ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
111. Gercep 5.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana telah meletakan ponselnya di dekat Putra dalam kondisi speaker dinyalakan agar Bram bisa mendengar sendiri apa yang dibicarakan Putra dengannya.


📱"Bram, kau dengar yang dikatakan Putra tadi?" Tanya Kaliana setelah Putra selesai memberikan keterangan sesuai apa yang di lihat dan diketahui tentang interaksi nomor telpon yang diberikan Bram. Kaliana berharap Bram mendengar dengan baik, agar dia tidak perlu menjelaskan lagi.


📱"Iya, Anna. Aku bisa dengar dengan baik. Nomor pertama berhubungan dengan nomor kedua, itu OK." Bagi Bram, itu dia bisa maklumi dan bukan suatu kejutan baginya. Dia telah mengetahui hubungan mereka, jadi pasti pernah bertelpon.


📱"Kalau nomor 'batok' yang dihubungi, Putra bisa tau posisi nomor-nomor itu ada di mana?" Bram bertanya serius, karena dia jadi penasaran dengan nomor-nomor tersebut. Insting seorang penyidik mulai mengganggu dan mendesaknya untuk menyelidiki nomor-nomor tersebut. 'Mengapa orang itu memakai nomor yang tidak beridentitas? Apakah ada yang disembunyikan?' Bram bertanya dengan dirinya sendiri.


Putra memberikan isyarat 'OK' kepada Kaliana. Melihat itu, Kaliana berkata kepa Putra: "Tolong kau berikan inisial A dan B untuk kedua nomor 'batok' itu, sebagai pembeda." Kaliana memberi instruksi kepada Putra, agar dia dan Bram bisa berkomunikasi dengan baik dan bisa dimengerti, nomor mana yang sedang dibicarakan. Putra mengangguk mengerti yang dimaksudkan Kaliana, kemudian mulai mengerjakan yang diminta Bram dan Kaliana.


Tiba-tiba dia terhenti ketika mengetahui jejak hubungan nomor telpon pertama. Putra meminta Kaliana mendekat untuk melihat layar monitor, agar bisa melihat dengan baik posisi salah satu nomor 'batok' yang telah dilabelin A oleh Putra.


📱"Bram, sebentar. Ada yang tidak beres. Salah satu nomor 'batok' yang dituju oleh nomor yang kau berikan, tidak seharusnya berada di tempat itu. Tunggu Putra pastikan lagi, agar lebih akurat." Kaliana masih ragu dengan apa yang dilihatnya. Dia meminta Putra lakukan pencarian lagi untuk memastikan apa yang dilihat mereka. Ketika melihat hal sama terjadi, Kaliana menepuk pundak Putra untuk meneruskan pencariannya.


📱"Bram, ada yang tidak beres di instansimu. Aku akan kirim lokasi salah satu nomor 'batok' yaitu A, untukmu. Sedangkan nomor 'batok' yang satu yaitu B, akan ditangani oleh kami, terutama Pak Yosa." Setelah mengatakan demikian, Kaliana langsung mengetik narasi lalu diemail oleh Putra ke nomor email khusus yang diberikan team sopape kepada Bram.

__ADS_1


📱"Kau yakin dengan info yang kau berikan ini?" Tanya Bram setelah membaca email yang dikirim oleh Kaliana.


📱"Sangat yakin...! Lebih baik kau segera eksekusi, sebelum terlambat. Sedangkan Pak Yosa akan segera menyelidiki nomor 'batok B'. Kedua nomor ini juga saling berhubungan dengan nomor yang kau berikan. Nomor yang akan diselidiki oleh Pak Yosa sangat intes berhubungan dengan nomor yang akan kau selidiki. Jadi nomor 'batok A dan B' saling kenal dan sering berhuhungan dengan nomor pertama yang kau berikan." Kaliana berkata dengan serius setelah melihat nomor-nomor 'batok' yang intes saling berhubungan.


📱"Apa kedua nomor 'batok' ada hubungan atau pernah berhubungan dengan nomor kedua yang aku berikan?" Tanya Bram menyelidiki, untuk melengkapi keterangan keterkaitan kedua nomor tersebut dengan kedua nomor 'batok'.


📱"Tidak... Kedua nomor 'batok' hanya berhubungan dengan nomor pertama." Kaliana berkata cepat, setelah Putra menunjuk ke layar monitor siapa pemilik kedua nomor yang diberikan oleh Bram. Dia makin waspada, ketika membaca identitas nomor telpon yang diberikan Bram. Ternyata Bram sedang menyelidiki orang dalam.


