ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
51. Sersay (Serius tapi Sayang)


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons yang mendengar penjelasan Kaliana, hanya bisa berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia sudah bisa bayangkan kondisi Kaliana, tanpa perlu dijelaskan lagi olehnya.


📱"Itu tandanya, jika kau bertahan di luar sedikit lagi, pikiran dan nalarmu akan pisah jalur. Mulai nggak konek..." Marons sudah mengerti cara kerja Kaliana, jadi gemas. Tidak bisa direm atau berhenti, sebelum apa yang direncanakan berada di tempatnya.


📱Iyaa, yaa... Besok-besok, nanti 'ta' cubitin, kalau pikiranku ngga mau dengar-dengaran sama hati." Kaliana berkata sambil tersenyum, mendengar ucapannya. Dia teringat, tadi sudah sangat rindu berbicara dengan Marons, tapi pikirannya tetap berusaha konsentrasi untuk selesaikan yang sudah dipikirkan dan direncanakan.


Kaliana jadi duduk tegak di atas tempat tidur, agar tidak tertidur. Walaupun sudah sangat lelah, dia berusaha bertahan, agar tidak membuat Marons kesal atau marah, karena masih mau bicara dengannya.


Kaliana tahu, Marons menunggu penjelasan darinya. Itu bisa diketahui saat dia merespon panggilan telponnya pada deringan pertama. Berarti, Marons sedang menunggu telpon darinya.


📱"Mau dicubit, ditabok, digampar, pikiranmu tetap ngga dengar-dengaran sama hatimu. Mulai sekarang, ingatin pikiranmu, mungkin yang ada dipikiranmu utama... Tetapi ada yang terutama." Ucap Marons serius dan tegas. Dia sudah melihat cara kerja Kaliana dan menyadari, jika sesuatu yang sudah dipikirkannya, dia akan lakukan hingga melihat hasilnya.


Kaliana langsung memeluk guling di sampingnya dan menutup wajahnya dengan bantal untuk menyembunyikan tarikan nafas dan hembusan nafasnya yang kuat. Apa yang dikatakan Marons, benar-benar menyentaknya.


Marons tidak mengatakan secara terus terang, tapi Kaliana bukan wanita yang berpikiran dangkal, sehingga tidak mengerti maksud ucapan Marons. 'Sekarang kau tidak sendiri lagi. Kau sudah memiliki kekasih. Mana yang terutama bagimu.' Kaliana berkata sendiri dalam hatinya.


Semua pekerjaan yang kau rencanakan penting, tetapi ada yang terpenting. DIA yang memberikan pekerjaan dan mengatur rencana itu untukmu, yaitu, Tuhanmu. 'Semua bisa jadi utama, tapi pasti ada yang terutama'. Kaliana merenungi itu dengan serius, sambil memeluk guling.

__ADS_1


📱"Iya, Arro... Makasih sudah ingatkan dan sudah berikan rem yang pakem untuk pikiranku." Ucap Kaliana pelan, tapi serius. Seperti kata Marons, pikirannya juga bisa bablas, jika sudah merencanakan sesuatu dan ingin menwujudkan rencana tersebut.


📱"Tinggalkan dulu remnya, dan beritahukan hasil perkalianmu. Aku tidak makan di luar, karena tugu telpon darimu. Aku ingin dengar hasil panjang kali lebar, kali tinggi dan kali luasmu." Ucap Marons untuk mengalihkan pembicaraan, karena dari ucapannya, dia tahu Kaliana sedang merenung.


📱"Arrooo.. , boleh nyicil, ya... Hasilnya perlu penjelasan yang lama." Kaliana merasa sedikit lega, Marons mau bersabar dan bisa mengerti dirinya.


📱"Iyaa... Nyicil aja, supaya bisa istirahat. Kasihan Yicoe dan Novie juga, mereka perlu istirahat." Marons jadi ingat, Kaliana tidak tidur sendiri. Yicoe dan Novie bisa terganggu dengan pembicaraan mereka.


📱"Mereka masih di luar, temani Putra bersihin puding jeruk buatan Bibi." Ucap Kaliana, mengingat tadi mereka masih makan puding sambil ngobrol. Yicoe dan Novie masih mau berbicara dengan Putra


📱"Oooh.., baik... Apa yang kalian lakukan sepanjang hari ini? Dan mengapa hari ini sudah jemput Danny?" Tanya Marons yang sudah menanti penjelasan Kaliana sepanjang sisa hari, setelah Kaliana mengatakan sedang jemput Danny.


