ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
52. Bekerja Sama.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Keesokan harinya, terjadi kesibukan di rumah Marons. Semua penghuni telah bangun pagi dan sarapan. Terutama Kaliana, karena Bram telah menghubunginya dan memberitahukan bahwa Chasina telah berada di tempat yang aman.


"Pak Yosa, tolong berkumpul dengan yang lain di ruang keluarga, ya. Ada yang akan kita bicarakan." Kaliana mendekati Pak Yosa untuk meminta bantuannya. Dia ingin semua anggota teamnya berkumpul di ruang keluarga, karena mau menjelaskan apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dihadapi beberapa waktu ke depan.


"Pak Danny, kita bicara sebentar di sini, ya?" Kaliana berkata pada Danny yang hendak berdiri meninggalkan meja makan bersama yang lain. Kaliana perlu berbicara dengan Danny, agar tidak merasa canggung dengan anggota teamnya.


Danny kembali duduk berhadapan dengan Kaliana di meja makan. "Pak Danny... Maaf, tadi malam aku tidak sempat jelaskan beberapa hal tentang kami, karena aku sangat lelah dan mengantuk. Semoga Pak Danny tidak merasa terganggu dengan sikap atau ucapan anggota teamku." Kaliana menyadari, Danny adalah orang yang serius dengan pekerjaannya. Mungkin saja tidak bisa terima cara komunikasi teamnya atau sikap mereka dalam berinteraksi.


Dia khawatir Danny terkejut dengan ucapan atau tindakan anggota sopape yang membicarakan sesuatu yang serius, dengan ucapan dan intonasi yang berbeda dari orang pada umumnya. Sehingga bisa saja Danny tidak mengerti dan bingung atau tidak nyaman dengan siatuasi tersebut.


"Ngga apa-apa Mba' Anna. Memamg ini sesuatu yang baru, aku bekerja dalam team berbeda profesi. Tapi aku sudah pernah bekerja bersama Mba' Anna, jadi aku akan lebih mudah belajar dengan yang lain." Danny merasa lega, Kaliana mengajaknya bicara sebelum kumpul dengan anggota team yang lain.


"Baik, Pak. Terima kasih. Pak Marons juga pertama kali berada dalam team, hanya melihat kami bekerja tanpa komentar. Tapi jika ada yang tidak dimengerti, beliau tanya kepada kami dan kadang protes." Kaliana berusaha menjelaskan, agar Danny bisa bekerja bersama team sopape dan tidak merasa sungkan. Kaliana juga, jadi tersenyum mengingat Marons protes kepadanya.


Danny mengangguk mengerti yang dimaksudkan Kaliana. Dia memang melihat sikap Marons yang sangat berbeda kepada Kaliana. Dia lebih perhatian dan mendukungnya sebelum mengetahui Kaliana adalah temannya di SMP. Apalagi setelah mengetahuinya, Marons lebih menunjukan perhatiannya secara terbuka.

__ADS_1


Danny makin membenarkan apa yang dipikirkannya, saat tiba tadi malam di rumah Marons. Dia mengira Kaliana akan mengamankan dirinya untuk tinggal di tempatnya atau hotel. Dia tidak menyangka Marons mengijinkan Kaliana bersama teamnya tinggal di rumahnya.


Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Marons kepada orang lain. Dia tidak mengijinkan sembarang orang berada di sekitarnya, apalagi tinggal di rumahnya. Walaupun dia teman dan juga pengacara pribadinya, hal-hal pribadi tidak pernah Marons bicarakan dengannya. Sebagaimana apa yang terjadi dalam rumah tangganya dengan Rallita selama ini.


Jika Marons tidak butuh bantuan hukum, dia tidak akan bicarakan hal pribadi dengannya. Sebagaimana saat tangannya terluka oleh Rallita, dia tidak minta bantuan Yogi untuk mengobatinya, karena akan menjelaskan banyak hal kepada Yogi. Sebab Yogi akan menanyakan penyebab luka tersebut, dan Marons harus menjelaskannya.


"Baik, Pak. Nanti saat kita berkumpul dan berbicara, Pak Danny tolong berkomentar jika ada yang perlu dikoreksi dari setiap pembicaraan team." Kaliana mengajak Danny ikut serta dan ambil bagian dalam setiap pembicaraan teamnya.


