ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
58. Gercep 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah berada di luar ruang kerja pimpinannya, Bram berpikir keras tentang apa yang akan di hadapi. Perubahan situasi yang tidak diduganya terjadi begitu cepat. Membuat dia waspada, karena respon pimpinan yang begitu cepat dan atmosfir kantor pertanda akan ada badai.


Dia langsung kembali ke ruang ruang kerjanya, lalu mengajak dua anggota yang di percayainya pergi ke lapangan basket untuk berolah raga. Hal itu membuat kedua anggotanya bertanya-tanya sambil mengikutinya. Apa yang sedang terjadi dan mengapa pimpinannya mengajak mereka berolah raga di jam dinas.


Bram berjalan dalam diam dan kedua anggotanya mengikuti di belakang. Dia mengajak kedua anak buahnya ke lapangan basket untuk bermain basket. Tapi sebenarnya tidak bisa dikatakan bermain basket, karena mereka masing-masing memegang bola dan hanya memasukan bola ke keranjang, tanpa berlari. Hanya mendribel lalu memasukan bola ke keranjang. Mengambil bola, mendribel dan memasukannya lagi, berulang kali.


Setelah melakukan itu beberapa kali, Bram menyampaikan apa yang baru didengar dari pimpinan tentang rencana mutasinya. Dia memasukan bola ke keranjang, saat mengambil bola dia mengatakan berbagai hal. Dia meminta kedua anak buahnya tetap bekerja sebagai penyidik yang berhati nurani dan berhati-hati saat bertugas.


Mendengar yang dikatakan pimpinannya, bola yang mereka lempar tidak bisa lagi masuk ke keranjang. "Sudah lihat yang terjadi? Dalam berbagai keadaan, harus fokus dan waspada pada apa yang sedang dikerjakan. Jangan terganggu dengan kondisi sekitar." Bram berkata sambil menunjuk keranjang basket, dimana bola kedua anggotanya tidak berhasil masuk ke keranjang.


"Dalam permaian atau pekerjaan, sering ada gangguan dari luar. Datangnya bisa perlahan, namun bisa juga cepat dan tiba-tiba. Semua itu harus kalian hadapi, namun harus tetap fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Jangan cepat putus asa dan hilang semangat." Ucap Bram lagi, saat melihat kedua anggotanya tidak bersemangat lagi untuk memasukan bola ke keranjang. Mereka meletakan bola begitu saja lalu memperhatikan pimpinannya dengan serius dan bersikap tegap.


Bram mengajak mereka bicara, berbagai hal tentang pekerjaan dan juga persaingan dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada mereka. Dia sadar, bisa kapan saja dimutasikan. Jadi dia perlu mempersiapkan kedua anak buah kepercayaannya untuk waspada dan harus menentukan sikap yang benar, walau pun harus melawan arus.


Kedua anak buahnya terdiam, merenungi semua yang dikatakan pimpinannya. Mereka tidak menyangka akan berpisah dari pimpinan yang mereka kagumi. Mereka tidak bisa minta ikut, karena aturan yang berlaku sebagai petugas kepolisian. Mereka berdua langsung berhenti main dan minta maaf kepada Bram. Kemudian mereka duduk di samping lapangan dengan hati sedih.

__ADS_1


Bram tidak menegur mereka, karena memaklumi apa yang sedang mereka rasakan. Dia pun merasakan hal yang sama, ketika membayangkan kedua anggota yang selalu bersamanya akan bertugas dengan pimpinan yang menggantikannya. Dalam hati dia berharap, pimpinanan yang menggatikannya adalah orang baik dan memiliki hati nurani yang baik.


Mengingat pimpinan yang akan menggantikannya, Bram jadi teringat pada kasus yang sedang ditanganinya. Dia segera bergerak cepat meninggalkan lapangan di ikuti oleh kedua anggotanya. Dia harus mengamankan kasus-kasus tersebut, agar jangan sampai ditangani oleh penggantinya. Sehingga kasus-kasus tersebut menjadi liar dan kacau.


Dia mulai berpikir tentang perintah yang baru diterimannya. Dalam situasi seperti sekarang, dia tidak bisa menghubungi Kaliana. Tanpa berkomunikasi lagi dengan Kaliana, dia menyiapkan dan mengamankan semua bukti yang diperolehnya saat menyidik.


