
...~•Happy Reading•~...
Walaupun Marons merasa merasa senang dengan apa yang dilakukan Kaliana memeluknya, tapi dia sedikit merasa heran. Mengapa Kaliana tiba-tiba memeluknya.
"Kemana tenagamu? Yicoe bilang, kalian hanya bertemu Bram dan penyidik dari Kejaksaan. Apa ada masalah?" Tanya Marons sambil tetap mengelus punggung Kaliana.
"Ngga ada masalah, sih... Hanya energi terkuras, karena terus berpikir sepanjang pembicaraan. Khawatir ada yang terlewatkan. Sedangkan komunikasi lagi terbatas." Kaliana berkata cepat, lalu melepaskan pelukannya.
^^^Kaliana berkata demikian, karena mereka belum bisa komunikasi bebas dengan orang luar. Sehingga saat bertemu dengan penyidik Arif untuk memberikan informasi, Kaliana berusaha agar semua informasi bisa disampaikan dengan jelas dan lengkap.^^^
"Arroo, Putra belum cerita apa-apa padamu?" Tanya Kaliana sambil duduk di sofa dalam ruang kerja. Marons juga ikut duduk di sampingnya.
"Belum... Tadi Yicoe hanya bilang kalian sedang bertemu dengan Bram dan penyidik Kejaksaan. Ada apa? Apa dia lupa katakan sesuatu?" Tanya Marons serius, karena Kaliana bertanya padanya dengan serius.
"Tapi tadi aku tanya sedang lakukan apa, Putra hanya menggerakan tangannya, seakan lagi plester mulut. Jadi aku pikir, mungkin kau melarangnya bicara denganku." Marons menjelaskan sikap Putra.
"Hehehe... Sorry. Tadi aku bilang padanya, nanti kami pulang baru bicara dengan Pak Marons. Agar tidak dua kali memberi keterangan dan menjelaskan padamu. Biar sekalian dengan informasi dari Bram juga." Kaliana jadi tertawa, mengingat Putra. Marons juga jadi tertawa, ingat apa yang dilakukan Putra.
"Sebelum kita bicara bersama yang lain, aku mau minta tolong padamu." Kaliana berkata pelan.
"Kau mau dibantu apa?" Marons jadi serius bertanya, saat melihat sikap Kaliana.
"Apa boat keluargamu bisa disewa?" Tanya Kaliana pelan dan ragu-ragu.
"Boat yang kemarenan kita pakai?" Tanya Marons, lalu Kaliana mengangguk mengiyakan.
"Tidak untuk disewa. Itu hanya dipakai kami atau keluarga Ayah atau keluarga Ibu yang mau berwisata air. Ada apa? Kau memerlukan boat?" Tanya Marons menanggapi pertanyaan Kaliana.
__ADS_1
"Oh, begitu. Iya, kami ada perlu..." Kaliana menjelaskan kepada Marons dengan pelan dan ragu, untuk apa dia memerlukan boatnya.
"Kalau begitu, tidak usah sewa boat. Nanti kalian pakai itu saja. Aku akan bicara dengan Ayah dan Ibu, agar jangan sampai digunakan pada hari yang kalian perlukan." Marons merespon baik rencana Kaliana dan mendukungnya.
"Apa kau siap hadapi resikonya? Ini bukan sesuatu yang mudah, karena kalian tidak tau sispa saja yang akan dihadapi. Semoga Bram bisa membawa banyak pasukan." Marons berkata sambil melihat Kaliana dengan serius.
^^^Walaupun dia mengetahui kemampuan anggota team sopape, dia tetap merasa cemas. Oleh sebab itu, dia berharap Bram bisa membawa banyak anggota untuk bergabung dengan Kaliana dan team.^^^
Kaliana hanya mengangguk pelan. Dia tidak mau menambah kecemasan Marons, dengan mengatakan bahwa hanya ada tambahan Bram dan Raka bersama team sopape yang akan menangani Siska dan antek-anteknya.
"Makasih bantuannya... Kami mau membahas rencana yang akan kami lakukan nanti. Kau mau ikut ke atas?" Tanya Kaliana ragu-ragu, saat melihat sikap dan raut wajah Marons yang berubah.
"Kalian saja yang membahasnya. Selain pekerjaanku belum selesai, aku agak ilfeell mendengar pembicaraan tentang aparat yang bobrok seperti itu." Marons berkata sambil menarik nafas panjang.
