ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
61. Panik.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Memikirkan nasib anaknya yang belum tahu berakhir di mana dan berapa lama harus menjalani hukuman, Mama Jaret kembali melihat suaminya yang sedang mengotak-atik ponselnya dalam diam.


"Kau jangan diam saja... Sekarang, pikirkan cara untuk menolong anakmu. Apa gunanya jabatan dan uangmu, jika biarkan dia di penjara? Dia anakmu satu-satunya..." Ucap Mama Jaret lagi, mendesak suaminya untuk menggunakan jabatan dan kekayaannya. Bagi Mama Jaret, saat ini hanya itu yang bisa menolong anak mereka.


"Apa kau tidak bisa diam? Kau tidak lihat dari tadi aku sedang menghubungi sana sini? Ngoceh terus dari tadi, tanpa ujung pangkal." Papa Jaret kembali emosi dan melampiaskan amarahnya kepada istrinya yang tidak bisa berhenti bicara.


"Lagian untuk apa hubungi 'sana sini'? Hubungi Kejaksaan... Memangnya 'sana sini' bisa bantu Jaret rehabilitasi?" Mama Jaret tidak mau undur dan makin marah melihat suaminya masih duduk sambil mengotak-atik ponselnya.


"Lebih baik kau diam, atau pergi lihat anakmu itu. Sebelum asap keluar dari ubun-ubunku. Kau kira mudah tampol orang di Kejaksaan?" Tanya Papa Jaret yang sudah naik level emosinya dan langsung berdiri.


"Kau bicara seperti bukan pejabat. Dimana-mana sama saja. Mana ada orang yang matanya tidak merah melihat gepokan merah?" Mama Jaret tidak puas beradu mulut dengan suaminya, sebelum mengiyakan apa yang diinginkannya. Mama Jaret merasa suaminya terlalu lambat menentukan sikap dan ambil keputusan.


"Apa kau buta atau tuli, sampai tidak dengar yang kukatakan tadi? Itu ada petugas polisi yang tidak mempan dengan gepokan merahmu... Jika Kejaksaan tidak mempan juga, lalu kau mau apa?" Tanya Papa Jaret sudah sangat emosi.


"Ada hakim yang putuskan. Datangi langsung, jangan minta orang lain. Sekarang ini, keluargamu sedang kesusahan, pergunakan pengaruhmu itu." Mama Jaret berkata lagi, setelah memikirkan berbagai cara untuk menolong anaknya.


"Bagaimana aku mau hubungi hakim? Apa kau sudah tau, hakim mana yang akan menangani kasus itu? Pergunakan otakmu, agar tidak hanya cuap-cuap seperti ikan kekurangan air." Papa Jaret makin emosi, karena istrinya mengganggu konsentrasinya.

__ADS_1


"Kalau aku tidak pergunakan otakku, kau bisa jadi pejabat dan hidup enak seperti sekarang?" Mama Jaret tidak mau mundur, karena tersinggung dengan ucapan suaminya. Mama Jaret tidak terima, karena selalu memberikan berbagai saran agar suaminya lakukan ini dan itu untuk meningkatkan kariernya. Walaupun itu cara tidak benar, tapi hasilnya membuat mereka bisa hidup enak.


Papa Jaret berjalan keluar meninggalkan ruang keluarga untuk menjernihkan pikiran dan menurunkan emosinya. Jika bertahan sedikit lagi, rumah akan seperti kapal pecah, karena amukannya.


"Kau mau kemana? Aku belum selesai bicaraaa..." Teriak Mama Jaret, marah. Karena merasa diabaikan oleh suaminya. Dan terutama, mereka belum ada kata sepakat untuk menolong Jaret dengan cara yang bagaimana.


"Bicara dengan tembok, agar mulutmu selamat dari hantaman." Papa Jaret balik dan berteriak ke arah istrinya. Kemudian berjalan keluar, agar bisa mengendalikan emosinya. Beliau sedang berpikir banyak hal tentang kasus Jaret, tapi istrinya tidak bisa berhenti berbicara. Sehingga menganggu apa yang sedang dipikirkannya.


Setelah berada di luar rumah, Papa Jaret segera menghubungi pengacara untuk memberitahukan gugatan cerai Chasina. Mama Jaret hanya mengutamakan emosi dan ketidak sukaannya kepada Chasina. Tetapi tidak pikirkan dampak hukumnya kepada Jaret. Sehingga Papa Jaret harus berbicara dengan pengacara untuk mengetahui dari sisi hukum.


