ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
137. Bertaktik 19.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Marons dan Kaliana yang sedang berbicara serius, jadi terkejut mendengar apa yang dikatakan Putra. Tapi mereka sontak tersenyum melihat gerakan tangan Putra yang menutup matanya dengan jari-jari yang renggang, hingga masih bisa melihat Marons dan Kaliana.


Kaliana dan Marons baru menyadari, mereka berbicara sambil berpegangan tangan. Kaliana segera melepaskan tangannya, saat melihat gerakan tangan Putra menujuk ke arah ruang kerja dengan kedua tangannya. Kaliana mengerti arti isyarat itu, ada sesuatu yang terjadi di ruang kerja dan Putra membutuhkannya.


"Ayo, Arroo..." Kaliana mengajak Marons, lalu berjalan cepat mengikuti Putra yang sudah masuk ke ruang kerja.


"Maaf, Mba'... Tadi ngga sengaja, mau mengganggu. Aku mau panggil, karena Pak Bram sedang telpon di nomorku." Putra berkata sambil menunjuk ke arah ponselnya yang masih diletakan di atas meja kerjanya. Kaliana mengangguk, lalu berjalan mendekati Putra dan menepuk pelan pundak Putra, sebagai tanda, tidak mengapa dengan tindakan Putra.


"Arroo, kau duduk di situ, dan tolong dengar saja dulu, yaa... Jangan tanya sesuatu yang kami bicarakan. Nanti seteleh kumpul, akan kami jelaskan semua padamu." Kaliana berkata pelan kepada Marons, sambil mengusap lengan Marons.


^^^Kaliana berharap, Marons bisa mengerti dan tidak menanyakan sesuatu yang tidak dia mengerti tentang pembicaraannya dengan Bram. Marons mengangguk kuat, sambil menepuk pelan tangan Kaliana yang sedang mengelus lengannya, agar Kaliana bisa tenang menerima telpon dari Bram. ^^^


Kaliana segera memberikan isyarat kepada Putra untuk merespon panggilan Bram dan minta ponselnya dispiker. Agar semua yang ada dalam ruangan bisa mendengar apa yang disampaikan Bram.


πŸ“±"Alloo, Putra... Boss mu, aman?" Tanya Bram, saat Putra merespon panggilannya.


πŸ“±"Alhamdulillah... Aman, Pak. Ini beliau mau bicara dengan Pak Bram." Jawab Putra cepat, lalu meletakan ponselnya di meja dan kembali ke kursinya


πŸ“±"Alloo, Anna... Sibuk sekali hari ini? Dari siang sampai sore ini, aku hubungi ponselmu tidak aktif." Tanya Bram, setelah mendengar yang dikatakan Putra. Dia sangat penasaran, karena nomor Kaliana belum aktif, padahal hari sudah sore.

__ADS_1


πŸ“±"Iya, Bram. Hari ini lumayan sibuk. Ini belum lama tiba di rumah. Jadi belum sempat aktifin ponsel. Gimana perkembangan kasusmu? Hari ini sudah masuk kantor?" Tanya Kaliana sambil melihat layar monitor yang sedang diperlihatkan Putra. Bram tidak berada di lokasi kantornya.


πŸ“±"Sudah tadi pagi. Tapi nanti aku ceritakan tentang kejadian di kantor. Aku ingin tau, kau sudah tau kasus Jaret disidangkan hari ini?" Tanya Bram serius. Dia berpikir, kasus Jaret yang labih penting, dari pada apa yang terjadi di kantor dengan pimpinannya.


πŸ“±"Iyaa... Tadi pagi Pak Danny kasih tau, tapi belum tau kelanjutannya. Aku belum sempat bicara dengan anggota di rumah. Gimana, sidangnya lancar?" Tanya Kaliana cepat, karena sudah penasaran dengan hasil persidangan Jaret.


πŸ“±"Persidangannya ditunda. Tunggu dijadwalkan lagi, karena Hakim belum bisa putuskan tanggal pastinya." Bram menjelaskan dengan suara yang senang, membuat dahi Kaliana berlipat dan berpikir tentang rencana Bram.


πŸ“±"Oooh... Karna kau sudah berikan barang bukti sitaan itu untuk Kejaksaan?" Kaliana menebak, mengingat rencana Bram yang akan menemui pihak Kejaksaan untuk menyerahkan bukti baru dari hasil sitaannya di tahanan.


πŸ“±"Aku belum sempat menemui pihak Kejaksaan, karna keburu dipanggil Bintang untuk melapor." Bram menjelaskan cepat dan serius, karena banyak hal yang mau dia bicarakan dengan Kaliana.


