ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
97. Tulus.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Danny dan Pak Yosa sudah tiba di tempat Chasina ditahan. Danny menyiapkan semua yang dibawanya untuk Chasina, lalu segera turun dari mobil setelah Pak Yosa memarkirkan kendaraan dengan baik. Pak Yosa juga turun dan mengunci mobilnya, lalu berjalan mendekati Danny yang masih berdiri menunggunya.


"Pak Danny masuk temui Ibu Chasina saja. Saya akan tunggu di sini, sambil berbicara dengan petugas jaga." Pak Yosa berkata demikian, setelah mereka berada dalam ruangan dan hendak melapor untuk minta ijin bertemu Chasina.


Pak Yosa ingin berbicara dengan para yuniornya, mungkin bisa ada keterangan yang didapat tentang situasi atau kondisi selama mereka bertugas menjaga Chasina. Semua hal yang berkaitan dengan Chasina perlu dipantau, agar nanti ketika membahas kasusnya bersama team sopape, Pak Yosa punya tambahan informasi baru yang didapatkan dari tempat Chasina ditahan.


Danny mengangguk mengerti maksud Pak Yosa. Setelah semua barang bawaan dan tubuh Danny diperiksa, salah seorang petugas mengantar Danny ke ruangan khusus untuk menemui Chasina. Setelah duduk beberapa lama, Chasina diantar oleh petugas tersebut menemui Danny.


"Pagi, Bu Chasi. Apa kabar?" Danny berdiri dan bertanya sambil menyalami Chasina yang telah berdiri di depannya dan ditinggal oleh petugas.


"Baik, Pak. Seperti yang Pak Danny lihat." Chasina berkata pelan dan mencoba tersenyum. Danny sangat tersentuh melihat wajahnya makin tirus. Walaupun dia berusaha untuk tegar, tapi matanya menyiratkan kegetiran yang hampir meredupkan harapannya.


Danny mengangguk pelan, lalu mempersilahkan Chasina duduk. "Apakah ada orang lain yang datang menemui Ibu selain saya dan Pak Bryan?" Danny bertanya untuk menyelidiki. Mungkin ada orang dari pihak Jaret yang datang menemui Chasina setelah surat gugatan cerai diproses.


"Tidak ada, Pak. Hanya Pak Danny dan Kak Bryan ke sini. Menurut petugas, ada yang coba mau menemui saya, tetapi tidak dijinkan oleh pimpinan mereka." Chasina menjelaskan, karena dia pernah bertanya kepada petugas yang menjaganya. Adakah yang datang menemuinya selain keluarga dan pengacara.

__ADS_1


Dia mengaharapkan asisten atau sekretarisnya bisa datang menemuinya, agar bisa mengetahui perkembangan usahanya. Tetapi petugas katakan yang datang bukan dari pihaknya, jadi tidak diijinkan bertemu oleh pimpinan mereka.


"Iyaa... Kami tau itu, karena penyidik yang membantu anda pindah ke sini sudah katakan kepada kami. Harap bersabar dan bekerja sama dengan petugas di sini untuk keamanan anda sendiri dan kelanjutan proses kasusnya." Danny berkata pelan, tapi serius mengingatkan Chasina. Dia tidak menceritakan bahwa Bram sudah dipindah kebagian yang lain, agar tidak membuat Chasina khawatir atau takut.


"Iyaa, Pak. Saya mengerti dan terima kasih untuk usaha ini. Di sini saya bisa tidur lebih baik, tidak terlalu merasa was-was. Sampaikan rasa terima kasih saya juga untuk Ibu Kaliana dan teamnya." Chasina berkata demikian, karena Bryan sudah menceritakan kepadanya, usaha Kaliana dan teamnya, juga pengacara untuk memindahkan dia ke tempat yang lebih aman.


"Baik, Bu... Akan saya sampaikan. Tadi sebelum ke sini, Ibu Kaliana titip salam dan pesan. Harus tetap sehat dan semangat untuk berjuang bersamanya." Danny teringat pesan Kaliana, saat Chasina menyebut nama Kaliana.


"Terima kasih, Pak. Salam kembali untuk Ibu Kaliana dan teamnya. Lalu bagaimana kelanjutan kasus saya, Pak. Apakah masih lama sidangnya?" Tanya Chasina yang ingin tau tentang kelanjutan kasusnya. Dia ingin tahu kepastiannya, agar bisa menyiapkan mental dan fisiknya. Walaupun dia serimg diberitahu untuk mengatakan sesuai dengan kejadian sebenarnya, tetapi dia selalu kepikiran dan tidak tenang.


