ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
89. Bertaktik 9.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram tetap tenang mendengar apa yang dikatakan dan juga persetujuan pimpinannya, walaupun hatinya ingin bersorak. Dia hanya bisa beryukur dalam hati, ketika mengetahui pimpinannya mau mengabulkan permintaannya.


"Siaaap, Pak. Terima kasih sudah memberi ijin, agar saya bisa mengakses seperti yang lain. Sehingga saya bisa mengsingkronkan bukti dengan dokumen yang ada pada saya." Bram langsung pergunakan kesempatan untuk menarik nafas lega, saat melihat pimpinannya sedang menunduk untuk membuka laci mejanya.


Pimpinan Bram mengangguk setelah mengeluarkan lembaran kertas dari laci mejanya. Kemudian pimpinannya menulis sesuatu di lembaran kertas tersebut, menanda tangani dan mencapnya. Setelah itu, menyerahkan lembaran kertas tersebut kepada Bram. Tiba-tiba terdengar bunyi ketokan pada pintu ruang kerja pimpinan Bram.


"Masuk...!" Pimpinan Bram berkata dengan suara keras dan tegas. Bram yang sudah menerima surat dari pimpinannya, segera melipat dengan rapi dan memasukannya ke saku seragam dinas. Dia bertindak cepat, karena tidak tahu siapa yang datang dan mungkin saja bisa mempengaruhi keputusan pimpinannya.


"Lapor, Pak...!" Orang yang baru masuk berkata setelah masuk ke dalam ruangan. Dia tidak jadi meneruskan laporannya, saat menyadari pimpinannya tidak sendiri. Dia terkejut melihat siapa yang ada dalam ruangan pimpinan Bram. Perasaan tidak suka kepada Bram terlihat jelas dari sikapnya. Bram tetap tenang menanti perintah pimpinannya, tanpa memperdulikan kehadiran petugas yang baru masuk.


Bram yang sudah melihat siapa yang baru saja masuk dan mau melapor, mulai berpikir sambil melihat pimpinannya. Melihat orang yang baru masuk terkejut melihatnya, Bram berlagak tidak mengenalnya. Tetapi Bram masih ingat petugas tersebut dengan baik. Mungkin sama dengan petugas tersebut mengingatnya.


Pimpinannya yang melihat petugas tersebut tidak meneruskan laporannya, segera melihat ke arahnya dengan serius. Dahinya bertaut sambil memandang petugas tersebut, kemudian tersadar akan reaksi wajah petugas yang baru masuk yang tidak senang dengan keberadaan Bram.


"Kau sudah bisa tinggalkan ruangan ini." Pimpinan berkata kepada Bram, agar petugas yang baru masuk bisa melapor padanya.

__ADS_1


"Siaap, Pak...!" Bram berkata sambil memberi hormat lalu meninggalkan ruangan pimpinannya. Setelah di luar ruangan, Bram penasaran dengan petugas yang baru masuk. Ada apa sebenarnya dan apa laporannya? Itu yang ada dalam pikirannya


Bram ingin berdiri lebih lama di sana, tetapi dia menahan rasa penasarannya. Dia khawatir petugas tersebut ikut keluar melihat keberadaan dirimya di luar ruangan dan melapor. Sehingga pimpinannya mencurigai dan mengambil kembali akses yang telah diberikan kepadanya.


Sambil berjalan, Bram terus memikirkan petugas tadi yang melapor kepada pimpinannya. 'Mengapa dia yang melapor? Mengapa bukan pimpinannya yang melapor?' Bram bertanya dalam hati, karena jabatannya di bawah Bram dan dia mempunyai pimpinan di bagiannya.


'Apakah petugas tadi bekerja sama dengan pimpinannya? Atau dia sedang melakukan tugas khusus?' Bram kembali bertanya dalam hati sambil terus berpikir, mengingat petugas tersebut yang ditangkap Kaliana saat hendak memasang GPS di mobilnya.


Jadi yang dimaksud petugas itu kepada Kaliana, bukan pimpinannya yang selevel dengan Bram, tetapi pimpinan Bram yang sekarang? Menyadari itu, Bram berjalan cepat kembali ke ruang kerjanya. 'Aku harus lembur malam ini untuk memeriksa berbagai hal.' Bram berkata dalam hati. Dia khawatir petugas tersebut mengatakan sesuatu kepada pimpinannya, bahwa dia mengenal baik dengan Kaliana.


