ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
114. Bertaktik 14.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram memeriksa kondisi motornya sebelum digunakan, agar tidak menambah masalah baru baginya. Pengalaman mobil Kaliana yang dikerjai oleh Parikus membuat Bram harus membersihkan motornya sebelum digunakan. Setelah mengetahui motornya aman digunakan, Bram segera keluar dari tempat parkir.


Setelah di jalan raya, Bram tidak memperhatikan kiri dan kanan atau melihat kaca spion lagi. Dia mengendarai motornya dalam kecepatan di atas normal, lalu memutar ke jalan-jalan tikus yang sudah biasa dilewati dalam kondisi tertentu.


Hanya motor yang bisa lewati jalan tersebut. Jadi jika ada motor yang mengikutinya, pasti akan diketahui dan dia akan berhadapan dengan pengendaranya untuk mengetahui siapa yang sedang mengawasinya.


Oleh sebab itu di setiap ujung jalan tikus, Bram akan berhenti lalu memutar balik motornya untuk menanti motor yang datang menyusul di jalan yang baru. Karena sudah larut malam, jalanan sudah sangat sepi. Sehingga mempermudah pengawasan Bram terhadap siapa yang menguntitnya.


Ketika beberapa kali melewati jalan tikus dan melakukan hal yang sama, Bram sedikit tenang. Karena tidak ada kendaraan yang menyusulnya, Bram yakin tidak ada yang mengikutinya. 'Mereka pasti tidak berpikir aku akan naik motor.' Bram berkata untuk meyakinkan dirinya, lalu pergi meninggalkan jalan tikus terakhir yang dilewatinya.


Bram kembali ke jalan raya, setelah mengetahui situasi lebih aman. Dia tidak pulang ke rumah, tapi ke hotel terdekat dengan kantor Kejaksaan, agar besok pagi bisa cepat menyerahkan bukti tambahan kepada Jaksa penuntut, jika terjadi sesuatu dengannya. Dia berencana untuk amankan bukti yang baru ditemukannya. Dia tidak mau berlama-lama untuk membuang waktu, karena apa yang ditemukan di sel tahanan memperkuat bukti yang diberikan Kaliana. Dia berharap bisa cepat pagi, agar bisa berbicara dengan Kaliana.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Keesokan harinya, Kaliana bangun pagi-pagi membersihkan tubuh dan olah raga. Setelah itu, dia langsung membangunkan Yicoe dan Novie yang sedang tidur nyenyak. Sebab tadi malam, walaupun sudah masuk kamar, mereka masih terus berdiskusi. Mereka masih membicarakan temuan Putra dan juga apa yang diperkirakan Novie tentang Jaret. Sehingga dini hati baru bisa tertidur.


Kaliana membangunkan mereka, karena harus bekerja dipagi hari. Yicoe dan Novie bangun dengan tubuh yang sangat pegal dan kaku. "Tubuh kita sebentar lagi akan patah-patah seperti ranting kering." Yicoe berkata sambil menggerakan tubuhnya perlahan untuk mengurangi rasa kaku dan tegang.

__ADS_1


"Tubuh yang begini bisa patah, bagaimana dengan Kang Salor yang hanya nyeprot air di taman?" Novie berkata sambil mentowel lengan Yicoe, sambil tersenyum. Dia membandingkan candaan Yicoe dengan tukang taman yang seminggu sekali datang membersihkan rumput dan daun kering, juga menyirami taman rumah Marons.


"Kalian masih bisa bandingkan dengan Kang Salor? Bandingkan tuuh, dengan Kang Putra yang hari-hari duduk di depan komputer. Sana tarik dia dari tempat tidur, lalu ajak dia olah raga di ruangan gim Pak Marons. Nanti dia lupa gerakan cocol mata yang kau ajarkan padanya." Kaliana berkata kepada Novie, membuat mereka bertiga tertawa di kamar.


Setelah cuci muka dan sikat gigi, Novie dan Yicoe benar-benar naik ke lantai atas. Sebelum ke ruang gim, mereka mengintip ke kamar Putra dan Pak Yosa. Namun sebelum buka pintu, Pak Yosa telah buka pintu untuk keluar dari kamar.


"Kalian datang pada waktu yang tepat. Itu tarik dia dari selimut." Pak Yosa berkata sambil meninjuk Putra yang sedang berselimut, tanpa terganggu dengan sekitar.