"Aku khawatir jadi emosi, jika mendengar lebih banyak. Mungkin juga ucapanku akan menyinggung Pak Yosa sebagai seorang pensiunan polisi." Marons berkata pelan.
"Kami berusaha keras mengembangkan perusahaan agar bisa ciptakan lapangan kerja untuk hidupi banyak orang. Aparatnya berusaha keras untuk membunuh banyak orang dengan nyambi untuk dapat uang haram. Sungguh ironi..." Marons berkata sambil berdiri dan menggelekan kepalanya.
"Aku berharap, ada banyak aparat kepolisian seperti kau, Pak Yosa dan Bram. Jadi masih ada harapan untuk kami bisa bekerja dan berusaha dalam kondisi yang tenang dan lebih baik." Marons berkata sambil menghembuskan nafasnya dengan kuat. Dia berusaha tetap berpikir positif, agar bisa mengembangkan usahanya.
"Kau bicara dan atur dengan team. Nanti selesai dari sini, aku akan ke atas. Tenang dan konsen saja, aku mendukung semua rencanamu." Marons berkata pelan, lalu menggapai Kaliana yang sudah berdiri dan memeluknya dengan sayang.
"Aturlah dengan baik. Jangan membuatku cemas." Marons berkata pelan, lalu mencium lama kepala Kaliana yang ada dalam pelukannya.
Kaliana hanya bisa mengangguk pelan dalam pelukan Marons, karena mengerti semua yang dikatakannya. Kemudian melepaskan pelukannya untuk segera ke ruang kerja team. Mereka sedang dikejar waktu untuk membahas rencana selanjutnya.
Saat tiba di ruang kerja, Kaliana merasa lega melihat minuman hangat dan cemilan sudah ada di atas meja.
__ADS_1
"Vie, tolong buatkan kopi instan untukku, ya. Pak Yosa sudah..?" Kaliana berkata sambil duduk, lalu mengangguk ke arah Pak Yosa yang mengangkat cangkirnya sebagai jawaban sedang minum kopi.
Novie dan Yicoe segera turun untuk membuat kopi. Mereka mau buat juga untuk mereka dan Putra. Mereka sudah mengerti, saat Kaliana meminta kopi instan, itu tanda mereka akan bahas kasus dan begadang.
"Pak Marons tidak ikut?" Tanya Pak Yosa, karena melihat Marons tidak ikut bersama Kaliana.
"Masih ada kerjaan kantor yang belum selesai, Pak. Nanti menyusul..." Kaliana menjawab Pak Yosa sambil mengambil cemilan dan juga kopi yang sudah disajikan buat semua.
"Putra, makasih sudah plester mulut. Jadi tidak banyak ombak." Kaliana merasa lega, karena dengan Putra tidak menceritakan apa yang sedang terjadi. Sehingga tidak membuat Marons sangat cemas dan mungkin akan melarang team sopape untuk melakukan rencananya.
^^^Putra mengangkat jempolnya ke arah Kaliana, karena mengerti maksudnya. Dia sudah bisa tebak, Marons mungkin akan keberatan jika team sopape, terutama Kaliana terlibat dalam hal ini.^^^
"Begini, kita tidak membahas orang tua Jaret lagi. Kita hanya menunggu hasil kinerja pihak Kejaksaan. Semoga yang kita siapkan dan rencanakan bisa dieksekusi dengan baik dan sukses." Kaliana berharap dan diaminkan oleh semua anggota team sopape.
Marons yang sedang di ruang kerjanya tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia terus memikirkan apa yang dikatakan Kaliana dan rencana teamnya. Hal itu mengganggu hati dan pikirannya.
Dia segera menutup laptop dan memasukan ke tas kerjanya. Kemudian dia keluar dan mengunci ruang kerja, lalu berjalan cepat naik ke ruang kerja team sopape.
"Sudah selesai, membahasnya?" Tanya Marons yang sudah masuk ke ruang kerja sambil melihat Kaliana.
"Belum selesai. Mari duduk, kalau mau ikut." Kata Kaliana sambil menepuk kursi di sampingnya.
"Cukup dulu, pembahasannya. Besok lagi baru diteruskan. Kalian semua segera istirahat. Putra dan Pak Yosa, besok jam 10 ke kantorku. Kita bertiga akan keluar." Marons berkata cepat.
"Kalian bertiga di rumah, bisa latihan sambil menunggu Pak Yosa dan Putra pulang." Marons berkata tegas dan serius, tidak mau dibantah. Kaliana sontak fokus melihat mata Marons untuk mengetahui maksudnya.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...