Walaupun hari itu Raka yang pergi menjemputnya di depan restoran, tetapi mungkin dia tahu Raka dari bagian investigasi dan anak buahnya. Setelah tiba di bagiannya, mengabaikan tatapan para pwtugas yang sedang menantinya. Bram segera masuk ke ruangan lalu mengeluarkan bundelan kasus yang diserahkan padanya.


Alis Bram bertaut memikirkan rencana pimpinannya menepatkan petugas tersebut sebagai anggota teamnya. Jika tidak bertemu demgannya tadi di ruang kerja pimpinannya, Bram tidak akan curiga. Tetapi mendengar kedatangannya dengan tujuan melapor melewati pimpinannya, Bram mulai berpikir. Pasti ada sesuatu diantara petugas tersebut dengan pimpinannya.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Setelah Bram meninggalkan ruang kerja, petugas tersebut mendekatkan telinga ke pintu untuk meyakinkan diri, bahwa Bram telah meninggalkan area sekitar mereka. Sikapnya sangat berbeda dengan sikap Bram saat berada dalam ruang kerja dan menghadap pimpinannya. Seharusnya dia bersikap hormat kepada pimpinan Bram. Tetapi sikapnya sangat santai, seakan tidak berhadapan dengan pimpinan tertinggi di bagian itu.

__ADS_1


"Parikus...! Ada apa dengan sikapmu? Dan kau mau melaporkan apa?" Tanya pimpinan Bram kepada petugas Parikus yang sedang menempelkan telinga ke pintu untuk mendengar langkah kaki Bram meninggalkan depan pintu.


"Saya hanya memastikan bahwa petugas tadi sudah meninggalkan tempat ini. Ooh iya, Pak. Sebelum melapor, saya mau bertanya. Mengapa petugas tadi ada di sini?" Tanya petugas Parikus yang penasaran dengan kehadiran Bram dalam ruangan tersebut. Cara bertanya Parikus membuat pimpinan Bram melihatnya dengan emosi yang mulai naik level.


"Kau dari mana, sampai tidak tau, tadi ada serah terima jabatan hari ini di sini?" Tanya pimpinan Bram sambil melihat petugas Parikus dengan serius. Pimpinan Bram lupa kalau Parikus tidak hadir dalam acara serah terima jabatan yang diselenggarakannya.


"Saya sedang di luar untuk lakukan tugas yang bapak perintahkan. Ini baru kembali dan mau melapor, Pak." Petugas tersebut berkata cepat, sebelum pimpinannya makin emosi. Dia melakukan hal-hal yang agak menyimpang dari tugasnya, sehingga terlambat tiba di kantor.


"Baik... Semoga kali ini ada laporan perkembangan yang lebih baik. Setiap kali melapor, hanya katakan sedang melacak... Sedang melacak... Namun tidak ada perkembangan yang berarti. Kau sedang melakukan perintahku atau melakukan perintah nafs*mu?" Pimpinan Bram bertanya serius dan tegas, karena melihat kerja Parikus di depannya sering mengecewakan.


Pimpinan Bram juga sering mendengar laporan tentang apa yang dilakukan oleh Parikus di berbagai tempat diskotik. Jika ditanya keberadaannya di sana, selalu katakan sedang menyamar. Dia sedang menyelediki kasus narkotika yang ditugaskan padanya.


"Sebelum kau melaporkan yang dikerjakan di luar, kau harus tau. Petugas Bram adalah adalah pimpinanmu yang baru. Jadi setelah dari sini, kau harus melapor padanya. Kau tunggu perintah darinya. Apakah kau dipilih jadi anggota teamnya atau tidak." Pimpinan Bram berkata lagi, mengingat ada nama Parikus dalam daftar nama petugas yang akan menjadi anggota team Bram.


Mendengar itu, petugas Parikus sangat terkejut dan menatap pimpinan Bram dengan serius. Dia seakan tidak percaya akan menjadi anak buah Bram. "Pak, bapak tidak tau petugas tadi itu, yang menangkap Pak Jaret?" Petugas Parikus berbicara serius penuh penekanan. Dia berharap pimpinan Bram bisa mengerti keadaan dan tidak membiarkan Bram terus berada di bagian narkotika.


"Jaga ucapanmu...! Sudah saya katakan, petugas Bram. Kau masih katakan petugas tadi. Jika karena ucapan dan sikapmu yang tidak sopan serta tidak hormat kepadanya, membuat kau tidak terpilih masuk dalam teamnya, saya akan membuat perhitungan denganmu." Pimpinan Bram marah mendengar ucapan Parikus dan kesal dengan sikapnya. Beliau khawatir Bram tidak memilih Parikus, hingga merusak rencananya.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2