"Salah Pak Yosa. Tarik selimut dari dia. Mari kita olah raga, sebelum kita semua bicara tebolak balik, karena pikiran lagi penuh." Novie berkata sambil mendorong Pak Yosa ke arah ruang gim.


"Putra belum bangun sama sekali?" Novie jadi khawatir, karena bukan kebiasaan Putra demikian.


"Sudah bangun Sholat subuh, lalu tidur lagi. Jadi bangunin saja. Aku sudah bangunin, tapi bilang sedikit lagi. Gangguin..." Pak Yosa berkata sambil memberikan isyarat bahwa mau makan. Yicoe dan Novie mengangguk, lalu tersenyum, karena mengerti maksud Pak Yosa.


Mereka bertiga langsung tertawa melihat wajah loading Putra yang terkejut bangun. "Kakak-kakak ini, tidak bisa lihat aku tidur nyenyak sedikit yaa..." Putra berkata sambil mengucak matanya lalu duduk di tempat tidur.


"Ayooo, kita gerakin badan sebentar sebelum dihubungi Pak Bram. Mba' Anna sudah duluan. Itu lagi bantu Bibi siapin sarapan." Novie berkata sambil menarik tangan Putra untuk berdiri. Putra jadi berdiri dengan gerakan lambat membuat Pak Yosa tertawa.


Setelah olah raga, mereka sarapan lebih pagi. Sedangkan Danny belum bangun. "Bi, kalau Pak Danny sudah bangun, tolong siapin sarapan yaa... Kami semua ada di ruang kerja." Kaliana berkata kepada Bibi sebelum naik ke ruang kerja.

__ADS_1


"Baik, Non..." Bibi berkata sambil mengangguk mengerti.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah siap bekerja di ruang kerja. Putra menghidupkan semua perlenkapannya, lalu melihat lokasi nomor 'batok A' dan ponsel Bram ada di hotel. "Putra, kirim email ke Pak Bram. Katakan: 'mau gerilya." Kaliana berkata cepat, saat melihat lokasi Bram.


"Non, jangan dulu... Itu sedang di hotel. Apa kita tidak mengganggu beliau?" Yicoe berkata cepat, saat baru tersadar lokasi Bram. Putra jadi menahan jarinya untuk mengirim email yang sudah ditulis.


"Kirim saja, Putra. Kalau mengganggu, Pak Bram tidak akan hubungi kita." Kaliana berkata serius, karena khawatir dengan kondisi Bram. 'Apa yang sedang terjadi, hingga dia ada di hotel?' Kaliana bertanya dalam hati. Putra melakukan apa yang dikatakan Kaliana.


"Putra, amankan nomor ponsel Pak Bram sebelum beliau hubungi kita." Kaliana berkata lagi, karena dia yakin, Bram akan menghubunginya. Jika tidak hubungi, berarti ada terjadi sesuatu dengannya. Jadi mereka semua harus waspada.


Putra segera lakukan apa yang diminta oleh Kaliana. Seperti yang diperkirakan Kaliana, Bram langsung menghubunginya. "Putra, sambungkan dan speaker. Agar kita bisa semua bisa mengikutinya." Kaliana berkata cepat, agar Putra merespon panggilan Bram dan semua anggota team bisa menyimak apa yang dikatakan Bram.


📱"Negriku...?" Tanya Kaliana untuk meyakinkan setelah terhubung. Kaliana dan Bram juga Pak Yosa selalu menggunakan cara-cara atau kode-kode tertentu dalam situasi tertentu. Agar mereka bisa yakin sedang berhubungan dengan siapa.


📱"Iyaa, sayangku. Sorry, sudah bangunin kalian." Bram jawab cepat, karena dia tahu arti panggilan Kaliana untuk meyakinkan bahwa, benar dia yang merespon panggilanya, bukan orang lain.


📱"Ngga pa'pa. Kami sudah bangun dari pagi. Banyak hal yang harus dikerjakan hari ini. Tadi kami email, agar tau apa yang akan kami lakukan dengan 'nomor batok B'." Kaliana berkata serius, tanpa menyinggung yang lain. Agar Bram tidak curiga, mereka sedang menunggu atau memantaunya.


📱"Benar yang dikatakan Putra. Nomor 'batok A' yang di tahanan itu, punya Jaret. Aku sudah menyitanya." Bram berkata cepat, karena dia mau minta tolong Kaliana dan team untuk hal yang lain. Semua anggota team sapape langsung tepuk tangan tanpa suara. Sebab apa yang dipikirkan mereka, benar. Nomor 'batok A' adalah Jaret.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2