ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
162. Bersiap 7.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram mengangguk, lalu menyebutkan apa yang ditulis Kaliana dan direkam oleh Putra.


"Sekarang kita dengar rekamannya, ya. Jika kurang pas, bisa dihapus dan direkam ulang." Putra memutar hasil rekaman suara Bram.


"Mantap... Tidak perlu diulang." Kaliana berkata sambil mengangkat tangannya membentuk jari tanda, OK.


"Nanti jika diperlukan, volume suaranya bisa diatur sampai ke maksimal. Pasti akan sangat mengglegar di tengah malam." Kaliana berkata dengan serius, membayakan apa yang akan mereka gunakan dengan suara Bram.


Tiba-tiba Novie menjetikan jarinya ke arah Putra, untuk melihat layar monitornya. Putra langsung beralih konsentrasinya dari rekaman suara Bram ke layar monitor.


^^^Putra sudah mengaktifkan 4 laptop milik team. Putra mengawasi dua, Yicoe dan Novie mengawasi masing-masing satu untuk mengetahui aktivitas Siska dan orang-orang yang berkaitan dengannya.^^^


Semua orang terdiam lalu melihat layar monitor yang diperlihatkan Novie ke Putra. Bram dan Raka tertegun dengan kesiapan Kaliana dan teamnya.


^^^Tadi saat Putra sedang lakukan rekaman suara Bram, Yicoe dan Novie tetap mengawasi layar monitor untuk mengawasi pergerakan orang-orang yang sedang dipantau.^^^


"Mba' Anna... Jamu.gD aktif." Teriak Putra, membuat semua terdiam dan memperhatikan layar monitor. Kaliana mendekati Putra, sambil berpikir dengan serius.


"Pak Yosa, tolong ke anjungan untuk bicara dengan kapten. Agar jangan bersuara atau memanggil kita. Begitu juga dengan Pak Marons, jika sudah tiba. Raka, tolong berjaga-jaga di luar bersama Pak Yosa." Kaliana berkata cepat dan serius. Raka berdiri dengan sigap, lalu melakukan yang diminta Kaliana.


Putra mengenakan haedphone dan memberikan kode kepada Novie dan Yicoe untuk bersiap-siap, saat melihat nomor guguk liar menghubungi seseorang, sedangkan nomor Jamu.gD tetap dalam kondisi aktif.


Novie dan Yicoe segera berdiri lalu mengeluarkan telepon satelit dari tempatnya dan juga headphone untuk mereka, tanpa komando. Mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan, saat melihat Putra memakai headphone yang biasa ada di lehernya.

__ADS_1


"Vie, berikan headphone Pak Yosa untuk Pak Bram." Kaliana berkata cepat, sambil mengambil headphone dari tangan Yicoe.


"Mba' Anna, calling..." Putra memanggil Kaliana sambil menunjukan telinganya dan layar monitor. Siska melakukan panggilan ke nomor yang pernah dihubunginya lewat telpon satelit.


Mereka semua terdiam mendengar pembicaraan Siska. Yicoe dan Novie langsung menutup mulut dengan tangan untuk mencegah mereka bersuara. Sedangkan Bram dan Kaliana dalam kondisi emosi yang berubah-rubah sambil menahan diri saat mendengar percakapan Siska.


^^^Bram yang baru pertama kali mendengar langsung pembicaraan Siska dengan orang yang dituju, langsung melepaskan headphone lalu berjalan dalam kapal sambil mengepalkan tangannya dengan geram.^^^


^^^Sedangkan Kaliana yang mendengar pembicaraan Siska, langsung duduk terhenyak lalu melepaskan headphonenya.^^^


"Kita harus bersyukur, Pak Marons minta kita untuk uji coba peralatan yang baru dibeli malam ini. Jika tidak, saat ini kita masih di rumah dan akan sangat kacau balau untuk datang ke sini." Kaliana berkata setelah mendengar pembicaraan Siska dan rekannya, bahwa pertemuannya dimajukan untuk malam ini, karena cuaca laut baik. Sehingga kapal mereka bisa lebih cepat tiba dari jadwal sebelumnya. Dan itu juga salah satu taktik mereka untuk mengelabui patroli pantai yang mungkin mengawasi mereka.


Ooh oo oh... Lihat jaringan mereka bergerak setelah mendapat satu pesan dari nomor jamu.gD, sebelum dinonaktifkan." Putra menunjuk layar monitor.


