
...~•Happy Reading•~...
Keesokan harinya, semua anggota team sopape bangun kesiangan. Tetapi yang sekarang, mereka tidak panik karena akan berkantor di rumah Marons, kecuali Kaliana. Dia segera keluar kamar setelah cuci muka dan sikat gigi.
Kaliana langsung menuju kamar tamu, mencari Marons. Dia khawatir Marons kesiangan juga seperti mereka. Ketika melihat tempat tidur telah kosong, Kaliana menuju dapur untuk mencari Bibi. Dia berpikir, mungkin Marons sudah berangkat kerja.
"Pagi, Bi... Apakah Pak Marons sudah berangkat?" Tanya Kaliana kepada Bibi yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Selamat pagi, Non. Tuan muda sudah bangun dan berangkat dari pagi. Tuan muda mau sarapan dengan Ayahnya, sebelum berangkat ke luar negeri. Jadi beliau sudah berangkat dari pagi, Non." Bibi menjawab dan menjelaskan apa yang disampaikan Marons kepadanya. Kaliana mengangguk mengerti dan merasa lega, Marons tidak kesiangan.
"Non Anna mau sarapan apa?" Tanya Bibi sopan dan hormat. Bibi tau, tuannya menyukai Kaliana dan itu membuat hatinya senang. Kaliana selain berwajah cantik, sikap dan lakunya juga cantik. Sopan dan baik hati.
Bibi telah memperhatikan Kaliana sejak tiba di rumah. Cara Kaliana memperlakukan dirinya sangat berbeda dengan Rallita. Hal itu membuat Bibi membandingkan Kaliana dengan Rallita, setelah tau tuannya menyukai Kaliana. 'Sangat berbeda dengan nyonya muda yang tidak pernah berbicara baik. Apalagi mau menyapanya dengan ucapan selamat pagi.' Bibi membantin dengan senang.
Sikap Kaliana yang hangat dan menyenangkan, tidak memandang status, membuat Bibi dengan senang hati melayani Kaliana dan juga anggota teamnya. Semua anggota teamnya juga sopan dan ramah kepadanya, membuat hatinya senang bekerja. Tidak tegang dan takut dimarahi atau dibentak.
"Apa saja yang Bibi siapkan, kami akan makan. Terima kasih, Bi. Setelah sarapan baru kami bicara dengan Bibi, ya. Kami mau lihat ruangan di atas." Kaliana berkata sambil menunjuk lantai atas.
"Siap, Non. Tuan muda sudah bilang Bibi untuk itu. Kalau begitu, Bibi segera siapkan sarapan agar Non dan yang lain bisa cepat sarapan dan bekerja." Bibi berkata lagi dengan hati senang lalu bergegas. Kaliana tersenyum dalam hati melihat sikap Bibi kepadanya.
"Baik, Bi. Saya panggilkan yang lain untuk sarapan." Kaliana meninggalkan Bibi bekerja di dapur, lalu bergegas juga untuk memanggil anggota team yang lain.
Saat hendak ke kamar, Kaliana tidak jadi memanggil anggota team sopape, karena mereka sudah keluar kamar dalam keadaan telah mandi dan rapi.
__ADS_1
"Kalian semua sudah mandi? Astaga, aku yang ketinggalan. Coe, Vie... Tolong Bibi, siapkan sarapam, ya. Aku mau ke kamar untuk mandi." Kaliana berkata sambil berjalan cepat ke kamar.
Setelah mandi, Kaliana keluar kamar sambil membawa kunci mobilnya. "Aku mau pindahkan mobil ke garasi. Kau dan Pak Yosa tunggu sarapan di ruang makan, karena kakak-kakakmu sedang siapkan sarapan dengan Bibi." Kaliana berkata kepada Putra yang hendak kembali ke kamar.
"Iya, Mbak. Ini mau panggil Pak Yosa. Tadi sedang telpon di kamar." Putra menjelaskan lalu bergegas ke kamar tamu, setelah Kaliana mengangguk mengiyakan. Kaliana berjalan cepat keluar ke halaman rumah untuk memindahkan mobilnya ke garasi, karena melihat Putra sudah lapar.
Kaliana terkejut saat membuka garasi dan melihat mobil mewah Marons ada di garasi. 'Mungkin dia menggunakan mobil kantor, karena mau pergi.' Kaliana berkata dalam hati, lalu mengeluarkan mobil Rallita ke jalanan depan rumah. Kemudian dia memindahkan mobilnya ke garasi dan memarkir mobil Rallita di halaman rumah.
Setelah memindahkan mobilnya, Kaliana mengirim pesan kepada Marons. "Arroo, maaf ya... Kami kesiangan, jadi tidak bisa pamit denganmu." Isi pesan Kaliana diakhiri dengan emot tangan yang dikatup dan hati.