📱"Siiiiap...! Jika kau sudah berkata demikian, aku akan segera atur dan eksekusi. Kalau ada perkembangan baru dengan kedua nomor yang aku berikan, tolong infoin, yaa. Aku akan melihat dan selidiki petugas yang tepat untuk bisa membantuku eksekusi." Bram berkata dengan serius. Dia berpikir cepat setelah mendengar keterangan yang disampaikan Kaliana lalu segera menyusun rencana untuk menanganinya.


Setelah merasa cukup informasi yang diberikan Putra, mereka mengakhiri pembicaraan setelah saling membalas salam. Kemudian Kaliana mengumpulkan teamnya di ruang kerja untuk membicarakan apa yang diperoleh dari Putra untuk membantu Bram.


Di sisi yang lain ; Setelah berbicara dengan Kaliana, Bram kembali ke ruang kerjanya. Dia memanggil salah satu anggota yang ada di ruangan bagiannya. Petugas tersebut masih kerja, sedangkan yang lain sudah tidak ada di ruangan. Ada yang sudah pulang sesuai instruksi Bram, ada juga yang masih tinggal dan bekerja. Petugas tersebut berdiri dengan sikap siap, lalu mengikuti Bram ke ruangannya. Bram melihat Parikus sudah tidak ada di meja kerjanya.


"Segera ambil laptopmu dan kerjakan dengan cepat surat yang akan aku berikan padamu." Perintah Bram setelah petugas tersebut telah berada dalam ruangannya.


"Siiaap, Pak...! Petugas tersebut memberi hormat dengan sikap siap, lalu kembali keluar ruangan. Bram sudah memperhatikannya selama bertugas di bagian narkotika. Petugas yang dipanggil untuk membuat surat, bisa diandalkan. Dia bekerja dengan baik semua laporan yang diberikan Bram kepadanya.

__ADS_1


Terutama juga, dia tidak ada dalam daftar nama yang diberikan pimpinan kepadanya. Sambil menunggu, Bram menulis cepat draf surat yang akan dikerjakan oleh petugas tersebut. Agar dia tidak perlu mendiktekan isi surat kepada petugas yang ditugasinya. Dia selalu mengingat apa yang dikatakan Pak Yosa kepadanya dan Kaliana selama masih bertugas bersama-sama. 'Hati-hati... Tembok bertelinga...!'


Jadi dalam melakukan sesuatu yang bersifat urgent atau rahasia, dia selalu mengingat itu dan menerapkannya. "Kerjakan ini, di sini, sekarang. Saya tunggu...!" Perintah Bram, lalu memberikan kertas coretan yang dibuatnya kepada petugas dan menyuruhnya duduk kerjakan di ruangannya.


Bram tidak mau memberikan kesempatan kepada petugas tersebut untuk keluar ruangan setelah membaca coretan surat yang dibuatnya. Apalagi melihat petugas tersebut membaca tulisannya dengan wajah bertanya-bertanya, tetapi tidak berani bertanya tentang isinya.


Setelah selesai dikerjakan, Bram menyuruhnya segera keluar untuk diprint dan Bram mengikutinya dari belakang. "Segera tanda tanda tangani surat itu dan ikut saya." Bram segera menghapus file surat yang dibuat oleh petugas tersebut, lalu menanda tangani surat yang telah ditanda tangani dan mencap nya.


Petugas tersebut dengan cepat mengikuti gerakan cepat pimpinannya yang baru tanpa bertanya. Dia telah membaca surat tersebut dan mengerti maksud surat tersebut. Dia telah tanda tangan bersama pimpinannya. Berarti dia yang akan bertanggung jawab juga, jika terjadi sesuatu.


Setelah tiba di sel tahanan, Bram menunjukan surat penggeledahan kepada petugas jaga dan minta segera membuka ruang tahanan tanpa memberikan kesempatan kepada petugas jaga yang lain melakukan suatu tindakan yang mencurigakan.


Petugas jaga membuka sel tahanan dengan ragu-ragu, karena tidak sempat mengconfimasi kepada pimpinan mereka yang bertugas di situ. Bram segera mengambil kunci dari tangan petugas jaga, lalu membuka pintu sel. Setelah pintu sel terbuka, tanpa membuang waktu, Bram segera masuk bersama petugas yang mengikutinya.


"Kalian tempatkan dia sendiri di sini?" Tanya Bram, karena melihat tahanan tidur sendiri. Sedangkan ruang tahanan yang lain isinya lebih dari tiga tahanan. Petugas jaga terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Bram.


"Apa yang anda lakukan di sini?" Jaret terjaga saat mendengar suara percakapan dalam ruangannya dan terkejut melihat Bram berdiri di depan tempat tidur dalam sikap siaga.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2