ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
48. Warna Sari 8.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Danny perlu berbicara serius dengan Karpin (sopir), karena ini adalah kesempatan Danny berlatih dengannya sebelum mereka berada di ruang pengadilan. Danny sudah siapkan semua pertanyaan yang akan ditanyakan nanti, sehingga ketika Karpin telah siap, Danny segera meminta keterangan dan mengoreksi setiap jawaban yang bisa memberatkan hukuman Chasina.


Danny mendengar semua keterangan Karpin dengan cermat. Dia merasa lega mendengar jawaban Karpin baik dan lancar tanpa tertekan. Dia mengharapkan apa yang dilakukan mereka bisa terjadi juga di ruang pengadilan nanti. Dia telah melupakan semua rasa panik yang baru dilaluinya. Sehingga bisa bersikap serius dan profesional sebagai seorang pengacara yang mempersiapkan saksinya untuk hadapi persidangan.


Di ruang meeting bersebelahan dengan mereka, Pak Adolfis dan Bryan juga berbicara serius dengan Kaliana tentang kondisi Chasina dan kasus yang dihadapinya. Walaupun kondisi Pak Adolfis kurang sehat, tapi beliau jadi bersemangat melihat kedatangan Kaliana dan semangatnya. Pak Adolfis mempergunakan kesempatan kedua bertemu dengan Kaliana untuk menanyakan banyak hal seputar kasus Jaret yang belum diketahuinya.


Kaliana hanya membicarakan hal-hal normatif saja, tanpa menyinggung sesuatu yang menyangkut keselamatan Chasina dan gugatan cerainya. Hal itu sedikit melegakan Pak Adolfis. Bryan pun ikut bertanya, karena baru bisa bertemu Kaliana lagi. Dia mengharapkan Kaliana bisa sering mengunjungi mereka, karena melihat Pak Adolfis mulai berkurang rasa cemasnya setelah bertemu Kaliana.


Mereka tidak bisa bertemu dengan Kaliana kapan saja jika ingin bertemu, karena Kaliana tidak mengijinkan mereka melakukannya dengan berbagai pertimbangan yang diajukan oleh Kaliana. Diantaranya, demi kebaikan mereka dan Chasina. Oleh sebab itu, mereka berusaha mengerti dan menahan diri untuk tidak bertemu dan berdiskusi tatap muka seperti sekarang dengan Kaliana.


Bryan melihat Kaliana dengan pandangan dan suasana hati yang berbeda. Kaliana di matanya bukan seperti wanita yang sering berusaha menarik perhatiannya. Selain bersikap sopan, tetapi sangat profesional. Tidak mencampur adukan kepentingan pribadi dengan pekerjaan.


Dia tidak berusaha untuk mendekatinya secara pribadi dalam situasi seperti ini, padahal banyak wanita mencari peluang seperti yang didapatkan Kaliana. Bahkan Bryan yang berusaha untuk mendekatinya dengan berbagai cara, agar bisa mengenalnya lebih dekat.


"Bu Kaliana... mengenai tawaran saya tadi, bisakah kami titipkan pada Ibu? Karena Bu Kaliana lebih tau, siapa-siapa saja yang bantu mengamankan Chasi." Pak Adolfis berkata pelan, karena melihat Bryan hanya diam. Beliau berharap Kaliana mau menerima permintaannya, karena khawatir berikan pada orang yang salah. Atau juga bisa menyulitkan Chasina, karena akan dikira mereka sedang menyuap petugas.

__ADS_1


"Kalau Pak Adolfis percaya saya, baik.., berikan saja pada saya. Tapi tolong berikan secara tunai, agar nanti dari sini, kami akan langsung berikan pada petugas yang mengurus pindahan Bu Chasi." Ucap Kaliana cepat, agar sekali jalan dan tidak keluar lagi untuk mengurus hal tersebut.


"Kami sedang mengatur aktivitas kami di luar rumah, karena kami semua sedang saling mengawasi. Jadi semoga Pak Adolfis mengerti situasi ini. Sekali keluar, kami berusaha lakukan beberapa hal yang urgent. Setelahnya, kami bekerja dari rumah." Kaliana menjelaskan lagi, agar Pak Adolfis dan Bryan tidak berpikir negatif tentang ucapannya meminta 'tunai dan sekarang'.


Jika orang yang berpikiran negatif, akan mengira dia aji mumpung dan mempergunakan kesempatan untuk mengeruk uang secara tidak halal dari keluarga Chasina. Kaliana sangat menjaga hal itu. Jika tidak melihat kondisi Pak Adolfis, Kaliana akan pergi bersama mereka untuk menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan.