"Putra, tolong hubungi Pak Marons. Aku mau minta tolong untuk beli makan malam kita bersepuluh, dengan sopir Pak Marons. Kita sudah tidak bisa keluar lagi, karena waktu yang sangat terbatas." Putra segera melakukan yang diminta Kaliana.


"Putra, tolong cek. Dari semua nomor jaringan guguk liar, mana yang ada di dekat pantai." Kaliana berkata sambil berpikir cepat. Bram jadi berdiri di belakang Novie dan Yicoe bergantian untuk memperkirakan banyaknya anggota dari pihak Siska.


"Perhatikan nomor 3. Itu pasti dia sedang naik motor ke tempat tujuan." Bram berkata cepat, saat melihat kecepatan nomor 3 berpindah. Bram jadi mengerti, mengapa Kaliana tau keberadaannya di hotel dan juga orang tua Jaret.


"Itu nomor lain dari Parikus." Kata Kaliana menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Ooh, ok. Pasti dia naik trail." Bram berkata cepat dan yakin, saat melihat kecepatan nomor Parikus berpindah.


Tidak lama kemudian, mereka sudah bisa mengetahui berapa banyak orang bersama Siska. "Parikus ke Ancol. Mungkin dia sewah kapal di sana." Kaliana berkata, saat melihat nomor 3 melewati gerbang Ancol.

__ADS_1


"Guguk liar ini sangat berani, masuk lewat ini." Bram berkata sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Entah berani, entah PD, entah bodoh, entah apa lagi. Mungkin karna berada di pusatnya, jadi bisa mengetahui pergerakan dan penyelidikan di dalam. Jadi dia bisa leluasa merencanakan ini semua." Kata Kaliana yang masih berpikir.


"Yaa... Mungkin juga dia sudah patahin sayap nyamuk di dalam dengan gepokan, jadi mereka cuek atau masa bodoh dengan apa yang dia lakukan." Bram menanggapi yang dikatakan Kaliana tentang Siska dan para aparat Kepolisian.


"Jika mereka cuek atau masa bodoh dengan semua yang dilakukan guguk liar ini, semoga besok-besok anak mereka tidak o'on." Kaliana berkata serius dan emosi.


"Putra, tolong satukan komunikasi Pak Bram dan Pak Raka dengan team, agar nanti malam kita mudah saling kontak. Kau lakukan sekarang saja, agar nanti malam tidak buru-buru." Kaliana berkata cepat, saat memikirkan komunikasi mereka nanti malam. Putra mengangguk, lalu melakukan apa yang diminta Kaliana dengan cepat.


Menjelang malam, Marons tiba di dermaga sambil memegang jasnya dan kantong makanan fastfood. Begitu juga dengan sopir yang menjinjing kantong di kedua tangannya. Pak Yosa dan Raka melihat kehadiran Marons, segera turun bersama kapten kapal untuk membantu.


"Pak, berikan saja kepada Pak Yosa, dan tolong kembali ke mobil untuk ambil air mineralnya." Marons berkata kepada sopirnya yang ada di sampingnya. Kapten kapal segera ambil kantong dari tangan Marons, lalu naik ke kapal bersama yang lain.


Marons segera masuk ke dalam kapal, setelah berbicara dengan Pak Yosa untuk menemui Kaliana. "Ada apa...?" Tanya Marons kepada Kaliana saat masuk ke dalam kapal, sambil mengusap pelan lengan Kaliana. Kemudian menyalami Bram yang mendekatinya.


^^^Walaupun sudah pernah bertemu sebelumnya, mereka sama-sama tahu, sekarang dalam suasana yang berbeda. Sebelumnya, Bram bertugas sebagai penyidik yang menyelidiki kematian istrinya dan Bram bertugas untuk menginterigasi Marons.^^^


Sekarang dalam kondisi yang berbeda dan saling menaruh respect seorang akan yang lain. Terutama Bram yang melihat sikap Marons yang sangat berbeda saat datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan bersama pengacaranya.


Cara Marons memperlakukan Kaliana menyadarkan Bram, mereka bukan hanya berhubungan sebagai client Kaliana seperti pada umumnya. Tatapan dan sentuhan tangan Marons menunjukan posisi Kaliana baginya. Marons tidak menunjukan cinta yang membara, tapi kasih sayang yang melimpah.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2