ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
115. Bertaktik 15.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Kaliana dan anggota team yang lain sudah pikirkan sepanjang malam. Jika benar nomor 'batok A' adalah nomor ponsel Jaret, Bram benar-benar berhadapan dengan gerombolan siberat dalam sarang laba-laba.


πŸ“±"Kau sudah eksekusi rupanya. Apakah kau aman?" Tanya Kaliana cemas, memikirkan kondisi Bram yang makin tidak aman di tempatnya yang baru. Belum temukan anggota yang bisa dipercaya, sudah tambah masalah lagi.


πŸ“±"Tidak aman. Ada yang mengawasiku tadi malam di dalam kelambu. Kemungkinan besar, ada banyak nyamuk yang terlibat. Jadi jalan pulang, aku harus zig zag dengan trail dan tidur di hotel." Bram menjelaskan dengan cepat, agar Kaliana bisa tahu situasinya.


πŸ“±"Kami sudah menduga hal itu. Kau mengambil resiko terlalu besar untuk kondisimu yang baru dipindahkan ke bagian itu." Kaliana berkata dengan serius. Dia tidak menyangka Bram mengeksekusi yang dia katakan lebih cepat dari perkiraannya.


πŸ“±"Tadi malam aku lihat Parikus telpon sangat serius, saat aku kembali dari menelponmu. Jadi aku tidak sabar untuk membuktikan yang kalian temukan." Bram menjelaskan, mengapa dia harus mengambil tindakan yang cepat, tanpa bicarakan dengan pimpinannya.


πŸ“±"Jadi kau lompat pagar untuk lakukan penggeledahan tadi malam?" Tanya Kaliana serius. Dia sudah tahu, tapi bertanya untuk meyakinkannya dan yang lain.


πŸ“±"Iyaa... Kalau mau lewat pintu, harus cari atau tunggu jurukunci. Belum tentu juga dikasih kuncinya. Jadi selagi masih bisa lompat, lompat saja. Mumpung sudah di depan mata temboknya." Bram berkelakar, tapi yang dia maksudkan adalah sebenarnya yang terjadi.


πŸ“±"Tapi kau tidak perlu lompat pagar untuk lakukan itu. Siapa tau, jurukunci bisa kerja sama." Kaliana sedikit protes dengan tindakan Bram yang akan membawa dampak buruk bagi kariernya.


πŸ“±"Semuanya sudah terjadi, jadi tidak usah dipikirkan dan dipersoalkan lagi. Aku sudah tidak pikirkan semua jabatan atau yang lainnya, saat mengetahui di kelambu ada banyak nyamuk penghisap darah dan sabu." Bram berkata pelan, tapi serius setelah memikirkannya sepanjang malam.

__ADS_1


πŸ“±"Jangan ngelantur kemana-mana. Kau bisa atasi yang ini, karena kau pernah melewati yang lebih berat dari ini. Hanya balakmu sedikit tertahan untuk jatuh di pundakmu." Kaliana berkata serius dan memberikan semangat, sambil memikirkan apa yang pernah terjadi dengan karier Bram. Kariernya sering terhambat, karena sikapnya yang tidak bisa diajak kompromi oleh pimpinannya.


πŸ“±"Anna... Aku tidak pikirkan balak lagi. Jika terjadi sesuatu dengan karierku, aku akan melamar jadi anggota teammu." Bram berkata sambil tertawa, tapi itu yang sudah dipikirkan. Dia akan berkarier di luar kesatuan sebagaimana yang dilakukan Kaliana.


πŸ“±"Sudaaa... Jangan makin ngelantur. Apakah kau dapat kayu bakar, selain ponselnya?" Tanya Kaliana yang sudah sangat panasaran. Jika Bram menemukan sesuatu yang bisa jadi bukti tambahan kasus narkoba Jaret, mereka akan terus bekerja dan meluas ke berbagai arah.


πŸ“±"Ada beberapa kayu bakar yang bisa membakar dia. Jadi aku rencana pagi ini mau serahkan kayu bakarnya sebagai bukti tambahan kepada Jaksa penuntut." Bram jelaskan juga, mengapa dia memilih tinggal di hotel. Mendengar penjelasan Bram, Putra perlihatkan lokasi Bram yang tinggal di hotel terdekat dengan Kantor Kejaksaan.


πŸ“±"Bram... Jangan dulu serahkan kayu bakarnya, sebelum kita tahu siapa saja yang dihubungi Jaret dari dalam penjara." Kaliana berkata cepat untuk mencegah Bram. Dia tidak mau kerja keras Bram sia-sia, karena apa yang didapatkan Bram sama dengan yang ditemukan Putra di dunia maya. Mereka harus temukan orang yang terhubung dengan Jaret.


