ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
19. Tidak Terduga.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Putra mengambil gambar alat yang dikirim Kaliana dengan cepat. "Pelangi Boy, Clear..." Jawab Putra yang sudah melihat alatnya dengan sempurna dan akan menganalisanya.


Semua orang tertegun melihat Kaliana berbicara sendiri. Tetapi Bryan yang melihat Kaliana, jadi mengerti mengapa handsfree nya terus berkedap kedip. 'Sepertinya dia terkonek dengan seseorang.' Bryan berkata dalam hati. 'Itu sebabnya, dia tahu mobilnya sedang bermasalah di tempat parkir. Jika tidak, tidak mungkin dia tahu mobilnya sedang dikerjain orang.' Bryan kembali membatin.


Dalam kondisi yang tidak diduga oleh Kaliana, dia berpikir cepat. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku rompi, lalu mencari nomor Bram untuk menghubunginya. Dia membutuhkan pertolongan Bram dalam kondisi seperti ini.


📱"Negriku, bangsaku. Tolong kirim Raka ke tempat yang barusan aku shareloc, ya. Ada yang pasang GPRS di mobilku." Ucap Kaliana cepat, saat Bram merespon panggilannya. Bram terkejut mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Biasanya salam itu dia katakan setelah ada salam dari Bram. Tetapi sekarang, tanpa salam dari Bram, Kaliana langsung mengatakannya.


Bram melihat lokasi yang dishare oleh Kaliana, sebuah restoran mewah. 'Pasti dia tidak sendiri dan tidak mau ada yang tahu, dia sedang menghubungi siapa.' Itu yang ada dalam pikiran Bram.


📱"Baik. Segera... Kau tidak apa-apa?" Tanya Bram khawatir dengan Kaliana, karena situasi di kantornya sedang memanas. Sehubungan dengan penangkapan dan konferensi pers yang dilakukannya.


📱"Aman, terkendali. Nanti baru kita bicara, ya. Tolong amankan orang ini, sampai aku datang." Ucap Kaliana cepat, karena dia hendak pergi ke tempat Pak Adolfis terlebih dulu.


📱"Oooh... Yang pasang nyangkut juga?" Tanya Bram yang tidak menyangka, Kaliana bisa menangkap yang memasang GPRS.


📱"Nyangkut... Ada bersamaku. Nanti aku ceritakan." Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.


"Pak, tolong berdiriin orangnya. Saya mau lihat wajahnya." Ucap Kaliana kepada security sambil mendekati tersangka yang sedang meringis sambil memegang tungkainya.


"Pelangi food, paket." Kaliana berkata pelan, sambil mengarahkan kamera kearah wajah tersangka untuk diselidiki oleh Putra. Kaliana terus mengarahkan kamera ke arah yang dikatakan Putra.

__ADS_1


"Kau akan rasakan akibatnya, jika diketahui bossku." Ucap tersangka dengan geram dan mengancam, karena tidak bisa membalas apa yang dilakukan Kaliana kepadanya.


"Aku pun tidak sabar mau bertemu dengan boss mu. Tapi sebelumnya, aku akan patahkan kakimu sebagai salam perkenalan dengan boss mu." Ucap Kaliana tenang dan dingin. Dia sangat marah mengetahui mobil kesayangannya diotak-atik dan juga ada yang mau mengikutinya.


📱"Pelangi boy... Itu anggota. Bekerja di kantor yang sama dengan Pak Bram, tapi di bagian lain." Putra menyampaikan hasil penyelidikannya, setelah mengambil wajah tersangka, beberapa saat kemudian.


Mendengar itu, Kaliana tertegun. 'Apa yang sedang terjadi di kantor Bram?' Kaliana bertanya dalam hati dan terus berpikir untuk hal yang tidak diduganya. Dia melihat wajah tersangka dengan serius.


"Setelah ini, pulang cuci otakmu dengan deterjen dan jangan berikan makan keluargamu dengan uang comberan." Kaliana menyadari ada punguk lain di kantor Bram. Hal itu sangat mengkhawatirkannya.


Ketika melihat petugas polisi tiba dengan mobil polisi lalu mendekati Kaliana sambil memberi hormat, Bryan, Pak Adolfis dan pengacaranya kembali tertegun dan bertanya-tanya. 'Siapa Kaliana sebenarnya, sehingga aparat kepolisian menghormatinya.'


Begitu juga dengan tersangka yang terkejut melihat petugas menghormati Kaliana. Dia jadi berpikir, siapa yang ada di depannya dan apakah seorang anggota kepolisian dan pangkatnya lebih tinggi dari pimpinannya?' Dia mulai cemas dan menyadari, dia sudah diketahui sebagai anggota polisi.