"Kami di team memiliki latar belakang pekerjaan dan kebisaan masing-masing dan berbeda-beda. Jadi jika kami menganalisa suatu hal, kami berpendapat atau mengusulkan sesuatu dari sudut pandang kami masing-masing." Kaliana menjelaskan tentang team sopape, agar Danny tidak terkejut mendengar hasil analisa anggota team dalam menyelesaikan kasus.


"Kami semua saat ini hanya fokus bantu Bu Chasi. Aku yakin, bisa membantunya, sehingga minta Pak Danny menjadi pengacaranya. Semua itu aku lakukan, agar kita bisa diskusi seperti ini, tentang semua temuan bukti kasus selokan dan kelanjutannya." Kaliana berusaha semaksimal mungkin tidak terjadi friksi saat mereka berdiskusi, karena belum mengerti satu dengan yang lain.


"Iya, Mba Anna. Terima kasih sudah peduli dan mengajakku seperti sekarang ini. Dengan melakukan hal ini, makin memperkaya wawasanku dan juga mengerti proses pembuktian kasus. Jadi makin lengkap ketika melakukan pembelaan terhadap beliau." Danny sangat menyadari manfaat yang dia peroleh saat bekerja bersama Kaliana.


"Mba' Anna tidak usah merasa tidak enak saat aku ada di antara team. Mba' Anna lakukan saja seperti biasanya, mengatur rencana dan mengeksekusinya. Aku akan ikut dan berpartisipasi jika diperlukan." Danny cepat mengerti, melihat sikap Kaliana. 'Mungkin dia agak sungkan dalam bersikap karena ada dirinya dalam team.' Danny berkata dalam hatinya.


Melihat cara Kaliana memperlakukannya, dia tidak tersinggung. Kaliana tetap menghargainya, sebagai seorang yang memiliki firma hukum sendiri dan juga memiliki pegawai. Hal itu Danny bisa rasakan saat Kaliana memintanya berbicara, agar Danny bisa mengerti. Bagaimana pun juga, Kaliana pimpinan dalam teamnya yang membuat rencana dan keputusan. Danny harus mengerti dan menerima demi kebaikan dan kelacaran kasus yang sedang ditangani.

__ADS_1


"Baik... Mari kita masuk dan berbicara dengan yang lain, karena waktu untuk kita saat ini sangat berharga. Banyak hal yang akan kita bicarakan dan juga lakukan, menjelang persidangan." Kaliana berkata, lalu berdiri diikuti oleh Danny, masuk ke ruang keluarga.


"Sementara ini, Pak Danny tidak boleh memerima telpon di sini, tanpa sepengetahuan Putra. Jika ada yang menghubungi, jangan langsung respon, tapi beritahu Putra agar bisa mengamankan posisi Pak Danny di sini." Ucap Kaliana saat jalan bersisian ke ruang keluarga.


Kaliana tidak menginginkan ada kebocoran posisi mereka, sebelum persidangan. Danny mengangguk mengiyakan. Dia sudah mulai mengerti saat Kaliana mengatakan kepada Putra, akan menghubungi Bram dan mengunggu isyarat dari Putra baru menghubunginya.


Saat mereka masuk ke ruang keluarga, anggota team sudah dalam posisi siap bekerja. Putra sudah menyalakan TV dan semua perlengkapan kerjanya sudah dalam kondisi on serta laptop sudah terbuka di depannya.


"Seperti biasa, sebelum kita berbicara atau menganalisa kasus yang akan kita tangani, mari kita berdoa menurut keyakinan kita masing-masing. Kiranya Tuhan menolong kita, agar tidak salah berpikir dan membuat rencana atau mengambil keputusan." Ucap Kaliana kepada anggota teamnya sebagaimana yang biasa dilakukan di kantor mereka sebelumnya.


Danny melihat Kaliana dan teamnya, lalu menundukan kepalanya dengan hati yang tersentuh. Dia mulai belajar sesuatu yang tidak terpikirkan olehnya. Dia merasa cukup sudah berdoa di rumah, tapi lakukan ini secara bersama, memiliki suasana dan kekuatan yang berbeda untuk mulai bekerja bersama-sama.


"Saat ini, kita semua akan berbagi banyak hal di sini untuk menolong Bu Chasi. Pak Danny akan bersama dengan kita untuk beberapa waktu, bukan saja akan membantu kita dari pihak hukum, tapi beliau juga perlu diamankan di sini menyangkut kasus gugatan cerai Bu Chasi." Kaliana menjelaskan tentang keberadaan Danny diantara mereka.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2