πŸ“±"Baik... Makanya, aku hubungi kau untuk minta saran dan sebelum lakukan tindakan berikutnya. Aku butuh bantuan kalian untuk temukan pemilik nomor yang dibilang Putra dengan nomor 'batok B'. Karena hanya ada tiga nomor di ponsel Jaret. Tiga-tiganya sudah ada di kalian. Itu aku sudah kirim nama yang ditulis Jaret di ponselnya." Bram berkata sambil mengirim email ketiga nama yang ada di ponsel Jaret.


πŸ“±"Iyaa.... Jadi aku butuh kalian, untuk pastikan siapa Jamu.gD. Siapa dia, hingga Jaret menyimpan nomornya bersama nomor anggotaku. Dan mengapa mereka bertiga berkomunikasi secara intens, padahal Jaret ada di penjara." Bram menjelaskan apa yang dia butuhkan dari Kaliana dan teamnya. Dia juga menyampaikan apa yang dipikirkan tentang hubungan ketiga nomor yang ada di ponsel Jaret.


πŸ“±"Ooh iya, petugas yang mau akalin mobilmu saat itu, yang bernama rikus.P. Jadi kau bisa punya gambaran situasi saat ini." Bram menjelaskan kepada Kaliana, agar mengingat petugas yang ditangkapnya dan dia lebih jelas membaca situasi yang sedang dihadapi.


πŸ“±"Oooh... Jadi dia ada hubungan dengan Jaret, rupanya. Baik... Hari ini jangan kemana-mana, kau tunggu di situ. Pak Yosa akan selidiki siapa Jamu.gD, lalu ke tempatmu untuk bicarakan denganmu." Kaliana langsung memikirkan cara komunikasi yang lebih baik dan aman dengan Bram.


πŸ“±"Siaap... Aku tunggu di sini. Pak Yosa, jangan lupa sandi ketukan pintu kita." Bram berkata cepat, karena dia tahu team sopape sedang mendengarnya. Mendengar itu, Pak Yosa mengangkat jari membentuk 'OK' ke arah Kaliana, pertanda masih ingat.

__ADS_1


πŸ“±"Baik... Pak Yosa sudah 'OK'. Setelah ini, kau non aktifkan semua ponselmu. Termasuk nomor dinas, agar jangan ada yang melacakmu. Kami sedang menunggu nomor Jamu.gD aktif untuk mengetahui lokasinya. Setelah mengetahui lokasinya, Pak Yosa akan meluncur ke tempatnya dan terus ke tempatmu." Kaliana menjelaskan rencananya, agar Bram bisa mengerti dan sabar menunggu.


πŸ“±"Baik... Pak Yosa, tolong bawa baju ganti untukku. Agar aku tidak keluar lagi, sambil tunggu kepastian darimu." Bram baru teringat, dia masih pakai baju dinas. Kaliana melihat Pak Yosa kembali mengangkat jarinya memberikan tanda 'OK', siap lakukan permintaan Bram.


Mendengar yang dikatakan Bram, Kaliana sontak waspada dengan tempat tinggal Bram di hotel. Jika ada yang mengawasinya dari malam, bisa saja ada yang mengetehui posisi Bram sebagaimana dengan mereka mengetahuinya.


πŸ“±"Bram... Kau bayar hotel pakai apa?" Tanya Kaliana serius, lalu memberikan instruksi untuk anggota teamnya dengan isyarat tangan.


πŸ“±"Uang tunai dan kartu uyul. Ada apa?" Tanya Bram yang belum mengerti maksud pertanyaan Kaliana.


πŸ“±"Kau segera pindah ke hotel yang aku email ini. Kami sudah booking atas nama Yicoe. Ambil semua yang kau bawa, lalu segera turun ke lobby. Tidak usah bawa kendaraanmu. Kami sudah kirim mobil online, jadi kau tunggu di lobby. Itu nomor mobil yang aku email." Kaliana berkata cepat, setelah meminta Putra dan Yicoe melakukan rencananya.


πŸ“±"Siaap... Aku sudah terima dan mengerti." Bram segera berdiri, lalu lakukan yang diminta Kaliana.


πŸ“±"Bram... Walaupun belum jam masuk kantor, kau tetap waspada di lobby. Jika ada yang mengikutimu, minta sopir memutar. Kami akan bayar semuanya." Kaliana berkata cepat, karena ponsel Bram masih aktif. Jadi bisa ada orang yang melacaknya.


...~°°°~...


...~●○€○●~...

__ADS_1


__ADS_2