📱"Selamat malam, Pak Japry. Maaf, saya belum bisa ke rumah, karena sedang mempelajari dan menyiapkan materi pembelaan Pak Jaret. Kita harus bersiap-siap, karena sidang Pak Jaret bisa kapan saja diadakan, setelah kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan." Pengacara menjelaskan, setelah merespon panggilan Papa Jaret.


📱"Bukannya, Pak Japry katakan sudah pegang petugas? Tadi saya mau hubungi bapak untuk menanyakan itu. Mengapa begitu cepat diserahkan kasusnya, sebelum berbicara dengan kita." Pengacara sudah tahu, Papa Jaret telah memberikan banyak uang kepada petugas.


📱"Sepertinya, mungkin mereka main dua kaki. Saya sudah tidak ingin membicarakannya lagi. Sekarang ada kasus baru yang harus kau tangani, masih urusan Jaret." Ucap Papa Jaret cepat, agar tidak terlewatkan.


📱"Ada masalah apa lagi, Pak. Apakah terjadi sesuatu di tahanan atau Pak Jaret tidak tahan di sana?" Tanya pengacara was-was, memikirkan Jaret yang sering membuatnya pusing dengan tingkah lakunya.


📱"Tidak soal itu... Kami baru dapat surat dari pengadilan negeri, istrinya telah mengajukan gugatan cerai. Karena dia ada di penjara, kau yang wakili dia untuk mengurus gugatan cerai ini. Terima saja, gugatannya." Papa Jaret menjelaskan apa yang perlu dilakulan pengacaranya, berkenan dengan kasus gugatan Chasina.

__ADS_1


📱"Kalau itu, tidak terlalu sulit, Pak. Apalagi Pak Jaret sudah terima gugatannya. Jadi kita bisa konsen untuk kasusnya yang sudah dilimpahkan ke Kejaksaan." Pengacaranya bernafas lega, karena hanya menangani kasus gugatan cerai.


📱"Baik... Katakan jika ada yang diperlukan untuk melancarkan gugatan cerai itu, jika diperlukan." Papa Jaret juga ikut lega.


📱"Sepertinya tidak akan ada masalah, Pak. Apalagi mereka belum punya anak. Hanya perlu dibicarakan dengan Pak Jaret untuk pembagian harta gono-gini, jika istrinya menuntut. Tetapi saya kira, istrinya dengan kedudukan sepertinya, tidak akan menuntut hal itu." Ucap pengacara yakin. Karena dia tahu siapa Chasina dan juga orang tuanya.


📱"Apa yang kau katakan? Pembagian harta gono-gini?" Tanya Papa Jaret terkejut. Di kepalanya langsung berputar banyak hal. Tadi karena emosi dengan istrinya, hal itu tidak terpikirkan olehnya.


📱"Iya, Pak. Nanti besok saya ke pengadilan untuk bicarakan itu dengan pengacaranya. Tidak usah pikirkan, Pak. Kalau bapak mau Pak Jaret direhab, fokus untuk itu saja." Pengacaranya berkata lagi tanpa mengerti apa yang sedang dipikirkan Papa Jaret.


📱"Mengenai harta gono-gini, sekarang Jaret ada di tahanan. Siapa yang akan membagi hartanya, jika istrinya menginginkan itu?" Tanya Papa Jaret tidak mau beralih dari kasus gugatan cerai Chasina. Ada yang terlintas dalam pikirannya dan itu mulai mengganggu.


📱"Kita ke tahanan dan tanyakan Pak Jaret, mau berikan berapa banyak pada istrinya. Nanti ada pihak yang menghitung harta Pak Jaret, lalu berikan sesuai kesepatan mereka." Pengacara menjelaskan apa yang berkaitan dengan gugatan cerai Chasina. Penjelasan pengacara membuat Papa Jaret panik.


📱"Kalau begitu caranya, besok ke pengadilan dan jangan setujui gugatan cerai mereka. Tunggu perintah dan persetujuan saya, baru kau lakukan. Sekarang bagaimana cara kau bicara dengan hakim dan pengacaranya. Katakan saja, Jaret tidak mau bercerai." Ucap Papa Jaret cepat, setelah mendengar penjelasan pengacaranya tentang pembagian harta gono-gini. Papa Jaret segera mengakhiri pembicaraan mereka tanpa memberi alasan, kenapa Jaret tidak mau bercerai.


Pengacara melihat ponselnya sambil berpikir. 'Ada apa dengan Papa Jaret? Apakah ada ucapanku yang salah, sehingga Papa Jaret berubah pikiran, dari ingin segera bercerai jadi tidak mau bercerai?'


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2