ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
134. Warna Sari 27.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Melihat Kaliana melototinya, Marons jadi tertawa dan ingin mengacak rambutnya. Tapi dia mengurungkan niatnya, melihat Kaliana menjauh darinya.


"Hahahaha... Ingin aku kembalikan? Hhhmmm... Hmmm..." Marons berkata sambil mendekatan wajahnya ke arah Kaliana. Membuat Kaliana sontak mendorong bahu Marons dengan kedua tangannya.


"Kau suka sekali nyelonong. Bikin kaget saja." Kaliana berkata, sambil memukul bahu Marons yang sedang di dorongnya. Marons jadi makin tertawa melihat wajah dan gerakan memukul Kaliana yang tidak bertenaga.


"Salahkan saja pipimu. Mengapa tadi tiba-tiba menggoda bi*birku." Ucap Marons sambil menangkis lalu memegang tangan Kaliana yang sedang memukul bahunya. Sambil tersenyum, dia mencium telapak tangan Kaliana sekilas. Membuat Kaliana kelagapan lalu kembali memukul tangan Marons dengan tangan kanannya.


"Bi*birmu saja yang kepingin, tapi mau salahkan pipiku. Lepasin tanganku..." Balas Kaliana, lalu menarik tangannya dari genggaman Marons. Kaliana kembali memukul bahu Marons, karena melihat Marons mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya, sambil tersenyum dengan matanya.


"Ayooo... Damai. Kemarilah...!" Marons berkata pelan lalu menarik kepala Kaliana dan menempel pipinya ke pipi Kaliana. "Kita hanya makan di sana. Ada makanan laut yang lezat. Karna sudah di daerah sana, aku mau mentraktirmu makan." Bisik Marons, sambil mengusap belakang kepala Kaliana dengan sayang.


"Kau selalu curang." Balas Kaliana dan hendak memukul lengan Marons, tapi ditariknya bersamaan dengan pipinya dari pipi Marons.


"Itu bukan curang, Niii... Itu namanya usaha untuk mengabulkan yang diinginkan hati. Hahaha..." Marons kembali tertawa mendengar yang dikatakannya. Kaliana jadi tersenyum mendengar apa yang diucapkan Marons, sambil tertawa.


^^^Jika ada orang yang melihat mereka, mungkin ada yang berpikir, Kaliana bersikap seperti gadis yang belum pernah dicium oleh pria. Padahal dia telah dicium oleh Marons dan juga sering berpelukan dengannya, tapi masih kesal. ^^^


^^^Sebuah ciuman di pipi jaman sekarang, sangat lazim bagi kebanyakan orang. Tapi bagi Kaliana, ciuman Marons yang tiba-tiba dan dia tidak menyadarnya, itu yang membuat dia terkejut. Jiwa seorang penyidik meronta-ronta, karena itu pertanda kewaspadaannya sedang dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.^^^

__ADS_1


^^^ Marons pun tertawa senang bisa lakukan itu, agar bisa melihat reaksi Kaliana. Marons tidak pernah berpikir, sikap Kaliana itu adalah sesuatu yang dibuat-buat. Karena Kaliana jika dalam keadaan sadar seperti tadi pagi saat sarapan, Kaliana dengan senang hati lakukan salam tempel di depan anggota team dan juga Danny. Walaupun wajahnya akan memerah dan tidak melihat anggota team sopape.^^^


^^^ Marons sudah mengerti apa yang dirasakan Kaliana, jika dia merasa kecolongan. Dia tidak segan menunjukan rasa kesalnya atau tertegun dan langsung berpikir, untuk apa yang baru terjadi. Reaksi Kaliana itu yang membuat Marons suka mengganggunya dengan cara yang tidak diduga oleh Kaliana.^^^


"Sudah, berhenti bahas itu. Kau mau kita makan di sana ngga? Biar aku reservasi dari sekarang." Marons kembali serius, membicarakan rencananya. Sambil menunggu keputusan Kaliana, Marons mengambil ponselnya untuk lakukan reservasi.


"Nanti kita bicarakan lagi. Kau tunggu di sini saja. Aku hanya sebentar beli bunganya." Kaliana berkata cepat, saat melihat mobil sudah berhenti di tempat jual bunga segar.


Marons sontak melihat keluar lewat jendela mobil, lalu mengangguk mengiyakan. Keasyikan berbicara dan bercanda dengan Kaliana, membuat dia tidak menyadari mereka sudah tiba di tempat tujuan untuk beli bunga. Kaliana segera buka pintu, lalu turun dan berjalan cepat ke tempat penjual bunga segar.