πŸ“±"Sepertinya dia teler, jadi ngga konsen. Pengacaranya minta dia diperiksa dokter dan dibawa ke rumah sakit. Mereka khawatir dia meracau di ruang sidang dan bisa memberatkan hukumannya." Bram menjelaskan apa yang disampaikan oleh anggotanya, tentang apa yang terjadi dengan Jaret di tahanan.


πŸ“±"Mungkinkah dia sedang 'on atau nagih'? Bukankah sabunya disita sama kalian?" Kaliana menebak, karna melihat ada sabu yang disita oleh Bram dalam foto yang ditunjukan oleh Pak Yosa.


πŸ“±"Aku kira dia tidak sedang on, tapi nagih. Mungkin dia belum dapat pasokan setelah penggeledahan itu." Bram menyampaikan apa yang diperkirakannya, mengingat situasi tahanan mulai diawasi ketat. Anggotanya telah melapor situasi yang terjadi di tahanan, setelah mereka lakukan penggeledahan.


^^^Seperti yang diminta Kaliana, Marons hanya mendengar. Padahal rasa ingin tahunya sangat menggangunya. Dia tidak tahu sama sekali tentang semua yang dibicarakan Kaliana dan Bram, karena peristiwa itu terjadi dia sedang tidak ada di rumah. Marons berusaha mengendalikan rasa penasarannya, terutama dengan apa yang terjadi dengan Jaret. Dia merangkai sendiri dalam pikirannya tentang semua yang didengarnya, sambil berdiam diri.^^^


πŸ“±"Kalau begitu, nasib baik berpihak kepada kita. Ini adalah kesempatan bagus untuk kita berikan bukti tambahan kepada Kejaksaan, setelah dibersihkan sesuai dengan yang ada di real." Kaliana berkata dengan hati lega.

__ADS_1


πŸ“±"Iyaa... Aku sudah bicara dengan Bintang, hasil penggeledahan masih di tempat yang aman. Aku tidak berikan kepada Kejaksaan sementara ini, menunggu keputusan mereka untuk karierku." Bram menjelaskan, hasil sitaan dari penggeledahan akan jadi jaminan, agar pihak-pihak tertentu tidak mengganggunya.


^^^Jika ada yang mencoba untuk menghadang atau mencelekainya, semua barang sitaan itu akan diserahkan kepada Kejaksaan oleh orang yang sudah disiapkan Bram. Jadi sementara ini, dia aman dengan jaminan barang sitaan dari ruang tahanan Jaret.^^^


πŸ“±"Good... Berarti sementara ini mereka tidak bisa mencelakaimu, tapi hanya mengawasi untuk mengetahui keberadaan barang bukti itu." Kaliana dan Putra merasa lega, lalu mengelus dada mereka bersamaan. Marons yang hanya memperhatikan dan berpikir, mulai mengerti situasi yang terjadi.


πŸ“±"Sekarang, kita tinggalkan barang sitaan dari tahanan Jaret. Mari kita bicarakan guguk liar... Apakah tadi kau bertemu dengannya di kantor?" Tanya Kaliana serius, sambil membaca ketikan pertanyaan Putra di layar monitor dan melihat lokasi Siska datang ke kantor Bram yang diperlihatkan Putra.


πŸ“±"Tidak...! Kapan dia datang ke sini?" Bram terkejut mendengar pertanyaan Kaliana tentang kedatangan Siska di kantornya dan dia tidak tahu.


πŸ“±"Tadi, setelah makan siang. Dia hanya sebentar menemui seseorang di situ. Mungkinkah ada orang lain lagi yang ada di situ bekerja sama dengan dia selain Parikus?" Kaliana jadi berpikir, melihat semua keterangan yang ditulis Putra untuknya di layar monitor.


πŸ“±"Sudah pasti ada orang lain lagi selain Parikus. Tidak mungkin hanya mereka bertiga dalam lingkungan seluas ini. Aku berharap bisa memegang kepalanya, agar mudah mengikat ekor-ekornya." Bram berkata sambil berpikir keras dan cepat atas informasi yang diberikan Kaliana.


πŸ“±"Iyaa, aku dan Pak Yosa berpikiran sama denganmu. Kau tunggu, ada nomor-nomor yang dia hubungi, baik dengan nomor guguk liar dan juga Jamu.gD. Nanti kalau sudah dipastikan, kami akan info padamu." Kaliana belum bisa menjelaskan banyak hal seputar itu, karena dia belum bicara dengan team sopape tentang penyelidikan mereka sepanjang hari, saat dia tidak ada di rumah.


'Dari respon Putra saat melihatnya sudah pulang, pasti mereka menemukan banyak hal yang perlu diketahui dan dibicarakan dengannya.' Kaliana berkata sendiri dalam hatinya.


...~°°°~...


...~●○€○●...

__ADS_1


__ADS_2