Walaupun pemimpinnya mengatakan bahwa dia dipindah tugaskan di tempat yang baru karena prestasinya bisa menangkap Jaret, hati kecilnya mengatakan bahwa itu hanya ucapan pemanis. Bram tidak percaya apa yang dikatakan pimpinannya, bahwa mereka bukan mau menyingkirkannya, tetapi menghargai prestasinya bisa menangkap Jaret. Dia tidak mempercayai, karena mutasinya bersamaan dengan pelimpahan berkas perkara Jaret ke Kejaksaan.


Apa pun alasan perpindahannya ke bagian narkotika, Bram tetap waspada menerima tugas yang baru. Dia sudah bisa membaca situasi saat melihat suasana kantor dan rekan-rekannya saat dia menangkap Chasina, Jaret dan Pak Ewan. Banyak rekan yang tidak menyukai prestasinya, ditambah lagi dengan dipindahankannya Chasina.


Setelah kembali ke ruangannya, Bram segera mengatur strategi agar kasus yang ditanganinya tetap dalam kendalinya. Dia segera mengamankan barang bukti kasus selohkan yang dipegang oleh Kaliana, agar jangan ada pihak yang menangani kasus tersebut dan membaurkan barang bukti yang ditemukan bersama Kaliana. Sehingga Kaliana kesulitan menolong Chasina.


Setelah semua diserahkan kepada Kejaksaan, dia mengarsipan semua bukti yang di serahkan untuk kepentingan Kaliana. Dia sudah siap menerima semua konsekuensi atas tindakannya. Oleh sebab itu, dia pergi sendiri tanpa mengajak serta anggotanya. Agar jika terjadi sesuatu, dia yang akan menanggung akibatnya.


Pihak Kejaksaan merasa senang dengan apa yang dilakukan Bram. Mereka menyadari, ketiga kasus tersebut sedang menjadi perhatian dan dinantikan publik. Oleh sebab itu, mereka pun menindak lanjuti kasus tersebut dengan cepat.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~

__ADS_1


Di sisi yang lain ; Setelah menerima pesan Putra, Marons menghubungi Kaliana menjelang senja. Marons tidak bisa menghubungi Kaliana saat menerima pesan Putra, karena sedang ada pertemuan penting yang mentukan kelanjutan kerja sama antara perusahannya dengan perusahan di Korea.


📱"Niii... Sorry, baru bisa hubungi, karena baru selesai pertemuan. Ada apa?" Tanya Marons, saat Kaliana merespon panggilannya. Marons sudah mandi dan berpakaian rapi untuk menghadiri acara makan malam. Mitra bisnisnya mengadakan acara makan malam untuk merayakan kerja sama mereka. Ketika mengambil ponsel, dia teringat belum hubungi Kaliana seperti yang diminta oleh Putra.


📱"Maaf juga, Arro... Aku minta dihubungi karena ada perubahan tentang persidangan. Apakah kau sudah lihat berita yang trending hari ini?" Tanya Kaliana cepat, karena pikirnya, mungkin saja Marons mau makan malam.


📱"Belum... Aku tadi sibuk sekali, jadi ngga sempat lihat sosial media. Perubahan seperti apa...?" Tanya Marons lagi, karena mendengar suara Kaliana yang tidak tenang.


📱"Begini, Arro..." Kaliana menceritakan apa yang terjadi dengan kasus Jarot yang sudah dilimpahkan ke Kejaksaan dan tidak lupa juga tentang Danny telah mendaftarkan gugatan cerai Chasina ke Pengadilan Negeri.


📱"Bisa pas, ya... Bagus kalau begitu. Mungkin dengan begitu, pihak mereka akan seperti amuba (membela diri)." Marons berkata serius, sambil berpikir, kedua kasus ini Kaliana sudah bicarakan dengannya. Mereka berharap bisa cepat diselesaikan.


Bagi Marons, tidak mungkin Kaliana menghubunginya hanya untuk itu. Mereka pernah bicarakan hal itu. Dan juga, tadi malam dia sudah katakan akan hubungi setelah tidak sibuk lagi.


📱"Iyaa... Tapi nanti lihat video wawancara Pak Bram dengan media setelah melimpahkan kasusnya ke Kejaksaan, ya... Kalau aku menerimanya, sebagai isyarat bahwa dua kasus berikut segera digelar. Jadi kita harus siap-siap... Apakah masih lama di sana?" Tanya Kaliana pelan. Dia tahu apa yang diucapkan Bram kepada wartawan. 'Sama... Tidak lama lagi. Tunggu saja.' Itu merupakan isyarat, kasus yang ditanganinya akan bernasib sama, tidak lama lagi.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2