ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
47. Strategi 8.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Berapa lama kemudian, Danny memberitahukan Kaliana, bahwa dia sudah siap untuk dijemput. Mendengar itu, Kaliana merasa lega dan senang, Danny bisa bergerak cepat seperti yang diharapkan.


"Putra, pesan mobil online terdekat dengan lokasinya, agar kita tidak buang waktu di sini." Ucap Kaliana serius dan cepat. Dia sudah memikirkan apa yang akan dilakukan berikutnya, karena Danny sangat cepat mengikuti ritme dan cara kerja mereka.


Putra segera lakukan yang diminta oleh Kaliana, sehingga Danny cepat mendapat mobil online terdekat dengan tempat tinggalnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Danny sudah tiba di tempat mereka menunggunya.


Danny segera masuk ke mobil yang sudah dibukakan pintu oleh Pak Yosa dari dalam. Dia langsung duduk sambil menarik nafas panjang dan juga lega. Dia baru saja melakukan hal yang membuat nafasnya tidak beraturan.


"Ada apa...?" Tanya Pak Yosa yang duduk di sampingnya. Beliau heran melihat kondisi Danny yang tidak tenang dan nafasnya masih tidak teratur.


"Tadi saat ke sini, mobil yang aku naiki berpas-pasan dengan mobil yang mengikutiku sejak tadi itu. Aku refleks menunduk dan jantungku dag dig, sambil menahan nafas." Danny menceritakan dengan nafas lega dan juga sambil menggerakan tubuhnya untuk menjelaskan, bagaimana melakukannya.


"Kondisi seperti tadi, kalau nonton di film asyik dan seru. Sedangkan alami langsung, jantungku seperti lonceng bertalu-talu dan membuat keringat dingin." Ucap Danny lagi sambil mengurut dadanya untuk menenangkan detak jantungnya. Kaliana, Putra dan Pak Yosa hanya bisa tersenyum mendengar yang dikatakan Danny.


"Itu baru latihan, Pak Danny. Kalau di medan laga dan berhadapan langsung, jantung Pak Danny bisa copot." Ucap Putra sambil tersenyum membayangkan kondisi Danny saat berhadapan langsung dan berkejar-kejaran, mengejar atau menghindari lawan.


"Pak Danny sudah bisa tenang...?" Tanya Kaliana yang sudah menjalankan mobilnya dengan pelan dan tenang. Kaliana memberikan waktu untuk Danny menenangkan diri.

__ADS_1


"Sudah lebih baik, Mba. Terima kasih." Ucap Danny yang sudah mulai merasa tenang.


"Kalau begitu, kita langsung bertemu dengan sopir Bu Chasina saja, mumpung lagi di luar. Nanti di rumah, tinggal mengkaji dan membahas yang perlu. Jadi tidak sering-sering keluar rumah lagi sebelum jadwal sidang keluar." Kaliana melihat masih ada waktu dan mereka bisa lakukan itu sekalian. Sehingga Danny sementara bisa fokus untuk menangani gugatan cerai Chasina.


"Ok, Mba... Saya ikut dan setuju dengan rencananya. Biar materi pembelaannya makin lengkap, jika sidang Bu Chasi ditetapkan." Danny menyetujui rencana Kaliana dengan senang hati. Dia yakin, semua yang direncanakan sudah dipikirkan matang oleh Kaliana.


"Putra... Tolong hubungi Pak Adolfis. Aku mau bicara dan minta ijin dari beliau untuk datang ke mensionnya." Ucap Kaliana cepat, setelah mendengar ucapan Danny. Putra segera lakukan yang diminta Kaliana. Dia sangat mengerti cara kerja dan jalan pikiran Kaliana, jika sudah merencanakan sesuatu.


📱"Maaf, Pak Adolfis. Kami mengganggu lagi. Sekarang kami dalam perjalanan ke rumah Pak Adolfis untuk bertemu dengan sopir Bu Chasi. Kami minta akses untuk bisa masuk rumah, Pak." Kaliana berbicara cepat, setelah Pak Adolfis merespon panggilannya.


Dia akan melewati jalan curut yang diberikan Putra. Sehingga mereka bisa cepat tiba di mension Pak Adolfis. Oleh sebab itu, Kaliana tidak berbasa-basi lagi.


📱"Tidak apa-apa Bu Kaliana... Silahkan datang saja, karena kami sudah di rumah. Tadi kami langsung pulang, karena saya agak pening." Pak Adolfis menjelaskan dengan suara pelan. Beliau dan Bryan langsung pulang ke rumah setelah berbicara dengan Kaliana, kemudian meminta dokter pribadi datang ke rumah untuk memeriksanya.