"👍👍." Balasan pesan dari Marons, karena sedang berbicara dengan Ayahnya. Pesan balasan Marons membuat Kaliana tidak membalasnya lagi. Dia sudah mengerti, jika Marons memberikan dua jempol, pertanda sedang sibuk.
Kaliana segera menyusul anggota team yang sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Mereka semua menikmati sarapan perdana buatan Bibi. Putra tersenyum senang sambil makan nasi pecel lengkap. Mereka makan kenyang, karena akan bersihin ruangan di lantai atas.
"Sarapan ini tidak kalah enak dengan buatan Mbak Yicoe dan Mbak Novie. Jadi perutku tidak akan khawatir." Ucap Putra dengan wajah makin terseyum melihat Yicoe dan Novie mencari sesuatu untuk melemparnya.
"Sudah, cepat sarapannya. Kita sudah kesiangan dan ada banyak yang harus dikerjakan." Kaliana berkata untuk melerai dan menghentikan candaan mereka makin panjang dan luas.
Setelah sarapan, mereka semua masih tetap duduk di meja makan yang sudah dibersihkan Bibi. Kaliana menyampaikan rencana Marons tentang tempat bekerja dan juga akan tinggal sementara di rumahnya.
"Iyaa.. Kemarin Pak Marons sudah bicara dengan kami mengenai tempat bekerja yang akan pindah ke sini. Sedangkan untuk tinggal di sini, beliau tidak bicarakan itu dengan kami." Kata Pak Yosa dengan tenang, karena Marons telah berbicara dengan mereka.
"Mungkin untuk tinggal di sini, beliau perlu bicara dengan Mbak Anna dulu." Ucap Yicoe pelan menanggapi apa yang disampaikan Pak Yosa.
__ADS_1
"Iyaa.. Sebenarnya aku sudah curiga, saat diminta untuk pulang ke rumah ambil keperluan beberapa hari. Aku kira kita mau diajak jalan-jalan. Hahahaha..." Novie berkata tentang apa yang dipikirkannya.
Kaliana mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan anggota teamnya. Kemudian dia menyampaikan juga tentang hubungannya dengan Marons, agar anggota teamnya tahu dan tidak berprasangka buruk kepadanya dan Msrons.
"Alhamdulillah...!" Yicoe dan Putra berkata bersamaan sambil mengangkat kedua tangan mereka.
"Puji Tuhan...!" Novie jg ikut bersyukur dengan wajah tersenyum senang. Sedangkan Pak Yosa jadi diam tertegun, mendengar penjelasan Kaliana tentang hubungannya dengan Marons.
"Kami kira Mbak Anna tidak bisa menganalisa hati sendiri dan Pak Marons. Kami saja sudah bisa menganalisanya dengan jelas, kalau Pak Marons memiliki perasaan khusus kepada Mbak Anna." Novie berkata tenang dengan wajah makin tersenyum.
"Alhamdulillah... Mbak Anna sudah bilang ini. Jadi aku dengan tanpa beban mau posting gambarku. Putra langsung mengambil ponselnya lalu memposting gambar karikatur yang dibuatnya di sosial media miliknya.
Ketika melihat postingan Putra, Kaliana sontak memukul punggungnya. "Semalam kau mengintip, ya." Kaliana terus memukul punggung Putra, tapi Putra terus memgangkat dua jarinya, peace.
Kaliana memukul Putra dengan rasa jengah, karena gambar karikaturnya dia sedang dicium oleh Marons. "Aku tidak mengintip, Mbak. Tadi malam aku keluar mau minum, taunya melihat adengan yang ..." Putra menautkan dua jari telunjuknya sambil tersenyum. Membuat semua tertawa sambil melihat Kaliana. Yicoe dan Novie sontak menutup mulutnya, melihat gambar karikatur Kaliana.
"Tapi kenapa aku suka kebagian adegan mesranya, ya. Mbak Anna sengaja supaya aku gambar, ya.Hahahaha...." Putra berkata lagi lalu tertawa. Membuat semua yang di meja makan kembali tertawa, melihat wajah Kaliana yang memerah. Mendengar canda tawa mereka, Bibi jadi tersenyum senang di dapur. Rumah tuan mudanya jadi meria dan hidup. Tidak seperti biasanya, seakan tidak berpenghuni.
Pak Yosa hanya tersenyum tipis mendengar candaan anggota team sopape tentang hubungan Kaliana dan Marons. Pak Yosa bukan tidak suka Marons, tetapi hatinya lebih mengharapkan Kaliana bisa menjalin hubungan serius dengan Bram, mantan yuniornya di kesatuan.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1