
...~•Happy Reading•~...
Bram yang sudah berjaga-jaga sepanjang malam, makin waspada mendengar apa yang dikatakan oleh Kaliana. Dia berdiri dan berbicara serius dengan Kaliana sambil berpikir keras dan cepat untuk menyusun rencana baru.
📱"Siaap...! Aku akan segera bergegas." Bram menyetujui rencana Kaliana setelah dijelaskan tujuan rencananya.
📱"Baik... Segera non aktifkan semua ponsel selain ponsel yang sedang digunakan ini, termasuk ponsel Jaret. Nanti kita bicarakan siapa yang menghubunginya, setelah situasi lebih kondusif." Kaliana berkata cepat, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling mengingatkan.
Bram yang sudah mengerti rencana Kaliana bergerak cepat dan segera berkemas, lalu meninggalkan kamar hotel menuju lobby. Saat hendak keluar dari lift, dia melihat dua orang pria masuk ke lobby menuju ke tempat resepsionis. Tindak tanduknya sangat mencurigakan, sehingga Bram menahan diri untuk tidak keluar dari lift.
Dia memperhatikan mereka sampai bisa melihat dengan jelas untuk memastikan siapa yang dilihatnya. Ketika mengenal salah satu dari antara mereka, Bram segera menutup pintu lift dan naik ke lantai di atasnya. Dia merapikan tas kerja di bahunya, sebelum pintu lift terbuka. Bram tidak langsung keluar dari lift, tapi menjulurkan kepalanya perlahan untuk memeriksa situasi di lantai tersebut. Setelah yakin aman, dia keluar lalu turun lagi melalui tangga ke lobby.
Melihat lobby telah aman dan tidak melihat kedua pria tersebut, dia segera berjalan keluar hotel. Di saat yang bersamaan, mobil yang dipesan Kaliana tiba di depan lobby. Dia segera naik, dan meminta sopir menjalankan mobilnya perlahan saja saat keluar dari lobby hotel. Dia ingin melihat dan memastikan situasi di luar hotel.
Bram terus memperhatikan di belakangnya. Kedua pria yang dilihatnya, keluar ke depan lobby hotel dan melihat ke berbagai arah disekitar mereka. Tidak melihat dan temukan orang yang dicari, mereka kembali lagi masuk ke dalam hotel. 'Benar apa yang diperkirakan Kaliana, ada yang memantau nomor ponselku.' Bram membatin dengan sedikit lega, karena bisa lolos dan tidak terjadi benturan.
Dia bukan tidak berani berhadapan dengan mereka berdua, tapi dia lebih memilih mengamankan apa yang diperoleh dari sel tahanan Jaret. Dari pada harus beradu otot atau tembak-menembak dengan orang yang mengejarnya. Agar semua usahanya dan Erfan juga Kaliana dan teamnya tidak sia-sia.
__ADS_1
Setelah berada di jalan raya, Bram berikan nama tempat yang akan dituju, lalu minta sopir segera menambah kecepatan mobilnya. Bram tidak turun di hotel yang telah dibooking Kaliana, tapi di seberangnya. Kemudian dia jalan memutar ke pangkalan ojek terdekat. Agar sopir tidak mengetahui tujuan dia yang sebenarnya.
Tidak lama kemudian, dia naik ojek menuju hotel yang telah dibooking oleh Kaliana. Dia sengaja melakukan itu, karena orang yang mencarinya bisa periksa cctv hotel dan melihatnya naik mobil yang dipesan Kaliana. Sehingga dengan mudah mereka akan menemukan mobil tersebut dan dia akan ketahuan pindah ke hotel yang baru berdasarkan keterangan sopirnya.
Agar semua usaha Kaliana untuk memindahkan dia ke hotel yang baru bisa berjalan baik dan aman, Bram harus bertaktik untuk mengelabui pengejarnya. Jadi untuk sementara, dia menghindari berbenturan dengan siapa pun, agar semua bukti yang diambil dari sel tahanan bisa jadi barang bukti tambahan yang menguatkan semua bukti yang diberikan Kaliana.
Sesampai di kamar hotel, Bram mengatur nafas dan menggerakan tubuhnya yang tegang karena kejadian yang baru dilewatinya. Lalu melepaskan baju dinasnya yang telah basah oleh keringat, karena harus berjalan cepat. Dia melepaskan juga celana panjang dan menggantungnya bersama kemeja dinas dan jacket. Kemudian ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan memakainya di pinggang.