📱"Baik, Pak. Ini mobil yang kami gunakan untuk ke sana. Sampai bertemu..." Kaliana dengan cepat memberikan plat nomor dan jenis mobil Rallita, agar security bisa mengetahui dan menerima kedatangan mereka.


Pak Adolfis makin kagum dengan cara Kaliana, sehingga rasa cemasnya agak berkurang. Kaliana mengakhiri pembicaraannya agar bisa konsentrasi dengan jalan curut yang diberikan Putra kepadanya.


Setelah tiba di tempat tinggal Pak Adolfis, security segera membukakan gerbang saat melihat mobil Kaliana. Jadi Kaliana tidak perlu lagi membunyikan klakson untuk memanggil security. Kehadirannya sudah dipantau di cctv, sehingga salah seorang security segera menyambutnya dan mempersilahkan masuk ke halaman.

__ADS_1


Kaliana dan Danny segera turun dari mobil lalu masuk, dimana Bryan sudah menunggu mereka di pintu utama. Sedangkan Pak Yosa dan Putra tetap di mobil untuk berjaga-jaga." Akhirnya kita bisa bertemu juga hari ini." Ucap Bryan, saat melihat Danny datang bersama Kaliana. Danny mengangguk mengiyakan dengan wajah tersenyum. Rasa panik dan dag dig dug mulai berkurang, sehingga dia bisa bersikap tenang.


"Iya, Pak. Nanti di dalam baru kita berbicara. Banyak hal yang terjadi hari ini, jadi banyak perubahan tiba-tiba." Jawab Danny yang sudah tenang dan bisa mengendalikan dirinya. Bryan mengangguk mengerti.


"Pak Bryan... Sampai sekarang, kami masih di luar, jadi sekalian gunakan waktu tersisa hari ini. Pak Bryan tolong panggil sopirnya, ya." Kaliana menambahkan, agar Bryan bisa tahu bahwa mereka sedang mempergunakan waktu semaksimal mungkin. Bryan mengangguk sambil berjalan bersisian dengan Kaliana juga Danny.


"Baik... Ibu Kaliana dan Pak Danny langsung saja ke ruang kerja Daddy. Saya akan menyusul bersama sopir. Daddy sudah menunggu di dalam." Bryan menjelaskan dengan cepat, karena dia tau, Kaliana diuber waktu dan juga sudah tahu ruang kerja Pak Adolfis.


Kaliana dan Danny mengangguk, lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan Bryan. Kaliana mengetok pintu, pelan. Tidak lama kemudian, Pak Adolfis sendiri yang bukakan pintu. Beliau menyambut dengan senyum tipis, tapi wajahnya agak pucat.


"Maaf, mengganggu istirahatnya, Pak." Ucap Kaliana tidak enak hati melihat wajah Pak Adolfis yang tidak seperti biasanya, tenang dan segar.


"Tidak apa-apa, Bu. Tadi saya sudah sempat istirahat, setelah diberikan obat oleh dokter." Pak Adolfis menjelaskan, agar Kaliana bisa tenang bekerja. Pak Adolfis bisa melihat wajah Kaliana berubah cemas, saat melihatnya.


Pak Adolfis menyalami mereka, lalu mempersilahkan masuk dan duduk di sofa ruang kerjanya. Setelah duduk, tanpa menunggu kedatangan Bryan dan sopir, Kaliana menjelaskan kenapa tiba-tiba datang menemuinya dan rencana Danny untuk berbicara dengan sopir Chasina. Semua itu Kaliana jelaskan, tanpa menyinggung rencana gugatan cerai Chasina.


Pak Adolfis mendengar apa yang dikatakan oleh Kaliana dengan serius. Perasaan cemasnya mulai berkurang, mendengar semua yang sedang diusahakan oleh Kaliana untuk menolong Chasina.


Setelah sopirnya dibawa masuk ke ruang kerja Pak Adolfis, Danny segera meminta keterangan darinya. Sedangkan Kaliana, Pak Adolfis dan Bryan ke ruang meeting yang ada di sebelah ruang kerja Pak Adolfis. Mereka memberi kesempatan untuk Danny berbicara dan melatih saksi yang akan meringankan Chasina. Mereka juga sudah tahu keterangan saksi, jadi tidak perlu lagi mendengarnya. Ada hal penting yang mau dibicarakan Pak Adolfis dengan Kaliana.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2