
...~•Happy Reading•~...
Pak Adolfis yang sudah terbiasa melakukan bisnis dan harus mengeluarkan dana pelicin untuk melancarkan usahanya, sangat mengerti situasi yang dialami oleh Kaliana. Oleh sebab itu, beliau langsung menarwarkan, karena orang seperti Kaliana tidak mungkin akan mengatakan hal itu terlebih dahulu.
📱"Baik, Bu... Kami tunggu info selanjutnya dari Ibu Kaliana." Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan, setelah Kaliana mengiyakan dan memberikan salam, juga saling mengingatkan.
Setelah selesai berbicara dengan Pak Adolfis, Kaliana terkejut melihat nama Marons ada di layar ponselnya. Dengan hati bertanya-tanya, Kaliana merespon panggilan Marons setelah Putra memberikan tanda 'OK' kepadanya
📱"Niii... Kau di mana and ada apa?" Tanya Marons saat Kaliana merespon panggilannya. Pertanyaan Marons membuat alis Kaliana bertaut, karena tidak mengerti maksudnya. Mengapa Marons tiba-tiba menanyakan ada apa padanya.
📱"Kenapa, Arro... Aku ada di luar and ngga ada apa-apa..." Jawab Kaliana heran, tapi cepat agar Marons tidak khawatir dengan kondisi yang sedang terjadi.
📱"Lalu mengapa Danny bilang aku bicara saja denganmu? Tadi aku ada perlu dengannya, tapi dia sedang buru-buru, lalu bilang bicara denganmu dulu." Marons menjelaskan, karena dia baru sadar, Kaliana tidak mengerti dengan pertanyaannya.
📱"Ooh... Iya, Arro... Nanti di rumah baru kita bicara, ya. Kami sedang jemput Pak Danny untuk bawa ke rumah." Kaliana sudah tidak bisa mengelak untuk menjelaskan, saat mendengar penjelasan Marons.
📱"Terjadi sesuatu? Mengapa sekarang sudah menjemputnya?" Tanya Marons curiga, karena dia tahu, Danny tidak mungkin sudah melayangkan surat gugatan. Tadi pagi, Kaliana hanya mengirim pesan, mau keluar bertemu penyidik. Kenapa sekarang, malah jadi menjemput Danny. Itu jadi tanda tanya besar dalam pikiran Marons.
📱"Arrooo... Nanti di rumah baru aku jelaskan. Sekarang kami sedang menunggu Pak Danny keluar. Jadi maaf, ya... Biar aku bisa konsen dengan yang ini dulu..." Jawab Kaliana cepat, karena khawatir Danny menghubunginya.
📱"Kau yang mengemudi?" Tanya Marons tiba-tiba menyadari situasi. Pasti Kaliana yang mengemudi. Jika tidak, dia bisa bicara leluasa dengannya. Marons pernah mengalami itu, saat dia meminta Kaliana pulang ke rumahnya dan Kaliana tidak konsentrasi dengan pembicaraannya.
__ADS_1
📱"Eeengg... " Kaliana masih berpikir untuk menjawab, agar tidak panjang dan Marons tidak marah padanya.
📱"Jawab saja, iyaaa... Pake mikir segala..." Marons yang sudah mengerti Kaliana, tidak menunggu penjelasannya lagi
📱"Astagaaa... Arroo... Suaramu bisa membuat kupingku terbakar. Sanaaa..., kerjaaa... Nanti aku jelasin di rumah." Kaliana berusaha mengalihkan topik, tapi tersenyum melihat Putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
📱"Kau kira aku Naga...? Di mana Pak Yosa? Apa ada bertugas di tempat lain?" Tanya Marons lagi, karena dipikirannya, kenapa bukan Pak Yosa yang menyetir.
📱"Ada di belakang dan Putra di sampingku sudah mesem-mesem dengar kita. Jadi lebih baik, sabarrr, Pak Marons. Yang perlu dijelaskan itu, panjang kali lebar, kali tinggi, kali luas dan Pak Danny bisa keluar sewaktu-waktu." Mau tidak mau, Kaliana menjelaskan sedikit agar Marons berhenti penasaran.
📱"Nanti sekalian kau b'ri tau juga, hasil perkalianmu itu." Marons menanggapi ucapan Kaliana yang terdengar kocak baginya dan membuatnya tersenyum. Kaliana jadi tersenyum mendengar jawaban Marons, dia ingin membalasnya, tapi menahannya.
📱"Kalau begitu, hati-hati...! Tiba di rumah hubingi aku." Marons berkata cepat, setelah tahu ada Putra juga bersama Kaliana. Dia mengakhiri pembicaraan, agar Kaliana bisa berkonsentrasi.