Bram membuat kopi instan yang ada di kamar hotel untuk mengisi perutnya dengan roti yang dibelinya di jalan. Saat ke pangkalan ojek, dia melihat tukang roti dan teringat belum sempat sarapan di hotel. Sehingga dia segera mendekati tukang roti untuk membeli yang bisa dijadikan sarapan.
Setelah sarapan darurat, Bram duduk sejenak untuk berpikir dan mengatur rencana selanjutnya. Kemudian memakai sarung tangan, lalu mengeluarkan semua hasil geledahan Erfan dari sel Jaret ke atas tempat tidur untuk diteliti satu persatu. Dia berharap dengan memeriksanya, akan ada petunjuk baru untuk mengetehui aktivitas Jaret dengan Parikus dan orang yang bernama Jamu.gD.
Di sisi yang lain ; Kaliana dan team masih di ruang kerja untuk membahas perkembangan kasus yang diakibatkan oleh apa yang dilakukan Bram. Mereka memikirkan situasi Bram dengan harap-harap cemas, semoga bisa tiba di hotel yang baru tanpa gangguan.
"Mba' Anna... Sepertinya, ada yang mengikuti Pak Bram. Coba lihat ini, beliau naik lagi ke lantai atas dan turun lewat tangga." Putra berkata cepat saat melihat lokasi ponsel Bram tidak sesuai dengan yang di rencanakan.
"Mungkin Pak Bram lihat ada orang yang mengikutinya di lobby, jadi tidak jadi keluar lift, lalu naik lagi." Novie berkata setelah memperhatikan lokasi Bram. Semua jadi tegang mengikuti posisi Bram yang berpindah jalur.
__ADS_1
Ketika mengetahui Bram telah berada di dalam mobil yang mereka pesan, team sopape menarik nafas lega dan bersyukur, tidak terjadi sesuatu dengan Bram. Mereka juga menjadi lega, saat melihat Bram tidak turun di hotel yang dibooking Yicoe.
"Mba' Anna, nomor yang kita pantau dalam keadaan off. Apa yang akan kita lakukan?" Putra menunjuk ke layar monitor, nomor-nomor yang dia maksud. Baik nomor Jaret dan juga Jamu.gD. Hanya nomor rikus.P yang sedang aktif dan berbicara dengan nomor pertama yang diberikan Bram.
Kaliana sudah menandainya dengan tanda 'Bintang'. Walaupun Bram tidak mengatakan siapa pemilik nomor itu saat minta diselidiki, tapi Kaliana dan team sudah tahu dari Putra itu adalah nomor pimpinannya.
"Oo oh... Lihat itu Putra, rikus.P sedang konek dengan 'Bintang'. Sekarang kita tau, mengapa Pak Bram minta untuk selidiki kedua nomor itu." Kaliana berkata sambil menunjuk layar monitor, dimana Parikus dan pimpinan Bram sedang berbicara di telpon.
Kemudian 'Bintang' menghubungi nomor ponsel dinas Bram dan juga nomor pribadinya yang telah diacak oleh Putra. Berulang kali dilakukan, lalu kembali menghubungi nomor rikus.P dan beberapa orang. Semua aktivitas pimpinan Bram dan Parikus dipantau oleh team sopape.
"Putra, tolong simpan semua nomor telpon yang dihubungi 'Bintang' setelah hubungi Pak Bram." Kaliana menginginkan teamnya mengetahui, siapa yang sedang memantau Bram, agar mereka semua bisa tahu siapa yang ada dibalik kasus Jaret.
Putra melakukan yang diminta Kaliana dan memeriksa nama-nama pemilik nomor telpon yang dihubungi pimpinan Bram, "Oo oh... Bintang hubungi pimpinan petugas di bagian tahanan." Putra berbicara seperti gaya Kaliana, saat melihat salah satu nomor tujuan yang dihubungi oleh pimpinan Bram.
"Oo oh... Kamu ketahuan main belakang... Siap-siap berhadapan dengan Pak Bram dan kami juga. Hehehe..." Yicoe berkata meneruskan yang dikatakan Putra dengan gaya seperti Kaliana.
"Sabarrr... Mungkin 'Bintang' sedang konfirmasi apa yang dilakukan Bram untuk memastikan kejadian yang sebenarnya." Pak Yosa berkata cepat, agar mereka tidak cepat mengambil kesimpulan dari yang terlihat.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●...