Marons menyimak penjelasan Kaliana dengan serius dan cermat. "Apakah kalian sudah beritahukan Pak Adolfis tentang rencana perpindahan Chasina dan rencananya menggugat cerai Jaret?" Tanya Marons yang mendengar tentang rencana Kaliana dan Bram mau pindahkan Chasina ke tempat yang aman.


📱"Sudah, Arro. Tadi sekalian kami antarkan Pak Danny untuk bertemu sopir Bu Chasi untuk persiapan sidang. Aku sudah bicara seadanya saja tentang perpindahan Bu Chasi tanpa berbicara tentang rencana cerainya. Beliau sedang kurang sehat dan sangat cemas dengan kondisi Bu Chasi." Kaliana menjelaskan lagi dengan pelan dan serius. Dia khawatir Marons berkata sesuatu kepada Pak Adolfis saat bertemu, nanti.


Marons menarik nafas dalam, mendengar penjelasan Kaliana. Dia jadi mengerti, mengapa Kaliana sangat lama di luar dan baru pulang ke rumah. Jika dia ada di Jakarta, mungkin akan melakukan hal yang sama.


📱"Kalau begitu, bilang Danny besok antar surat gugatannya bersama Pak Yosa. Kita tunggu dan lihat gerakan pihak sebelah setelah gugatan cerai dilayangkan. Sementara itu, kau dan team istirahat di rumah untuk pilah-pilah dan persiapkan ruang kerja di atas." Ucap Marons tenang dan serius, agar Kaliana bisa istirahat sejenak.

__ADS_1


📱"Ooh iya, Arro. Untung kau bilang ruang kerja. Aku jadi ingat permintaan Pak Yosa. Begini, Arro..." Kaliana meminta persetujuan Marons dengan menjelaskan usulan Pak Yosa untuk pindah kamar tidur di lantai atas.


📱"Ngga apa-apa. Kalau beliau mau tidur di situ. Kau atur saja dan isi perlengkapan yang dibutuhkan. Sekalian dengan perlengkapan ruang kerja kalian, agar dikirim sekaligus." Marons tidak mau ikut campur, mengisi perlengkapan ruang kerja team sopape. Dia berikan kesempatan untuk Kaliana dan team memilih perlengkapan sesuai selera dan kebutuhan pekerjaan mereka.


Marons juga merasa lega mendengar usulan Pak Yosa, agar Danny tidak tidur di ruang keluarga saat dia kembali ke Jakarta. "Nanti aku sudah kembali, baru bicara dengan Danny untuk kamarnya. Sementara ini, kita semua belajar berbagi banyak hal. Kalau kau dan team sudah terbiasa. Sedangkan Danny tidak terbiasa. Jadi nanti aku yang bicara dengannya." Ucap Marons yang sudah sangat mengenal Danny.


📱"Naah... Itu juga yang aku pikirkan setelah Pak Danny tiba di rumah ini. Walaupun sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi hanya sebatas bekerja. Tidak pernah bicara hal di luar pekerjaan. Berbeda denganmu, jika ngga setuju denganmu, aku bisa melawan dikiiiittt... hehehe." Kaliana tertawa, karena dia berbicara sambil mengangkat dua jarinya tanda peace, padahal Marons tidak melihat yang dia lakukan.


📱"Kau berani melawanku, karena tau disayang...? Turunin dua jarimu itu..." Marons sudah bisa nebak apa yang dilakukan Kaliana saat mengucapkan melawannya, lalu tertawa.


📱"Hehehe.., diantaranya itu. Selain itu, kau adalah Marons... Jadi aku berani dikit, dikit.. Memang kau sudah ngga sayang lagi? Astagaaa... Marons... Baru dua hari ngga bertemu, sudah mulai belok... Aku mau tidur saja. Mungkin di mimpi, aku bisa bertemu sama Arro yang lebih sayang aku." Ucap Kaliana asal, agar Marons tidak kesal, karena ucapannya yang keceplosan.


📱"Niiii..., ngga usah belok. Kalau ngantuk, bilang sudah ngantuk. Ngga usah bawah perasaanku yang mulai belok. Sekarang istirahat sebelum hati dan pikiranmu ngga konek dan membuatku ngga selesaikan pekerjaanku di sini." Marons berkata demikian, karena dia pun merindukan Kaliana. Dia bisa kembali kapan saja, karenanya.


📱"Hehehe... Iya, Arro. Aku istirahat duluan, ya. Besok kalau kau longgar, hubungi aku, ya... Salam tempel untukmu." Ucap Kaliana pelan dan senang. Marons bisa memahami kondisinya yang sudah sangat lelah dan ngantuk.


📱"Masih bisa salam tempel, berarti pikiran dan hatimu masih konek... Sweet dreams...!" Ucap Marons senang, mendengar Kaliana memberikan salam tempel untuknya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2