Kaliana kembali menunjukan layar ponselnya kepada Putra, bahwa Danny menghubunginya. Putra membuat tanda 'OK' dengan wajah tersenyum, lucu. Pak Yosa di belakang jadi tersenyum melihat gaya Putra.
Kaliana segera merespon panggilan Danny yang sedang menunggu responnya.
📱"Mba' Anna... Aku sudah siap." Ucap Danny cepat, saat Kaliana merespon panggilannya.
📱"Ok... Pak Danny segera keluar dan masuk ke mobil. Berjalan cepat tapi dengan santai, bukan panik." Ucap Kaliana mengatur, karena sudah ada strategi di kepalanya.
__ADS_1
Dia bersyukur, mobil Rallita termasuk sedan yang mewah, sehingga pihak lawan tidak akan mencurigai mereka sedang mengamankan Danny. Dia menurunkan lengan rompi dari bahunya agar tidak terlihat dari depan, dia sedang mengenakan rompi. Kemudian merapikan rambut dan memakai rebennya.
Penampilan Kaliana berubah seperti wanita karier atau wanita berdiut dengan mobil mewahnya. Dia berlaga, seakan tanpa sengaja menghalangi mobil yang mengikuti Danny. Dia berharap dengan demikian bisa memberikan kesempatan pada Danny meninggalkan kantornya dengan tenang.
Melihat apa yang dilakukan Kaliana, mobil yang terhalang mobil Kaliana langsung membunyikan klakson berkali-kali. Sopirnya mengisyaratkan juga dengan tangan, agar Kaliana secepatnya menyingkir. Mereka sedang terburu-buru untuk keluar dari tempat parkir. Kaliana hanya keluarkan tangannya dan mengangkat jempolnya kepada mereka, sebagai tanda minta tenang dan sabar.
Sambil melakukan demikian, Kaliana meminta Danny menambah kecepatan. Setelah merasa jarak mobil Danny cukup jauh dari yang mengikuti, Kaliana memberikan jalan bagi mereka sambil mengangkat jempolnya dua kali. Dia tidak perduli diteriakin dengan kata-kata kasar, yang penting Danny sudah jauh dari jangkauan mereka.
Kaliana juga segera keluar dari parkiran lalu menuju tempat yang sudah diatur oleh Kaliana dan Pak Yosa untuk menunggu Danny. "Putra, kalau lewat jalan ini, sepertinya kita bisa lebih dulu tiba di tempat Pak Danny." Ucap Pak Yosa dari belakang sebagai pemandu.
"Anna, kita ke rumah Pak Danny saja. Nanti lihat situasi, jika tidak diikuti lagi, Pak Danny langsung naik mobil kita. Tapi jika ada, kita bertemu di tempat yang sudah kita tentukan tadi." Pak Yosa memberikan saran, karena melihat jalan yang ditunjukan Putra bisa menghemat waktu tempuh.
"Tidak usah, Pak Yosa. Kita tetap pada rencana awal saja. Kejadian dengan mobil kita tadi pasti membekas di mata dan hati mereka. Mungkin sampai sekarang masih kesal. Jika melihat atau berpapasan dengan mobil kita lagi, mereka akan curiga, tindakanku tadi memang sengaja dilakukan untuk menghalangi mereka." Ucap Kaliana serius. Dia sudah memikirkan cara, agar tidak menimbulkan friksi.
"Ok, aku tidak pikirkan ke situ. Aku hanya berpikir, kita bisa cepat seperti kejadian bersama Bram tadi. Kita bisa tinggalkan tempat sebelum mereka tiba." Pak Yosa menjelaskan, kenapa memberikan saran seperti itu.
"Ooh... Iya, Pak. Dengan Bram, berbeda. Pak Yosa dan Bram lakukan semuanya dengan cepat, jadi bisa cepat selesai. Kalau Pak Danny, kita tidak bisa prediksi, beliau membutuhkan waktu berapa lama untuk siapkan keperluannya." Kaliana menjelaskan juga, mengapa tidak mau ke tempat Danny.
"Jadi lebih baik, kita tunggu di tempat lain, lalu kita tinggal menggiringnya ke tempat kita. Supaya tidak menimbulkan kejar-kejaran, karena yang ikutin Pak Danny, sepertinya dari orang kita juga." Ucap Kaliana serius, karena mengenal cara kerja sesama anggota di kesatuan.
"Aku sudah pikirkan itu, saat pertama melihat mereka mengikuti Pak Danny." Pak Yosa sependapat dengan apa yang dikatakan Kaliana. Mereka melakukan pengawasan seperti yang Pak Yosa atau Kaliana lakukan semasa masih berdinas aktif.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...