saya layangkan surat gugatannya. Jangan sampai ada yang tau, sehingga pihak sebelah melakukan sesuatu yang merugikan anda." Ucap Danny cepat setelah melihat secarik kertas dengan tanda tangan dan juga angka yang diserahkan oleh Chasina.
__ADS_1
"Baik... Saya akan tutup mulut, sampai Pak Danny katakan surat gugatan sudah beres. Termasuk dengan keluarga saya, tidak akan dibahas. Agar tidak terjadi perdebatan, karena Mommy saya sedang tidak sehat." Kata Chasina lagi. Dia mulai mengerti arah rencana Danny dan setuju dengan apa yang direncanakan Danny.
Jadi dari pihak suaminya atau keluarganya tidak lakukan tindakan pencegahan atau bermain mata dengan pihak pengadilan agama.
"Jika Pak Danny membutuhkan dana untuk mengurus ini, bisa bicara dengan asisten saya setelah serahkan lembaran kertas yang saya berikan tadi." Ucap Chasina, mengingat kebutuhan Danny saat bekerja mengurus berbagai keperluan rencananya.
"Tidak usah, Bu Chasi. Pak Adolfis sudah berikan untuk jasa saya membela anda. Jadi tidak usah pikirkan itu. Sekarang anda terus berdoa, agar semuanya bisa berjalan dengan baik." Ucap Danny mengingatkan, karena waktu berkunjungnya hampir selesai.
"Terima kasih sudah ingatkan saya akan hal itu. Kepala dan hati saya sangat penuh dengan berbagai hal ini, hingga hampir lupa 'Ada Yang Mengatur' hidupku." Mata Chasina kembali berembun, karena menyadari kesalahannya tidak menanyakan Tuhan saat berencana bertemu Rallita. Dia hampir melupakan Sang Penciptanya.
"Seperti yang anda katakan, lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali. Hampir lupa, berarti masih ingat. Berdoa terus supaya kuat hadapi semua ini.," Ucap Danny lagi, untuk menguatkan Chasina.
"Ada yang anda perlukan untuk saya bawa, saat kunjungan nanti?" Tanya Danny sebelum berdiri dan meninggalkan Chasina.
Danny hanya bisa melihat punggung Chasina yang kembali dibawa oleh petugas. Hatinya sangat tersentuh, melihat pakaian yang dikenakan Chasina sangat longgar. 'Dia telah kehilangan berat badannya.' Ucap Danny dalam hati lalu berjalan keluar meninggalkan kantor polisi.
Melihat kondisi Chasina, Danny berjalan dengan tekad yang kuat untuk menolongnya. Kemudian dia menghubungi kaliana untuk menyampaikan apa yang direncanakan Chasina sebagaimana janjinya kepada Kaliana.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Kaliana sedang bersama anggota team sopape sedang menyiapkan ruang kerja mereka yang baru di lantai atas rumah Marons. Mereka mulai memindahkan beberapa barang yang bisa digunakan.
Ketika melihat Danny menelponnya, Kaliana segera memberikan kode kepada Putra untuk mengamankan pembicaraan mereka. Setelah Putra memberikan kode, Kaliana langsung merespon panggilan Danny.
__ADS_1
📱"Alloo, Mbak Anna. Aku sudah balik, bagaimana?" Tanya Danny tentang keamanan mereka berkomunikasi, dengan kode yang mulai terbiasa.
📱"Alloo, Pak Danny. Aman terkendali." Ucap Kaliana yang mengerti maksud pertanyaan Danny tentang keamanan lalu lintas komunikasi mereka.
📱"Baik, Mbak. Aku baru selesai bertemu Bu Chasi. Beliau titip salam dan terima kasih untuk semua yang dilakukan. Ada yang mau aku sampaikan tentang permintaannya. Mbak Anna ada waktu?" Danny mulai menyampaikan rencana Chasina.
📱"Silahkan, Pak Danny. Kami sedang merapikan ruang kerja, sambil meneliti beberapa bukti yang baru." Kaliana menjelaskan kondisi mereka.
📱"Begini, Mbak Anna... Bu Chasi menunjuk aku sebagai pengacara untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya. Beliau tidak mau pengacara yang lain untuk menyelesaikan masalah ini." Danny menjelaskan, agar Kaliana mengerti dan tidak menganggap dia serakah.
📱"Oooh... Kadang seseorang menyadari dan memutuskan pilihan yang baik bagi hidupnya di balik jeruji besi." Ucap Kaliana serius, mengingat apa yang dialami oleh Chasina karena terlambat mengambil keputusan yang tepat untuk hidupnya.
📱"Tidak apa-apa, jika Pak Danny bisa mengatasinya. Aku setuju dengan Bu Chasi, agar jangan banyak yang mengetahui hal yang sangat pribadi baginya." Ucap Kaliana lega dan memahami putusan Chasina.
📱"Itu yang aku pikirkan setelah beliau mengatakannya. Walaupun terlambat, lebih baik, dari pada tidak sama sekali. Itu yang beliau katakan." Danny mengatakan yang Chasina katakan padanya.
📱"Iya, Pak Danny. Beliau sudah ambil keputusan yang tepat. Jadi kita bisa bersama-sama menolongnya. Aku akan hubungi Pak Danny untuk membahas beberapa hal berkaitan dengan kasusnya." Ucap Kaliana menanggapi.
📱"Walaupun ada yang mengatakan, keputusan saat ini seperti nasi sudah jadi bubur. Tetapi di jaman sekarang, bubur bisa jadi santapan yang lezat jika ditambahkan lauk pauk yang tepat." Ucap Kaliana serius. Danny mengakui apa yang dikatakan Kaliana, dan makin semangat untuk menyiapkan bantuan hukum bagi Chasina.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1