"Apakah saya akan membacakan haknya, Bu?" Tanya Raka yang sudah siap dengan gelang besi di tangan, sesuai perintah Bram.


Kaliana mengajak Raka agak menjauh dari tersangka. "Raka, orangnya juga anggota kepolisian dan bertugas di kantor kalian. Hanya bagian lain. Jadi tunggu sebentar, saya bicarakan dulu." Kaliana sedang berpikir bagaimana baiknya membawa orang tersebut. Dia khawatir terjadi sesuatu di jalan dengan ketiga petugas yang datang menjemput tersangka.


"Tolong lucuti semua alat komunikasinya." Ucap Kaliana mengingat dia belum mengambil alat komunikasi tersangka, karena menunggu petugas Raka yang mengambilnya.


Kemudian Kaliana mengirim pesan kepada Putra untuk mengecek siapa pimpinan tersangka dan pangkatnya. Ketika Putera mengatakan pimpinannya memiliki pangkat yang lebih rendah dari Bram, Kaliana kembali menghubungi Bram.


📱"Negriku, bangsaku. Yang nyangkut orang dalam di situ. Aku sudah kirim nama dan pangkatnya. Sepertinya ini cloning Punguk, yang bermain di comberan. Dia mengancamku dengan boss nya." Ucap Kaliana serius, istilah mereka untuk polisi kotor yang suka menerima suap atau korup.

__ADS_1


📱"Kau bawa pengikat? Tolong bilang Raka untuk ikat kaki dan tangannya. Segera bawa dia ke sini." Ucap Bram serius. Dia mulai mengerti, di kantornya bukan saja memanas tetapi juga ada kebocoran. Mereka sudah melacak dan mengikuti Kaliana.


📱"Baik... Aku akan mengirimkan dia untukmu dan tunggu perkembangan prosesnya darimu saja." Kaliana berkata demikian, karena dia tidak bisa datang ke kantor polisi untuk interogasi. Berbeda jika tersangkanya dari kalangan sipil.


Kaliana mengakhiri pembicaraan dengan Bram lalu mengambil pengikat di mobilnya. Dia memanggil Raka lalu memberikan instruksi kepadanya. "Raka, bacakan haknya lalu ikat tangannya. Bawa ke mobil lalu ikat kakinya. Kalian berdua pegang dia selama perjalanan. Hati-hati dengan pistol kalian." Kaliana benar-benar khawarir dengan petugas yang membawa polisi kotor tersebut. Dia bisa melakukan segala cara untuk meloloskan diri.


"Siaap Bu. Kerjakan...!" Ucap Raka sigap dan hormat. Dia mengerti situasi, setelah mendengar instruksi Kaliana yang sangat rinci.


📱"Pelangi Boy... Pak Yosa masih di jalan, tunggu perintah." Putra sudah menyambungkan Pak Yosa dengan Kaliana. Sedangkan Yicoe dan Novie tetap memantau bersama Putra dalam keadaan siaga, setelah tahu ada yang mengganggu mobil Kaliana.


📱"Pak Yosa, lanjut saja tugasnya. Yang di sini sudah ditangani Bram." Ucap Kaliana, setelah tahu Pak Yosa sudah konek dengannya.


📱"Baik... Hati-hati...! Ada yang memantaumu." Ucap Pak Yosa yang sudah dapat informasi dari yuniornya yang masih aktif tentang perkembangan hasil penangkapan dan konferensi pers Bram.


📱"Sepertinya, begitu Pak Yosa... Putra, aku ada ide, mau kirim GPRS nya dengan mobil petugas, agar bisa mengacaukan mereka mengikutiku." Ucap Kaliana, karena yang mau melacaknya belum tahu kalau petugas yang diminta untuk pasang GPRS sudah ditangkap.


📱"Ide yang bagus, Mbak. Aku ijin masuk untuk melacak mereka." Putra berniat mengetahui siapa yang melacak Kaliana, agar mereka bisa tahu musuh yang sedang memantau. Putra sudah tidak sabar, tapi harus menunggu ijin dari Kaliana.


📱"Kalau dari markas, tidak usah masuk. Tapi kalau sipil, aku serahkan padamu." Saat ini, Kaliana tidak mau berhadapan dengan anggota kepolisian, karena kasus yang ditanganinya sedang bergulir.


Kemudian Kaliana mengikuti Raka dan rekan petugas yang membawa tersangka ke mobil untuk pasang GPRS di mobil petugas. Tiba-tiba tersangka hendak mengambil pistol rekan Raka yang tidak memperhatikan posisi tersangka. Dia sudah condong kepadanya, sambil berusaha mengambil dengan tangan yang masih terikat.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2