
...~•Happy Reading•~...
Ketika merasakan tidak ada lagi perlawanan dari Mama Jaret di tangannya, Kaliana melepaskan pegangannya dari tangan Mama Jaret. Kemudian kembali ke tempat duduk meninggalkan Mama Jaret yang langsung meniup kedua tangannya bergantian. Rasa panas dan nyeri di kedua tangannya membuat Mama Jaret tidak malu lagi untuk menjaga sikap seorang nyonya besar yang terhormat.
Melihat keadaan kembali tenang, Hakim Alvian menanyakan semua yang hadir, untuk meneruskan pembahasan tentang gugatan cerai Chasina. Tetapi Mama Jaret menginterupsinya dengan mengatakan hendak ke rumah sakit, jadi tidak mau lagi mengikuti.
"Baik... Ini saya sudah mau selesai, jadi anda bisa ke rumah sakit." Hakim Alvian berkata pelan dan tenang, agar Mama Jaret tidak lakukan tindakan yang memancing keributan lagi.
Tiba-tiba, Danny berdiri dan menyerahkan kartu namanya kepada Hakim Alvian, setelah menulis sesuatu di balik kartu namanya. Hakim Alvian membaca apa yang ditulis Danny perlahan, lalu meneruskan penjelasan akhir untuk persiapan pertemuan berikutnya.
"Bapak dan Ibu semua yang hadir, baik dari pihak penggugat atau tergugat, saya hanya bertugas sampai di sini. Untuk selanjutnya, ada hakim lain yang akan memimpin setelah ada informasi dari pihak terkait tentang harta kekayaan tergugat. Jadi saya harapkan, pertemuan berikutnya, tidak akan terjadi seperti tadi." Ucap Hakim Alvian tenang, sambil memandang semua yang hadir.
^^^~°°Tanpa diketahui Mama Jaret dan pengacaranya, Kaliana telah mengirim pesan kepada Putra, agar Marons bisa katakan kepada Danny. Supaya Danny katakan kepada Hakim Alvian bahwa sidang penentuan berikutnya tidak akan dipimpin oleh Hakim Alvian. Tetapi ada Hakim lain yang akan menggantikannya. Semua itu dilakukan oleh Kaliana, untuk menyelamatkan Hakim Alvian dari tindakan negatif keluarga Jaret°°~^^^
^^^~°°Kaliana sudah bisa menganalisa tindakan Mama Jaret untuk menggagalkan atau menghambat sidang penentuan berikutnya. Hakim Alvian bisa menjadi target mereka, karena melihat sikap Hakim yang tidak berpihak kepada mereka. Oleh sebab itu, Kaliana sengaja membuat keadaan seperti itu, agar Mama Jaret tidak bisa menebak, hakim siapa yang akan memimpin pertemuan adan persidangan berikutnya°°~^^^
Mendengar apa yang dikatakan Hakim Alvian, Mama Jaret melihat ke arah Hakim dengan wajah terkejut. Tetapi kembali meniup kedua tangannya untuk mengalihkan rasa terkejutnya. Apa yang sudah direncanakan di kepalanya buyar seketika, saat mendengar penjelasan akhir Hakim Alvian yang tidak akan menjadi Hakim dalam memutuskan perkara perceraian Jaret.
__ADS_1
"Mengapa bukan Hakim saja yang memimpin persidangan nanti? Bukankah Hakim yang sudah tangani ini sejak awal, jadi lebih mudah memutuskannya?" Tanya Mama Jaret tiba-tiba dengan suara pelan. Hakim Alvian melihat Mama Jaret dengan serius dan juga terus berpikir tentang maksud pesan Danny. 'Mungkinkah ada yang direncanakan oleh keluarga tergugat terhadapnya?' Tanya Hakim Alvian dalam hati, mengingat orang tua tergugat adalah seorang pejabat pemerintah.
"Hakim di sini, profesional dalam bertugas. Jadi kami bergantian menangani berbagai kasus. Apalagi dalam memutuskan kasus perceraian seperti ini, tidak perlu banyak pertemuan untuk membahas hal-hal yang terkait dengan hukum. Hanya akan ada pembagian harta gono gini." Hakim Alvian berkata cepat, karena mulai mengerti maksud dari pesan yang disampaikan Danny padanya.
"Kasus ini sangat mudah diputuskan, karena surat perjanjian pra nikah penggugat dan tergugat menjadi acuannya. Jadi setelah ada pemeriksaan dari pihak terkait tentang banyaknya harta tergugat, Hakim siapa pun bisa memutuskan perceraian kedua pihak." Hakim Alvian berkata dengan tenang, sambil melihat Mama Jaret dan pengacaranya bergantian dengan serius.