"Tidak lama lagi waktu sidang kasus anda akan dijadwalkan. Jadi jaga kesehatan dan terus berdoa, agar bisa tenang saat menjalani persidangan nanti. Ini saya hanya bawa novel dari koleksi pribadi. Saya tidak bisa membawa buku, karena belum bisa keluar mencari buku yang cocok." Danny meletakan dua novel dari koleksi pribadi yang sangat disukainya di depan Chasina.


"Novel ini sangat menghibur dan menguatkan saya dikala mengalami masa sulit. Saya berharap hal yang sama bisa dialami oleh anda dengan membaca novel ini. Jadi tolong dibaca, ya..." Danny berkata pelan, tenang dan serius sambil menepuk pelan novel tersebut.


Chasina mengambil novel tersebut dan membaca judulnya. Alisnya berkerut ketika membaca judul kedua novel tersebut. 'Me And You For Us' & Pesona di Balik Kabut', dari penulis yang sama. Kemudian dia melihat cover belakang novelnya. "Bukankah ini novel roman, Pak Danny?" Tanya Chasina heran, setelah membaca sipnosisnya.


"Iya, Bu Chasi. Novel roman, tapi bukan roman picisan. Novel ini, sarat makna kehidupan yang sangat menghibur dan menguatkan bagi yang sedang mengalami masa sulit. Kita bisa mempraktekan semua hal baik yang disarankan penulis lewat sikap hidup para tokohya." Danny menjelaskan, mengapa dia membawa kedua novel tersebut.

__ADS_1


"Ini mengisahkan kisah roman yang sarat makna kehidupan. Makanya saya katakan, semoga bisa menghibur dan menguatkan dikalah hati tidak baik-baik saja." Danny berkata pelan dan serius, karena itu adalah pengalaman yang dialaminya, saat hubungan cintanya dalam masa krisis dan menemukan novel tersebut.


"Baca saja dulu, jika tidak pas di hati, biarkan saja. Tapi tolong disimpan, nanti saya ambil kembali. Ini sudah tidak ditemukan lagi di toko buku. Jadi tolong dijaga." Danny berkata serius sambil menunjuk novel di tangan Chasina.


"Terima kasih, Pak Danny. Di tempat seperti ini dengan kondisi begini, jangankan novel, selembar koran lama yang digunakan untuk membungkus sesuatu, saya mau membaca. Saya akan membaca dan simpan novel-novel ini." Chasina berkata sambi memeluk kedua novel tersebut. Danny mengangguk dengan hati senang dan tenang.


"Sekarang, tolong letakan novel-novel itu, saya mau bicarakan kasus anda yang sedang bergulir saat ini. Gugatan cerai anda mungkin akan diputuskan dalam waktu dekat, setelah pihak terkait menghitung kekayaan Pak Jaret untuk pembagian harta gono-gini." Danny mulai menjelaskan yang terjadi di ruangan Hakim, tanpa memberitahukan rencana jahat orang tua Jaret kepada Chasina. Dia juga tidak menceritakan tindakan Kaliana kepada Mama Jaret di ruangan Hakim.


Ketika mendengar reaksi orang tua Jaret terhadap pembagian harta gono-gini, alis Chasina bertaut dan mulai berpikir. 'Mengapa mereka persoalkan harta Jaret yang tidak seberapa untuk dibagikan? Padahal orang tuannya terbilang kaya dan melimpah harta.' Chasina membantin, karena selama mereka hidup berumah tangga, penggunaan CC (credit card) Jaret, dia yang membayarnya.


Dia jadi curiga dengan sikap orang tua Jaret. 'Mungkinkah mereka tahu, Jaret memiliki banyak uang dari hasil penjualan nar*koba?' Chasina kembali bertanya dalam hati dan terus berpikir.


"Pak Danny, mengenai gugatan cerai dan pembagian harta gono-gininya, tidak usah diperpanjang. Saya mengikuti saran Pak Danny untuk menuntut harta gono-gini sesuai perjanjian pra nikah, karena menurut Pak Danny dan Ibu Kaliana, itu bisa sebagai pintu masuk ke kotak pandora kasus Jaret." Chasina berkata pelan, tapi serius. Dia juga melihat Danny dengan serius, karena yang akan dibicarakan sangat serius baginya.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2