Marons membuka sekat pemisah dengan kursi di depan lalu bicara dengan sopirnya untuk mengikuti Kaliana. Selain untuk mengawasi, juga bantu membawa bunga yang akan dibeli oleh Kaliana.


Tidak lama kemudian, Kaliana kembali sambil membawa rangkaian bunga mawar putih dalam pelukannya. Sedangkan sopir menjinjing keranjang bunga tabur di kedua tangannya.


"Gimana, sudah ada keputusan?" Tanya Marons, setelah Kaliana duduk di sampingnya. Dia butuh keputusan cepat dari Kaliana, karena dia harus mengatur waktu dengan kapten kapal. Agar kapten kapal tidak terlalu lama menunggu mereka. Dia juga harus lakukan reservasi sebelum tiba waktu makan siang.


"Maaf, Arroo... Aku tidak mau makan di sana, karena ada alasan yang sangat penting. Jika ada waktu, aku bisa bisa kasih tau alasannya sambil jalan." Kaliana berkata sambil mengatup kedua tangan di dadanya, sebagai isyarat minta maaf sudah menolak maksud baik Marons.


"Ini hanya menyangkut pekerjaan dan saat ini aku lagi tidak ingin bicarakan pekerjaan. Menurutku, lebih baik di rumah saja, agar penjelasannya lengkap dengan bukti." Kaliana berkata cepat, karena mengingat posisi Siska yang ada di hotel tersebut.


Marons merubah posisi duduknya mengahadap Kaliana, saat melihat keseriusan Kaliana. Dia tidak berusaha mendesak Kaliana untuk makan di hotel.

__ADS_1


"Alasan utama aku tidak mau makan di situ, selain menyangkut pekerjaanku, dan juga, sekarang aku tidak dalam kondisi bisa berbenturan dengan seseorang. Aku benar-benar dalam keadaan kosong, tanpa perlengkapan pendukung." Kaliana berkata sambil menunjuk badannya yang tanpa rompi dan senjata.


Dia juga sedang tidak berhubungan dengan team sopape. Sedangkan dia bisa bertemu Siska yang mungkin saja makan siang di restoran hotel atau lobby atau di sekitar hotel. Kaliana tidak menginginkan untuk beradu dengannya, walau itu hanya beradu mulut dengan kata-kata yang menyakitkan telinga dan hati.


Marons melihat Kaliana dengan serius, karena tidak mengerti. Mengapa Kaliana harus berbenturan dengan seseorang di hotel yang mereka tuju.


"Begini, Arroo... Aku hanya katakan intinya, supaya ada jalan di antara alismu ini." Kaliana berkata sambil menyentuh cela di antara alis Marons yang sedang bertaut, karena heran dengan ucapan Kaliana.


"Sekarang kami sedang mengawasi seseorang. Tadi malam dia menginap di hotel itu. Aku khawatir, bisa bertemu dengan orangnya di sana." Kaliana menjelaskan dengan serius, agar Marons bisa mengerti, mengapa dia tidak mau makan di hotel tersebut.


"Orangnya mengenalmu?" Tanya Marons yang jadi serius untuk meyakinkan dirinya dan berjaga-jaga.


"Iyaa, Arroo... Kami saling mengenal, juga dengan Pak Yosa. Kami sama-sama pernah dinas di kesatuan. Tapi orangnya masih dinas, sedangkan aku dengan Pak Yosa sudah tidak lagi." Kaliana jadi menjelaskan, karena melihat wajah Marons yang penasaran.


"Kau sedang menerima kasus baru?" Tanya Marons lagi, karena Kaliana tidak pernah cerita tentang kasus baru selain kasusnya dan Chasina.


"Tidak. Orang ini ada nyangkut dengan Jaret. Nanti di rumah kami akan cerita kronologisnya. Agar kau tau, mengapa sampai orang ini terlibat dengan Jaret." Kaliana menjelaskan dengan cepat, sebelum mereka tiba di pantai Marina.


"Danny tidak tau hal ini?" Marons masih penasaran dan bertanya lagi dengan serius, karena Danny tidak mengatakann apapun padanya saat sarapan.


"Tidak. Kami sedang mengawasi dan menganalisa semua bukti yang berhubungan dengan orang ini. Semoga pulang nanti sudah ada perkembangan yang lebih jelas, agar kami bisa konsen dengan kasusmu yang akan digelar." Kaliana berkata serius dan berharap semua yang berhubungan dengan Siska makin jelas setelah Putra dan Yicoe memantau aktivitasnya sepanjang hari.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2