"Baik, Bu. Terima kasih sudah banyak membantu kami dalam permasalahan ini. Kalau tidak ada Ibu Kaliana, mungkin kami bisa seperti bola pimpong yang dipermainkann berbagai pihak." Pak Adolfis benar-benar bersyukur atas kehadiran Kaliana mendampingi mereka dalam menghadapi permasalahan Chasina.


Kaliana melihat Pak Adolfis dengan hati bersyukur dan juga terenyuh. Dia seperti melihat Papanya yang sedang bersedih, saat mendengar pilihannya menjadi seorang polisi.


"Pak Adolfis tidak usah seperti itu pada saya. Semua kita mempunyai persoalan hidup masing-masing. Saya sangat berterima kasih, Pak Adolfis mau mempercayai saya. Sehingga pekerjaan saya terasa lebih mudah." Ucap Kaliana pelan. Dia ingin sekali mengusap tangan Pak Adolfis untuk menenangkannya, sebagaimana dia meyakinkan dan menenangkan Papanya.


Bryan segera ke ruang kerja, lalu membuka laci meja kerja Pak Adolfis untuk mengambil amplop berisi uang yang sudah mereka sediakan untuk diberikan kepada petugas yang akan mengamankan Chasina.


Setelah kembali, Bryan meletakan amplop tersebut di depan Kaliana dan mempersilahkan Kaliana menerimanya. Kaliana tertegun melihat amplop yang diberikan Bryan kepadanya. Dia tidak menyangka, Pak Adolfis menyediakan uang begitu banyak untuk diberikan kepada petugas. Dia bisa mengetahui jumlahnya, dari tebal amplop.


Tidak mungkin lembaran uangnya kurang dari Rp. 50.000,-. Jadi dia bisa perkirakan berapa banyak uang yang ada dalam amplop tersebut. Dia menahan diri untuk berucap sesuatu atau bertanya tentang hal itu. Dia menerimanya sebagai rejeki orang yang bantu mengamankan Chasina.

__ADS_1


"Saya terima ya, Pak. Saya minta maaf, jika tidak ada tanda terimanya. Bisakah Pak Bryan bantu berikan kantong untuk memasukan amplop ini? Agar bisa menyamarkan, saat saya serahkan pada petugas" Kaliana tidak mau Bram kesulitan karena menerima amplop itu darinya.


"Kantong sampah bisa?" Tanya Bryan yang mengerti maksud Kaliana untuk menyamarkan amplopnya. Kaliana mengangguk mengiyakan. Bryan segera menghubungi pelayan untuk membawa kantong sampah, juga gunting dan lakban untuk mengecilkan kantong tersebut sesuai yang dibutuhkan Kaliana.


Setelah Danny selesai mempersiapkan Karpin sebagai saksi, mereka segera pamit meninggalkan Pak Adolfis dan Bryan. Pak Adolfis dan Bryan berharap bisa bertemu lagi dengan Kaliana, sebelum sidang digelar.


Kaliana hanya bisa membalas salaman mereka sambil tersenyum. Tapi Kaliana menggenggam tangan Pak Adolfis, lalu menepuk pelan tangan Pak Adolfis dengan kirinya untuk menenangkannya.


Saat tiba di tempat parkir, Kaliana terkejut melihat Pak Yosa sudah duduk di balik kemudi dan Putra sudah duduk di kursi belakang. Putra meminta Danny untuk duduk di samping Pak Yosa.


"Mba Anna... Duduk di sini denganku, Mba. Jangan hanya menghindari friksi di luar dengan lawan. Tetapi juga harus menjaga, jangan terjadi friksi dengan hati." Putra berkata dengan wajah tersenyum, mengingat Marons tidak suka Kaliana mengemudi dalam situasi seperti ini.


Mendengar itu, Kaliana langsung mencubit lengan Putra, setelah duduk di sampingnya. Dia tahu, Putra sedang ledekin dia dan Marons. Ternyata Putra tahu, Marons tidak suka dia mengemudi saat ini. "Aaoooow..." Putra berteriak, karena cubitan Kaliana. Pak Yosa dan Danny jadi terkejut mendengar teriakan Putra.


"Ada apa...?" Tanya Danny sambil menengok ke belakang bersamaan dengan Pak Yosa. Dia tidak mengerti ucapan Putra kepada Kaliana.


"Tenang, Pak. Hanya terjadi friksi lengan dan jari di belakang." Pak Yosa yakin Kaliana telah memukul atau mencubit lengan Putra, saat melihat Putra mengusap lengannya. Pak Yosa mengerti ucapan Putra yang mengingatkan Kaliana tentang permintaan Marons.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2