"Kalau begitu, kami permisi, mau ke rumah sakit. Kalau mereka masih mau tinggal di sini, silahkan..." Mama Jaret berkata dengan sinis, karena tidak bisa mengendalikan situasi. Hatinya sangat panas, lebih panas dari rasa panas di tangannya, sambil melihat Kaliana dan Danny.
"Tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi dengan Hakim, karena semua tuntutan kami sudah ada dalam surat gugatan.." Danny berkata cepat, agar Mama Jaret tidak curiga bahwa ada sesuatu diantara mereka.
Danny, Kaliana dan Pak Yosa keluar bersamaan, tanpa melakukan gerakan apa pun terhadap Hakim yang bisa membuat pihak Jaret curiga, bahwa mereka bekerja sama atau bermain mata dalam kasus ini.
"Tunggu saja pembalasannya...!" Mama Jaret berkata setelah mereka keluar dari ruangan Hakim dan berada di ruang tunggu. Kaliana sontak melihat Mama Jaret dengan serius dan heran dengan ucapan Mama Jaret.
"Astagaaa... Anda mengharapkan saya bercerai juga? Padahal saya tidak menyuruh anak anda selingkuh lo'h... Anak anda saja yang mendidih seperti rebusan air di atas kompor untuk menikung istri orang." Jawab Kaliana serius, tanpa mempedulikan Mama Jaret yang melihatnya dengan mata melotot. Kaliana balik menatap Mama Jaret dengan wajah yang kaku.
'Dari mana dia tahu kalau Jaret selingkuh? Padahal di media masa berita itu belum dibicarakan secara terbuka. Hanya baru dugaan terjadi perselingkuhan yang membuat istrinya cemburu. Mama Jaret hendak membalas Kaliana, tetapi sudah tidak bisa. Kaliana telah berjalan cepat keluar kantor pengadilan untuk menghindari perang mulut dengan Mama Jaret.
__ADS_1
Dalam keadaan kesal, Mama Jaret segera menghubungi suaminya untuk memberitahukan apa yang terjadi di ruangan Hakim. Papa Jaret sangat panik dan marah mendengar apa yang diceritakan istrinya.
"Segera ke rumah sakit untuk visum, agar kita bisa menuntut wanita itu. Nanti aku akan minta orang ke kantor Chasina untuk mencari tau tentang asisten Bryan." Papa Jaret berkata sambil menahan emosinya di kantor. Beliau langsung berpikir untuk menyelidiki siapa sebenarnya asisten Bryan.
"Iyaa... Aku akan ke rumah sakit untuk berjaga-jaga. Sekarang ini yang paling penting, kau segera hubungi para petugas linta untuk tangani wanita yang di tahanan. Kau pikirkan juga, bagaimana cara pindahkan semua milik kita yang ada di Jaret." Mama Jaret berkata cepat, lalu menjelaskan tentang petugas yang sudah membawa surat untuk menyelidiki harta kekayaan Jaret.
"Mengapa baru kau katakan itu sekarang? Kau tidak mengerti dengan arti pembagian harta gono gini ini? Kita bukan saja akan kehilangan setengahnya, tetapi semuanya." Papa Jaret jadi marah mendengar tentang petugas yang telah bekerja untuk memeriksa kekayaan Jaret. Hal itu membuat Papa Jaret panik dan sangat khawatir. Sehingga berbicara dengan istrinya sambil mondar mandir di ruang kerjanya dan terus berpikir.
"Bagaimana aku bisa hubungi dalam ruangan Hakim seperti itu?" Mama Jaret bertanya dengan emosi mendengar ucapan suaminya yang mulai menyalahkannya.
"Kau tidak bisa permisi untuk pergi ke toilet? Atau kau tidak bisa kirim pesan? Pikiranmu kemana? Kita sedang dalam bahaya, tapi kau hanya persoalkan wanita asisten itu." Ucap Papa Jaret meradang, karena merasa istrinya tidak tanggap akan situasi mereka.
"Kalau tidak tau situasinya, jangan asal ngomong...! Bagaimana bisa lakukan itu, jika kedua tangannku dipegang oleh wanita asisten itu? Urus sendiri... Tangan dan kakiku lagi sakit...!" Ucap Mama Jaret marah, lalu menutup telponnya dengan kasar. Pengacara yang sedang bersamanya langsung terdiam.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1